
Bima meringis menunjukkan barisan giginya yang putih setelah Seila dengan kencang mendorong tubuh nya hingga terjatuh.
Melihat Bima terjatuh Seila dan Wina tertawa lebar.
"Hati hati, kamu Seila, entar malam kamu pasti di bales tuh,"Ucap Wina sambil terkekeh, membuat Seila melempar kan bantalnya ke arah, wina.
"Berani ngeledek lagi, ngak ku bayar tuh hutangku,"ancam Seila.
"Astaga..?"Seila!" kamu punya hutang sayang,"tanya Bima terkejut.
Seila hanya mengagguk saja.
"Kok, bisa?" aku kan selalu ngasih kamu jatah bulanan sepuluh juta perbulan, kau gunakan buat apa saja uang itu, kok sampai punya hutang,"
"Siapa juga, yang ambil uang kamu,"ucap Seiila enteng.
"Apa maksud mu, apa selama ini kamu ngak mempergunakan, uang dariku?"
Seila menggeleng sambil tersenyum simpul.
"Astaga !" Seila, lalu selama ini kamu pakai uang apa?"
"Uang, kiriman dari Ayah, aduh Seila bikin malu aku saja, aku kan masih bisa ngasih kehidupan yang layak buat kamu, ngapain masih merepotkan Ayah, juga,"
"Sudahlah, jangan bahas ini, Ayah ngak keberatan kok"
"Tapi, mulai besok ngak boleh, minta Ayah, lagi ada aku, kamu mau apa minta sama aku dan jangan lagi minta kiriman dari Ayah, kau mengerti,"
"Ya," ucap Seila dingin.
Bima sedikit kesal dan tidak puas dengan jawaban Seila dengan cepat Bima menyeruput kopinya.
"Habis, ini kita pulang,"
"Ya, tapi aku masih ingin berlama lama Sebentar di luar , jenuh di rumah,"
"Ya, sudah nanti jalan jalan sama aku,"
"Ngak mau lah ,ngak enak,"
"Kenapa?" aku tuh Suamimu, jadi untuk apa masih ada rasa sungkan atau ngak enak hati, atau jangan jangan selama ini kamu belum mengaggapku sebagai suamimu, sehingga aku tidak layak di jadikan tempat untuk meminta segala yang kau butuhkan,"
"Kak Bima, ngomong apa sih? ngomong-nya kok begitu,"
Bima tak menjawab ataupun melihat, wajahnya terlihat datar dan dingin, Seila menelan ludahnya dengan kasar, belum pernah Seila melihat Bima bersikap dingin dan acuh, di lihat nya Bima bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah mendekati Wina.
"Aku, pamit pulang dulu Win, dan kamu kalau sudah selesai cepat keluar," Ucap Bima pada Seila tanpa melihat, kaki nya terus melangkah menuju ke pintu.
Seila dan Wina saling berpandangan.
"Seila..!"Suamimu, seperti marah,"
__ADS_1
"sepertinya, iya, aku balik dulu Win!"mobilnya tolong kamu anterin saja ke rumah, kayaknya Naik motor lagi nih,"
"Ya, sudah hati hati ya,"
Seila melambaikan tangan ketika dia sudah berada di atas motor Bima. Sepanjang perjalanan kali ini Bima tak banyak Bicara, sehingga suasana begitu hening, hanya suara deru motor dan angin yang bersahut sahutan.
"Kak, kita jalan jalan ke mall dulu apa langsung pulang?"tanya Seila berusaha mencairkan suasana agar tidak hening,"
"Terserah,"ucap Bima dingin.
"Lho, kok terserah , kak Bima tadi bilang mau ajak jalan-jalan,"
Bima diam tak merespon pertanyaan Seila, hal itu membuat Seila sedikit kesal yang akhirnya membuat Seila sedikit berteriak.
"Kak Bima..!" jawab dong, kok diam saja."karena Bima masih diam Seila kembali bicara dengan sedikit berteiak.
"Kak Bima...!" Stop! di sini,"teriak Seila keras."
Bima pun menghentikan Motornya tapi dia tetap diam.
"Kenapa, sih, ngak menjawab pertanyaan ku,"tanya Seila.
Bima bukannya menjawab tapi justru membuang muka ke jalan dengan melihat lalu lalang kendaraan yang melintas. Karena kesal dengan sikap Bima, Seila turun dari motor dan menarik wajah Bima sehingga mereka beradu pandang.
"Kenapa, pertanyaan ku , ngak di jawab,"tanya Seila kesal.
Bima menarik nafas panjang kemudian menghebuskan nya dengan perlahan dan dengan sangat pelan di tepisnya tangan Seiila yang menyentuh wajahnya.
"Mau jawab apa?"
Melihat sikap Bima yang masih acuh dan dingin Seila mulai gelisah.
"Tatap aku, apa kak Bima, marah padaku?"
Melihat wajah Seila yang merajuk, hati Bima sebenarnya tak tega, tapi jika ingat Seila tak sedikit pun menghargai nya sebagai Suami hatinya terasa sesak dan kecewa.
"Aku tidak marah, aku cuma kecewa, istriku tidak menghargai ku," Ucap Bima seraya melepaskan kan tangan Seila yang melingkar di lehernya. Seila menelan ludahnya dengan kasar.
"Wah gawat, Bima benar benar marah bagaimana ini," Gumam Seila dalam hati, pikirannya mulai bertransmigrasi ke sana ke mari berfikir bagaimana caranya agar Bima tidak bersikap acuh padanya, Seila baru menyadari di acuhkan itu ngak enak, nyesek di hati. Tiba-tiba Seila kembali melingkarkan tangannya di leher Bima dan beberapa detik kemudian Seila mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Bima, membuat Bima sedikit tersentak kaget dan gelagapan tak menyangka Seila berani juga memberikan kecupan padanya.
"Maafin, Seila, kak!"ucap Seila lirih.
Melihat wajah cantik di depan nya berubah sendu, tak tega juga Bima melihat nya. Senyum yang tadinya hilang entah kemana kembali mengembang.
"Iya, tapi, jangan di ulang tidak boleh lagi minta apapun pada Ayah ada aku jadi minta sama aku,mengerti,"
Kali ini Seila tidak menjawab dengan dingin khawatir Bima tersinggung lagi akhirnya Seila mengagguk.
"Ayo, Naik, kita ke mall beli baju untuk mu,"
Tanpa membantah Seila langsung naik ke motor Bima, tidak berapa lama mereka sudah sampai di mall, Seila mulai memilih baju yang dia rasa cocok untuknya.
__ADS_1
"Kak Bima, lihat, ini bagus kan?"aku boleh ambil ini tidak,"
"Tentu saja boleh, coba, bajunya kau coba di kamar ganti,"
Seila segera masuk ke dalam kamar ganti dan hendak memakainya, tapi ketika Seila nencoba
melihat harga yang tertera di balik baju itu, Seila mengurungkan niatnya, ketika melihat nominal yang tertera di sana.
lima juta delapan ratus ribu cepat cepat Seila mengembalikan baju itu, Bima yang memperhatikan ulah seila sedikit bertanya tanya.
"Sayang, kenapa tidak jadi di coba?"tanya Bima.
Seila hanya tersenyum getir.
" Gak, apa apa kak, ngak cocok jelek, aku mau cari yang lain," jawab Seila sambil ngeloyor pergi.
Bima penasaran di lihatnya baju yang di kembalikan Seila dan Bima baru menyadari Seila mengembalikan bukan karena bajunya jelek, tapi karena jumlah harga yang lumayan mahal, diam diam Bima mengambil dan menaruhnya di kasir.
*****
Setelah berfikir dengan berulang kali akhirnya Arina memutuskan memilih detektif yang bisa memberikan informasi selama tiga hari.
"Tidak, masalah menunggu tiga hari dari pada uang sepuluh juta melayang hanya dalam satu jam, lebih baik menunggu dan masih memiliki sisa untuk keperluan yang lain." Gumam Arina dalam hati.
Hari sudah mulai sore, Arya pun sudah bersiap kembali ke rumah nya, sebagai pemilik perusahaan terbesar dengan pemegang saham tertinggi, sangatlah banyak dikagumi para wanita terutama para karyawati yang ada di perusahaan nya, meskipun mereka tau kini boss yang selalu menjadi idola dan incaran nya telah beristri, tapi tetap saja tak menyurutkan
hati mereka, seperti saat ini, kalissa tetap menunggu pak boss untuk menumpang agar bisa tetap pulang bersama. Melihat kalista berdiri di tepi jalan sendirian Arya menghentikan mobilnya dan membuka kaca mobil.
"Kalista! apa mau pulang bareng saya,"
"Mau, pak!"
"Masuklah,"
"Trimakasih, pak!"
Sepanjang perjalanan Kalista hanya diam, dia menunggu sang pujaan hati bicara tapi ternyata harapannya hanya mimpi, boss nya sangat dingin dan acuh, tak lama kemudian terdengar
suara.
"Krucuk..krucuk !"
Cepat cepat kalista mendekap perutnya agar tidak terdengar si boss, tapi sayangnya si boss lebih dulu mendengar nya.
"Kamu, lapar?"
Dengan malu malu Kalista menggangguk
"Baiklah, kita ke restoran terdekat,"
Seakan mau meloncat loncat hati Kalista ketika pak boss tampan mengajaknya makan bersama.
__ADS_1