Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.150.MENAMPAR


__ADS_3

Melihat Hendrato tersedak Bima segera memberikan minum kepada nya sambil menepuk nepuk punggung Hendrato agar bisa sedikit enakkan.


"Pelan pelan, jangan terburu-buru."


Hendrato tersenyum kecut mendengar nasehat dan perhatian kecil dari Bima, setelah mengatur suasana hatinya Hendrato mulai bersuara.


"Mas, Bima, mau membicarakan apa?"


"Aku, mau minta maaf selama ini tidak berkata jujur kepada Mas Hendrato."


Deg...


Hendrato sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan Bima sekuat tenaga Hendrato mencoba agar bisa terlihat tenang dan biasa saja kembali terdengar suara Bima berbicara.


"Sebenarnya Seila itu istri saya, kami sudah menikah selama hampir dua tahun dan saya sangat mencintai istri saya, ketiika peristiwa kecelakaan itu ada saya kehilangan jejak tidak menemukan Seila tapi beberapa Minggu kemudian datang seorang wanita dia mengaku sebagai Seila awalnya saya percaya dan tidak curiga karena wajah mereka yang sama tapi ketika mas Hendrato datang dan memberi tau saya Jika Ningsih adalah Seila dengan bukti ada luka dan tailalat yang Seila punya saya menjadi sedih terlebih harus menerima kenyataan istri saya tidak menggenali saya, di sini saya hanya Ingin meminta tolong pada mas Hendrato, Tolong batalkan pernikahan kalian karena Seila yang kini berganti nama Ningsih dia adalah istri saya dan untuk wanita yang mirip dengan Seila saya harus memiliki bukti untuk bisa menggusirnya dari rumah saya."


Hendrato berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela di tatapnya halaman luar rumah yang kini sedang ada Rintik hujan meskipun dia sudah tau jika Bima adalah Suami Ningsih tapi tetap saja hatinya terasa sesak dan sakit.


"Bagaimana, caraku menghentikan pernikahan kami yang tinggal beberapa hari lagi? dan bagaimana Seila bisa menerima semua ini, bukan tidak mungkin justru Seila akan membenciku karena aku tidak pernah dari awal menceritakan kalau dia telah bersuami dan bukan kah itu bukan salahku karena aku tidak tau kalau mas Bima adalah Suaminya, lagi pula ini tidak mudah terlebih ingatan Seila belum kembali, jadi maaf Mas, seperti nya aku tidak bisa membantu mas Bima, jalan satu satunya mas Bima harus bisa membuat ingatan Seila Kembali lagi dan dia sendiri nanti yang akan meminta ku untuk membatalkan pernikahan kami, jadi silahkan mas Bima berusaha waktu mas Bima tinggal sepuluh hari lagi."


Mendengar perkataan Hendrato yang tidak pernah Bima bayangkan hati Bima begitu kacau dan gelisah bagaimana dia bisa mengembalikan ingatan Seila hanya dalam waktu sepuluh hari, ini sangat mustahil bahkan ini tidak mungkin jangankan tiga bulan satu tahun pun belum tentu bisa mengembalikan ingatan seseorang.


Bima terduduk lesu, hatinya begitu resah dan cemas harapan untuk memiliki Seila lagi itu sangat tipis. Menyadari Bima dalam keadaan kacau Hendrato duduk mendekati nya.


"Maafkan, aku tidak bisa membantu, aku tidak mau di benci Seila lagi, aku minta maaf mas."


Bima tersenyum meskipun Dangi jelas terlihat jika senyuman itu sangat di paksakan.


"Tidak, apa apa, aku mengerti, jika kami masih berjodoh pasti akan ada jalannya." ucap Bima sambil tersenyum getir.


"Iya, mas!


"Ya, sudah aku pamit dulu yang penting mas Hendrato sudah tau dan mengerti jadi jika saya sangat dekat dengan Ningsih mas Hendrato bisa maklum karena sesungguhnya kami masih Suami istri, baiklah saya pamit dulu, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Di dalam mobil Bima kembali membuka ponsel hapenya tidak ada balasan pesan dari Ningsih padahal sudah tiga jam berlalu semenjak pesan itu di kirim.


"Kenapa, pesanku di abaikan, tidak mungkin kalau Ningsih tidak tau, tumben aneh begini apa lebih baik aku telpon saja."


Bima menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk melakukan sambungan telepon. panggilan telpon tersambung tapi tidak ada jawaban, Bima kembali menggulang panggilan telpon tapi Bima mendapatkan hal yang sama sampai akhirnya pikirannya menjadi cemas dan khawatir takut terjadi sesuatu dengan Ningsih, secepat kilat Bima menancap gas mobilnya menuju Rumah Ningsih.


Keadaan Rumah terlihat sepi mungkin semua orang sedang sibuk di ladang.

__ADS_1


"Tok....Tok..Tok ..!"


Mendengar suara pintu diketuk dengan cepat seorang gadis keluar dan membuka kan pintu. Ketika mengetahui siapa yang datang buru-buru gadis itu masuk ke dalam Rumah.


"Ningsih..!" kau tidak mempersilahkan aku masuk."


Ningsih menghentikan langkah kakinya.


"Pak Bima, ada perlu apa?"tanya Ningsih dingin.


Sangat terlihat jelas dalam ucapannya sangat sinis seolah olah melihat orang yang sangat dia benci, untuk sesaat Bima tertegun dengan sambutan yang di berikan Ningsih kepadanya, Bima menggingat ingat apakah pernah ada sesuatu yang menyakiti gadis ini sehingga kini sikapnya berubah atau Ningsih habis salah minum obat.


"Apa, boleh aku masuk?"ucap Bima kemudian.


Ningsih mengagguk.


"Masuklah."


Bima segera masuk dan duduk di kursi, sementara Ningsih melangkah mau masuk ke dalam.


"Tunggu, kamu mau kemana?"


"Ada perlu sama ibu kan? akan aku panggilkan,"


"Cepat katakan aku banyak pekerjaan."


"Duduk, di luar yuk!"


"ngapain."


"Kalau di dalam rumah begini bagaimana aku bisa bicara."


Tanpa menjawab Ningsih langsung melangkah ke luar dengan di ikuti Bima dari belakang. Ningsih mendudukkan bokong nya di kursi rotan yang ada di teras depan.


"Katakan ada perlu apa?"


"Tadi aku sudah kirim pesan Kenapa tidak di bales aku juga sudah menelfon mu, Kenapa tidak kamu angkat ada apa?"


"lagi males, saja."ucap NIngsih singkat membuat Bima mendelik mendengar jawaban NIngsih.


"Apa? males !"kenapa hari ini kamu beda banget ada apa?"


"Tidak ada apa apa?"

__ADS_1


"Bohong..!"biasanya ngak begini."


"Maaf, pak! saya itu sudah mau menikah dan sudah seharusnya Bapak tidak usah datang dan mengangguku lagi, ini tidak pantas."


Bima menaikkan alisnya mendengar ucapan Ningsih kemudian tersenyum datar.


"Katakan saja yang sejujurnya tidak perlu berbohong jika hanya tidak pantas apakah yang kita lakukan kemarin pantas bahkan kau tidak menolak nya."


"Kemarin adalah kesalahan jadi lupakan saja dan mulai saat ini jangan lagi menemui dan mengangguku.


"Kau melarang aku menemuimu."ucap Bima sendu.


"Ya."


"Ha .ha .ha..! Bima tersenyum masam Aku tidak percaya semua ini, kau pasti lagi berbohong kan, aku tau kau pasti juga selalu merindukan ku seperti aku yang selalu merindukan mu, kau mencintai ku seperti aku juga mencintaimu."


"Cukup, Pak!" hentikan ucapan konyolmu, seharusnya Bapak sadar dan malu dengan apa yang Bapak ucapkan, saya ini calon istri orang dan anda juga Suami orang, apa tidak cukup punya istri satu, apa masih kurang sehingga Bapak ingin mempermainkan ku."


"Ningsih...!"teriak Bima geram sambil bangkit dari duduknya.Memangnya kau pikir aku laki-laki apa, suka mempermainkan wanita begitu."


"Memang, iya! Bapak memang suka mempermainkan wanita, sudah punya istri masih mau mengaggu calon istri orang."


"Ningsih...!"teriak Bima kedua kali dengan wajah memerah karena marah.


"Jaga ucapanmu."


"Kenapa?" memang buktinya begitu kan, Bapak Ingin mempermainkan hati dan perasaan ku, sudah beristri tapi masih saja kurang."


"Plaaaaakkkk....!"sebuah tamparan mendarat di pipi NIngsih."


Bima yang menyadari kesalahannya segera mendekati Ningsih dengan tubuh bergetar di penuhi rasa sesal.


"Maafkan, aku! A-aku terbawa emosi."ucapnya terbata bata.


Bima berusaha mendekat dan memeluk tubuh NIngsih tapi dengan cepat Ningsih mendorong tubuh Bima.


"Jangan sentuh, aku! teriak Ningsih dengan mata berkaca-kaca.Aku benci kamu..!"Teriak Ningsih sambil berlari masuk ke dalam Rumah, Bima berusaha mencegah tapi Ningsih dengan kasar mengibaskan setiap tangan Bima yang hendak mengengamnya.Bima menatap kepergian Ningsih dengan tatapan sendu.


"Seila...! maafkan aku! aku tidak bermaksud menampar mu aku khilaf aku terbawa emosi maafkan aku sayang tolong jangan benci aku, aku tidak akan tahan." lirih Bima dengan air mata yang mulai membasahi pipi hatinya begitu sakit, ketiika dia melihat orang yang di cintai nya terluka karena ulah nya.


Bima berjalan dengan gontai menuju mobilnya


di acaknya rambut yang tidak gatal dan di tendangnya ban mobil yang ada di depannya.

__ADS_1


"Araaaaaagggghhhh.....!" kenapa aku begitu bodoh."Bima terus berteiak dan mengutuki dirinya sendiri.


__ADS_2