Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.94 SEBUAH RENCANA


__ADS_3

Bima termenung di tepi jalan dengan pandangan mata tetap menyapu ke seluruh jalan, pikiran dan hatinya yang kacau, membuat wajah tampannya terlihat kusut, sayu dan sendu.


Sementara mobil yang di kendarai Seila sudah memasuki pemukiman perumahan yang mana sudah terlihat sepi, karena mereka sedang sibuk bekerja di luar rumah, di mana waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Sekilas Seila memperhatikan hpnya yang mati, kemudian memasukkan kembali hp itu ke dalam tas, mobil berhenti di sebuah apartemen yang cukup luas dan indah, tubuhnya yang tinggi semampai dengan rambut terurai panjang dan Indah serta asesoris penjepit di sebelah kanan membuat penampilan nya semakin elegan.


"Ting..Tong...Ting..Tong...Ting..Tong !"Suara bunyi bel yang di pencet dari luar, dengan cepat si pemilik Rumah bergegas berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Siapa sih, pagi-pagi begini sudah datang," Gumam seorang gadis dari dalam rumah nya.


Ketika pintu terbuka dengan lebar, gadis itu terkejut yang seketika membulat kan kedua bola matanya.


"Seila...!"pagi sekali, kau datang dan kenapa tidak mengabari aku lebih dulu," tanya gadis itu yang tak lain Wina teman dekat Seila.


"Boleh aku masuk?"


"Tentu, saja, ayo kita masuk,"


Mereka berjalan beriringan akan tetapi tidak ada pembicaraan, Wina yang merasa temannya lagi aneh, segera memahami situasi nya.


"Ada,apa?" kenapa wajahmu mendung, seperti orang yang belum makan saja,"


"Aku, memang belum makan,"


"What..?"serius, ini sudah siang lho kok belum makan, kenapa?"


"lagi malas saja,"


"Kamu, lagi punya masalah dengan Suamimu ya?"Terka Wina.


"Ngak, ada!"


"Bohong, tuh!" dari raut wajahmu saja sudah kelihatan begitu,"


"Oh, ya!"Sok tau lho,"ucap Seila sambil melempar bantal sofa yang ada di sampingnya.


Dengan gesit Wina menghindar, sambil terkekeh.


"Kalau begitu ayo makan di sini," ajak Wina antusias.


"Ngak, maulah, malas, ngak ada selera makan,"


"Ya sudah kalau tidak mau, trus kamu maunya apa?"


"Minum saja, yang segar ya, lagi panas seluruh badan nih,"


Wina terkekeh mendengar perkataan sahabat nya yang di rasa sangat lucu.


"Jelas aja, panas, orang yang panas bukan cuma badan aja, pasti tuh hatinya panas bagaimana api."seru Wina sambil terkekeh.


Seila yang merasa sahabat nya justru meledeknya dengan cepat mencubit pinggang ramping gadis berkulit kuning langsat dengan Alis tipis bibir tebal di tambah tailalat di dekat hidungnya yang sedikit mancung, cukup manis, cubitan Seila yang lumayan kecil membuat nya harus meringis menahan sakit.


"Auuuuuhh..jangan di cubit dong sakit,"


"Makanya jangan bicara yang bisa bikin kesal,"

__ADS_1


"Iya, deh maaf,"


Setelah Seila melepaskan cubitan nya dengan cepat Wina kabur dari dekat, Seila.


"Ini, minuman nya, jus Alpukat dingin kesukaanmu,"


"Trimakasih,"


"Seila..!"


"Hmmm"


"Ada apa, sih! antara kamu dan Bima,"


"Ngak, ada apa apa,"


"Tapi, sepertinya, kamu lagi bermasalah dengan Suamimu itu?"


"Dia, selingkuh,"


"Apa?"Wina menatap Seila dengan tatapan yang penuh dengan selidik.


"Bima, selingkuh!"ini tidak mungkin kamu pasti salah, Bima itu sayang sama kamu, tidak pasti kamu salah,"


"Salah, apaan bergandengan begitu mesra, tuh cewek tangannya melingkar di leher Bima dan Bima juga menyambut dengan melingkarkan tangannya di pinggang itu cewek, apa itu tidak selingkuh."


"Tapi, Seila.?"


"Stop..!"aku tidak mau membahas ini, kalau kamu masih bicara tentang Bima lebih baik aku pergi,"


Di ujung malam yang sepi, ku terpaku merenungi kegagalan hidup ini, jadi belenggu dalam diriku.


Ke mana harus ku cari, kekasih yang telah pergi


siang malam tiada henti seakan semua smakin menyiksa.


"Win..!"ngenes amat nada dering kamu, ganti dong, jelek itu,"


"Cieeee, yang lagi merasa, bentar aku angkat telpon dulu ya,"seru wina yang kemudian menuju meja kecil di mana hapenya berada, ketika Wina Hendak mrngaggat telpon untuk beberapa saat tertegun melihat satu nama yang ada di layar pipinya, Seila yang melihat keanehan pada diri Wina segera mendekati.


"Siapa, yang telpon ?"


Wina menutup area microfon nya, dengan suara lirih Wina berkata.


"Suamimu,"


"Apa..?"Bima?"


Wina mengagguk,


"Bagaimana ini?"


"jangan bilang aku ada di sini, malas aku lihat muka seorang penghianat."

__ADS_1


"Hussst, Seila..!"kok ngomong ya begitu sih!"


"Awas, kalau bilang aku ada di sini, aku akan pergi,"ancam Seila.


"Iya, tenang,"


"ya, sudah, angkat, sana!"


"Halo...!"


"Halo, Win, mau tanya Seila ada di rumah kamu tidak,"


"Oh, Seila, ngak ada tuh, memangnya kenapa sampai mencari Seila apa dia pergi ngak bilang?"


"Iya, kayaknya, lagi ngambek, kalau lihat Seila bilang ke aku ya, aku mau minta maaf," ucap Bima jujur sambil terkekeh.


"Ya, Nanti aku kasih tau, Kalau aku melihat Seila."


"Ya, sudah, trimakasih.


Tidak lama kemudian hape Bima matikan, dan Wina menatap dengan tatapan penuh rasa gemas kepada temannya.


"Tuh, Bima , Binggung mencari tuh, kamu kenapa sih pakai matiin hape segala."


"lagi malas, saja ,yuk kita keluar jalan-jalan,"


"Ok, tunggu aku akan bersiap siap."


***


Bima menyunggingkan sebuah senyuman manis ketika telpon nya sudah di matikan. "Kalian bisa berbohong apa saja, tapi kalian tidak akan bisa membohongi sebuah hati, aku sangat yakin Seila ada di sana dan aku punya cara untuk bisa menemukan mu,"Desis Bima dalam hati yang telah merencanakan sesuatu.


****


Di dalam mobil Arina tidak banyak bicara, bibirnya terkatup, tatapan matanya begitu kosong, alam pikiran nya masih tertuju dan teringang ngiang akan ucapan Bima, "Istri ya istri, siapa istrinya Bima, seperti apa dirinya sehingga mampu mengikat hati laki-laki pujaan hatinya, bagaimana pun caranya Arina bertekad harus tau dan mengetahui siapa istri Bima, siapa wanita yang mampu menggantikan posisinya, tak kan pernah ku biarkan langit tersenyum indah dan mewarnai keindahan kehidupan cinta Bima dengan wanita lain, Bima hanya akan jadi milikku dan tetap milikku selamanya. Melihat sang istri tersenyum miring


Arya mengelengkan kepala nya.


"Apa, yang kamu pikirkan Rin. ?"


Pertanyaan Arya yang tiba-tiba membuat Arina sedikit gelagapan juga, pasal nya dia lagi dalam mode melamun, Arina menelan ludahnya dengan kasar.


"Tidak ada,"


"kalau tidak ada kenapa senyum senyum begitu?"


"Aku tersenyum karena kebodohanmu, ngapain juga habis tidur bareng kok aku kamu bawa ke Rumah sakit,"


"Oh, itu?" Arya terkekeh.


"biar, ngak ada yang serius, cideranya, hbisnya buat nanti malam, biar bisa lebih lama lagi,"


"Apa?kamu masih berencana mau lagi,"tanya Arina geram.

__ADS_1


Sedangkan Arya mengagguk tanpa merasa bersalah apalagi berdosa.


__ADS_2