
"Kenapa akhir akhir ini kau sangat berubah, apa kau sedang jatuh hati pada wanita itu?"
Bima yang tadinya menatap jendela kini berbalik menatapnya dengan tatapan berbeda seolah olah tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Seila.
"Kau menuduhku,"
"Bukan hanya menuduh, tapi kecewa kepadamu, inikah cintamu padaku sangat mudah goyah dan karam tengelam di lautan, aku tak percaya seperti ini dirimu," Seila berkata dengan nada tinggi dan penuh emosi sedangkan Bima hanya diam dan tertegun dia menyadari betapa dia telah bersikap tidak adil kepada istrinya ketika tangan Bima hendak merengkuh tubuh Seila agar masuk ke dalam pelukannya Seila dengan cepat menepis seolah olah sedang marah, dengan langkah yang sedikit berlari Seila pergi meninggalkan kantor, melihat hal itu Bima berteriak.
"Seila, kau mau kemana?'Bima mengejar sampai pintu, sementara Seila yang sudah berada di luar gedung kantor Bima segera tersenyum.
"Sebentar lagi, kau akan datang dan merayuku, kau tidak akan bisa berbuat sesuatu yang akan menyakiti ku karna aku yakin cintamu hanya untukku dan wanita itu, dia tak lebih hanya sebagai permainan sepi mu, gadis yang bodoh dan malang, dia pikir Bima akan benar-benar menyukainya, itu cuma mimpi." Gumam Seila sambil tersenyum miring.
Sore hari apa yang telah Seila duga dan pikirkan ternyata tidak meleset sama sekali benar adanya Bima datang dengan berbagai macam rayuan agar istrinya tidak lagi marah.
"Sayang, hari ini kita pergi nonton ya?'
"Ngak mau!
"Beneran ngak mau! bagus lho ceritanya."
Seila diam sejenak sebelum mengiyakan enak berada di luar bersama Bima dari pada di dalam rumah mau bermesraan saja ngak bisa, entah mengapa Seila merasa curiga dengan sikap Bik Inah yang ada saja yang dia lakukan hanya untuk membuat Bima tidak terlalu dekat dengan nya.
"Baiklah aku mau, tapi habis nonton kita ke hotel yuh, aku ingin menghabiskan malam berdua denganmu mas, apa kau tak merindukan itu padaku," tanya Seila dengan tatapan mata sayu nya membuat Bima tak bisa lagi menolak maupun mengelak karena tak tega lagi menyakiti istrinya Anggukan Bima membuat hati Seila bernyayi riang gembira.
Tiket sudah ada di gengaman tangan, tinggal mencari tempat duduk.
"Mas, aku beli pop corn dulu ya."
"Aku, temani!
"Ngak usah, mas, Tunggu di sini saja, cuma beli pop corn saja bareng bareng, biar aku sendiri saja yang beli."
"Ya, sudah hati-hati, aku tunggu di sini, ini uang untuk beli pop corn nya."
"Ngak usah, mas aku ada kok."
__ADS_1
"Kamu itu pacar aku, calon istri aku Ning, kenapa masih tidak mau menerima uang dariku?"
"Nanti saja kalau sudah jadi istrinya mas Hendrato, sekarang ngak dulu."tolak Ningsih.
"Terserah kamu lah, Eila! dari dulu kamu memang keras kepala."
"Mas Hendrato, memanggil aku apa tadi, Eila!siapa mas itu Eila ?"
Hendrato yang menyadari telah bicara kelepasan memanggil Ningsih dengan sebutan
Eila nama panggilan dari Seila cepat cepat meralat ucapannya.
"Ngak, Aku ngak sebut Eila, kamu salah dengar kali,"
"Salah dengar apaan, jelas jelas memanggilku Eila."
"Sudah jangan meributkan sesuatu yang tidak penting, jadi beli pop corn tidak? filmnya keburu main lho,"
"Oh, iya, aku pergi beli pop corn dulu,"
Bergegas Ningsih berjalan mendekati tukang jual pop corn. Nonton film di sebuah gedung bioskop paling enak dan nyaman itu memang dengan membeli pop corn sebagai cemilan ringan, tak heran jika penjual pop corn di sekitar gedung bioskop laris manis.
Ketika Hendrato hendak berjalan mendekati si penjual minuman langkah kakinya terhenti ketika melihat sosok orang yang sangat dia kenal di mana beberapa tahun yang lalu telah menyelamatkan nya.
"Mas Bima," Desis Hendrato lirik.
Yang kemudian membuat hendrato melangkah kan kaki untuk menghampiri dan mendekati Bima.
"Mas Bima kan?"seru Hendrato yang membuat orang yang di panggil secara refleks menoleh.
"Hei, kamu! apa kabarmu,"
"Alhamdulillah, mas, kabarku baik cuma aku sudah tidak lagi bersama istriku dia selingkuh."ucap Hendrato tanpa menutupi semua rahasianya.
"Oh, ya kenalkan ini istriku, pasti kalian sudah kenal kan?" tanya Bima sambil mengedipkan sebelah matanya pada Seila seolah olah meledeknya sedangkan Seila mendelik melihat tatapan mata nakal Bima.
__ADS_1
Sedangkan Hendrato mengkerutkan Keningnya, melihat tatapan aneh Hendrato Bima mengerti mungkin mereka pura-pura tidak kenal dan malu karena ada dia diantara mereka. Hendrato segera menggulurkan tangannya yang langsung di sambut dengan senyuman Seila.
"Saya, permisi, dulu mau beli pop corn?"pamit Seila.
"Oh, ya silahkan," ucap Hendrrto sopan.
Ketika Seila sudah pergi Bima tak tahan lagi untuk tertawa.
"Ha..ha..ha!" kalian bener bener berbakat menjadi seorang pemeran film, hebat adegan pura-pura tak kenalnya," ucap Bima yang masih dengan tawa sedikit tertahan, sedangkan Hendrato tidak paham apa yang Bima maksud.
"Mas, istrimu, namanya mirip dengan nama mantan pacarku dulu ya?wajahnya juga sangat mirip."
Perkataan Hendrato yang aneh seketika membuat tawa Bima terhenti, Bima mencoba mencerna apa yang di maksud Hendrato.
Hendrato yang melihat kebingungan dalam tatapan mata Bima mengkerutkan dahinya mencoba memahami apa yang sebenarnya Bima pikirkan.
"Hei, Mas Kita ngobrol sambil duduk di sana yuk, kebetulan film nya masih satu jam lagi."
Bima mengagguk dan menggikuti langkah Hendrato yang berjalan di depannya.
Sementara Ningsih celingukan mencari Hendrato setelah membawa dua buah kotak berbentuk kerucut berisi pop corn akhirnya Ningsih menemukan sosok Hendrato yang sedang duduk di kursi paling ujung.
"Mas ternyata ada di sini, pantesan aku cari di sana ngak ketemu, Nih pop corn untuk mu."
Ningsih menyodorkan pop corn satunya kepada Hendrato yang langsung di sambut dengan senyum sedangkan Bima yang duduk membelakangi dan cuma terlihat punggung nya saja jadi ikut menoleh pada saat itulah Ningsih dan Bima sama-sama terperanjat kaget."
"Ningsih!"
"Pak, Bima!"
"Hei...? rupanya kalian sudah saling kenal ya," tanya Hendrato pada Bima dan Ningsih yang langsung di jawab dengan anggukan.
"Ini pacar saya mas namanya NIngsih."
"Kami sudah kenal iya kan Ning?" tanya Bima sambil menatap dengan tatapan tajam membuat Ningsih memilih menunduk tidak tau kenapa Ningsih merasa tatapan mata Bima bukan tatapan mata yang biasa saja tapi tatapan yang menggambarkan seoalah olah sedang menyimpan Amarah terlebih ketika Hendrato melingkar kan tangannya pada bahu Ningsih dan membatunya duduk di sebelah nya, tatapan mata yang tajam seakan akan benci dan jijik Melihat prilakunya membuat Ningsih menjadi rikuh dan tak enak hati.
__ADS_1
"Mas, aku!ke toilet dulu, ini bantu pegang," ucap Ningsih seraya berdiri dan berlalu pergi.
Melihat Ningsih pergi Bima pun hendak bangkit dan melangkah pergi, akan tetapi tangan Hendrato mencegahnya.