Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.168.PUCAT


__ADS_3

Jika Bima resah menunggu Seila sadar dengan menggenggam erat tangan Seila, maka lain halnya dengan Hendrato yang menunggu Seila sadar dengan mondar mandir bagaikan setrika berjalan dengan satu jari digigit, mirip anak kecil yang habis kehilangan permen lollipop nya.


Wajah kedua laki-laki itu sama sama resah dan kusut, tak lama kemudian Seila mulai mengeliat


"Kenapa kepala ku berat,"


"Kamu, sakit sayang!


Seila mulai membuka matanya dia menatap tak percaya jika Bima sudah berada di sampingnya.


"Kak Bima!" kenapa kau ada di sini'


"Aku yang memanggil nya," ucap Hendrato langsung masuk ketiika melihat Seila mulai sadar.


"Suami mu berhak tau keadaan mu, lagian kamu ngapain juga pakai hujan hujanan segala, bikin orang repot saja."desis Hendrato pura-pura kesal.


"Oh..!"jadi menolong ku ceritanya ngak ihklas begitu, " tanya Seila sambil bangkit berdiri dan mendekati Hendrato seraya tangan nya berusaha meraih telinga Hendrato, akan tetapi karena tubuhnya yang baru sembuh dan karena sifat keras kepala nya Seila yang selalu bersikap suka suka hati, membuat dirinya sendiri dalam masalah tubuhnya limbung sebelum tangan nya mampu menggapai beruntung Bima sigap dengan keadaan dengan cepat Bima menangkap tubuh Seila.


"Masih, belum sembuh benar jangan macam macam deh, ayo istirahat kembali."tegur Bima lembut.


"Aku, ngak papa kak, aku cuma pusing saja, oh ya kemana cewek baru kamu kenapa tidak kau ajak sekalian."


"Cewek baru!"cewek baru apaan."


"Iiissh....pura pura lagi, itu yang kamu ajak main di hotel, asik ya berduaan di hotel."sindir Seila.


"Hussst....ngomong apaan sih, yang aku temui itu anak didik aku dia juga murid dalam lingkup kegiatan karate ku jadi bukan cewek."


"Oh, anak didik, asik ya .. ketemuannya di Hotel pakai lama berduaan di dalam kamar."


"Ya, kan anaknya nunggunya di dalam kamar sayang sudah jangan di bahas itu lagi, ayo pulang, jangan lama-lama di rumah mantan pacar entar mantan pacar ngak bisa move on." cetus. Bima membuat Hendrato mendelik seketika, tatapan mata mereka berdua pun bertemu, Bima menatapnya dengan penuh senyuman sedangkan Hendrato menatap dengan penuh kekesalan.


"Sudah di bantuin, sudah di kasih tau bukannya berterima kasih justru bikin kesel orang saja, tau begini aku biarin lho kelabakan nyari istri lho pasti seru kalau ngak ketemu huuuuffp, " Hendrato mengepalkan tangannya di belakang punggung.


Sementara Bima terkekeh melihat reaksi Hendrato yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.


"Orang masih berat saja kok, sok berlapang dada, tapi baguslah setidaknya dia sekarang sadar Seila itu istri orang."


Bima memutuskan membawa Seila pulang setelah menunggu beberapa jam di rumah Hendrato untuk membiarkan Seila agar lebih pulih keadaan nya, setelah semua di rasa sudah lebih baik Bima langsung berkemas membawa Seila pergi dari rumah itu.


Bima membawa Seila masuk ke dalam mobilnya dengan cara mengendong tubuh Seila meskipun Seila menolak dan bersikeras bisa berjalan sendiri, Bima tak perduli, sementara Hendrato menatap dengan tatapan jenggah, sejujurnya apa yang di katakan Bima adalah benar dirinya belum mampu sepenuh hati bisa ihklas dan berlapang dada di dasar hatinya yang paling dalam masih ada percikan api cinta yang setiap saat bisa meledak kapan saja dan Bima yang menunjukkan sikap kuda kuda seolah olah tak memberikan peluang masuk bagi siapapun untuk bisa mendekati dan meracuni hati istrinya lagi membuat Hendrato Tersenyum kecut, Bima sengaja bersikap siaga karena dirinya tak mau lagi kehilangan dan jauh dari Istrinya, cukup sudah permainan takdir yang memisahkan mereka berdua hingga tak ada luang bagi Bima untuk bisa bersama dengan istrinya.

__ADS_1


Tekad Bima sudah bulat menghakhri semua permainan yang selama ini mereka mainkan, berpura-pura menjadi dua orang yang hanya saling mengenal dengan berbagai macam batasan, cukup sudah kesabaran teruji kini Bima bertekad mengembalikan semua keadaan seperti awal mula dan langkah pertama Bima membawa Seila pulang ke rumah nya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam mobil Seila tak banyak bicara dan Bima memahami jika sesungguhnya Seila masih marah dan kesal karena dia menemui seseorang di dalam hotel, bagi Bima menjelaskan dengan kata-kata adalah suatu hal yang hanya membuang buang waktu saja yang mana sudah pasti Seila tak kan bisa menerima nya, untuk itu jalan yang terbaik hanya dengan cara mengalah dan membiarkan marah dan kesal Seila mereda dengan sendirinya.


dua jam sudah lamanya perjalanan yang akhirnya mobil itu sampai di depan halaman rumah yang cukup luas dengan di kanan kiri terdapat berbagai macam bunga bunga yang sedang bermekaran.


Seila sedikit terkejut dan terperanjat tak percaya dengan apa yang di lihat nya keadaan hati yang masih kesal membuat Seila sepanjang perjalanan memilih memejamkan mata dan kini ketika mobil sudah berhenti dan Seila membuka mata sungguh di buat tercengang dengan semua nya.


"Kak Bima!" kenapa kau membawa ku ke mari, rumah ibu kan tidak di sini?'tanya Seila binggun.


"Memang nya kalau ku bawa ke mari istriku kenapa?" bukankah ini rumah kita."


"Tapi, kak Ibu belum tau kalau kak Bima itu suamiku dan aku bagaimana menghadapi semuanya disini, wajahku berbeda dan aku harus bagaimana sedangkan kamu juga pernah bilang wanita yang wajahnya mirip aku belum pergi dari rumah ini."


"Kamu, tenang saja semua sudah ku pikir kan, ayo masuk,"


"Tapi kak...?'


"Apa mau aku gendong lagi untuk masuk ke dalam rumah?'


"Tidak.. tidak...!'aku bisa berjalan sendiri.


"Good gril..!" kalau begitu ayo,"


"Ini rumah mu, jangan berlagak seperti orang asing, memang nya kamu ngak rindu rumah ini dan juga apa kamu ngak rindu dengan anakmu."


"Vira..!" desis Seila aku rindu sekali dengan mu Nak, tapi....wajahku.


"Apalagi?" sudah biar aku yang bawa kamu masuk."


Dengan cepat Bima mengendong kembali tubuh Seila dan membawanya masuk ke dalam rumah, Seila memberontak kecil sungguh dia akan merasa sangat malu jika sampai bertemu dengan pembantu dan wanita yang masih menggaku menjadi istri Bima.


"Kak turunkan, aku bisa berjalan sendiri, please...aku malu jika begini."ucap Seila memohon agar Bima mau menurunkan nya.


"Baiklah."


Dengan perlahan-lahan Bima menurunkan Bobot Seila dan menggenggam erat tangan itu.


"Ayo, kita masuk."


cara yang jitu dengan di gengam mau tidak mau langkah kaki Seila menggikuti Bima dalam hati Bima Tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Tenanglah sayang jangan gugup semua akan baik-baik saja apa yang menjadi hak mu dan milik mu akan kembali kepada mu."Gumam Bima dalam hati ketika melihat pancaran wajah kebinggungan dari Istrinya, Bima bukannya tidak paham Bima paham dan sangat memahami jika Seila binggun harus bersikap bagaimana nanti.


Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan sebelum membuka pintu ketika merasakan aliran darah dari tangan yang di gengam nya berasa dingin, ya mungkin efek dari rasa kebingungan dan was was dari Seila.


Perlahan lahan pintu mulai terbuka, sedangkan Seila dalam hati komat Kamit seperti membaca mantra.


"Smoga di rumah dalam keadaan sepi dan smoga wanita itu tak ada di rumah, aku akan sangat malu seandainya wanita itu ada dan menuduh ku pelakor di depan Bik Inah aku tidak akan sanggup itu." Gumam Seila dalam hati


"Ayo, masuk!"


Ketika langkah kaki Bima mulai memasuki ruangan terdengar juga suara sepatu yang juga berjalan ke ruang tamu dari arah dalam.


"Mas Bima....!" kamu sudah pulang," seru seorang wanita cantik yang hendak menghambur dalam pelukan Bima namun tiba-tiba tertegun ketika tangan sang suami memegang tangan wanita lain.


Tatapan mata wanita itu beradu pandang dengan tatapan mata Seila yang sangat terlihat gugup dalam kecemasan nya hatinya begitu sakit ketika melihat wajah gadis di depannya sangat mirip dirinya.


"Bik.....! sini cepat lihat apa yang di lakukan anak asuh mu kepada ku, dia pulang membawa wanita lain," seru wanita itu keras membuat sang Wanita paruh baya krluar dari dapur dan cepat cepat menuju ke ruang tamu.


"Non, Seila! ada apa teriak teriak."tanya Bik Inah bingung.


"lihat..?"mas Bima membawa pelakor ke rumah ini,"ucap Seila palsu lantang dia sengaja memperkeras suaranya dan sengaja mempermalukan Bima dan gadis yang di bawah nya dan benar wajah gadis yang di bawah Bima langsung berubah pucat dan hendak berlari keluar rumah akan tetapi tak Bisa karena Bima menggengam erat tangan Seila.


"lepaskan tanganku, aku mau pergi, irih Seila memohon tapi Bima tidak bergeming wajah nya cukup tenang dan terkesan siap maju dalam perang.


Bik Inah menatap wajah Bima dengan tatapan mata tak percaya, Bima membalas tatapan Bik inah dengan senyum tersungging di bibirnya dengan sangat tenang, tangan yang tadinya mengengam erat tangan Seila kini berganti melingkar kan tangan nya pada pinggang Seila membuat Seila terkesiap.


"Aku, datang membawa calon istri ku, bukan bukan dia bukan lagi calon istri ku tapi istriku kami baru saja menikah dan kuharap Bik inah juga bisa menghormati nya dan ya nama kalian sama istriku ini juga bernama Seila."


Bima melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Seila dan berjalan mendekati Seila yang tadi berteriak teriak pelakor, dengan senyum penuh kemenangan Bima berkata.


"Ku harap kamu juga bersikap baik pada istri muda ku sayang,"ucap Bima seraya memeluk wanita di depannya sambil berbisik.


"Kamu nikmati harimu di sini sedikit lagi, karena secepatnya aku akan menendangmu dari rumah ini Seila palsu."


Ucapan Bima yang tak pernah di sangka sangka berani membuat Seila memelan ludahnya dengan kasar dan dengan cepat wanita itu berlari ke dalam kamar nya, sedangkan Bima Tersenyum puas karena telah menang.


"Bik..!" kami permisi dulu dan tolong bawakan makanan ke kamar.


"Baik, Den!"


Sambil menunduk Bik Inah melangkah pergi,

__ADS_1


hatinya sedikit bingung dan tak percaya.


"Den Bima menikah lagi, ,memilih calon istri dengan nama yang sama, ini aneh tapi sudah lah tapi kasian juga ya Non Seila kini Di Madu.


__ADS_2