
Bima mendengus kesal karena apa yang di harapkan tak sesuai dengan kenyataan, mimpi bisa tidur satu Ranjang dengan sang istri yang sudah lama terpisah jauh darinya karena keadaan kini harus dia tahan dan buang, bagaimana tidak sakit dan sedih, sang istri tercinta tak bisa di sentuh nya alasannya demi menjaga perasaan dari orang yang telah berjasa menyelamatkan nya, karena mereka tidak tau jika dirinya adalah suami sah dari putri punggutnya terlebih sang Ayah yang sangat tidak menyukai kehadiran nya karena mereka mengganggap Ningsih lebih cocok dan tepat untuk Hendrato sang dokter gadungan, sebenarnya bukan dokter gadungan tapi bagi Bima Hendrato adalah Dokter gadungan di mana sesungguhnya dia tau Ningsih itu istrinya tapi tetap saja dia tidak memberi tau alasannya juga sepele kalau di ingatkan takut memperparah sakit hilang ingatan nya, selalu dan selalu harus bersabar.
Dengan hati yang gundah gulana Bima meniju udara berkali kali sebagai pelampiasan amarahnya, sangat kesal itulah yang kini di rasakan Bima.
"Harusnya malam ini aku bisa melakukan penyatuan setelah sekian lama berpuasa tidak tidur di kamar yang sempit hatiku juga ikut sempit mana yang di peluk cuma guling lagi
Apes dan sial amat ini Nasib, kalau seperti ini apa bedanya aku ikut Seila ke sini mendingan aku bobo di rumah saja bisa peluk Vera dari pada guling begini."
Malam semakin merangkak naik waktu menunjukkan pukul 11 malam dan Bima masih gulang guling hadap kanan hadap kiri karena tidak bisa memejamkan mata, hati dan pikiran nya resah tidak bisa sedikitpun tidur dengan perlahan lahan bagaikan seorang pencuri Bima membuka kamarnya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, dengan menggendap endap Bima berjalan menuju kamar Seila dan dengan sangat pelan sekali Bima mengetuk kamar Seila.
"Seila..!"tok..tok..buka pintunya."lirih Bima dari luar.
Bima merasa kesal karena sudah menunggu hampir sepuluh menit di depan pintu tapi pintu belum juga di buka, tak lama kemudian terdengar pintu kamar samping terbuka dan keluarlah Bapak Ningsih dia mengeryitkan dahinya melihat Bima berdiri di depan pintu putrinya.
"Nak, Bima !"sedang apa di sini?"
Bima yang tak menyadari kedatangan Bapak Ningsih sedikit terkejut Jantung tiba-tiba mendadak macet untuk beberapa saat lamanya.
"Bapak..!eng...saya mau ke kamar kecil tapi saya takut ke belakang sendiri jadi saya berfikir minta di antar Ningsih." selak Bima memberikan alasan.
"Oh, mau ke kamar kecil, mari Bapak antar kebetulan Bapak juga mau ke kamar kecil."
Dengan senyum terpaksa dan malu malu Bima akhirnya menurut menggikuti langkah kaki dari Bapak Ningsih meskipun dalam hati Bima mengumpat seribu kekesalan.
"Sial, Maksud hati ingin bertemu dengan istri tapi yang terjadi justru ketemu Bapak angkat sang istri Nasib kenapa apes begini."Gumam Bima dalam hati.
"Nak, Bima silahkan masuk dulu Bapak tunggu di luar."
Dengan senyum terpaksa Bima masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa Nasib ku apes begini, siapa juga yang ingin ke kamar kecil aku kan ngak bisa tidur pingin tidur di temani istri ini sekarang malah terjebak di kamar mandi apa aku harus mandi begitu,"Grutu Bima kesal.
"Tok..Tok.!" Nak Bima masih lama ya?"Bapak udah ngak tahan nih."
Bima terperangah mendengar teriakkan dari sang Bapak angkat Bima baru menyadari kalau dirinya sudah hampir setengah jam berada diam di kamar mandi.
"Iya, pak sudah,"seru Bima buru buru keluar kamar kecil.
"Sakit perut ya Nak Bima, kok lama ?"tanya sang bapak angkat ketiika Bima keluar kamar dan Bima yang di tanya hanya tersenyum kecut.
Bima buru buru masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa Seila tidak keluar, seharusnya aku beliin Seila hp biar bisa menghubungi nya kan hp Seila tertinggal di rumah sakit, bodohnya aku." keluh Bima menyesali kebodohannya.
Di dalam kamar dimana Bapak dan Ibu Ningsih sedang tidur.
"Pak...!"
"Hmmmm!"
"Apa, Bapak Ndak kasian sama Nak Bima, dia pasti kangen dan pingin dekat dengan istrinya."
"Biar kan toh Bu, Bapak sudah punya rencana buat mereka berdua lagi pula Ningsih Itu ternyata gadis yang sangat alot."
"Apa itu pak, alot?"
"Itu, lho Bu, yang super sulit di luluh kan hatinya aku kasian Bu sama Nak Hendrato aku mau buat Ningsih, berterimakasih setidaknya bisa memaafkan Nak hendrato."
"Lha, apa cara kita ini benar Pak?"
"Sudah, ibu Nurut saja aku akan berjuang agar Nak Hendrato dan Ningsih tidak lagi saling membenci agar Ningsih bisa memaafkan."
"Pak...!"
"Pasti, Nak Bima ngak bisa tidur."
"Itu, pasti Bu, tapi biarkan saja cinta itu kan butuh pengorbanan."
"Memangnya, Bapak mau kalau di pisahkan mendadak seperti Nak Bima begitu"
"Yo, moh Bu!" ngak mau aku tapi ini kan bukan salah kita juga toh Bu,salah mereka yang tidak berani berterus terang kalau mereka itu suami istri, jadi biarkan saja, dan ibu lihat saja bagaimana reaksi Nak Bima jika kita ngeyel menjodohkan dengan Nak Hendrato."
"Ah,Bapak jangan toh pak, kasian."
"Kan,ngak beneran Bu, cuma main main gitu."
"Ya wes lah terserah Bapak tapi aku tidak tanggung jawab kalau Nak Bima marah jika tau ini semua rencana Bapak."
"Tenang, Nak Bima tidak akan bisa marah padaku, aku kan Bapak ya Ningsih." ucap Bapak Ningsih percaya diri sambil terkekeh kecil.
Pagi telah tiba tapi Bima belum bangun dari Ranjang nya, sementara Ningsih sudah membantu sang Ibu memasak di dapur untuk menyiapkan makan pagi.
"Nduk, Nak Bima belum bagun kah,"
__ADS_1
"Belum Bu, mungkin tidur nya pulas sekali jadi terlambat bangun."
"Coba kamu bagunin nduk ini sudah siang takut dia terlambat datang ke kantor."
"Baik, Bu!"
Ningsih segera melangkah ke dalam kamar Bima dan mengetuk pintu karena tidak ada jawaban Ningsih mencoba langsung membuka kamar yang ternyata tidak di kunci.
"Pak Bima! bagun sudah siang."
Karena masih diam saja Ningsih menyentuh kaki Bima dan menggoyangkan nya, merasa ada yang menyentuh perlahan lahan Bima membuka matanya.
"Seila...!" akhirnya kau datang juga, sini tidur temani aku ini masih pagi."lirih Bima sambil menarik tangan Seila sampai terjerembab jatuh ke dalam pelukannya.
"Kak, jangan!" ini sudah pagi."
Seila berusaha bangkit dan memberontak kecil dalam dekapan Bima, tapi karena pelukan Bima sangat kuat membuat Seila sedikit kesulitan untuk melepaskan diri, takut ketahuan Ibu atau Bapaknya yang bisa saja tiba-tiba nylonong ke kamar Bima dengan menggunakan tangan satunya Seila menampar wajah Bima.
"Plaaaaakkkk....!"sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di wajah Bima membuat Bima membuka kedua matanya dengan cepat.
"Kenapa kau menamparku, apa salahku, sakit tauk."
"Salah sendiri main peluk orang."
"yeeeee.....!" peluk istri sendiri halal kok"
"Iya, tapi kita kan harus jaga hati dan perasaan Ibu, bapak ku di sini."
"Apes terus sih Nasibku, mana semalam kamu diketuk ngak bukain pintu."
"Sudah tidur lah kak, lagian malam malam ngapain ke kamar orang."
"Kangen" ucap Bima sambil tersenyum mengoda.
"Sudah, cepat mandi terus kita makan pagi bersama,"
"Baiklah, tapi kiss dulu."
"Ngak mau , bau..!" seru Seila sambil berlari keluar pintu, Bima menatap punggung istrinya den Pandanga sendu.
"Ku pikir hidupku sudah akan berakhir bahagia tapi nyatanya kenapa apes melulu.' grutu Bima dalam hati sambil keluar kamar meniju kamar mandi.
__ADS_1