
Rasa haru dan malu menyelimuti hati Arina, dimana dirinnya masih dianggap sebagai istri meskipun perbuatan dan tingkah lakunya sangat buruk.
Perlahan lahan Arya mendekati Arina, mengusap lembut air bening yang keluar dari kelopak mata indah istrinya.
"Untuk apa kau menangis, ayo kita masuk." Ajak Arya pada Arina.
Dengan hati tidak enak dan tidak nyaman Arina menggikuti Arya yang membawanya masuk ke dalam Rumah, pandangan matanya menatap nanar semua yang ada di Rumah itu, semua masih sama seperti tiga tahun yang lalu ketika dia meninggalkan Rumah itu dengan membawa kabur semua harta suaminya keluar Negeri, semua dia lakukan hanya untuk melakukan operasi wajah yang mana agar wajahnya bisa berubah seperti wajah Seila istri dari mantan kekasih yang sangat dia cintai.
Dimana setelah melakukan rencana kecelakaan yang menyebabkan Seila istri Bima masuk ke dalam jurang bersama dengan mobilnya dan akhirnya membuat istri Bima hilang dan tidak di temukan sehingga para polisi yang mencari menggatakan jika Seila istri Bima telah tiada.
Arina menelan ludahnya dengan kasar, semua bayangan kejahatan yang telah dilakukan muncul.
Melihat sang istri justru menatap takjub pada ruangan Rumah yang telah di buatnya Arya pun menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?"tanya Arya ingin tau.
"Tidak ada," Jawab Arina singkat.
Arya Tersenyum kemudian mengajak Arina masuk ke dalam kamar pribadi nya, ketika membuka kamar dan ternyata di dalam masih ada seorang pembantu yang tadinya menbantu membawakan tas ransel berisi baju-baju istrinya kemudian menatanya di dalam Almari, Arya langsung menghampiri.
"Sudah, Bik! biar aku yang selesai kan, Bibik Kembali beristirahat saja." titah Arya pada pembantunya yang langsung mendapatkan anggukan.
"Baik, den!"ucap sang pembantu yang kemudian berlalu pergi dari dalam kamar itu.
__ADS_1
Arya mulai menggantikan posisi pembantunya dengan memasukkan barang barang istrinya ke dalam Almari. Selesai merapikan kembali Arya mengeryitkan dahinya melihat istrinya duduk termenung.
"Hei, ada apa lagi mengapa kau begitu tak bersemangat."
"Tidak ada, aku hanya capek ingin cepat tidur, tapi aku mau mandi dulu."
Arina berjalan menuju kamar mandi, Arya menatap punggung sang istti dengan senyum mengembang di bibir.
"Kita akan mulai membuka lembaran baru bersama, aku akan selalu ada untuk mu tak kan kubiarkan Bima selalu berkuasa dan bertahta di hatimu bukankah aku juga Cukup tampan bahkan seluruh pegawaiku kantor mereka berlomba lomba mencari perhatian dariku, padahal mereka juga tulus tidak mengincar harta yang kumiliki sedangkan kamu, sudah harimu milik orang lain, merampas dan menguras hartaku secara terang-terangan, tapi aku masih tidak peduli bagiku hartaku tidak lebih berharga dengan bisa hidup bersama mu, awal pertemuan kita sungguh sangat lucu aku lelah dengan peraturan sang Nenek yang selalu memintaku untuk segera menikah dan menikah sedangkan aku tidak memiliki rasa apapun pada para wanita yang ada di sekitar ku hingga aku putuskan untuk pergi ke club malam, aku mau melepaskan segala kepenatan dan beban pikiran yang sedang mengagguku dan disitulah kita bertemu, tanpa sengaja aku melihat kamu dengan sangat bersemangat menghabiskan botol demi botol minuman, sampai akhirnya aku melihat seorang laki-laki menghampiri mu mengajakmu minum, mungkin karena kamu sudah mabuk kau pun menerima hingga aku melihat laki-laki itu memasukkan obat ke dalam minuman mu yang mana tiba-tiba kamu tertidur dan dengan santainya laki-laki itu mengendong mu masuk ke dalam kamar.
Entah apa yang masih ada di dalam pikiran ku saat itu, aku menggikuti laki-laki itu di mana pintu kamar sudah mulai terkunci aku mendobrak dengan keras dan terlihat lah pemandangan yang membuat ku marah, dia sedang menggagahi mu tanpa basa-basi aku melawan dan menghajar nya kemudian membungkus tubuh polos mu dengan selimut, tentu saja aku laki-laki normal Melihat keindahan tubuh mu darahku meremang, tapi aku masih waras aku tidak melakukan apapun padamu, aku meminta pembantu ku untuk membantu memberikan baju padamu, sejak itulah aku sudah jatuh cinta padamu, tapi benar-benar aku laki-laki yang malang meskipun malam pertama mu bersamaku meskipun aku Suami mu, tapi hatimu milik orang lain dan di belakang ku kamu merencanakan semuanya dengan rapi termasuk menyingkirkan dan menguras hartaku,dan bodohnya aku meskipun begitu aku tetap setia kepada mu." cinta benar-benar buta dan aku tidak menyalakan jika kamu begitu berjuang untuk meraih cinta dari kekasih mu."
Duapuluh lima menit sudah Arina melakukan ritual mandi dan kini pintu kamar mandi perlahan-lahan mulai terbuka dan munculah wajah cantik Arina dengan menundukkan kepala.
"Jangan menatapku seperti polisi, aku mau mengambil bajuku,"tegur Arina seraya melangkah menuju Almari baju.
"Apa perlu aku bantu," tawarku kemudian, entahlah serasa orang baru pacaran saja sikapku begitu lebay dan selalu ingin bisa dekat dengan nya Arina sudah cantik tapi operasi plastik yang dilakukan nya memang tambah membuat nya Cantik, diam-diam aku selalu mencuri pandang padanya berharap dia mau bermanja padaku.
"Tidak usah, kamu mandilah pasti kamu juga sangat gerah."
Dengan senyum mengembang di bibir Arya mengagguk kan kepala nya, ketika Arya masuk ke dalam kamar mandi, Arina melihat cahaya hijau berkedip-kedip dengan suara getaran.
"Dreet....dreet .....dreeet, rupanya ponsel milik Arya berbunyi, Arina mencoba melihat siapa yang sedang menghubungi suaminya.
__ADS_1
Di raihnya benda pipih yang ada di atas narkas.
"Novi..!dia menghubungi Arya ada apa, apakah di antara mereka berdua sudah terjalin suatu hubungan."
Arina buru-buru meletakkan ponsel milik Arya setelah mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan tanpa sadar Arina menatap ke pintu yang mana langsung pandangan matanya bersitubruk dengan Arya yang kala itu juga menatapnya Arina buru-buru memalingkan wajahnya ketika menyadari jika Arya hanya mengenakan anduk sehingga tubuh kekarnya terlihat dengan jelas.
"Ada telpon untuk mu, segara hubungi dia kelihatan nya penting." ucap Arina tanpa memandang wajah suami nya.
"Siapa yang telpon dan kenapa tidak kau angkat saja."
"itu ponsel mu bukan ponselku jadi untuk apa aku menggangkat nya."
Arya mangut manggut sambil tersenyum.
"Tolong ambilkan bajuku."
"Apa?" hei, aku bukan pembantumu, ambil sendiri sana, toh kamu juga sudah di luar kamar mandi."
Arya Tertawa lepas Mendengar jawaban Istri nya.
"Hahaha, siapa juga yang mengagapmu pembantu aku kan minta Istriku dsn itu sudah tugas istri pada suami."
"Cih, males amat, ambil sendiri sana aku bosan aku mau cari udara segar." ucap Arina seraya keluar kamar dengan menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
"Astaga, dia manusia punya hati tidak sih, sudah ku tolong kubantu agar bisa bebas dari penjara bukannya berterima kasih trus bersikap manis pada suami, ini malah dingin." keluh Arya sambil mencari baju yang cocok untuk nya.