
Seila menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, angannya kembali melayang ke masa silam di mana dia harus kehilangan dan jauh dari suami, hal itu terjadi karena seorang gadis yang telah mencelakakan dirinya dengan sengaja dengan cara menyuruh orang bayaran untuk menabrak mobilnya hingga mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang, akibat dari peristiwa itu Seila harus mengalami kerusakan wajah yang amat sangat sehingga dia harus melakukan operasi wajah yang mau tidak mau wajah Seila berubah menjadi orang lain. Menangis pasti, marah tentu saja tapi semua itu apa gunanya semua sudah terjadi bahkan ketika itu Seila pun harus menggalami hilang ingatan dia tidak mengetahui siapa keluarganya bahkan dia tidak tahu jika di tempatnya dia bekerja itu, adalah suaminya, kenangan yang sangat pahit kembali terputar dalam memori otaknya Seila bersyukur dia ditemukan oleh seorang wanita yang baik hati bahkan rela dan ikhlas memberikan hartanya, tenaganya, serta cintanya untuk kesembuhan Seila, waktu berlalu hari pun berganti jika memang sudah jodoh maka dengan cara apapun Allah akan mempertemukan kembali dua insan yang terpisah, itulah yang terjadi antara dirinya dan Suaminya, karena jodho cinta mereka bisa bersatu kembali.
Mengingat itu semua, hati Seila begitu sakit dan perih haruskah hari ini dia memaafkan dan melupakan segala yang dilakukan seorang wanita yang telah membuat nya celaka dan menderita. Seila memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing dan pening, sementara laki-laki yang ada di depannya tertunduk dia sudah pasrah dengan apa yang akan dikatakan dan diucapkan wanita yang ada di depannya.
Bagaimanapun juga Arya memahami betapa dalam dan sakit luka yang diberikan istrinya kepada wanita yang ada di depannya ini, andaikan waktu bisa diputar andaikan semua bisa dirubah dan andaikan Arya bisa sedikit saja lebih keras dalam mendidik istrinya mungkin kejadian buruk ini tidak akan pernah terjadi, karena sering memanjakan istrinya dan sering menuruti apa yang istrinya mau hal itu membuat sang istri khilaf dan buta mata. Mungkin, memang sudah saatnya dan mungkin memang sudah takdirnya jika istrinya harus menjadi penghuni penjara,mungkin jika Arya yang berada di posisi wanita yang ada di depannya mungkin Arya juga akan bersikap sama tidak akan pernah memaafkan apalagi mencabut tuntutan demi memberikan kebebasan kepada orang yang telah tega menyakiti dan menghancurkan kehidupannya.
sementara di tempat lain Bima yang merasa menunggu sangat lama istrinya yang pamit ijin ke kamar kecil, mulai gusar dia menengok ke kiri dan ke kanan kemudian bangkit dari duduknya dan dengan Langkah sedikit tergesa-gesa Bima pergi ke toilet wanita, tentu saja Bima mendapatkan teguran dari para wanita yang ada di sana, tapi mau apa lagi karena Bima ingin mencari istri nya yang pamit ke kamar kecil tapi tak kunjung kembali, sehingga membuat Bima memberanikan diri bertanya pada beberapa orang yang ada di sana.
" permisi mbak !"Apakah Mbak melihat istri saya ada di dalam."tanya Bima pada salah satu gadis yang kebetulan mau masuk ke toilet wanita.
"Mas saya tidak tahu istri Anda seperti apa Bagaimana saya bisa mengerti dan melihatnya, Coba katakan ciri-cirinya biar kami bisa bantu mencari."ucap gadis itu menjelaskan.
"maaf Mbak, saya lupa memberikan ciri-cirinya istri saya memakai baju warna orange dengan rambut panjang tidak di ikat dengan satu jepit berwarna putih seperti bintang terselip di rambutnya.
"oke, tunggu sebentar aku bantu lihat dan cek jika ada akan kuberitahu."ucap gadis itu seraya masuk ke dalam, tidak menunggu berapa lama gadis itu kembali ke luar."maaf Mas ciri-ciri yang anda maksudkan tidak ada di dalam Mungkin dia sudah keluar, untuk itu silakan masnya pergi kurasa dia sudah tidak ada di kamar mandi ini seru gadis itu menjelaskan kan.
dengan langkah gontai Bima keluar dari tempat itu, pandangan matanya nanar menyapu seluruh ruangan yang ada di restoran. Bima yakin jika Seila masih ada di sini bahkan kini Bima semakin yakin jika istrinya sengaja pergi ke toilet hanya untuk mencari alasan saja dan kini Bima yakin jika Seila istrinya sedang mencari laki-laki yang mengajak Bima untuk bertemu dan bicara empat mata, setelah yakin segera Bima berlari menuju tempat di mana dia dan laki-laki itu terakhir bertemu dan dari kejauhan terlihat lah istrinya lagi bersama dengan laki-laki yang tadi menemuinya.
__ADS_1
"Gawat jika sampai laki-laki itu mengatakan tujuannya pada Seila dan Seila mengabulkan permintaannya ini tidak boleh terjadi, aku harus cepat ke sana sebelum semuanya terlambat bahkan kalau bisa jangan sampai Seila tahu bahwa tujuan dari laki-laki itu ingin meminta kebebaskan istrinya yang kupenjara kan, dengan cepat Bima pergi ke meja di mana Seila dan laki-laki itu sedang berbicara hatinya yang was-was menjadi semakin was-was ketika Bima mendengar perkataan dari istrinya.
"Siapa nama istri mu,"tanya Seila.
"Arina, istriku bernama Arina," ucap Arya dengan wajah yang tetap menunduk.
Bagaikan petir di siang hari yang menusuk relung hat, Seilai tertegun dia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang nekad melakukan segalanya demi mendapatkan sebuah cinta itu adalah Arina, seorang gadis cantik yang dulu adalah mantan kekasih dari suaminya, di mana dia juga dulu adalah teman Sekolah nya.
tak jauh berbeda dengan Seila, Bima pun terkejut ketika mendengar Arya mengatakan bahwa gadis yang nekat mencelakakan istrinya dan yang merubah wajahnya mirip dengan Seila yang selama ini berada di rumahnya ternyata adalah Arina. Bagaikan orang mabuk Bima terhuyung ke belakang hingga tangannya menghantam kursi yang ada di samping Seila tertarik kebelakang, tubuh Bina bergetar dia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa orang yang sangat dia benci orang yang sangat dia tidak suka ternyata adalah mantan kekasihnya, Bima yang hampir terhuyung jatuh dan tangannya yang tanpa sengaja menyentuh kursi membuat Seila dan Arya menatap ke sumber suara dan mereka berdua sama-sama terkejut ketika mengetahui siapa yang berdiri di belakang Seila, hingga keduanya bangkit dari tempat duduknya.
"Kak Bima...!"seru Seila yang terkejut dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba berdiri di belakang nya.
"Katakan Arya, benarkah semua yang melakukan kejahatan kepada istriku adalah Arina, katakan.. Arya..!" benarkah Arina yang melakukan semua itu," bentak Bima dengan nada emosi sambil menarik kerah baju Arya.
"Kak Bima, turunkan tanganmu di sini banyak orang semua lagi menatapmu," desis. Seila pada Bima.
Dengan perasaan kesal Bima melepaskan cengkraman tangannya pada Krah baju leher Arya.
__ADS_1
"Jawab..!"bentak Bima untuk yang kedua kali.
"Be-benar mas, Arina yang melakukan nya."
"Araaaaaagggghhhh...!"
"Braaaaaakk....!'Bima memukul meja hingga suaranya dapat di dengar semua orang yang ada di restoran itu, melihat suaminya yang lagi emosi Seila berusaha menenangkan nya.
"Kak .!"tahan emosi mu,"lirih Seila pada suaminya.
"Kita pulang."ucap Bima yang langsung menyambar tangan istri nya.
"Tapi kak...!"Bagaimana dengan Arina." tanya Seila.
"Pulang...!" jangan sebut nama itu lagi aku tidak ingin mendengar nya.
"Aku, tau! Kau kecewa kak, tapi setidaknya kita bisa membicarakan hal ini dengan baik baik kita....
__ADS_1
"Cukup... Seila, masuk!"seru Bima agar Seila segera masuk ke dalam mobil dan setelah Seila masuk ke dalam mobil Bima segera melanju kan mobilnya suasana di dalam mobil untuk beberapa saat hening.