
Dengan sangat malas Bima membuka pintu, tidak sampai 5 menit, Bima sudah ada di depan pintu dan siap membukakan pintu, sudah pasti yang datang mengetuk pintu adalah Bik Inah, tidak ada lagi orang di rumah ini selain, Bik Inah dan kang parjo, sedangkan Vira masih kecil mana mungkin berlari ke sini, berjalan saja, masih tahap belajar. Ketika pintu terbuka.
"Bik Inah.."ada apa? tumben malam malam datang ke kamar," tanya Bima pada pembantu paruh bayanya.
"Maaf, Den Bima, menggaggu!"ini Den hape Den Bima yang tertinggal di kamar bawah berbunyi."ucap Bik Inah sambil menyerahkan ponsel yang dia bawa. Dengan mengeryitkan dahinya Bima menerima hape ponselnya.
"Den...!"
"Iya, Bik, ada apa ...?"
"maaf, apakah Den Bima sudah ketahuan kalau berbohong pura-pura kakinya sakit?"tanya Bik Inah yang juga ikut penasaran.
Bima tertawa kecil mendengar pertanyaan Bik Inah yang suara nadanya sedikit berbisik.
"Iya, Bik, sudah ketahuan," ucap Bima sambil tersenyum simpul.
"Den Bima sih, ngak pandai berbohong," ucap Bik Inah, menyayangkan kegagalan akting Bima.
"Iya, Bik!"aku ngak pandai, berakting bohong,"keluh Bima merasa kurang pandai.
"Ya, sudah Den, saya permisi dulu, katanya, akan telpon lagi, itu orang yang lagi mencari Den Bima."
"Trimakasih,ya Bik !"
"Sama sama , Den,"ucap Bik Inah sambil berlalu pergi.
Bima kembali masuk ke dalam kamarnya, melihat sang istri sudah rapi, Bima mengeryitkan dahinya.
"Kenapa sudah ditutup, aku kan belum mulai?"protes Bima gemas Karena baju atas yang sudah dengan susah payah dia buka tertutup lagi.
"Ngak, jadi, waktu sudah habis."ucap Seila cuek.
"habis..? seperti makanan saja habis,"
"Kak Bima.."Bik Inah ngapain nyari kakak," tanya Seila mengalihkan pembicaraan.
"Ini ngasih hape, katanya ada yang telpon,"
__ADS_1
"siapa kak ?"
"Tidak tau, sayang..!" ngak ada nomor nya, katanya mau telpon lagi, kita tunggu saja, siapa sih orang misterius malam malam begini telpon ganggu orang, mau bersenang senang,"
"Mungkin dia ada perlu penting denganmu kak,"ucap Seila seraya mendudukan dirinya di tepi ranjang, Bima pun mengikuti duduk di samping istrinya, kegagalan yang baru saja dia alami ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk mencoba lagi, kali ini Bima langsung membuka penutup depan dengan berani, tapi dengan sigap tangan nakal Bima di tepis Seila.
"Mau ngapain?"ucap Seila sambil melotot biar Bima keder trus ngak jadi beraksi, tapi kali ini Bima ngak selemah waktu waktu sebelumnya, Bima berani karena Sekarang Bima sudah yakin dan mengetahui kalau Seila Istri nya juga cinta padanya, Keyakinan itu tidak lagi membuatnya takut apalagi khawatir kalau kalau sang istri marah.
"Mengulang, yang tadi gagal,"ucap Bima cuek, seraya tangannya trus aktif melepas satu demi satu kancing baju yang menghalangi.
Dengan wajah yang kembali merah merona bagaikan buah apel yang siap untuk di makan Seila berusaha menghalangi dengan tangannya menggengam tangan nakal Bima. Melihat sang istri menghalagi dengan santainya Bima berkata.
"Kalau suami minta dan istri menolak itu sang istri dapat dosa trus ngak bisa masuk surga",
Ucapan Bima benar benar obat yang manjur, resep dokter yang akurat dan berkhasiat hebat karena dengan sendirinya Seila tak lagi memberontak apalagi menghalagi, melihat Seila yang pasrah, membuat Bima semakin gemas, tidak mau lagi membuang buang waktu Bima segera melepas semua lapisan atas yang akan menghalangi aktivitas nya. Dengan lembut dan penuh cinta Bima memberikan kecupan di semua inci yang dia sukai dan sesekali memberikan gigitan kecil dan meninggalkan jejak kepemilikan nya, membuat Seila menggigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara *******.Bima yang terus memberikan ciuman sesekali melirik ke arah sang istri di lihatnya Seila menggigit bibir bawahnya dengan sesekali memejamkan mata.
"Pintar sekali dia, menahan semua seranganku agar tidak menimbulkan suara desah yang bisa memicu gairah ku Naik lebih tinggi, kita lihat sayang, sampai kapan kau mampu menahan bibimu agar tidak bersuara," Gumam Bima dalam hati, ketika Bima hendak memberikan serangan yang lebih besar lagi tiba-tiba telpon Bima berbunyi, dengan alunan nada dering, sebuah soundtrack lagu yang di populerkan khai Bahar dan baby shima, gurauan berkasih.
Alunan nada dering masih terus berbunyi dengan santainya tanpa mengerti sang pemilik hape lagi bekerja.
Nada dering lagu yang benar benar syahdu dari suara Khai bahar dan baby shima.
Dengan bibir bergetar karena menahan rasa yang tengah menjalar di seluruh tubuhnya, Seila menegur Bima.
"Kak Bima, hapenya bunyi tuh..!"Desis Seila di dekat telinga Bima yang masih asik menenggelamkan kepada nya di dekat kedua bukit yang sama. Dengan sedikit malas karena lagi lagi aksinya terganggu Bima meraih ponselnya.
"Siapa sih? telpon kok ngak ada nomor nya, nganggu orang saja,"Grutu Bima kesal.
"Halo....!" siapa ini?"
"Ya, halo, kak Bima, ini aku Bondet,"
"Aduh Ndet..!"ngapain telpon malam malam ganggu orang lagi bercinta saja," Sungut Bima kesal. Terdengar suara gelak tawa dari sebrang.
"Lagi bercinta ya kak, ha...ha ..ha..paling juga masih start belum mulai,"Seru Bondet tanpa merasa bersalah.
"tertawa saja terus Nanti kalau ketemu, awas saja, cepat ngomong kenapa telpon malam malam?"teriak Bima.
__ADS_1
"Ini kak, Iqbal baru saja di tabrak orang, sekarang dia ada di rumah sakit,'
"Apa..?Iqbal di tabrak orang, kecelakaan begituhkah maksdnya bukan di tabrak," tanya Bima.
"Bukan kecelakaan kak, benar benar di tabrak, sekarang lagi di usut sama pihak polisi,"
"Kok bisa bgitu, apa kamu tau orang yang menabraknya?"
"Ngak tau kak,Iqbal ngak terlalu parah tapi harus rawat inap di rumah sakit,"
"Di Rumah sakit mana?",tanya Bima.
"Di Rumah SAKIT SEHAT SENTOSA kak jalan Mawardi Nomor tujuh."
"Ya, sudah tunggu aku akan datang,"
"Lho malam bercinta nya kak Bima bagaimana?"tanya Bondet, penasaran.
"Pending Minggu depan," ucap Bima sambil terkekeh.
"Tapi, kak, besok saja ke sini gak papa bercintanya lanjut tin kasian Ade kakak pasti setelah bangun di suruh bobo lagi,"
"Sudah tenang adikku dari dulu ngak rewel kok, kalau ada mau ngak ada gak papa, sudah tunggu aku disana ya?"
"Baik, kak,"Bondet segera mematikan ponselnya, begitu juga dengan Bima dia juga mematikan ponsel hapenya.
"Siapa yang telpon kak?"tanya Seila ingin tau.
"Iqbal, masuk Rumah sakit, aku mau kesana,"
"Aku, ikut..?" rengek Seila.
"Jangan, sayang, kamu di rumah saja bobo,"Cegah Bima, seraya mengecup lembut kening istrinya, Bima begitu sangat mencintai Seila, cinta Bima pada Seila yang terlalu dalam meskipun, pada awalnya tidak pernah mendapatkan balasan, kini, kesabaran nya membuahkan hasil yang membahagiakan, cintanya bersambut hidupnya terasa sangat indah dan bahagia, gadis yang selama ini hanya mampu Hadir dalam setiap angan dan mimpi mimpinya kini bisa direngkuh dalam nyata.
Bima bangkit dari Ranjang dan Menganti baju tidur dengan baju biasa, karena suasana sudah malam Bima tak lupa membawa jaket.
Setelah berias sedikit Bima mendekati istrinya.
__ADS_1
"Aku, pergi dulu, kamu cepet bobo ya, besok saja kamu pergi ke Rumah sakitnya," Ucap Bima. Tidak mau membantah apa yang suaminya katakan Seila mengagguk.