
Diam diam Bima mendekati Seila dan mendarat kan kecupan kecil di pipi kiri Seila, membuat Seila mendelik, bukan apa apa pasalnya Bima memberikan kecupan di depan Bik inah membuat Seila menjadi merasa malu tingkat dewa.
"Kak Bima! apaan sih,"
"Sedikit, sayang,"
"Tau, tempat dong, malu tuh ada Bik inah juga," ucap Seila lirih takut terdengar Bik inah.
"Ngak, papa, Bik Inah pasti ngerti gaya anak muda," Timpal Bima sambil terkekeh.
Sementara Bik Inah yang tadinya tersenyum bahagia tiba-tiba wajahnya menjadi suram, tanpa di sadari Bima dan Seila Bik inah pergi menjauh, dia duduk di kursi sofa.
"Kenapa, aku jadi takut ya, sikap Non Vira kepada Non Seila kenapa sangat aneh, aku merasa Non Vira seolah olah sedang mengucapkan perpisahan, hatiku kenapa tidak tenang, smoga ini hanya perasaan ku saja, melihat sikap Non Vira yang tiba-tiba menciumi Non Seila membuat ku khawatir, Ya Allah jangan ada cobaan apapun pada keluarga ini, biarkan Den Bima dan Non Seila bahagia."
Tak terasa Bik Inah menitikkan Air mata, di tatapnya dari kejauhan kebahagiaan Bima, Seila dan Vira mereka tersenyum bahagia sekali.
"ayo, sekarang kak Bima yang masak,"
"Lho, kok aku sih sayang,"
"Kan, aku lagi ngendong Vira, gimana bisa masak entar tangan cantik Vira kena minyak, iya kan sayang," tanya Seila pada Vira yang tidak mungkin menjawab nya.
"Lha, aku ngak bisa masak, gimana dong kita makan di luar saja ya,"
"Aku, yang ajarin, kak Bima tinggal ngikutin saja,"
"Ya, baiklah demi cintaku, aku mau"
"Idih, sok romantis,"
"Ya, emang aku Suami yang romantis,"ucap Bima sambil tersenyum.
"Sudah, Nona! sekarang katakan apa yang harus kulakukan,"
"iris tipis tomat dan sosis setelah itu kasih minyak sedikit di wajahnya iris tipis juga bawang putih dan bawang Bombay setelah minyak panas masukkan semua baru setelah berbau harum masukkan nasi dan bumbu Nasi goreng yang sudah jadi tunggu aduk 2 kasih kecap sedikit lalu angakat."
"Wah, ngak sulit ya,"
"Jelas tidak dong, kan kita bikin Nasi goreng dengan bumbu yang sudah jadi,"
"Ini pasti enak ya sayang,"
"Tentu saja, sekalian ambilkan buat Bik Inah kak,"
"Ok, aku ambilkan,"
Bima celingukan mencari Bik Inah.
"Kemana, ya bukannya tadi duduk di sofa, oh rupanya ada di depan halaman Rumah."
"Bik, sini! Nasi goreng nya sudah matang,"
"Wah, cepat, sekali, tapi bagaimana Non Seila memasaknya kan masih mengendong Non Vira,"
__ADS_1
"Aku, yang masak Bik,"
"Apa? yang bener Den Bima yang masak,"
Bima mengagguk pasti.
"Cobain ya Bik,"
"Iya, Den, wah ini bener bener Nasi goreng spesial,"
Bima tersipu mendengar pujian Bik inah, langkah kakinya kemudian kembali menemui Seila yang sedang mengendong vira.
"Sayang, ayo, kita makan,"
"Sssssttt, jangan Berisik Vira mau bobo lagi nih,"seru Seila lirih.
mendengar teguran Seila Bima mengagguk tanda mengerti, sementara Seila dengan penuh hati hati meletakkan Vira ke dalam book berukuran sedang, setelah selesai Seila segera duduk di meja makan dan hendak mengambil piring.
"Ngak usah, pakai piring baru lagi, sayang, sini biar aku suapin makannya,"
Mendengar ucapan Bima spontan Seila mendelik lantaran ucapannya di dengar Bik inah dan Bik inah sedang tersenyum karenanya.
"Kak Bima, apaan sih,"
"Kenapa, sih, masih malu malu, padahal tuh hati juga mau kan," ledek Bima.
Perkataan Bima yang benar benar tepat membuat wajah putih Seila menjadi merah merona.
"Ayo, buka mulutnya,"
"Kak Bima, ini sudah siang lho, Nanti telat kerjanya,"
"Ngak, apa-apa, rasaanya belum puas bercengkrama dengan istriku,"
"Kayak, akan ada perpisahan saja, ngomong nya tuh,"
"Ah, masak, pokok nya masih kangen aku,"
"Sudah, pergi bersiap sana,"
"Ayo,"
"Hah, kemana?"
"Tungguin bersiap di kamar,"
"Ngak, maulah, pergi sendiri sana,"
"Ya, sudah aku ngak usah kerja saja,"
"Lho, kok gitu sih,"
"Terserah, mau nemenin tidak, kalau tidak mau aku nggak kerja,"
__ADS_1
"Ya, sudah, ayo,"
Mendengar Seila mau menemani Bima tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya, bisa bawa dia masuk kamar juga," Gumam Bima dalam hati.
"Sudah, cepet mandi sana aku tunggu di sini,"
Seila duduk di tepi ranjang sambil memegang buku cerita Novel kesukaannya.
"Ya," Bima meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi tapi tak lama kemudian dia keluar lagi.
Seila yang melihat Bima keluar lagi mengkerutkan dahinya.
"Ada apa? kenapa keluar lagi,"
"Ada, yang tertinggal sayang,"
"Oh, apa?
Bima tidak segera menjawab tapi langkah kakinya mendekati Seila di mana ketika itu Seila sedang duduk di tepi ranjang.
"Ke-kenapa kemari,"
"Mau, ngambil yang tertinggal,"
"Oh, apa itu, di mana?" Seila celingukan ke kanan dan kekiri bingung juga apa yang Bima cari.
"Berdiri lah, ada yang tertinggal di bawah situ,"
Mendengar titah dan seruan Bima tanpa berfikir buruk Seila pun berdiri Bima yang sudah merencanakan sesuatu dengan sigap menekan pinggang Seila lebih mendekat arahnya sehingga dengan sekali tarik tubuh Seila sudah menempel rapat pada tubuh Bima.
"Kak Bima, lepasin, kau mau apa?teriak Seila kaget karena tidak menyangka jika Bima akan menarik tubuh Seila kedalam dekapan Bima.
"Kau, cantik,"
"rayuan gombal, lepasin kak Bima, kan mau kerja Nanti kesiangan lho,"
"Perduli, aku mau bercumbu sebentar dengan istriku,"
"Tapi, kak..
Belum juga Seila selesai bicara bibir Bima sudah menawan bibir Seila ke dalam seperti lagi menikmati daging ayam bakar, Bima mulai menjelajahi setiap rongga dengan sesekali menyesapnya seperti menikmati es krim rasa vanilla, mula mula Seila tidak membalas tapi kemudian Seila pun menggikuti, tangan Bima pun tidak lagi mau tinggal diam dia ikut mencari sesuatu yang bisa dia buat mainan hanya dengan sekali tarik penghalang itu sudah terlepas sehingga bisa dengan mudah tangan kekar Bima menemukan sebuah bola kecil dan kenyal yang ukurannya sangat pas dengan tangan Bima.
Dimainkan nya dengan lenbut kedua bola itu, hingga pemilik bola pun merasakan sensasi aneh dan luar biasa nikmatnya, cukup puas bermain dengan bibir ranum istrinya Bima pun mulai bersikap seperti bayi ketika melihat bola yang indah dan kenyal.
"Sayang, aku mau, boleh ya?"
Seila yang juga sudah melayang karena sebuah sensasi yang aneh dia cuma bisa menjawab dengan tatapan mata sendu yang artinya memberikan lampu hijau.
Memahami arti dari tatapan mata istrinya Bima segera mengakat dan merebahkan Seila di atas ranjang yang kemudian di ikuti dengan Bima pun ikut merebahkan diri di atasnya, semua penghalang sudah Bima singkirkan, agar tidak menghalangi jalannya lalu lintas, ketika melakukan sebuah perjalanan jauh dan panjang yang mana laju perjalanan nya naik turun dan memerlukan kecepatan yang tinggi, sebuah perjalanan yang melelahkan akan tetapi memiliki rasa yang nikmat sehingga Bima tidak pernah cukup puas jika cuma satu kali dalam melakukan perjalanan untuk itu dia sering kali melakukan lebih dari satu kali.
Puncak kenikmatan sebuah pendakian pun sudah tercapai, senyum kebahagiaan dan kepuasan tersungging indah di bibir Bima dengan sangat lembut Bima mendarat kan kecupan nya di kening istrinya.
__ADS_1
"trimakasih, sayang," ucap Bima sambil mengecup lembut kening istrinya.