
Bima melangkah ke dalam mobil dan membuka pintu depan, melihat Seila tidak ada di bangku depan refleks Bima menoleh ke belakang dan terlihatlah Seila sedang duduk dengan bersilang dada dan kaki dengan posisi bibir menggatup rapat seperti kerucut.
Bima tertawa melihat istrinya yang terlihat menggemaskan.
"Ngambek, Non. ! ha..ha ...ha . turunlah sini duduk di samping ku,"seru Bima membuka percakapan, yang mana tidak ada balasan jawaban dari Seila, Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan." Sayang ayo, duduk di sini! pinta Bima untuk yang kedua kali dan lagi-lagi Bima tidak mendapatkan jawaban apapun, karena sudah siang dan jadwal pertemuan atau janjian dengan orang ke buru telat akhirnya Bima menggalah dengan membiarkan Seila duduk manis di belakang dan dengan cepat Bima mengemudikan mobilnya.
Seila yang tidak menyangka kali ini Bima tidak serius dan berusaha merayunya, mendengus kesal dan semakin marah.
"Tuh bisa bisa nya ngak perduliin aku jangan jangan beneran Kak Bima mau ketemuan sama cewek...huaaaaa.... jangan sampai itu terjadi.
Seila mengepalkan tangannya siap untuk menjotos pak tukang sopir yang ada di depannya yang tak lain adalah suaminya sendiri ada rasa kesal gemes dan kecewa, sikap Bima kali ini begitu berbeda.
"Percuma saja aku ngambek dan marah tuh sopir bener bener kelewatan dirayu dikit kek, aku ini biar lumer gitu ini apa di cuekin saja huuuuff..... menyebalkan.
"Sayang ..!"kamu mau di antar ke mana cepat dikit ya aku lagi keburu nih," ucap Bima menjelaskan yang mana waktu dan jadwal pertemuan janjiannya sudah telat Lima menit.
Mendengar pertanyaan Bima Seila segera mendelik tak percaya katanya cinta tapi giliran ada janji sama orang hilang semua rayuan gombalnya menghilang begitu saja tertimpa angin.
Seila menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, ingin rasanya saat itu juga dia memukul orang yang ada di depannya tidak perduli boyok atau tidak.
Di tunggu beberapa saat tidak ada jawaban terpaksa Bima mrnggulangi pertanyaa nya.
"Mau di antar ke mana Sayang, aku tidak punya banyak waktu nih,"ucap Bima sambil menatap wajah cantik istrinya lewat kaca spion, situasi memang lagi tidak begitu baik dan tepat sehingga tidak ada waktu untuk meladeni ngambeknya sang istri.
__ADS_1
"Memang nya, kak Bima mau ketemuan dengan siapa sih, apa ngak boleh aku ikut."Kini Seila yang mengalah dan mencoba untuk memahami apa yang sedang Bima pikirkan.
"Ada janji dengan orang dan aku tidak tau siapa, cuma katanya penting begitu." ujar Bima memberikan penjelasan.
"Aku ngak punya tujuan kak, apa tidak boleh aku ikut, masak tega sih aku jalan sendiri ke supermarket,"Kali ini Seila mencoba meredam egonya dan mengalah demi bisa tau Suami lagi ada janji dengan siapa.
"Boleh karena aku juga tidak begitu tau siapa yang lagi menggajak ku bertemu, baiklah kita langsung menemuinya ya?'
Dengan kecepatan sedang Mobil yang membawa Bima dan Seila akhirnya tiba di tempat tujuan di mana lokasi tempat untuk janjian sudah di tentukan.
Bima membuka pintu mobil belakang dan menunggu Seila ke luar, setelah itu keduanya berjalan menuju tempat yang di janjikan.
"Sayang...maafkan aku tadi ya, bukannya aku mau cuekin kamu cuma lagi ada urusan. yang waktunya sangat mepet jadinya aku biarkan kamu ngambek."
Tak lama kemudian keduanya sudah sampai di sebuah tempat yang di janjikan dengan meja Nomor 24, yang mana sudah tampak seorang laki-laki sedang duduk dengan di temani secangkir kopi.
"Permisi apa anda sudah lama menunggu..!"tanya Bima santun yang mana dia menyadari jika dirinya terlambat datang, dengan menarik dua buah kursi satu untuk nya dan satu untuk Seila istrinya.
"Tidak apa-apa mas, saya mengerti pasti BBM mas Bima sangat sibuk, untuk itu datang nya terlambat, ini lebih baik mas dari pada mas Bima ngak jadi datang." ujar seorang laki-laki yang duduk di depan nya sambil tersenyum dan Bima pun ikut tersenyum mendengar ucapan dari laki-laki di depannya.
Awalnya senyum Bima sangat manis akan tetapi lama-kelamaan senyum itu terlihat dingin Bima memberikan senyuman dengan tulus akan tetapi ketika netranya melihat laki-laki di depannya terlalu fokus dalam menatap Seila bahkan tanpa merasa malu atau tidak enak hati secara terang-terangan tatapan mata laki-laki itu terus tertuju pada istri nya Seila, hal itu membuat Bima kesal. Sampai pada akhirnya Bima memainkan jari jemarinya membuat bentuk dan yang menimbulkan bunyi.
"Cetok..!" sontak saja apa yang di lakukan Bima yang langsung di depan wajah laki-laki yang ada di depannya yang masih dalam keadaan menatap Seila tak berkedip dan Seila pun yang di tatap merasa risih dan jenggah untuk itu dia memilih membuang muka ke arah lain.
__ADS_1
"Eh..Mas Bima maaf,"ucapnya kemudian, menyadari dirinya telah menatap istri orang dengan sangat lama , mungkin orang berfikir aku akan tertarik ataupun suka dan tidak ada yang tau jika tatapan mataku adalah suatu bentuk rasa iba, di mana gara gara istri ku wajah cantik di depannya berubah dan gara gara istriku juga hampir saja kebahagiaan gadis cantik itu di rampas ya.
"Mas bisakah kita bicara empat mata saja."
"Boleh, sayang aku pergi sebentar ya jangan ke mana mana." pesan Bima agar Seila tidak pergi dan tetap di sini menunggu nya, tanpa membantah Seila mengagguk dan pergi lah Bima bersama orang ke tempat duduk lain yang hanya ada mereka berdua saja.
"Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan dan mengapa cuma ingin bicara berdua sedang kan aku dan istriku itu tidak ada rahasia."
"Maaf, mas bukan maksud ku begitu cuma saya tidak enak jika harus bicara di depan istri mas Bima."ucap laki-laki itu memberikan alasan yang menurutku alasannya tidak masuk akal, di mana beberapa saat yang lalu dia selalu mencuri pandang pada istriku.
"Baiklah, sekarang kita hanya tinggal berdua katakan apa yang ingin kau bicara kan karena sepertinya aku tidak pernah menggenal mu."
"Ini, maksudku, aku tau kesalahan yang dilakukan istriku sangat fatal dan mungkin tidak bisa mas Bima maafkan tapi Tolong lah berikan kesempatan sekali lagi agar bisa memperbaiki kesalahannya."
"Maaf, anda ini bicara soal apa ? saya tidak paham sama sekali."
"Mas Bima bisakah kau mencabut tuntutan mu kepada gadis yang telah mencelakakan istrimu dan yang telah lancang menggaku sebagai istri mu yang baru saja beberapa bulan lalu kau penjara kan, dia itu istriku,"
"Maksud mu gadis yang merubah Wajah nya mirip dengan wajah istriku, betul begitukah."tanya Bima penasaran.
"Benar, mas tolong cabutlah tuntutan mas Bima atau setidaknya ijinkan dia bebas meskipun dengan jaminan berikan kesempatan padanya sekali lagi." pinta laki-laki di depannya dengan tatapan penuh harap.
"Maaf aku tidak bisa dia sudah membuat istriku menderita dan sudah sepantasnya dia menerima buah dari akibatnya, tidak aku tidak bisa mencabut tuntutan ku, biarkan saja gadis itu merasakan akibat dari perbuatannya.
__ADS_1