Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab. 134.LOLOS


__ADS_3

Melihat Seila berlari keluar dengan cepat Bima pun ikut berlari mengejar tapi ketika sampai di luar hotel Bima melihat sebuah sepeda motor mendekati Seila dan dengan cepat Seila pun naik ke dalam boncengan nya, Bima yang gagal menangkap Seila menendang kan kakinya pada sebuah botol yang kebetulan tergeletak di tanah.


"Araaaaaagggghhhh, lolos dia, akan ku cari kamapun kamu bersembunyi."teriak Bima garang.


"Aku sangat yakin kau tau segalanya tentang kecelakaan yang menimpa Seila atau jangan kau pelakunya, lihat saja aku akan bisa menemukan mu dengan segera." dengus Bima kesal.


Sedangkan motor yang membawa Seila mulai memasuki pusat perkotaan dan berhenti di sebuah Apartemen yang cukup bagus di kawasan itu.


"Untung kau datang tepat pada waktunya, jika tidak aku bisa berakhir di penjara."


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang boss?"


Tunggu, situasi aman, tugasmu hanya mencari informasi tentang kecelakaan itu, cari tau berita tentang wanita si pengendara mobil yang hangus terbakar itu, jika kau berhasil aku akan memberikan bayaran yang lebih kepada mu."


"Baik, boss! aku permisi dulu."


"Pergilah."


Di dalam rumah Seila mondar mandir bagaikan setrikaan pikiran nya begitu kalut dan suntuk, Masih tergambar jelas di peluk matanya sikap kasar Bima sore itu, seandainya Bima benar benar kalap dan lepas kontrol pasti lah luka di bibirnya akan sangat parah, tapi rupanya Bima hanya ingin memberikan sedikit bekas luka begitu juga ketika Bima menarik rambut panjang Seila yang sebenarnya tidak lah sakit karena tarikan nya tidak begitu kuat, acting Seila yang sengaja merintih sakit agar Bima luluh agar Bima bisa bersikap lembut, rupanya juga gagal, bahkan ketika Bima merobek kasar baju atasnya rupanya Bima hanya ingin memastikan apakah dirinya memiliki bekas luka di punggung dan tailalat di bagian dada kiri, kini Seila baru menyadari jika ajakan Bima ke hotel hanya ingin membongkar kedok penyamaran nya.


"Sial, benar'benar sial belum apa-apa sudah ketahuan duluan, sia sia sudah aku merubah wajahku menjadi wajah sialan ini, jika pada akhirnya Bima masih tak bisa ku miliki."


Di tengah tengah amarah yang sedang melanda hatinya terdengar ponsel hape Seila berbunyi, dengan malas Seila menganggat panggilan telpon itu.


"Halo!"


"Halo, Arin...! kapan loe jenguk suami loe, capek gue yang ngurusin terus."


"Aku, tidak akan menjenguk, jika kamu mau, kamu boleh meninggalkan nya serahkan saja dia sama perawat disana."


"Loe, sudah gila apa?"


" Nov, aku malas membahas ini jika kau butuh uang tambahan katakan saja tapi jika cuma ingin meminta ku untuk datang tidak, aku tidak akan pernah datang."


"Dia, suami loe Rin, tega amat sih loe!"


"Kalau aku bisa tega membuatnya celaka, apa kau pikir aku tidak tega untuk tidak melihatnya, sudahlah urusan Arya kamu urus sendiri terserah kamu, mau merawat dia atau meninggalkan nya itu terserah kamu jangan minta aku untuk menggurus nya."


"Tapi, Rin!"


"Sudah, aku capek, aku mau istirahat, sudah tidak ada yang penting lagi kan, besok aku transfer uangnya lagi."


"Tit..!" tanpa menunggu Arina mematikan sambungan telponnya.


"Rin..!' Halo..?Rin, yaah, di matikan telepon nya."Keluh Novi kecewa.

__ADS_1


"Apa kau sedang bicara dengan istriku Arina?"


Deg..!"Novi tersentak kaget ketika mendengar suara Arya, terlebih ketika mendapati Arya sudah ada di belakang nya dengan kursi Roda.


"Arya?kau..!"sejak kapan kau berada di sini?" tanya Novi gugup, Novi sangat khawatir jika Arya mendengar semua percakapan nya dengan Arina.


"Sudah, dari tadi!"


"Apa, kau mendengar percakapan kami?"


"Tentu saja!"


"Ap-apa saja yang telah kau dengar?"


"Semuanya!Arina kan yang telah mencelakakan ku dan membuat diriku sekarang cacat."


"Oh, tidak itu tidak benar, itu kamu salah dengar."ucap Novi gugup.


"Oh ya! Jadi aku salah dengar, mau sampai kapan kau akan jadi budak suruhan istriku!"


"A-aku, aku tidak mengerti apa maksud mu?"


"Oh ya! bukankah kau yang mendukung setiap kejahatan yang di lakukan istriku, agar kau bisa mendapatkan imbalan dari semua itu."


"Arya..!"


"Arya maafkan aku, sungguh aku tidak punya pilihan lain waktu itu."


"Sudahlah, kalian telah bermain main dengan api, cepat atau lambat kalian pasti akan terbakar."


"Apa maksud mu?'


"Tidak ada, cuma menggingatkan apa yang kalian lakukan itu termasuk tindak kejahatan, yang akan membuat kalian bisa berakhir di penjara."


"Apa, kau juga akan menuntut istrimu,"


"Tidak, aku akan biarkan dia sadar dan bertobat akan dosanya sendiri."ucap Arya seraya pergi dengan kursi roda yang di jalankan nya sendiri.


Arina menatap kepergian Arya dengan tatapan mata kagum, tidak ada seorangpun yang disakiti bahkan hampir kehilangan nyawanya masih tetap mau memahami dan tidak menuntut dengan langkah cepat Novi mengejar kursi roda yang membawa Arya dan segera membantu Arya melajukan kursi roda nya dengan mendorong nya.


****


Hari mulai gelap Ningsih yang baru saja pulang dari menonton film bioskop bersama Hendrrto sudah memasuki halaman perkarangan rumah Ningsih.


"Makasih, mas! sudah membuat hari ini menjadi indah buat Ningsih."

__ADS_1


"Iya, Ning, kalau kamu senang mas juga senang, ya sudah mas pulang dulu ya?"


"Iya, mas!"


"Ning!"


"Iya, ada apa mas?"


"Apa, tidak ada ciuman untuk ucapan selamat malam buat aku?"


Karena Ningsih diam akan tetapi raut wajah nya berubah merah merona, Hendrato tersenyum.


"Kenapa masih malu?" bukan kah kau itu kekasih ku,Ayo di sini,"Hendrato menunjuk pada kedua pipi nya sambil sedikit menunduk dengan malu malu dan sedikit terpaksa Ningsih pun mendaratkan kecupan nya, setelah itu berlari menjauh, Hendrato tersenyum puas dan senang di lambaikan nya tangannya yang juga mendapat kan sambutan lambaian tangan dari Ningsih, Mobil Hendrato akhirnya meninggal kan halaman Rumah Ningsih. Tanpa Ningsih sadari ada sepasang mata yang menatap nya dengan tatapan sinis berdiri tepat di samping Rumah nya.


"Pasti menyenangkan sekali ya! jika mencium sang kekasih."


Mendengar suara sindiran, spontan Ningsih menengok ke sumber suara.


"Pak Bima? ngapain bapak di sini?"


"Menunggu istri ku pulang lah?"


"Apa?"


"Bukan, maksudku menunggu karyawan ku pulang."


"Memang ada perlu apa, bapak malam malam begini menunggu saya pulang?"


"A-aku! ya itu, mau membicarakan soal pekerjaan mu yang tidak beres."


"Apa? memangnya pekerjaan apa yang saya kerjakan tidak beres."


Bima semakin binggung mencari alasan, pasalnya dia datang sengaja hanya ingin bertemu dengan Ningsih yang ternyata istrinya.


"Apa, harus aku membicarakan nya dengan berdiri, apa tidak bisa kau suruh aku masuk dan buatkan aku secangkir kopi, biar tidak kering ini tengorokkan."


"Ini sudah malam bapak mau bicara apa , cepat bicara lalu cepat pulang."


Mendengar ucapan Ningsih Bima seketika mendelik tak percaya.


"Kau, mengusirku?"


"Aduh, pak! aku tidak mengusir bapak tapi aku cuma meminta bapak ."


"sama saja itu,"sungut Bima kesal.

__ADS_1


Membuat Ningsih tertawa, melihat wajah boss nya yang mayun rasanya geli, boss galak bisa juga ngambek batinnya dalam hati, sedangkan Bima menatap Ningsih dengan tatapan mata sayu, Ingin rasanya merengkuh dan memeluk gadis yang ada di depannya dan berkata aku Suamimu, tapi keinginan itu harus Bima tahan menggingat Hendrato pernah berkata jangan memaksa Ningsih menggingat masa lalunya Karena hal itu dapat memicu daya kerja otak untuk menggingat dan jika tidak kuat bisa berakibat sakit pada area kepala nya.


.


__ADS_2