Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.49.NASIB SUAMI YANG TAK DIANGGAP.


__ADS_3

Untuk beberapa saat tidak ada percakapan


diantara mereka, baik Seila maupun Nafa


keduanya Larut dalam khayalan nya masing


masing.


Sementara Iqbal dan para polisi mulai bersiap


siap masuk ke dalam goa.Namun belum sempat mereka masuk ke dalam goa, Bima


dan Bondet muncul dengan membawa mahkluk kelelawar yang sudah terikat kuat.


"Kak Bima..!Kau sudah berhasil menangkap


mahkluk itu!


Bima mengagguk.


"Pak polisi tolong, bawa dan amankan mahkluk


ini, agar dia tidak lagi mengaggu dan meresahkan warga penduduk sekitar."


"Baik, kami akan membawa ke tempat di mana


banyak hewan di kumpulkan disana."


"Ayo, bawa masuk ke dalam mobil, ke empat, preman itu dan juga mahkluk kelelawar,"


Seru salah satu polisi kepada polisi lainnya.


Bergegas beberapa polisi langsung membawa


mereka masuk ke dalam mobil.


Setelah semua beres, polisi itupun minta ijin


pergi, tak lupa mereka berterimakasih pada


kami.


Bima bisa bernafas lega, sekarang semua nya


sudah selesai, Nafa yang hilang pun sudah


di temukan.


Nafa yang melihat Bima baik baik saja hatinya


senang, hingga dia lupa dengan posisinya.


"Kak Bima..!"


Nafa berlari kecil mendekati Bima dan langsung memeluknya.


Bima yang langsung mendapat kan pelukan


ekstra dari Nafa, segera membulat kan kedua


bola matanya, pasalnya Bima tidak tau kalau


Nafa berani dan nekad memeluknya di hadapan


dan di depan istri sah nya.


Bima melihat ekspresi Wajah Seila yang tiba tiba membuang muka melihat dia di peluk


Nafa.


"Eh...Nafa, lepaskan, jangan begini !"


"Kenapa, kak? bukankah wajar, jika orang yang


telah menolong kita peluk begini.


"Iya, tapi...!


Belum juga Bima selesai bicara Nafa sudah


menutup mulut Bima dengan telapak tangannya.


Tatapan matanya yang indah menatap lekat


lekat wajah Bima, sehingga Bima terpaksa


harus membuang muka.


perlahan lahan Bima mendorong tubuh Nafa


sedikit menjauh darinya.


"Sudah, dramatis romace nya, kamu sudah baik


baik saja, lepaskan, aku juga ingin melihat


keadaan istriku."Ucap Bima kalem.


Namun ucapan Bima membuat Nafa kesal dan


jengkel, terbesit rasa cemburu yang tiba tiba


mengetuk relung hatinya yang dalam, ada


kepahitan yang sulit di ucapakan dan di jelas


kan dengan kata kata manapun.


Perlahan lahan Nafa melepaskan pelukannya.


Dengan cepat Bima melangkah pergi menemui


Seila, tapi sayangnya Seila yang tadinya ada


di dekat pohon itu, sudah tidak ada di sana,

__ADS_1


Bima mengacak acak rambutnya.


"Pasti nanti ribut lagi, ngak salah dan hal wajar saja sih, kalau Seila marah karena cemburu


karena dia adalah suaminya, Namun sulit


mencairkan ngambek nya itu yang susah.


Bima sudah menenggok ke kanan dan kekiri


namun tak terlihat tanda tanda keberadaan Seila.


"Bal..."Lihat Non Seila tidak ?"


"Non Seila?"


"Iya, kamu lihat tidak ?"


"Sudah balik ke tenda lebih dulu kak, bareng


dengan Bondet dan beberapa penduduk yang


tadi kesini, dengan membawa motor."


"Apa...?"sudah balik ke tenda lebih dulu, kenapa


tidak menunggu ku!"


"Kak Bima, ngak sakit kan ?"


"Apa maksud mu, ngatakan aku sakit."


Iqbal mendekati Bima dan menepuk nepuk


pundaknya.


"Dengar kak, wanita yang mana yang tidak akan


sakit hatinya, bila melihat suaminya berduaan


dengan wanita lain."


"Cih...!lagak mu Bal, sok puitis, aku bukannya


sengaja tapi karena keadaannya yang harus


membuat ku...ya begitu,"Ucap Bima sembari


tertawa.


Iqbal pun terkekeh mendengar ucapan Bima


"Ya, sudah, yuk kak, kita pulang balik ke tenda,


masalah Non Seila ngambek tenang, aku punya


solusi nya."


"Apa, tuh,"


"Cih...,itung itungan melulu sama aku, awas


saja, kuturunkan levelmu baru tau rasa."


"Idih, kak Bima marah, jangan lah, susah payah


aku latihan karate nya biar ganti sabuk ini


malah mau di turunkan, kak Bima kan orang yang baik hati dan tidak sombong jadi jangan


ya...ya please !"


"Ya, sudah yuk pulang,"


Sampai di tenda semua beristirahat melepaskan segala ketegangan yang beberapa


hari terakhir ini menimbulkan keresahan dan


was was, sungguh pengalaman Bakaran yang


pastinya tidak akan terlupakan, jika di ingat semua peserta anak didik Bima yang ikut, terutama Nafa.


Pasti ini, adalah penggalaman yang pahit


baginnya, di mana dia di culik dan akan di


jadikan gadis persembahan untuk mahkluk


kelelawar yang sangat mengerikan itu.


Bima menemui Seila yang ada di dalam tenda.


"Sayang, bagaimana kakimu, coba kulihat."Tanya Bima hati hati.


"Sudah lebih baik," Jawab Seila datar tanpa menoleh ke sumber suara.


Ketika tangan Bima hendak menyentuh kaki


Seila yang sedikit luka dengan cepat Seila


menariknya.


"Lho, kok, kakinya di jauhkan dariku sih, aku


kan mau lihat,"


"Aku bilang kan sudah baikan, jadi ngak perlu


juga kamu lihat,"Ucap Seila ketus.


Bima menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan, dia


mengerti istri nya kini lagi marah dan kesal


padanya, Bima memaklumi hal itu, siapa pun

__ADS_1


pasti kesal, jika sang suami lebih mendahulukan orang lain dari pada istri.


Bima menyandarkan tubuhnya di dinding tenda dekat Seila yang sedari tadi membelakangi nya.


"Sayang, masak dari kemarin ngak ada pelukan


buat suami sih," Ucap Bima berusaha mencair


kan suasana agar tidak kaku.


karena tidak mendapat kan jawaban Bima


mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hmmm, kalau lagi ngambek begini aku harus


apa, Gumam Bima dalam hati.


tiba tiba terlintas satu ide.


"Seila.....!awas ada kecoak dekat kakimu..?


teriak Bima tiba tiba sambil berdiri.


Seila yang terkejut dan dengan gerak refleks pun ikut berdiri.


"Mana..?"teriak Seila dengan bergetar.


"Tuh, di bawah dekat kakimu, "


Dengan cepat Seila menghambur kedalam


pelukan Bima, sambil berteriak-teriak.


"Cepat, buang kecoaknya aku takut,"Rengek


Seila.


Bima bukan nya mendengar perintah istrinya


dia justru membalas pelukan Seila.


Melihat Bima tidak bereaksi apa apa, bahkan


justru mempererat pelukannya Seila kembali


berteriak.


"Cepat buang...!dimana kecoaknya, jangan


diam saja."


Seila menguncang guncang tubuh Bima yang


memeluknya dengan erat.


"kecoak nya kan, ngak ada ,"Ucap Bima


santai.


Seila menatap Bima dengan tatapan tajam.


Yang ditatap cuma tersenyum.


"Tadi kamu bilang, ada kecoak."


"Ya, biar dapat pelukan dari kamu aja,"


Ucap Bima enteng.


Seila yang geram karena di bohongin, dengan


keras mendorong tubuh Bima menjauh darinya


Namun karena pelukan nya Bima sangat erat


Seila kesulitan melepaskan nya.


"Bima...! lepaskan,"teriak Seila.


Bima berpura pura tuli tidak mendengar kan


perintah Seila, netranya justru menatap wajah


Seila dalam dalam, di tatapnya dengan lekat


wajah sang istri. " Sungguh tidak akan bisa


kubayangkan jika aku harus kehilangan mu,


gumam Bima dalam hati seraya merengkuh


Tubuh Seila lebih erat kedalam dekapannya.


Seila yang merasa kesal, bukannya, Bima


melepaskan pelukannya, justru mempererat


pelukannya membuat Seila mengginjakkan


kakinya dengan keras ke kaki Bima.


"Auuuuuhh....!kenapa nginjak kakiku," Ucap Bima, kesakitan yang secara refleks membuat pelukan nya lepas.


"Rasain, tuh."Setelah mengucapkan itu


Seila segera pergi keluar tenda sedangkan


Bima cuma menatap kepergian Seila dengan


tatapan sayu.


"Begini amat, nasib Suami yang tak di anggap,


nasib nasib,"Gumam Bima seraya mendudukan

__ADS_1


dirinya di dalam tenda.


__ADS_2