Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.52.PANTAI A


__ADS_3

Setelah Arina masuk, Arya kini yang berganti


duduk di sofa panjang dengan meluruskan


kaki, menunggu Arina.


Sedangkan di dalam Arina sedang mengrutu


sendiri, dia sangat kesal kenapa pemuda


yang bernama Arya itu tidak bosan bosannya


menunggu di rumah.


Entah, dia ada atau tidak ada dengan sesuka


hati keluar masuk rumahnya.


Memang dia baik, royal dan cukup perhatian tapi tidak seharusnya berlebihan seperti ini.


lama lama Arina merasa jengah juga, dan risih


jika semua kegiatan nya di pantau Arya terus.


Seperti saat ini sudah capek, mau istirahat


langsung tidur, masih harus ngerjakan tugas


menyiapkan makan untuk nya, walaupun


yang di minta tidak aneh aneh dan boleh


sesuka hati namun tetap saja membuat kesal.


Karena Arina mengerjakan dengan setengah


hati, dan dalam mode melamun tingkat tinggi


maka yang terjadi adalah pemandangan yang


indah di mana telur dadar mata sapi buatan nya


berwarna choklat , ya telur dadar mata sapi nya


gosong.


Arina baru menyadari ketika hidungnya yang


macung itu, mencium aroma yang kuat.


"Astaga ! gosong, biarkan sajalah, malas mau


bikin lagi, kalau Arya tidak mau dan tidak


suka kan bagus, besok besok ngak akan


datang menggaggu lagi, sekali kali bikin dia


kapok," Gumam Arina dalam hati.


"Rin...!apa masih lama masak nya, aku sudah


sangat lapar nih,"Teriak Arya dari ruang tamu.


"Iya, Sebentar!


Setelah menyiapkan dua mangkok mie rebus, dan dua telur mata sapi diatasnya dan dua


sosis ditambah selada hijau, Arina siap


membawa ke ruang tamu.


"Nih, makan, untuk mu?dan ini aku ayo kita


makan,"


Arya bukannya langsung makan tapi malah


menatap Arina dengan tatapan yang berbeda.


"Ayo !makan, katanya lapar Kenapa justru menatapku begitu,"Tanya Arina jengah karena


di tatap begitu.


"Sempurna,"


"Sempurna ? apa yang sempurna, kamu belum


makan sudah bilang sempurna,"


"Kamu, bener bener wanita sempurna, Arina,


aku sangat kagum padamu."


"Stop..! gombal nya, ayo makan, nanti keburu


dingin tambah pahit,"


"Pahit, apanya yang pahit ?"


"Ngak, ada ,ayo makan,"


Dengan lahap Arya makan mie rebus buatan


Arina, namun ketika dia hrndak makan telur


mata sapi, Arya berhenti makan dan tertegun


melihat nya.


"Rin, ini telur nya kok hitam sekali?"


"Sudah, jangan banyak tanya itu telur model


choklat lumer, sudah cepat di makan enak


kok,"


"Apa, rasanya ngak pahit, ini hitam sekali lho,"


Ucap Arya sambil mengangkat telur hitamnya


tinggi tinggi.


"Sudah, jangan komplin, awas kalau tidak kau


makan telur nya, jangan makan juga mie rebus dan sosisnya,"


"Lho, kok gitu sih, Rin,"


"Mau makan, apa tidak, Kalau tidak sini, biar ku buang,"


"Eh, jangan, baiklah, ku makan,"

__ADS_1


Dengan terpaksa, Arya melahap telur hitam nya,


meskipun dengan sedikit bibir yang di kuncir


kuncir karena efek dari rasa pahit yang di rasakan nya.


Diam diam Arina, tersenyum dan bergumam


dalam hati.


"Rasain, tuh,"


"Untung, sosinya ngak rasa choklat juga, jadi masih ok, untuk di nikmati, makanan buatanmu


Sempurna,"Ucap Arya sambil menunjukkan


jempol jarinya.


Arina yang justru mendapat kan pujian hanya


bisa membelalakkan kedua bola matanya.


****


Di tempat yang cukup ramai orang, Seila


menunggu kabar berita, tentang Bima suaminya, hatinya sedih dan dia tidak


habis pikir, kenapa Bima selalu bertindak


sesuka hatinya, tanpa menunggu atau pun


meminta ijin melakukan segala sesuatu


yang dia suka, dalam hati Seila menggakui kalau Bima adalah laki laki yang sempurna.


Hatinya baik, penolong, dan juga lumayan


Tampan, siapapun yang mendapat kan hatinya


pastilah dia sangat beruntung.


Sayangnya, Bima hanya kasian dan iba padanya sehingga dia mau menikahi.


Pasti dan sudah jelas cewek berambut sebahu


yang dulu sering bersamanya dialah kekasih


hatinya dan pasti padanya juga cintanya


berlabuh.Mengenang itu Seila merasa sangat sakit dan pahit, ada secuil rasa cemburu yang


tiba tiba hadir menyeruak ke dalam kalbunya.


Kembali Seila mondar mandir di post penjaga


pantai, dengan hati was was dan resah dia


menunggu kabar tentang Bima.


Senja mulai naik dan akan segera tenggelam


ini saat saat yang di nantikan Bima, bisa


melihat matahari tenggelam dari laut pantai.


Namun faktanya, kini Bima justru yang ada


didasar laut sedang berjuang mencari


Sesekali matanya yang indah melihat ke pantai


berharap muncul para tim penyelam beserta


Bima, namun hasil nya Nihil, tidak ada tanda


tanda kemunculan mereka.


Tatapan mata Seila begitu hampa dan kosong


bahkan kini hatinya di penuhi rasa ketakutan


dan kecemasan, jika terjadi sesuatu pada Bima


bagaimana dia akan menjalani hidup ini.


Ketika Seila menatap ke sebelah kanan di


lihat nya seorang wanita muda yang sedang


menangis sesenggukan, meratapi anaknya


yang terjatuh dari tebing karang dengan di


temani suami di sebelah nya.


Tanpa terasa, Seila pun menitikkan Air mata.


"Bima ! cepat kembali,"Seru Seila dalam hati.


"Mbak, ayo masuk ke tenda, udara pantai laut


sangat dingin, dan sekarang sudah mulai


petang,"Seru salah seorang wanita yang juga dari tim penyelam.


"Tidak, aku disini saja, aku mau menunggu Suamiku," Ucap Seila menolak ajakan wanita


itu.


"Aku, mengerti bagaimana perasaan mbak nya,


tapi percayalah tim kami pasti bisa menemukan mereka, mari mbaknya juga


harus menjaga kesehatan, jangan sampai


sakit. Akhirnya, mau tidak mau Seila pun menuruti apa yang di katakan wanita itu.


"Ini, mbaknya makan dulu, kami sudah


menyiapkan beberapa nasi bungkus, mari


di makan."


"Aku , tidak lapar,"


"Ayolah, mbak," Bujuk wanita itu pada Seila.


Tapi Seila kekeh tidak mau makan, akhirnya


wanita itu, tidak lagi memaksa.


Malam semakin merambat Naik , dari pukul

__ADS_1


lima, enam, tujuh dan sekarang mendekati pukul sembilan, namun tanda tanda dari tim


penyelam pun belum juga ada.


Seila menyandarkan kepala nya didinding


tenda , seraya memejamkan mata, namun


air matanya terus mengalir.


Tiba-tiba terdengar gemuruh orang berlarian


Seila segera membuka matanya.


Dilihatnya beberapa orang berlarian ke arah


pantai, Seila pun mengikuti arah lari nya orang'


orang itu.


Mata Seila berbinar ketika melihat siapa yang


datang. Dengan cepat Seila bangkit dan


berlari ke pantai.


"Bima...!Seru Seila sambil berlari.


Ketika jarak sudah dekat, Seila segera menyibak kerumunan itu dengan kedua tangan


nya.


"Bima..!kau sudah kembali,"Dedisnya dalam


hati.


"Maaf, permisi, permisi, saya ingin melihat


suamiku,"


Ketika kerumunan itu sudah tersibak, dan


memberikan jalan pada Seila, mata indah


Seila celingukan ke kiri dan kanan, dengan


suara yang terbata bata Seila berkata.


"Ma naa...,manaaa..! Suamiku ? teriak Seila histeris.


"Tenang , Nona, kami kesulitan mencari karena


situasi sudah gelap."


"Betul, Nona, besok, kami akan melakukan


pencarian lagi, kami hanya menemukan


ponsel dan dompet suami Nona."


Dengan cepat Seila merampas dompet dan


ponsel suaminya dari tangan tim penyelam


yang semua sudah kembali kepermukaan.


"Tidaaaaak...! ini tidak mungkin, hizk..hizk .hizk,"


Tangis Seila pecah, dengan bergetar Seila


mengsmbil ponselnya, dan menekan


satu nomor telpon.


Tidak menunggu berapa lama panggilan telepon jarak jauh pun tersambung.


"Halooo.,"


Bukan jawaban yang di dengar seseorang dari sebrang namun justru suara isak tangis.


"Hizk... Hizk....Hizk...,"


"Haloo....,Non Seila !"


"Hizk....Hizk...Hizk...,"


"Non, jawablah, kenapa Non Seila menangis,"


Tanya Seorang dari sebrang dengan Binggung.


"Bima...!


"Iya, Non, kak Bima, kenapa?"


"Bima, Bal...!Bima ! Teriak Seila histeris.


"Non, Seila jangan bikin bingung, deh, iya ada apa dengan Kak Bima ? Bikin Non Seila marah


dan kesal lagi ya, bener bener kak Bima itu,


nanti aku akan buat kak Bima, minta maaf


sama Non Seila, sekarang, cup..cup. jangan


menangis.


"Bal, Bima...!


"Iya, aku mengerti, Non Seila selalu di buatnya


kesal kan, tenang Non, biar aku urus kak Bima


itu, punya istri cantik , kok cuma di sakiti saja,


tenang Non, besok, akan aku Nasehati.


"Bukan, itu Bal,"


"Lalu, apalagi Non !"


"Bima nyebur ke laut, belum kembali, hizk..hizk


hizk ," Kembali Seila menangis.


"Apa...?Nyebur ke laut, kurang kerjaan saja


kak Bima, itu, sekarang Non Seila dimana?


"Pantai, Asri x ,"


"Ya, sudah aku akan kesana, bersama Bondet,


Non Seila, diam jangan nangis lagi ya, tunggu

__ADS_1


kami di sana,"Ucap Iqbal.


__ADS_2