Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.108.BAIK KAN


__ADS_3

Iqbal segera membantu Bondet membawa Bima masuk ke dalam mobil mereka, setelah membantu mendudukkan Bima di depan, Bondet segera turun dan berkata.


"Aku, yang bawa motor kak Bima, kamu yang membawa mobil dan kak Bima pulang,"


"Ok, siap ..!"


Mobil melaju dengan santainya menuju ke Rumah Bima, sementara Bondet menuju Rumah Bima dengan menaiki motor milik Bima.


*******


"Masuklah, Non!" biar semua ku jelaskan," ajak Bik Inah ramah


Seila menggikuti langkah Bik Inah dan duduk di tepi ranjang.


"Ini Non,"


"Apa, ini Bik!"


"Non Seila, buka sendiri saja biar tau isinya,"


Dengan perlahan lahan Seila membuka kotak tertutup yang di berikan Kepada nya, ketiika kotak itu sudah terbuka terlihat lah beberapa foto masa masa kuliah di mana ketika itu dia sedang menunggu seseorang untuk pulang bersama.


"Kenapa Bima memiliki gambar fotoku, apakah jangan jangan Bima sengaja menggikuti dan mengambil gambar ku secara diam diam,"Gumam Seila dalam hati..seolah olah Bik Inah memahami jalan pemikiran Seila, Bik Inah menjawab.


"Iya, Den Bima sering mengambil gambar Non Seila secara diam diam karena sudah sangat lama Den Bima suka sama Non Seila, cuma Non Seila saja yang tidak mengerti,"


"Maksud Bik Inah apa?"


"Den Bima sudah jatuh hati pada Non Seila jauh sebelum Non Seila menjadi istri Den Bima,"


"Benarkah itu, Bik?"


"Kenapa saya harus berbohong, sekarang Non Seila sendiri bagaimana? Apakah tidak sekalipun Non Seila menyukai Den Bima, maksud Bibik apakah Non Seila tidak ada rasa cinta sama Den Bima begitu,"


Seila terdiam sesaat akan tetapi raut wajahnya berubah menjadi bersemu merah, ketiika Bik Inah menanyakan prihal isi dan suasana hatinya untuk Bima, jujur entah sejak kapan rasa suka itu ada dan hadir entah mengapa rasaanya sangat nyaman dan senang jika berada di dekat Suaminya ketika itu hatinya masih belum yakin, tapi kini tidak ada alasan untuk meragukan cinta dari suaminya.


"Non..! Kenapa Non Seila diam,"


"Eh-iya, Bik, Bibik bicara apa?


"Apakah,Non Seila tidak memiliki rasa buat Den Bima,"


Seila tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan meletakkan kembali kotak yang di berikan Bik Inah kepada nya.


"Apakah harus aku menjawabnya Bik,"Ucap Seila dengan tersenyum.


"Jadi, apa benar Non Seila juga Cinta sama Den Bima dan apakah itu artinya Non Seila tidak akan minta cerai lagi sama Den Bima? tanya Bik inah beruntun,"


Seila tidak menjawab tapi dia tersenyum dan mengangguk.


"Wah, pasti Den Bima senang, ayo, Non cepat,"


"Cepat kemana Bik?"


"Cepat telpon Den Bima, suruh pulang,"


"Ngak mau, malu Bik,"


"Lho kok, malu,"


"Bik inah saja yang telpon,"


"Wah, Non kok saya,"


"Sudah, sana Bibik yang telpon,"

__ADS_1


"Baiklah, Non,"


Bik Inah dan Seila keluar kamar meniju ke ruang tamu di mana Bik inah akan menelpon Bima dengan menggunakan nomor telpon rumah.


Ketika Bik inah sedang memencet nomor telpon tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.


Ting tong...!"Ting Tong...!"


"Wah panjang umur Non, Den Bima sudah datang tuh, ayo, Non Seila Bukain pintunya,"


"Tapi Bik!"


"Sudah, sana, Non Seila jangan malu malu kan Den Bima Suami Non Seila sendiri."


Dengan ragu ragu akhirnya Seila membuka pintu dan ketika pintu terbuka yang muncul ternyata.


"Iqbal..!" tumben kemari,"


"Non Seila buka pintunya yang lebar agar, kami bisa membawa masuk kak Bima,"


"Kami maksdnya apa?"


Belum juga Seila mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya tiba-tiba sebuah motor berhenti dan Alangkah terkejut nya Seila ketika tau si pengendara motor ternyata bukan suaminya melainkan Bondet, otak Seila tiba-tiba berfikir Negatif jangan jangan...


"Ayo, Bal, cepat,"


Mendengar teriakkan dari Bondet segera iqbal berlari menuju mobil mata indah Seila mengekor kemana Iqbal berjalan hati dan pikiran Seila sudah mulai tak tenang khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya, tak lama kemudian Iqbal dan Bondet keluar dari mobil dengan memapah seorang pemuda tampan.


"Kak Bima...!" ada apa dengan nya,"


"Minggir, Non, beri kami jalan,"


Dengan refleks Seila mundur memberikan jalan yang lebih luas untuk bondet dan iqbal.


"Aduh, ada apa dengan Den Bima?"


"Kenapa mukanya bonyok begitu, Paling di luar lagi berantem sama orang, betul begitu kan Ndet,"


'Iya, Non! habis di pukul orang untung saya datang, Kak Bima tidak melawan jadinya dia bonyok begitu,"


"Kak Bima, kenapa tidak mau melawan?" Emangnya, kak Bima mau jadi jagoan,"


"Ini, tidak sakit kok,"


"Bonyok, begini tidak sakit..!"


"Yang, sakit di sini sayang, di hatiku, jangan tinggalin aku ya," ucap Bima dengan tatapan mata sayu.


Seila merasa iba melihat Suaminya babak belur tapi masih bisa bilang tidak sakit.


"Bik, ambilkan kotak obat,"


"Baik, Non..!"


Dengan telaten Seila mengobati luka memar yang ada pada wajah dan punggung Bima.


"Ayo tengkurap, biar aku bisa mengobati lukamu,"


Tanpa melawan Bima menggikuti perintah Seila untuk tengkurap, Seila mulai menaikkan sedikit baju Bima ke atas.


"Non, Seila! jangan begitu, itu masih susah nantinya lepaskan saja baju atas kak Bima biar mudah untuk di obati," seru Bondet.


Mendengar teriakkan Bondet Seila pun menurut di bukanya baju atas Bima, kulit putih bercampur dengan dengan warna biru tua dan merah bekas pukulan orang. Melihat kulit Bima yang putih menjadi memar membuat Seila menggigit Saliva nya, ingin rasanya memberikan kecupan di punggung itu agar rasa sakitnya bisa sedikit berkurang, tapi Seila malu.


"Pelan pelan , sakit di situ,"

__ADS_1


"Ini sudah pelan, ayo, sekarang balik badannya sudah selesai ku oles salep semua,'


"Wah, cepat sekali kok tidak terasa ya,'goda Bima.


"Apaan, sih," elak Seila sambil mencubit pinggang Bima membuat Bima sedikit meringis.


"Sakit, sayang, jangan di cubit cubit dong,"


Melihat Seila dan Bima seperti nya lagi sibuk berreuni Cinta dengan penuh pengertian Bik inah segera pergi dari kamar itu, begitun dengan Iqbal dan Bondet keduanya menggikuti Bik Inah keluar kamar. Seila yang melihat itu menatap binggung.


"Kalian, mau kemana?"


"Bibik, mau buatin minum, Non,"


"Aku, juga mau tiduran di sofa saja di sini panas,"


"Kan, ada AC nya,"


"Iya, Non tapi masih lebih enak di luar udaranya alami, iya kan Bal?"


"Apa...?oh iya, enak di luar kami keluar dulu Non,"


"Iya, cepat pergi sana bikin orang susah untuk nafas saja," sahut Bima cepat.


"Sesak Nafas gimana, ini kan sudah full Ac kak,"


Bima duduk dan menatap wajah istrinya di tatap dengan tatapan aneh begitu jantung Seila mulai berpacu dengan cepat, terlebih Bima mulai merengkuh wajah Seila.


"Kaa-kak Bima, mau apa?" tanya Seila gugup.


"Aku mau meminta, sesuatu,"


"Sesuatu..!boleh apa itu, ta- tapi, jangan terlalu dekat begini,"


Seila yang merasa canggung dan sedikit tegang dengan perlahan menepis tangan Bima yang hendak menyentuh wajahnya.


"Kenapa, menghindar, apakah jantung mu, lagi bergejolak,"


"Kak, Bima ngomong apa sih, aku ngak ngerti, deh,"


Bima tersenyum smrik ada rasa senang melihat istrinya salah tingkah karena perbuatannya.


"Kau tidak akan meninggalkan aku kan,"


"Iya,"


"Benarkah?"


Seila tidak menjawab dia hanya mengagguk.


"Jawaban nya, singkat melulu, katanya mau mdngobati luka yang ada di wajahku,"


" iya,"


"Cepat, duduk dan ini sakit sekali obati pelan-pelan ya,"


"Iya,"


Dengan sedikit jantung berdebar tak karuan Seila duduk di depan Bima dan mulai mengoleskan salep dan obat untuk Bima, merasa di tatap selalu Seila menjadi rikuh dan canggung.


"Jangan, menatapku begitu, ayo, pejamkan mata saja,"


"Lho, aku kan mau menatap wajah istriku, kenapa tidak boleh,"


"Bukan tidak boleh cuma...!"

__ADS_1


"Cuma, tidak kuat menahan debaran dalam hati yaaa...?"Cletuk Bima tepat.


"Apaan, sih,"ucap Seila sambil mendorong pelan tubuh Bima, sehingga tubuh Bima jatuh ke ranjang, akan tetapi Bima tidak Jatuh sendiri karena tangan Bima dengan sigap menarik tubuh Seila, sehingga Seila pun jatuh dengan menindih tubuh Bima. Seila tersentak kaget' ketika tubuhnya ikut jatuh wajah cantiknya semakin merah merona ketika menyadari tubuhnya menempel erat pada dada bidang milik Bima, sementara Bima memejamkan mata merasa kan hangatnya kedua bukit kembar milik Seila yang menempel erat merapat dengan tubuhnya.


__ADS_2