
Tidak lama kemudian, laki laki itu sudah datang
kembali menemui Bondet.
"Mari, semuanya sudah kami siapkan,"Ucap laki laki itu menjelaskan lalu melangkah keluar.
Bondet menggikuti langkah kaki laki laki itu.
"Bagaimana? apakah semua sudah sesuai dengan yang anda butuhkan,"
"Sudah sempurna, trimakasih pak,"
"Aku akan ikut dengan mu, kita akan berangkat dengan empat orang penyelam jadi kita berenam yang akan melakukan perjalanan ini,"
"Baik, trimakasih pak, tanpa bantuan bapak pasti saya tidak akan bisa pergi,"
laki laki itu tersenyum, seraya melangkah menuju kapal di mana ke empat penyelam sudah berjajar menunggu perintah.
Tanpa mengulur ulur waktu lagi, Bondet beserta beberapa penyelam mulai menaiki kapal yang hendak berangkat malam itu juga, Iqbal yang melihat Bondet menaiki kapal segera berlari menghampiri.
"Ndet, tunggu !"
Bondet yang mendengar teriakkan Iqbal segera menoleh, kakinya yang hendak melangkah masuk ke dalam kapal dia urungkan sejenak, Bondet menunggu Iqbal yang berlari kearahnya.
"Kau, mau kemana, malam malam begini ? Ucap Iqbal dengan nafas ngos ngosan karena habis berlari.
"Aku, mau mencari Kak Bima,"
"Aku, ikut ,"
"Tidak, usah, kamu disini saja jaga Non Seila, aku khawatir dia Nekad berbuat yang aneh aneh,"
"Tapi, Ndet, aku tidak akan tenang membiarkan mu, mencari kak Bima sendiri,"
"Sudahlah, jangan khawatirkan aku, berdoa saja, kita bisa menemukan kak Bima secepat mungkin."
"Tapi, Ndet...!"
"Sudahlah, kali ini ,ikuti kata kataku, jika esok aku tidak kembali, kau boleh menyusul dan mencari ku, , bagaimana?"
"Baiklah, hati hati ya Ndet, jaga dirimu baik baik, smoga kau berhasil,"Ucap Iqbal seraya memeluk Bondet.
Bondet yang sudah lama menggenal Iqbal seumur umur, belum pernah di peluk, tiba tiba kini mendapatkan pelukan dari Iqbal membuat nya terharu juga.
"Bal, Kenapa kau peluk aku begini?apa kau berfikir aku akan mati,"
"Hussst, ya bukan begitu Ndet, cuma khawatir tidak bisa bertemu dengan mu lagi,"
"Owalah, Bal..., Bal, itu mah, sama saja cuma beda bahasa, sudahlah, berdoa saja agar aku bisa cepat menemukan kak Bima,"
"Baiklah, Ndet, hati hati ya,"
__ADS_1
setelah melepaskan pelukannya iqbal, Bondet segera masuk kedalam kapal, dengan melambaikan tangannya Bondet berteriak.
"Jaga, Non Seila,"
Iqbal mengagguk, setelah kapal jauh dari Padangan mata, Iqbal segera kembali ke post tenda dimana dia tadi meninggalkan Seila.
"Kamu, dari mana dan mana Bondet katanya mau menemui Bondet?"
"Bondet, sudah pergi Non !
"Pergi, kemana?"
"Mencari Kak Bima,"
"Malam malam begini, mau mencari bagaimana?"
"Entahlah, Non, kita berdoa sajalah," Ucap Iqbal lesu.
****
Kapal melaju dengan kecepatan yang tinggi, sehingga hanya dalam hitungan menit, mereka sudah sampai pada tempat yang di tujukan Bondet.
"Kita sudah sampai sekarang kita harus bagaimana?"
"Aku akan menyelam kedalam laut, siapa diantara kalian yang mau menemaniku, aku hanya butuh satu orang saja,"
"Aku, akan ikut dengan mu,"
"Jika dalam lima belas menit kita tidak ada yang naik ke permukaan maka kalian boleh ada yang turun mencari kita, apa kalian mengerti?"
"Siap, kami mengerti pak,"
"Baiklah, mari anak muda kita turun,"
"Yakin, bapak mau turun menemani saya, bapak sudah sedikit berumur saya takut di dalam sana banyak kesulitan,"
"Jangan khawatir anak muda aku bisa,"
"Baiklah pak, mari !"
Dalam hitungan ke tiga Bondet dan Bapak penyelam sedikit paruh baya meskipun belum terlalu tua, namun terlihat paling senior diantara penyelam lainnya, mulai meyelam ke dasar laut, dengan beberapa peralatan canggih yang dimiliki para penyelam suasana malam yang ada di dasar laut tidak lagi gelap karena Bondet dan Bapak laki laki paruh baya itu membawa Diving untuk menyelam.
Sehingga menjadi terang dan mudah melihat
untuk beberapa saat Bondet berputar putar di sekitaran tempat itu namun hasilnya Nihil, tidak ada tanda tanda keberadaan Bima maupun anak remaja yang tercebur itu.
Dengan hati kecewa Bondet naik kepermukaan
dan naik ke kapal nya kembali.
"Bagaimana ?Tanya salah seorang penyelam yang ada di dalam kapal."
__ADS_1
Bondet menggeleng dengan malas
"Gagal, lagi,"Ucap Bondet lesu.
"Lalu, mana Bapak yang bersamamu tadi? kenapa dia belum naik ke permukaan,"
Pertanyaan dari penyelam satunya membuat Bondet tersadar dia telah meninggalkan Bapak temannya, karena kesal dan kecewa dia tidak menemukan apa apa.
"Oh, ya, aku lupa, aku telah meninggalkan nya, Sebentar aku lihat ke dasar laut dulu,"
Bergegas Bondet hendak melompat kembali ke laut, namun Bapak penyelam itu sudah ada di dekat kapal dengan cepat Bondet segera menghampiri dan membantu Bapak itu naik ke dalam Kapal.
"Maaf,pak, tadi aku lupa dan telah meninggalkan mu?"Ucap Bondet menyesal.
"Sudah, tidak apa apa, tidak perlu minta maaf, aku menemukan sobekan baju ini, disana,"
Dengan cepat Bondet meraih sobekan baju berwarna biru tua.
"Ini, bukan baju Kak Bima, mungkin ini baju anak yang tercebur itu,"
"Itu, artinya mereka memang sampai di sini, lalu kenapa kita tidak menemukan nya,"
" itulah yang membuat semua nya terasa aneh,"Ucap penyelam lainnya.
"Sekarang, bagaimana?" Tanya Bapak tua itu kepada Bondet,"
"Karena ini sudah sangat larut, mari kita ke daratan ditepi itu, besok kita melakukan pencarian lagi,"Ucap Bondet akhirnya.
"Baiklah, ayo semua nya naik ke kapal kita menepi,"Perintah Bapak paruh baya kepada rekan rekannya.
****
Sementara di sebuah rumah kecil tampak seorang laki-laki tua sedang duduk santai bersama dengan putrinya.
"Ayah, kapan dia akan sadar, kenapa pingsannya sangat lama sekali, apa kita bawa saja kerumah sakit,"
"Jika, sampai besok pagi dia belum sadar, kita akan bawa ke rumah sakit,"
"Lalu, anak itu bagaimana?"
"Tunggu, dia masih menggingat keluarga nya apa tidak, jika tidak, terpaksa kita bawa ke kantor polisi biar, keluarganya bisa menemukan nya,"
"Coba, kau lihat dan tanya dia,"
"Baik, Ayah,"
Bergegas gadis itu masuk kedalam kamar namun tidak berapa lama dia sudah keluar lagi
"Ayah, anak itu tidak menggingat apapun,"
"Itu artinya dia kehilangan ingatannya, besok kita bawa ke kantor polisi,"
__ADS_1
"Anak itu betul betul kuat,Gumam Bapak nelayan dalam hati.