
Suasana pesta sangat meriah dengan berbagai macam menu sajian makanan dan minuman
Acara pembukaan Hotel dari seorang sahabat yang sukses bergelut di bidang perhotelan kini sukses membuat dirinyanya memiliki Hotel pribadi dengan hidangan menu yang luar bisa menggugah selera.
Suasana sangat ramai undangan yang tersebar banyak mendatangkan para kolongmerat dari berbagai daerah, bahkan ada juga yang dari luar manca Negara seperti teman teman lama yang sukses berkiprah di dunia bisnis.
Ningsih dan Hendrato datang lebih awal karena Hendrato adalah teman dekat Roby yang mana kehadiran nya bukan sekedar tamu undangan melainkan juga sebagai salah satu anggota keluarga yang mana hubungan antara Roby dan Hendrato sudah bagaikan saudara sedarah.
Ningsih yang sebagai calon istri Hendrato dengan senang hati ikut membantu mempersiapkan segala keperluan untuk penyambutan kepada rekan rekan kerja maupun sekedar tamu kehormatan hingga semua persiapan sudah tertata rapi dan sempurna.
Roby menyewa salah satu artis ternama untuk menghibur para undangan yang datang, selain mengundang Artis untuk memberikan hiburan Roby juga mengadakan pesta dansa di mana semua yang hadir harus berdansa dengan pasangan nya masing-masing ada hadiah yang sudah di persiapkan bagi pasangan yang terpilih cukup fantastis hadiah yang di berikan sebuah tiket gratis ke kota paris dengan di boking kan hotel ternama di kota itu, hal itu membuat para undangan yang memiliki pasangan berlomba lomba untuk bisa mendapatkan hadiah yang sangat lumayan bisa berlibur dengan gratis.
Acara demi acara telah terlewati sajian musik bernuansa romantis maupun koplo juga sudah di sajikan tibalah kini Acara dansa berpasangan
yang mana semua wajib menggikuti untuk memeriahkan acara.
Hendrato menggulurkan tangannya pada Ningsih.
"Ayo, kita ikut memeriahkan acara ini."
"Tidak mas, aku tidak bisa dansa."
"Tidak apa apa nanti aku yang akan ajari."
"Tidak mau, aku malu ."
"Ningsih..!"ikut saja Hendrato itu ahli dalam dansa yang kaku dan tidak bisapun pasti akan langsung bisa jika di sandingkan dengan Hendrato."ucap Roby menjelaskan.
Hendrato kembali menggulurkan tangannya.
"Ayo...!'
Meskipun tidak suka dan terpaksa Ningsih akhirnya menerima juga uluran tangan Hendrato.
Apa yang di katakan Roby sangat benar Hendrato sangat menguasai dan pintar dalam berdansa terbukti berkali kali gerakan nya mampu membuat klise juri penilai membidik kamera selalu tertuju padanya sampai ketika.
__ADS_1
lampu dansa di buat remang remang yang kemudian di matikan mendadak dalam sepuluh menit, suasana menjadi heboh bak pasar sayur di mana banyak para pasangan yang terpisah dari pasangan nya karena tiada cahaya lampu sehingga ada yang saling tubruk ada yang tertukar dan berganti pasangan ada pula yang terpaksa tertawa terpingkal pingkal karena berdansa salah sasaran yang seharusnya sepasang muda mudi, laki-laki dan perempuan menjadi laki-laki dan laki-laki yang akhirnya mereka harus saling melepaskan dan mencari pasangan nya di dalam gelap sambil tertawa-tawa, sungguh suasana menjadi kacau Acara yang benar-benar heboh.
Hendrato yang ketika itu memutar tubuh Ningsih dalam berdansa pun akhirnya lepas saat putaran di lakukan dan tiba-tiba lampu di matikan membuat nya sulit memegang tangan dan pingang Ningsih yang berputar, Hendrato mengumpat dalam hati, andai tau lampu akan di matikan sudah pasti Hendrato tidak akan berdansa dengan memutar tubuh Ningsih pastilah dia akan memegang kuat kuat pinggang Ningsih agar tidak lepas dari genggaman nya, di dalam gelap Hendrato mencari keberadaan Ningsih dengan mengunakan instingnya tapi sampai menit ke lima Hendrato belum menemukan nya bahkan Hendrato salah sasaran dengan berdansa sesama pria yang membuat nya kesal.
"Sial..!" Ningsih di mana dan Kenapa lampu belum di nyalakan juga." umpat Hendrato kesal
Sementara Ningsih yang tubuhnya di putar Hendrato dan pada detik itu juga lampu di matikan membuat Ningsih hampir jatuh terjungkal ke lantai andai saja tak ada satu tangan yang menariknya dan memegang pinggang nya sudah pasti Ningsih terjatuh dan bisa jadi terinjak peserta dansa lain.
"Maaf mas, gelap aku hampir jatuh, trimakasih sudah menahanku tidak jatuh, Roby benar kamu memang ahli dalam dansa." ucap Ningsih memuji yang masih berfikir dia berdansa dengan Hendrato.
"Tidak, apa apa!" lain kali gunakan keseimbangan dan insting agar tidak terjatuh." timpal laki-laki yang memegang pinggang nya.
Perkataan dari orang yang berdansa dengan nya, sempat membuat Ningsih mendelik seketika pasalnya NIngsih hafal pemilik suara itu.
"Apa aku tidak salah orang yang berdansa dengan ku ini bukan Mas Hendrato, tapi Pak Bima? ah ... tidak.. tidak! ini tidak mungkin otakku benar benar sudah konslet yang ada dan yang ku pikirkan cuma Pak Bima dan Pak Bima aku benar-benar di buat gila dengan sikap nya yang sok perhatian padaku " Dengus Ningsih kesal."
"Kenapa diam, sini taruh tanganmu di leherku biar tidak lepas."seru laki-laki yang berdansa dengan nya membuat Ningsih mendelik seketika.
"Enak saja menyuruhku melingkar kan tanganku di lehernya, aku yakin ini bukan mas Hendrato dan aku juga yakin ini bukan Pak Bima, hanya halu ku saja yang berfikir ini pak Bima."Gumam Ningsih dalam hati yang tetap tidak mau menaruh tangannya di leher orang yang ada di depannya.
"Ningsih..!" dansa itu yang lemes jangan kaku begini."lirih laki-laki di depannya.
Ucapan laki-laki di depannya yang dalam gelap bisa mengenalinya dengan jelas bahkan tidak salah dalam menyebut nama membuat Ningsih penasaran siapa laki-laki di depannya ini, Ningsih berharap agar lampu cepat menyala agar dia tau dengan siapa dia berdansa.
"Kamu, siapa? kenapa kau tau namaku."tanya Ningsih polos.
"Kau, tidak mengenaliku..?" baiklah.
Laki-laki itu menekan tubuh Ningsih lebih dekat kepada nya membuat Ningsih membulatkan kedua bola matanya dan memukul laki-laki di depannya tapi justru laki-laki itu bisa dengan mudah menangkap tangan NIngsih dan menaruhnya di leher nya.
"Kau, tidak merindukan ku?"
"Kau, siapa..?"ucap Ningsih lirih, tidak tau mengapa di tekan lebih dekat dan menempel pada dada bidang orang yang ada di depannya itu membuat irama jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya ada debar debar aneh yang tiba-tiba terasa.
"Tidak, perlu berpura-pura tidak tau.'
__ADS_1
"Aku memang tidak tau,"
"Baiklah mungkin jawaban ini yang bisa membuat mu tau."
Tanpa menunggu lama laki-laki itu langsung menyambar bibir mungil gadis yang ada di depannya mula mula Ningsih memberontak kecil tapi lama kelamaan Ningsih pun mulai membalas, sengaja laki-laki di depannya tidak melum..at lama bibirnya hanya dua detik apa yang dia lakukan hanya ingin memberi tau siapa dirinya.
"Apakah, benar ini pak Bima?"
"Iya..!"
"Bagaimana bisa menggenaliku sedangkan lampu di padamkan."
"Itu, mudah, karena aku sangat tau dan hafal parfum kekasih ku."
Entah mengapa rasaanya hati Ningsih berbunga bunga mendengar pengakuan dari orang yang diam diam di sukai menggatakan kalau dirinya adalah kekasih nya tanpa sadar Ningsih menenggelamkan kepalanya pada dada Bidang Bima.
Bima meraih tengkuk kepala Ningsih yang membuat nya tengadah padanya dan untuk kedua kalinya Bibir Bima menyesap bibir ranum gadis di depannya sebelum kemudian kembali menenggelamkan wajah gadis itu di dalam dekapan dada Bidangnya.
"Apa yang kita lakukan salah Pak?" tidak seharusnya kita begini, kita sudah melakukan sesuatu yang tidak pantas."
"Kenapa tidak pantss."
"Karena kita bukan muhrim."
Terdengar suara tawa lirih orang yang ada di depannya.
"Memangnya kita mau menikah dua kali?"Ledek Bima lirih.
"kenapa Bapak bicara begitu memangnya kita kapan menikahnya?"
"Sudah jangan dipikirkan cukup kamu tau jangankan hanya untuk mencium mu melakukan lebih dari itu kita juga boleh, jangan khawatir kita tidak akan melakukan dosa, Pada waktunya nanti kau pasti akan mengerti sekarang nikmati saja apa yang ada.'
"Aku tidak mengerti maksud bapak,"
"Tentu saja kamu tidak akan mengerti karena ingatan kamu belum kembali, jika kamu sudah bisa menggingat kembali maka segala nya akan muda kau pahami.
__ADS_1