
Setelah Arina masuk, Arya kini yang berganti
duduk di sofa panjang dengan meluruskan
kaki, menunggu Arina.
Sedangkan di dalam Arina sedang mengrutu
sendiri, dia sangat kesal kenapa pemuda
yang bernama Arya itu tidak bosan bosannya
menunggu di rumah.
Entah, dia ada atau tidak ada dengan sesuka
hati keluar masuk rumahnya.
Memang dia baik, royal dan cukup perhatian tapi tidak seharusnya berlebihan seperti ini.
lama lama Arina merasa jengah juga, dan risih
jika semua kegiatan nya di pantau Arya terus.
Seperti saat ini sudah capek, mau istirahat
langsung tidur, masih harus ngerjakan tugas
menyiapkan makan untuk nya, walaupun
yang di minta tidak aneh aneh dan boleh
sesuka hati namun tetap saja membuat kesal.
Karena Arina mengerjakan dengan setengah
hati, dan dalam mode melamun tingkat tinggi
maka yang terjadi adalah pemandangan yang
indah di mana telur dadar mata sapi buatan nya
berwarna choklat , ya telur dadar mata sapi nya
gosong.
Arina baru menyadari ketika hidungnya yang
macung itu, mencium aroma yang kuat.
"Astaga ! gosong, biarkan sajalah, malas mau
bikin lagi, kalau Arya tidak mau dan tidak
suka kan bagus, besok besok ngak akan
datang menggaggu lagi, sekali kali bikin dia
kapok," Gumam Arina dalam hati.
"Rin...!apa masih lama masak nya, aku sudah
sangat lapar nih,"Teriak Arya dari ruang tamu.
"Iya, Sebentar!
Setelah menyiapkan dua mangkok mie rebus, dan dua telur mata sapi diatasnya dan dua
sosis ditambah selada hijau, Arina siap
membawa ke ruang tamu.
"Nih, makan, untuk mu?dan ini aku ayo kita
makan,"
Arya bukannya langsung makan tapi malah
menatap Arina dengan tatapan yang berbeda.
"Ayo !makan, katanya lapar Kenapa justru menatapku begitu,"Tanya Arina jengah karena
di tatap begitu.
"Sempurna,"
"Sempurna ? apa yang sempurna, kamu belum
makan sudah bilang sempurna,"
"Kamu, bener bener wanita sempurna, Arina,
aku sangat kagum padamu."
"Stop..! gombal nya, ayo makan, nanti keburu
dingin tambah pahit,"
"Pahit, apanya yang pahit ?"
"Ngak, ada ,ayo makan,"
Dengan lahap Arya makan mie rebus buatan
Arina, namun ketika dia hrndak makan telur
mata sapi, Arya berhenti makan dan tertegun
melihat nya.
"Rin, ini telur nya kok hitam sekali?"
"Sudah, jangan banyak tanya itu telur model
choklat lumer, sudah cepat di makan enak
kok,"
"Apa, rasanya ngak pahit, ini hitam sekali lho,"
Ucap Arya sambil mengangkat telur hitamnya
tinggi tinggi.
"Sudah, jangan komplin, awas kalau tidak kau
makan telur nya, jangan makan juga mie rebus dan sosisnya,"
"Lho, kok gitu sih, Rin,"
"Mau makan, apa tidak, Kalau tidak sini, biar ku buang,"
"Eh, jangan, baiklah, ku makan,"
__ADS_1
Dengan terpaksa, Arya melahap telur hitam nya,
meskipun dengan sedikit bibir yang di kuncir
kuncir karena efek dari rasa pahit yang di rasakan nya.
Diam diam Arina, tersenyum dan bergumam
dalam hati.
"Rasain, tuh,"
"Untung, sosinya ngak rasa choklat juga, jadi masih ok, untuk di nikmati, makanan buatanmu
Sempurna,"Ucap Arya sambil menunjukkan
jempol jarinya.
Arina yang justru mendapat kan pujian hanya
bisa membelalakkan kedua bola matanya.
****
Di tempat yang cukup ramai orang, Seila
menunggu kabar berita, tentang Bima suaminya, hatinya sedih dan dia tidak
habis pikir, kenapa Bima selalu bertindak
sesuka hatinya, tanpa menunggu atau pun
meminta ijin melakukan segala sesuatu
yang dia suka, dalam hati Seila menggakui kalau Bima adalah laki laki yang sempurna.
Hatinya baik, penolong, dan juga lumayan
Tampan, siapapun yang mendapat kan hatinya
pastilah dia sangat beruntung.
Sayangnya, Bima hanya kasian dan iba padanya sehingga dia mau menikahi.
Pasti dan sudah jelas cewek berambut sebahu
yang dulu sering bersamanya dialah kekasih
hatinya dan pasti padanya juga cintanya
berlabuh.Mengenang itu Seila merasa sangat sakit dan pahit, ada secuil rasa cemburu yang
tiba tiba hadir menyeruak ke dalam kalbunya.
Kembali Seila mondar mandir di post penjaga
pantai, dengan hati was was dan resah dia
menunggu kabar tentang Bima.
Senja mulai naik dan akan segera tenggelam
ini saat saat yang di nantikan Bima, bisa
melihat matahari tenggelam dari laut pantai.
Namun faktanya, kini Bima justru yang ada
didasar laut sedang berjuang mencari
Sesekali matanya yang indah melihat ke pantai
berharap muncul para tim penyelam beserta
Bima, namun hasil nya Nihil, tidak ada tanda
tanda kemunculan mereka.
Tatapan mata Seila begitu hampa dan kosong
bahkan kini hatinya di penuhi rasa ketakutan
dan kecemasan, jika terjadi sesuatu pada Bima
bagaimana dia akan menjalani hidup ini.
Ketika Seila menatap ke sebelah kanan di
lihat nya seorang wanita muda yang sedang
menangis sesenggukan, meratapi anaknya
yang terjatuh dari tebing karang dengan di
temani suami di sebelah nya.
Tanpa terasa, Seila pun menitikkan Air mata.
"Bima ! cepat kembali,"Seru Seila dalam hati.
"Mbak, ayo masuk ke tenda, udara pantai laut
sangat dingin, dan sekarang sudah mulai
petang,"Seru salah seorang wanita yang juga dari tim penyelam.
"Tidak, aku disini saja, aku mau menunggu Suamiku," Ucap Seila menolak ajakan wanita
itu.
"Aku, mengerti bagaimana perasaan mbak nya,
tapi percayalah tim kami pasti bisa menemukan mereka, mari mbaknya juga
harus menjaga kesehatan, jangan sampai
sakit. Akhirnya, mau tidak mau Seila pun menuruti apa yang di katakan wanita itu.
"Ini, mbaknya makan dulu, kami sudah
menyiapkan beberapa nasi bungkus, mari
di makan."
"Aku , tidak lapar,"
"Ayolah, mbak," Bujuk wanita itu pada Seila.
Tapi Seila kekeh tidak mau makan, akhirnya
wanita itu, tidak lagi memaksa.
Malam semakin merambat Naik , dari pukul
__ADS_1
lima, enam, tujuh dan sekarang mendekati pukul sembilan, namun tanda tanda dari tim
penyelam pun belum juga ada.
Seila menyandarkan kepala nya didinding
tenda , seraya memejamkan mata, namun
air matanya terus mengalir.
Tiba-tiba terdengar gemuruh orang berlarian
Seila segera membuka matanya.
Dilihatnya beberapa orang berlarian ke arah
pantai, Seila pun mengikuti arah lari nya orang'
orang itu.
Mata Seila berbinar ketika melihat siapa yang
datang. Dengan cepat Seila bangkit dan
berlari ke pantai.
"Bima...!Seru Seila sambil berlari.
Ketika jarak sudah dekat, Seila segera menyibak kerumunan itu dengan kedua tangan
nya.
"Bima..!kau sudah kembali,"Dedisnya dalam
hati.
"Maaf, permisi, permisi, saya ingin melihat
suamiku,"
Ketika kerumunan itu sudah tersibak, dan
memberikan jalan pada Seila, mata indah
Seila celingukan ke kiri dan kanan, dengan
suara yang terbata bata Seila berkata.
"Ma naa...,manaaa..! Suamiku ? teriak Seila histeris.
"Tenang , Nona, kami kesulitan mencari karena
situasi sudah gelap."
"Betul, Nona, besok, kami akan melakukan
pencarian lagi, kami hanya menemukan
ponsel dan dompet suami Nona."
Dengan cepat Seila merampas dompet dan
ponsel suaminya dari tangan tim penyelam
yang semua sudah kembali kepermukaan.
"Tidaaaaak...! ini tidak mungkin, hizk..hizk .hizk,"
Tangis Seila pecah, dengan bergetar Seila
mengsmbil ponselnya, dan menekan
satu nomor telpon.
Tidak menunggu berapa lama panggilan telepon jarak jauh pun tersambung.
"Halooo.,"
Bukan jawaban yang di dengar seseorang dari sebrang namun justru suara isak tangis.
"Hizk... Hizk....Hizk...,"
"Haloo....,Non Seila !"
"Hizk....Hizk...Hizk...,"
"Non, jawablah, kenapa Non Seila menangis,"
Tanya Seorang dari sebrang dengan Binggung.
"Bima...!
"Iya, Non, kak Bima, kenapa?"
"Bima, Bal...!Bima ! Teriak Seila histeris.
"Non, Seila jangan bikin bingung, deh, iya ada apa dengan Kak Bima ? Bikin Non Seila marah
dan kesal lagi ya, bener bener kak Bima itu,
nanti aku akan buat kak Bima, minta maaf
sama Non Seila, sekarang, cup..cup. jangan
menangis.
"Bal, Bima...!
"Iya, aku mengerti, Non Seila selalu di buatnya
kesal kan, tenang Non, biar aku urus kak Bima
itu, punya istri cantik , kok cuma di sakiti saja,
tenang Non, besok, akan aku Nasehati.
"Bukan, itu Bal,"
"Lalu, apalagi Non !"
"Bima nyebur ke laut, belum kembali, hizk..hizk
hizk ," Kembali Seila menangis.
"Apa...?Nyebur ke laut, kurang kerjaan saja
kak Bima, itu, sekarang Non Seila dimana?
"Pantai, Asri x ,"
"Ya, sudah aku akan kesana, bersama Bondet,
Non Seila, diam jangan nangis lagi ya, tunggu
__ADS_1
kami di sana,"Ucap Iqbal.