Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.123.KESAL


__ADS_3

"Katakan, Pak Hendrato mau bertanya apa?"


Dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan dengan sedikit gugup Hendrato bertanya.


"Apa, kau memiliki tailalat di paha kanan dan di salah satu bukit kembar mu sebelah kiri atas."


Raut wajah Ningsih berubah menjadi merah padam dan kedua bola matanya melotot sempurna seolah olah siap menerkam apapun yang ada di depannya. Sementara Hendrato menunduk sambil berdoa.


"Smoga dugaanku salah."ucapnya dalam hati.


Hendrato yang menunduk tiba-tiba menengadahkan kepalanya ketika sebuah bantal guling Melayang ke mukanya.


"Auuuuuh," seru Hendrato kaget.


"Kamu, kurang ajar, pak! jadi kamu sudah lihat semua nya dariku kenapa kau jahat sekali," Teriak Ningsih dengan tersedu sendu.


Hizk...hizk...hizk


Hendrato menatap tak percaya.


"Ja-jadi, apakah, yang kutanyakan benar." ucap Hendrrto dengan suara parau.


"Iya, semua benar, kenapa kau bisa tau itu? jangan jangan kau orang yang menjahatiku, hizk ...hizk...!" Teriak Ningsih sambil sesenggukan.


Mendengar ucapan gadis di depannya Hendrato langsung lemas bibir dan tangannya bergetar kakinya melangkah mundur sampai dia menempel di dinding yang kemudian jatuh terduduk dengan menunduk, air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja.


Kehidupan manusia tidak ada yang tau begitupun permainan takdir, mungkin inilah jawaban dari semua doa yang Hendrato pinta tapi kenapa harus bertemu dengan keadaan yang sangat memprihatikan begini.


Hendrato menatap wajah di depan nya dengan tatapan mata sayu, di dekatinya gadis yang sedang sesenggukan di atas ranjang dan di dekapannya dengan erat seolah olah tidak ingin berpisah lagi.


" Lepaskan, dasar dokter brengsek, kau apakan aku hah?sehingga kau tau semua." teriak Ningsih sambil memukul-mukul dada bidang milik Hendrato yang masih memeluk nya dengan erat.


"Bagaimana, aku tidak tau, aku tau karena kau itu pacarku calon istri ku," Ucap Hendrrto berbohong karena kalau Jujur bilang mantan pacar bisa bisa di benci lagi, Hendrato tidak mau di benci lagi.


Kemarahan Ningsih mulai mereda.


"lalu, siapa aku?"


" kamu, Seila? namamu Seila, apa kau ingat."


Gadis bernama Ningsih itupun mengelengkan kepala nya dengan kuat.


"Aku, tidak ingat apapun."


"Kalau begitu, untuk sementara kau tetap memakai nama Ningsih saja, setelah ingat baru kau pakai nama Seila agar kamu bisa yakin aku tidak berbohong."


"Baiklah."


"Takdir Allah itu indah, kita berpisah aku kehilanganmu kini dengan caranya pula dia kembalikan kamu kepadaku."


"Tapi, aku belum merasakan ada rasa suka kepada mu."


"Itu, karena ingatan kamu belum sembuh jadi seperti itu, kau bisa pelan pelan belajar mencintai ku lagi."

__ADS_1


Hendrato kemudian merenggangkan pelukannya.


"Dengarkan, aku, kau harus banyak beristirahat dan makan dengan teratur agar cepat pulih dan sehat, aku pergi dulu, nanti aku kesini menemanimu, lagi."


Hendrato pergi setelah mengecup lembut kening Ningsih. Dengan cepat Hendrato masuk ke dalam ruang pribadi nya dan menguncinya dari dalam dia tidak mau siapapun melihat nya dalam keadaan yang begitu buruk.


"Seila..! siapa orang yang tega mencelakai mu sampai sebegitu rupa, seandainya ibu baik hati itu tidak menemukan mu mungkin aku akan kehilangan dirimu untuk selamanya, aku senang kita bisa bertemu lagi, tapi mengapa harus dengan cara begini, kau tau hatiku sakit ketika tau orang yang kurawat itu adalah kamu, smoga kamu sabar menghadapi ini semua, aku berjanji aku akan selalu mendampingi mu dan selalu menjagamu, sekarang aku harus menemui dokter irawan.


Bergegas Hendrato melangkah keluar pintu dan menuju ruangan Dokter Irawan.


Tok...!Tok ..!Tok...!"


"Masuk, hei kenapa wajahmu sendu begitu ada apa?


"Wan, gadis yang baru saja kau operasi wajahnya dia adalah kekasih ku."


"Apa? kekasihmu !"


"Ya, jadi semua biaya aku yang menanggung nya."


"Apa, kau serius?"


"Ya, aku Serius,"


"Baiklah, besok aku akan bicara dengan ibunya Ningsih agar tidak lagi mencari uang untuk biaya anaknya.


Hari berganti hari waktu pun terus berlalu hubungan Ningsih dan Hendrato pun sudah mendapatkan persetujuan dari ibu angkat Ningsih, mereka berdua menjalani hubungan cinta dengan sangat manis Hendrato yang penyabar selalu dapat mengalah dan menuruti semua yang di minta kekasihnya.


"Iya, mas, tenang saja aku pasti telpon, tapi boleh kan mas, aku nanti di sana bekerja."


"Mas, kan selalu kasih uang kamu, jadi ngak usah bekerja lah."


"Jenuh, mas! aku mau kerja, lagi pula ibu juga suka sama kalau dapat hasil kerja dari anaknya, iya kan Bu?"


"Tentu saja Nduk ibu suka,"


"Tuh, ibu suka jadi boleh kan mas?"


"Ya, deh, boleh tapi harus jaga diri baik baik."


Ningsih mengacungkan jempolnya sebelum naik ke kapal di mana hari ini Ningsih boleh pulang ke tanah air.


******


Di depan cermin Seila sangat geram dan uring uringan.


"Sial, Kenapa sih, tidak bisa dan gagal terus, aku sudah ada di rumah ini lebih dari satu bulan tapi kenapa Mas Bima belum sekalipun menyentuh ku, apa aku kurang seksi, pokoknya malam ini tidak boleh gagal lagi, kalau gagal terus kapan aku bisa punya anak darinya dan itu bisa membuat aku jauh darinya aku mau memiliki anak agar Bima segera terikat dengan ku.


Dengan resah Seila mondar mandir di dalam kamar menunggu kehadiran Bima, kali ini Seila sudah merencanakan sesuatu. ketika pintu kamar di buka Seila segera menghampiri suaminya.


"Mas Bima, lama sekali," sapa Seila sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Biasa, tugas numpuk jadi ngak lambat."

__ADS_1


"Mas."


"Hmm."


"Ayo, kemana?"


"Mas Bima, nyebelin deh masak ngak peka sih."


"Gerah, nih, aku mandi dulu ya?


Tanpa menunggu jawaban Bima segera masuk ke dalam kamar mandi, di dalam kamar mandi


Bima pun berfikir dan mencari jawaban atas dirinya, bukannya Bima tidak peka dengan apa yang di maksud Seila istrinya tapi entah kenapa Bima sulit untuk melakukan nya serasa ada sesuatu yang selalu menghalangi niatnya.


Seila sudah ada di sisinya tapi kenapa tak sekalipun Bima merasa ingin memberikan nafkah batin kepada istrinya, bahkan setiap dekat rasanya ingin segera menjauh pergi "Mungkinkah aku sudah tidak mencintai Seila lagi, setipis inikah rasa cinta ku padanya."


Dengan pikiran kalut Bima membasahi rambutnya, dua puluh menit kemudian ritual mandi pun selesai, Bima yang keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah membuat


gairah Seila naik tanpa menunggu Seila langsung memeluk Bima tanpa memberikan kesempatan apapun lagi Seila langsung menerkam bibir sensual Bima, membuat si pemilik bibir sensual pun sedikit kelabakan di buat nya.


Dengan suara parau Seila berbisik di telinga Bima.


"Mas Bima, ayo, lakukan."


Mendengar rengekan Seila tak tega juga jika Bima menolaknya, perlahan lahan tangan Bima pun mulai membuka satu demi satu kancing baju yang melekat pada diri Seila, merasa Bima mulai membalas Seila, diam diam tersenyum bahagia.


"Mulai, malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya," Gumam Seila dalam hati.


Ketika Bima merebahkan tubuh Seila di atas ranjang dan Bima hendak menimpanya dari atas tiba-tiba sebuah telpon berdering secara otomatis Bima mengurungkan niatnya dan meraih ponsel hapenya.


"Halo..!"


"Halo..! kak Bima, cepat datang bantu kami, ban mobil kempes kita tidak bisa pulang."


"Kalian di mana?"


"Di jalan mawar."


"Ok, aku kesana."


Bima segera meraih jaket kulit dan hendak melangkah pergi, tapi tangan lembut Seila menghalangi.


"Mas Bima, mau kemana?"


"Oh, Bondet sama Iqbal, ban mobilnya kempes jadi aku mau bawain ban serep untuk mereka."


"lalu, aku Bagaimana?"


"Besok, saja, aku pergi dulu ya,"


Bima segera keluar kamar setelah memberikan kecupan manis pada kening Seila.


Setelah Bima Keluar dari kamar Seila segera membanting semua riasan yang ada di meja, sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.

__ADS_1


__ADS_2