
Untuk beberapa saat tidak ada percakapan
diantara mereka, baik Seila maupun Nafa
keduanya Larut dalam khayalan nya masing
masing.
Sementara Iqbal dan para polisi mulai bersiap
siap masuk ke dalam goa.Namun belum sempat mereka masuk ke dalam goa, Bima
dan Bondet muncul dengan membawa mahkluk kelelawar yang sudah terikat kuat.
"Kak Bima..!Kau sudah berhasil menangkap
mahkluk itu!
Bima mengagguk.
"Pak polisi tolong, bawa dan amankan mahkluk
ini, agar dia tidak lagi mengaggu dan meresahkan warga penduduk sekitar."
"Baik, kami akan membawa ke tempat di mana
banyak hewan di kumpulkan disana."
"Ayo, bawa masuk ke dalam mobil, ke empat, preman itu dan juga mahkluk kelelawar,"
Seru salah satu polisi kepada polisi lainnya.
Bergegas beberapa polisi langsung membawa
mereka masuk ke dalam mobil.
Setelah semua beres, polisi itupun minta ijin
pergi, tak lupa mereka berterimakasih pada
kami.
Bima bisa bernafas lega, sekarang semua nya
sudah selesai, Nafa yang hilang pun sudah
di temukan.
Nafa yang melihat Bima baik baik saja hatinya
senang, hingga dia lupa dengan posisinya.
"Kak Bima..!"
Nafa berlari kecil mendekati Bima dan langsung memeluknya.
Bima yang langsung mendapat kan pelukan
ekstra dari Nafa, segera membulat kan kedua
bola matanya, pasalnya Bima tidak tau kalau
Nafa berani dan nekad memeluknya di hadapan
dan di depan istri sah nya.
Bima melihat ekspresi Wajah Seila yang tiba tiba membuang muka melihat dia di peluk
Nafa.
"Eh...Nafa, lepaskan, jangan begini !"
"Kenapa, kak? bukankah wajar, jika orang yang
telah menolong kita peluk begini.
"Iya, tapi...!
Belum juga Bima selesai bicara Nafa sudah
menutup mulut Bima dengan telapak tangannya.
Tatapan matanya yang indah menatap lekat
lekat wajah Bima, sehingga Bima terpaksa
harus membuang muka.
perlahan lahan Bima mendorong tubuh Nafa
sedikit menjauh darinya.
"Sudah, dramatis romace nya, kamu sudah baik
baik saja, lepaskan, aku juga ingin melihat
keadaan istriku."Ucap Bima kalem.
Namun ucapan Bima membuat Nafa kesal dan
jengkel, terbesit rasa cemburu yang tiba tiba
mengetuk relung hatinya yang dalam, ada
kepahitan yang sulit di ucapakan dan di jelas
kan dengan kata kata manapun.
Perlahan lahan Nafa melepaskan pelukannya.
Dengan cepat Bima melangkah pergi menemui
Seila, tapi sayangnya Seila yang tadinya ada
di dekat pohon itu, sudah tidak ada di sana,
__ADS_1
Bima mengacak acak rambutnya.
"Pasti nanti ribut lagi, ngak salah dan hal wajar saja sih, kalau Seila marah karena cemburu
karena dia adalah suaminya, Namun sulit
mencairkan ngambek nya itu yang susah.
Bima sudah menenggok ke kanan dan kekiri
namun tak terlihat tanda tanda keberadaan Seila.
"Bal..."Lihat Non Seila tidak ?"
"Non Seila?"
"Iya, kamu lihat tidak ?"
"Sudah balik ke tenda lebih dulu kak, bareng
dengan Bondet dan beberapa penduduk yang
tadi kesini, dengan membawa motor."
"Apa...?"sudah balik ke tenda lebih dulu, kenapa
tidak menunggu ku!"
"Kak Bima, ngak sakit kan ?"
"Apa maksud mu, ngatakan aku sakit."
Iqbal mendekati Bima dan menepuk nepuk
pundaknya.
"Dengar kak, wanita yang mana yang tidak akan
sakit hatinya, bila melihat suaminya berduaan
dengan wanita lain."
"Cih...!lagak mu Bal, sok puitis, aku bukannya
sengaja tapi karena keadaannya yang harus
membuat ku...ya begitu,"Ucap Bima sembari
tertawa.
Iqbal pun terkekeh mendengar ucapan Bima
"Ya, sudah, yuk kak, kita pulang balik ke tenda,
masalah Non Seila ngambek tenang, aku punya
solusi nya."
"Apa, tuh,"
"Cih...,itung itungan melulu sama aku, awas
saja, kuturunkan levelmu baru tau rasa."
"Idih, kak Bima marah, jangan lah, susah payah
aku latihan karate nya biar ganti sabuk ini
malah mau di turunkan, kak Bima kan orang yang baik hati dan tidak sombong jadi jangan
ya...ya please !"
"Ya, sudah yuk pulang,"
Sampai di tenda semua beristirahat melepaskan segala ketegangan yang beberapa
hari terakhir ini menimbulkan keresahan dan
was was, sungguh pengalaman Bakaran yang
pastinya tidak akan terlupakan, jika di ingat semua peserta anak didik Bima yang ikut, terutama Nafa.
Pasti ini, adalah penggalaman yang pahit
baginnya, di mana dia di culik dan akan di
jadikan gadis persembahan untuk mahkluk
kelelawar yang sangat mengerikan itu.
Bima menemui Seila yang ada di dalam tenda.
"Sayang, bagaimana kakimu, coba kulihat."Tanya Bima hati hati.
"Sudah lebih baik," Jawab Seila datar tanpa menoleh ke sumber suara.
Ketika tangan Bima hendak menyentuh kaki
Seila yang sedikit luka dengan cepat Seila
menariknya.
"Lho, kok, kakinya di jauhkan dariku sih, aku
kan mau lihat,"
"Aku bilang kan sudah baikan, jadi ngak perlu
juga kamu lihat,"Ucap Seila ketus.
Bima menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan, dia
mengerti istri nya kini lagi marah dan kesal
padanya, Bima memaklumi hal itu, siapa pun
__ADS_1
pasti kesal, jika sang suami lebih mendahulukan orang lain dari pada istri.
Bima menyandarkan tubuhnya di dinding tenda dekat Seila yang sedari tadi membelakangi nya.
"Sayang, masak dari kemarin ngak ada pelukan
buat suami sih," Ucap Bima berusaha mencair
kan suasana agar tidak kaku.
karena tidak mendapat kan jawaban Bima
mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmmm, kalau lagi ngambek begini aku harus
apa, Gumam Bima dalam hati.
tiba tiba terlintas satu ide.
"Seila.....!awas ada kecoak dekat kakimu..?
teriak Bima tiba tiba sambil berdiri.
Seila yang terkejut dan dengan gerak refleks pun ikut berdiri.
"Mana..?"teriak Seila dengan bergetar.
"Tuh, di bawah dekat kakimu, "
Dengan cepat Seila menghambur kedalam
pelukan Bima, sambil berteriak-teriak.
"Cepat, buang kecoaknya aku takut,"Rengek
Seila.
Bima bukan nya mendengar perintah istrinya
dia justru membalas pelukan Seila.
Melihat Bima tidak bereaksi apa apa, bahkan
justru mempererat pelukannya Seila kembali
berteriak.
"Cepat buang...!dimana kecoaknya, jangan
diam saja."
Seila menguncang guncang tubuh Bima yang
memeluknya dengan erat.
"kecoak nya kan, ngak ada ,"Ucap Bima
santai.
Seila menatap Bima dengan tatapan tajam.
Yang ditatap cuma tersenyum.
"Tadi kamu bilang, ada kecoak."
"Ya, biar dapat pelukan dari kamu aja,"
Ucap Bima enteng.
Seila yang geram karena di bohongin, dengan
keras mendorong tubuh Bima menjauh darinya
Namun karena pelukan nya Bima sangat erat
Seila kesulitan melepaskan nya.
"Bima...! lepaskan,"teriak Seila.
Bima berpura pura tuli tidak mendengar kan
perintah Seila, netranya justru menatap wajah
Seila dalam dalam, di tatapnya dengan lekat
wajah sang istri. " Sungguh tidak akan bisa
kubayangkan jika aku harus kehilangan mu,
gumam Bima dalam hati seraya merengkuh
Tubuh Seila lebih erat kedalam dekapannya.
Seila yang merasa kesal, bukannya, Bima
melepaskan pelukannya, justru mempererat
pelukannya membuat Seila mengginjakkan
kakinya dengan keras ke kaki Bima.
"Auuuuuhh....!kenapa nginjak kakiku," Ucap Bima, kesakitan yang secara refleks membuat pelukan nya lepas.
"Rasain, tuh."Setelah mengucapkan itu
Seila segera pergi keluar tenda sedangkan
Bima cuma menatap kepergian Seila dengan
tatapan sayu.
"Begini amat, nasib Suami yang tak di anggap,
nasib nasib,"Gumam Bima seraya mendudukan
__ADS_1
dirinya di dalam tenda.