
Bima tersenyum menyeringai karena bisa ngerjain istri nya. Sesuai perjanjian Bima dan Seila akan tinggal di rumah ibu angkatnya selama empat hari dan ini baru dua hari dan bagi Bima itu sangat menyiksa tidur sendiri tanpa istri di sampingnya, mau berduaan susah mau manja manja an juga susah, semua serba kucing kucingan, tapi bukan Bima kalau ngak bisa membuat Istri nya menurut padanya, dulu Bima selalu menahan rasa di dalam hati karena takut akan menyakiti dan membuat Seila marah, tapi setelah tau jika Seila juga mencintai nya kini semua menjadi lebih mudah tidak ada lagi rasa takut dan was was, selain takut bikin istrinya jeles saja.
Bima masih senyum senyum sendiri sambil telungkup dengan sentuhan sentuhan halus tangan milik Seila yang sedang memijit punggung nya yang sebenarnya tidak lah sakit, bagaimana bisa sakit, Bima tidak melakukan apapun di sawah selain menjadi mandor diadakan, di karenakan Ayah angkat Seila sudah menyuruh orang untuk mengurus segalanya, tapi karena ingin ngerjain sang istri Bima mengambil satu potret tentang keterlibatan dirinya dalam kesibukan di sawah.
"Kak..Sudah ya, tanganku capek nih." keluh Seila merasa sudah lelah karena sudah memijit punggung Bima selama beberapa menit. Bima yang tak pernah bisa dan tega jika mendengar suara rengekan sang istri pun segera membalikkan badannya.
"Baiklah, cukup, ini sudah enakan kok, coba mana tangannya yang capek biar ku urut." pinta Bima pada Seila yang langsung meraih tangan putih dan halus milik Seila yang dengan cepat langsung Seila tarik tangan nya, ada rasa gugup dan berdebar debar kala Bima menyentuh tangan nya, hal itu mungkin terjadi karena sudah terlalu lama Bima dan Seila tidak melakukan kontak fisik hingga membuat Seila merasa canggung dan malu.
Bima mengeryitkan dahinya melihat sikap aneh dari istri nya, sikap yang di tunjukkan masih batas batas orang yang lagi pacaran dan masih malu malu.
"Sayang ...!" katanya tangan nya pegal pegal kok aku bantu pijit tidak mau."
"Ngak usah kak, nanti capeknya juga akan hilang sendiri." Seila berusaha menghindari dari pertanyaan pertanyaan Bima yang sangat memojokkan nya, hingga membuat kedua telinganya memerah dan kedua pipinya juga ikut merah merona, Bima semakin gemas melihat sikap istri nya yang malu malu membuat Bima menelan ludahnya dengan kasar yang tiba-tiba kerongkongan nya terasa kering.
"Di pijit itu rasanya lebih enak dan rasa pegal pegal nya akan cepat hilang, sini.'
Tanpa menunggu persetujuan dari Seila Bima segera meraih tangan Seila dan di pijitnya dengan perlahan lahan, tangan yang tadinya hangat tiba-tiba berubah menjadi dingin Lagi-lagi Bima mengeryitkan dahinya merasakan keanehan itu
"Sayang...Aku ini Suami mu bukan Boss kamu, jangan tegang begini, yang rileks saja."
"Bicara itu mudah kak, tapi kenyataannya aku masih merasa sangat Asing denganmu."tukas Seila yang perlahan lahan berusaha menarik tangan nya dari genggaman tangan Bima Namun usahanya gagal karena Bima masih menahan tangan itu dengan erat.
"Biasakan, untuk tidak asing lagi bersama ku, karena cepat atau lambat kau harus melakukan kewajiban mu karena aku akan meminta hak ku,"
"Kak Bima ngomong apaan sih," tukas Seila yang kemudian turun dari Ranjang karena merasa kedua pipinya sudah sangat terbakar, rasanya panas sementara Bima senyum senyum melihat tingkah lucu dari istrinya.
Ketika Bima sedang sibuk memandang wajah sang istri yang lagi salah tingkah tiba-tiba Pintu kamar di ketuk dari luar.
"Tok...!
"Tok..!
"Tok..!
__ADS_1
"Ningsih, apakah kamu sudah tidur Nak?"
Seila menatap ke arah Bima dengan panik.
"Kak Bima, ada Ibu di luar bagaimana ini," tanya Seila cemas.
"Aku akan bersembunyi,"
"Jangan ngacau deh, Kak mau sembunyi di mana ini kamar sempit."
"Sudah tenang saja kanu cepat buka pintunya."
Meskipun ragu-ragu akhirnya Seila membuka pintu, meskipun dengan hati Was-was.
Sementara Arya yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang yang kemudian di tepikan karena Arya sedang melakukan panggilan telepon. terdengar suara sahutan dari sebrang.
"Halo .!"
"Wah...Boss mana bisa secepat itu, orang nya saja belum tau kok sudah minta besok janjian nya,"
"itu, urusan mu pokoknya atur pertemuan ku dengan nya secepat nya titik."
Tapi..Boss. !
Tut...!" suara telpon sudah di matikan tinggalah Jack ngomel ngomel sendiri.
"Punya Boss galak itu susah, semua serba harus sesuai dengan aturan, tidak perduli itu mudah atau susah, bagaimana bisa dengan cepat menemukan orang yang bernama Bima.
"Ting...!"sebuah pesan masuk.
Dengan cepat jack membuka isi pesan tersebut.
"Hanya sebuah gambar foto orang bernama Bima huuuuff, pekerjaan berat lagi yang hanya di kasih waktu dua hari.
__ADS_1
Di sisi lain Novi yang lagi menemui Arina menatap sayu wajah temannya yang kini terlihat sangat kurus dan pucat, sinaran matanya tak lagi memancarkan sebuah semangat, satu hal yang sangat berbeda di mana beberapa tahun lalu tubuh kurus itu sangat segar dan ceria tapi kini semua seakan mati dan sirna.
"Arin... kenapa kamu jadi begini.'tanya Novi iba gadis galak dengan sejuta perintah yang tak bisa di bantah kini begitu lemah dan rapuh sedang duduk di hadapan nya.
"Kenapa Nov..! aku baik baik saja kok "
"Arin..Arin...,!"coba dulu kamu jadi istri yang baik dan tidak mengejar ambisi dari cintamu pasti semua ini tidak akan terjadi, kau akan hidup enak dan serba tidak kekurangan tapi sekarang lihat dirimu sudah kurus di tambah harus mendekam di penjara seperti ini apa kamu tidak menyesal Arina.
Arina tersenyum kecut mendengar perkataan Novi temannya yang kini sedang sibuk menghakimi semua perbuatan nya.
"Gimana apakah kamu di jenguk Arya?' tadi aku sempat melihat dia juga ada di tempat ini."
"Bagaimana kabar dari Ayah mu Nov!"tanya Arina yang sengaja mengaihkan topik pembicaraan, Arina tidak ingin bicara atau membicarakan tentang Arya lagi , Arina sudah cukup merasa hina dan terhina melihat sikap yang di berikan Arya padanya, sungguh Arina tidak pernah membayangkan jika Arya sangat dan amat sangat mencintainya, Arina dapat melihat tatapan mata kesedihan di sana, jika saja bisa dan. boleh ingin sekali Arina mengakhiri hidupnya, dia. benar' benar merasa sangat bersalah dan malu, kebaikkan yang Arya Berikan bukanlah obat penenang hatinya tapi justru pelumpuh semangat nya yang mana rasa kasih sayang dan perhatian Arya justru menyiksa batinnya, perasaan bersalah dan malu tak dapat lagi dia sembunyikan ingin rasanya berlari menjauh sejauh jauhnya agar tak lagi bisa melihat dan bertemu lagi dengan Arya.
"Hei ..kamu sengaja ya, menggalahkan pembicaraan, aku tanya tentang Arya Kenapa kamu malah bertanya tentang Ayah ku." sungut Novi kesal.
"Itu karena aku pernah berjanji akan menjaga Ayah mu di sini tapi setelah aku berada di dalam penjara seperti ini aku tidak tau lagi bagaimana keadaan Ayah mu jadi wajar kan jika aku bertanya dan aku minta maaf seandainya keadaan Ayah mu tidak baik baik saja seperti yang kamu harapkan."
"Ayah ku baik baik saja Arin, srkarang katakan pada ku apakah Arya ke sini menjenguk mu?"
Arina tidak menjawab dia hanya mengagguk.
"Apa yang dia katakan pada mu."
"Tidak ada, Nov.. maaf aku balik dulu ya aku capek lain kali saja kamu datang ke sini."
"kau menggusirku!'
"Maaf,"
Baiklah aku pamit pulang jaga dirimu baik-baik."
"Trimakasih." ucap Arina seraya berlalu pergi kembali ke dalam ruang di mana dia di tahan.
__ADS_1