
Sepasang mata yang sedari awak melihat semua yang terjadi antara Arina dan Bima dia hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Sedalam itukah cintamu pada Bima Arin...!" lirih seorang laki-laki yang tak lain adalah Arya suaminya.
Ketika Arya berniat hendak menemui Arina tiba-tiba Arina keluar dari tempat itu dan berlari mengejar Bima, sambil neneriaki nama Bima ada rasa sesak dan sakit yang tiba-tiba hadir di dalam dirinya, kekecewaan yang dalam yang hanya mampu dia simpan dan pendam, lagi-lagi Arya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar dengan beberapa kali Arya harus menelan ludahnya dengan kasar.
"Mau apalagi dia berlari mengejar Bima, setakut itukah dirinya pada kebencian Bima, andai saja ketulusan cinta itu untukku, pasti aku akan menjaga dan merawat nya dengan baik, apakah wajahku begitu buruk sehingga tak bisa di bilang sebanding dengan Bima, hingga cintamu pada Bima tak bisa di hapuskan," keluh Arya dalam hati yang kemudian memilih duduk dan membiarkan istrinya berlari mengejar orang yang dia cintai sedangkan dirinya hanya menjadi seorang penonton saja.
Arya yang tidak terbiasa merokok akhirnya memilih menyalakan rokok dan menghisapnya, kegelisahan, kekecewaan hanya bisa dia simpan dan pendam tanpa di ketahui sang istri.
"Apa istimewanya Bima sehingga Arina sang istri begitu tergila-gila padanya demi mendapatkan sebuah cinta Arina rela menempuh jalan hina dan menggerikan."
Di sisi lain Seila menunggu Bima dengan perasaan resah dan khawatir sekaligus penasaran juga mengapa Bima sangat kama dan mengapa pula Bima tak mengginjinkan dirinya untuk ikut masuk.
Merasa sangat resah dan pemasaran membuat Seila membuka pintu mobil dan turun dia bermaksud hendak pergi menemui Bima suaminya akan tetapi ketika Seila hendak melangkah masuk terlihat lah oleh kedua bola mata indahnya Seila seorang gadis sedang berlari mengejar suaminya.
__ADS_1
Seila menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, jantung nya mulai tidak teratur dimana gejolak di dalam jiwanya menyemburkan percikan percikan api cemburu.
"Sedalam itukah cinta Arina pada Bima,"lirih Seila sambil tersenyum miring, sangat mustahil hati seorang laki-laki tidak tersentuh apalagi bergetar jika melihat dan menyaksikan sendiri pengorbanan dari orang yang sangat mencintai nya." lagi-lagi Seila menarik nafas panjang dan masuk kembali ke dalam mobil tak sanggup rasaanya jika dirinya harus menyaksikan perbincangan dari dua orang sejoli yang mana dimasa lalunya mereka adalah sepasang kekasih, Seila menelan ludahnya dengan kasar, membuang angan dan perasaan cemburu yang tiba-tiba datang.
"Bima... tunggu! teriak Arina disela sela langkah kakinya yang mengejar langkah kaki Bima, entah Bima benar benar tidak mendengar ataukah sesungguhnya pura-pura tidak mendengar sehingga dia tetap melangkah kan kakinya tanpa mau berhenti.
Arina yang melihat itu semakin mempercepat langkah kakinya dan tanpa sengaja kaki nya menginjak lantai lantai licin yang sepertinya baru saja di bersihkan dan di pel, Alhasil tubuh Arina limbung karena lantai nya yang licin dan ...
"Brugh....!" tubuh Arina jatuh tersungkur dengan mencium lantai yang sedikit basah, mendengar ada sebuah benda keras yang jatuh dari arah belakang nya dengan sigap Bima menoleh dan membalikkan badannya.
"Kenapa tidak hati-hati, apa ada yang sakit." tanya Bima cemas.
Mendengar perkataan Bima yang menghawatirkan dirinya Arina tersenyum senang.
"Tuh ..kan masih ngak tega juga padaku," Gumam Arina dalam hati yang hatinya kini lagi bersorak gembira, berbeda dengan wajah Seila yang mendengus kesal melihat suaminya yang sangat perhatian pada mantan sang kekasih.
__ADS_1
"Cih. ..dasar laki-laki play boy bilang nya cuma cinta sama aku tapi nyatanya apa! tuh mantan jatuh sdikit saja sudah di khawatir kan, begitu kok bilang benci dan gak suka mendengar nama Arina di sebut sebut, bilang saja di mulut bilang benci dan ngak suka tapi di dalam hati ya. ya...ya dasar cowok brengsek,pantas saja aku ngak boleh ikut turun, ngak boleh ikut masuk apalagi mendengarkan percakapan dirinya dengan sang mantan, weleh . .weleh..... rupanya Kak Bima lagi berpura-pura dan bersandiwara bilang tidak suka dan tidak sudih mendengar nama Arina tapi bukti faktanya dia masih perhatian juga jangan...jangan....kak Bima masih ada rasa suka dengan Arina." dengus Seila kesal dan memilih membuang muka dari pada melihat pemandangan yang menyakitkan di depan mata."
Sementara Bima yang melihat seorang laki-laki yang membawa peralatan pembersih lantai langsung berjalan mendekati laki-laki itu.
"Mas...!"Kalau kerja itu yang benar lihat nih ..!gara gara mas kerja tidak benar dan lantai masih basah temanku jatuh tuh." teriak Bima lantang memarahi seorang pelayan kebersihan, suaranya yang keras sempat membuat Seila yang memalingkan muka tiba-tiba menoleh dan sungguh dirinya tak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya, dia bisa dengan lantang memarahi seorang karyawan hanya demi orang yang di bilang sangat di bencinya.
Seila lagi-lagi menelan ludahnya dengan kasar dia harus kembali merasakan kekecewaan yang dalam akibat dari sikap Suaminya yang sangat bertolak belakang, di depan nya berkata sangat membenci Arina tapi faktanya justru Bima sangat perduli dan perhatian pada Arina, terbukti ketika pertama kali mengetahui jika orang yang mencelakakan dirinya adalah Arina Bima dengan sangat kekeh bersedia membebaskan Arina bahkan tanpa menunggu esok hari.
Rasa sakit yang tiba-tiba datang bertamu di dalam hatinya tak terasa membuat pipi halus Seila tiba-tiba basah oleh tetesan air mata, siapapun pasti akan sakit jika melihat semua ini di depan sang istri bilang benci tapi di belakang sang istri dia begitu peduli andai bisa ingin rasanya Seila langsung pergi dari tempat itu tak sanggup jika harus menyaksikan betapa perhatian nya sang suami pada wanita lain.
Tapi sayangnya Seila tidak bisa melakukan itu, kini dia bukan lagi anak anak yang harus selalu bersikap manja dan marah marah hanya karena cemburu, jika suaminya saja bisa berbohong dan berdusta bilangnya tidak suka dan benci tapi fakta nya perhatian dan sayang sekali, begitu juga sebaliknya dirinya juga bisa berpura-pura tidak masalah dan baik baik saja tapi di dalam hatinya Seila begitu sangat benci yang pastinya kali ini Bima tidak akan pernah menyadari jika diam diam istrinya sudah tidak respek lagi.
Seila mendengus kesal dan membuang muka muak melihat sikap romantis Bima yang di berikan pada Arina secara diam diam.
"Lanjutkan saja drama sok ketidak perduli anmu aku sudah tidak perduli itu lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, berani nya kau berdusta dan membohongi ku aku juga bisa melakukan itu."Desis Seila dalam hati yang mana hatinya benar benar lagi terbakar api cemburu.,
__ADS_1