
Pyarrr, sebuah gelas terjatuh, membuat semua yang mendengar nya berlari mendekat.
"Kak Bima, ada apa?"
"Ndak, tau Ndet, gelas ini tiba-tiba pecah dan perasaan ku kok tidak enak begini ya, hatiku berdebar debar dari tadi, aku kepikiran Seila terus."
"Ya, itu biasa orang kalau di mabuk cinta itu bawaannya mikirin di doi, melulu,"
"Tapi, perasaan ini benar benar aneh Ndet, aku takut ada apa apa dengan nya."
"Sudah tenang, ngak bakalan ada apa apa, bukannya Non Seila ada di rumah?"
"Seila, tidak ada di rumah dia pergi ke rumah Wina,"
"Oh, Kak Bima telepon saja dulu, dari pada resah,"
"Iya, kamu benar aku akan hubungi Seila."
Tak berapa lama Bima menekan satu nomor telpon.
Maaf, Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Ndet..!ngak aktif Nomor Seila, gimana ini."
"Kak Bima coba hubungi Wina siapa tau sudah sampai trus batre habis,"ucap Bondet memberikan penjelasan.
Dengan cepat dan dengan rasa khawatir Bima mulai menekan Nomor telpon Wina yang tidak menunggu berapa lama sambungan telepon pun terhubung.
"Halo..!
"Halo, Win, Seila sudah datang belum?"
"Bima! belum tuh."
"Apa? belum ya sudah makasih aku mau cari Seila dulu," ucap Bima dengan terburu buru.
"Hei... tunggu, kenapa panik begitu, barusan sepuluh menit yang lalu aku dapat pesan dari Seila katanya akan segera sampai.'
"Benarkah?" tanya Bima tak percaya.
"Sebentar aku kirim pesannya kalau tidak percaya,"
Wina segera mengirimkan pesan kepada Bima.
Ketika Bima hendak membuka pesan ternyata ada dua pesan yang masuk ke dalam hapenya karena si hape di kantor lagi mode Silen makanya Bima tidak tau, ternyata Seila juga mengirimkan pesan Padanya. Ketika Bima membuka pesan dari Seila Bima tersenyum sendiri.
"Tumben, kirim foto, cantiknya kalau lagi tersenyum begitu," Bima mengelengkan kepalanya melihat foto kiriman Seila saat berada di dalam supermarket.
__ADS_1
"Tumben, juga ngasih dua pesan," gumam Bima dalam hati.
Dengan senyum mengembang di bibir Bima kembali membuka pesan yang kedua dari Istrinya.
Isi pesan, Kak Bima..!" I love you, aku mencintaimu dan aku juga sayang kamu Emuuuuuaahh.
Bima mendelik melihat pesan kedua Seila yang lebay tapi bikin seneng mana dalam surat di kasih gambar hati bikin Bima semakin melayang layang dan tersenyum diam diam Bondet yang sedari tadi memperhatikan Bima
menatap dengan perasaan aneh.
"Kenapa senyum senyum kak?"
"Bukan, apa apa,"
"Dapat pesan dari Non Seila ya,"
"He,em,"
"bagi lihat dong, kepo aku,"
"Ngak Boleh, anak kecil," ucap Bima sambil terkekeh.
Bondet yang tadinya ikut khawatir kini juga ikut tersenyum bahagia.
"Gimana sudah ngak khawatir lagi kan?"
"Sudah itu mungkin hanya perasaan kak Bima yang terlalu cinta saja sama Non Seila,"
"Mungkin juga Ndet, ayo bantu aku membersihkan pecahan gelas ini,"
"Ya, ada pekerjaan baru deh,"
"Sudah, mau bantu ngak, kalau ngak mau gak papa minggir sana," titah Bima pada Bondet.
"Cieeee, gitu aja kak Bima ngambek, sini biar aku yang buang pecahan gelas nya."
Bondet segera mengambil sebuah cikrak untuk,membuang pecahan gelas, ketika Bondet melawati ruangan yang memiliki TV dan ketika itu TV sedang di nyalakan tiba-tiba mata Bondet tertuju pada sebuah foto gambar seorang cewek pengendara mobil.
Berita terkait hari ini, Minggu tanggal satu jauari pada pukul 2.00 siang, telah terjadi kecelakaan dengan Nomor Mobil 2337, di perkirakan pengendara mobil meninggal di tempat di karenakan Mobil masuk ke dalam jurang dan hangus terbakar.
Bondet melotot tak percaya, pasalnya Bondet hafal pemilik mobil dengan Nomor 2334 dengan sangat Histeris Bondet berteriak.
"Kak Bima...!" sini cepat?"teriak Bondet dengan keras.
Mendengar teriakkan Bondet dengan cepat Bima berlari menghampiri.
"Ada,apa? kenapa kamu berteriak dengan keras, brisik tauk."
__ADS_1
Dengan tangan bergetar dan dengan bibir terbata-bata Bondet menujuk pada layar TV yang ada di hadapan mereka.
"Itu, kak! bukankah itu Nomor mobil Non Seila?"
Bima pun menggikuti arah telunjuk Bondet, dadanya tiba-tiba serasa sesak, kakinya lemas
bibirnya bergetar.
"Seila...! ti-tidak... ini tidak mungkin, tidak mungkin itu Seila, Tidak, itu bukan Seila, Mereka salah meliput berita kan Ndet," ucap Bima sambil menguncang guncangkan tubuh Bondet.
"Jawab, Ndet, Mereka salah meliput berita kan,"tanya Bima sambil menitikkan air mata Bondet yang melihat Bima Shock menjadi iba bibirnya pun terasa keluh dengan berat hati Bondet pun menjawab.
"I-itu, beritanya be-benar, kak."
"Tidaaaaaaaaakkk..!!!"Dengan cepat Bima berlari keluar tanpa bicara dengan Bondet, sementara Bondet dengan cepat pula menggikuti Bima yang berlari keluar dan ternyata Bima menaiki Motornya, menyadari Bima tidak akan berasa basi mengajak dengan sigap Bondet melompat Naik ke belakang motor Bima sebelum Bima melajukan motornya.
Bima yang diliputi perasaan gundah dan resah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sehingga Bondet pun harus menahan nafas setiap kali melewati jalanan yang sedikit naik turun karena Bima melajukan motornya bagaikan pembalap motor trill yang selalu ada loncatan loncatan dalam setiap perjalanan nya, tidak terlalu lama dan tidak menghabiskan banyak waktu Motor Bima pun sudah sampai di tempat lokasi kecelakaan, di mana di sana sudah banyak orang berkerumun yang memandang bangkai mobil yang tak lagi bisa di selamatkan. Bima segera melompat turun dari motornya dan di ikuti oleh Bondet.
"Seilaaaaaaa....?"
Suara teriakan Bima membuat beberapa orang yang ada di sana seketika menoleh.
"Nak, jangan kesana jurangnya cukup dalam dan mobil itu sudah habis terbakar."
Bima tidak menghiraukan teguran dan larangan orang yang ada di sana dengan langkah cepat Bima segera melakukan loncatan yang sangat berbahaya.
"Kak Bima, jangan melompat ini berbahaya," ucap Bondet kepada Bima.
"Kalau, kau takut, diam saja di sini biar aku mencari istriku, sendiri,"
"Tapi, kak!"
Belum juga Bondet selesai Bicara Bima sudah meloncat, Bondet pun tak tinggal diam yang awalnya tak berani mengambil resiko dengan meloncat, melihat Bima neloncat bondet pun segera ikut melompat Bondet juga tidak lagi memperdulikan resikonya, yang dia mau apapun yang terjadi Bondet akan selalu setia mendampingi Bima.
Sampai di dasar pinggir jurang di mana mobil sudah hitam legam Karena telah hangus dan apinya pun sudah tak lagi menyala Bima mencari cari dan memanggil manggil nama Seila.
"Seila...!di mana kau?"
"Seilaaaaaa, aku sudah datang, kau di mana?"teriak Bima berkali-kali.
Seorang petugas polisi yang kebetulan mengevakuasi, mobil Seila menatap sendu dan Iba kepada Bima.
" yang , sabar, mas harus ihklas, mas pasti suaminya, saya turut berdukacita atas apa yang baru saja terjadi, istri mas sudah bisa di pastikan mati di tempat."
Mendengar ucapan salah satu petugas polisi yang ada di situ Bima menatap dengan tatapan tajam seolah olah hendak menerkam hidup hidup orang yang ada di depannya.
"Apa? berduka cita atas, kepergian istri ku, tidak, istriku belum mati mungkin dia ada di sekitar sini, lihat saja aku akan menemukan nya," ucap Bima seraya pergi.
__ADS_1