Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.178 . SAKIT DI PUNGGUNG


__ADS_3

Hari ini adalah hari persidangan antara Bima dan gadis yang menggaku sebagai Seila. waktu berlangsung sangat cepat dan hikmat, tidak ada pembelaan apapun yang di lakukan Seila palsu karena semua bukti sudah mengarah padanya dan keputusan hakim pun sudah di tetapkan Seila yang menyamar menjadi istri Bima pun di jatuhi hukuman penjara.


Dengan langkah gontai Seila yang menyamar menjadi istri Bima kini harus meringkuk di penjara, tatapan matanya kosong duduk di antara para pesakitan dengan menggunakan seragam tahanan.


Beberapa hari kemudian


Bima mengajak Seila untuk berbelanja, berbagai kebutuhan di mana Seila yang sekarang sudah mulai suka memasak, ada rasa haru dan senang melihat istri manja nya kini mulai bersikap dewasa, meskipun keras kepala nya masih ada, bahkan berkali-kali Bima harus masih bersabar agar bisa mendapatkan malam pertama, tentu saja namanya malam pertama di mana mereka sudah terpisah sangat lama, terkadang ada rasa kesal juga dengan sikap Seila yang selalu saja memberikan alasan yang intinya belum boleh minta jatah karena dia belum siap.


Bima dan Seila Kembali ke rumah dengan melajukan mobilnya dengan sangat pelan, seolah olah ingin menikmati indahnya perjalanan, melihat Seila tertidur di dalam mobil terbesit niat untuk menjahili istri nya yang pelit, karena ngak di kasih jatah kan namanya pelit.


Bima tidak langsung pulang melainkan menuju rumah lama di mana Seila pernah di tolong sepasang suami istri sederhana seorang wanita yang baru kehilangan seorang putri akibat penyakit yang di deritanya. Bima menghentikan mobilnya di depan halaman rumah sederhana, senyum manis terbit dari Bibir Bima ketiika menggingat pertama kali dia datang sebagai atasan dari Istrinya.


"Sayang kita sudah sampai ayo turun."


Seila mengerjap ngerjapkan matanya menatap lurus ke depan, kemudian memandang ke arah Suaminya.


"Itu, Rumah ibu!"


Bima mengagguk


"Apa kau tidak rindu mereka?'


"Tentu saja aku sangat rindu, sudah lama ingin datang ke sini tapi ngak enak hati menggatakan nya."tutur Seila seraya melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di pinggang nya, Seila membuka mobil, namun tidak langsung turun dengan jari jari lentiknya Seila menyisir rambutnya yang masih rapi. Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Kayak mau ketemu pacar saja pakai ngrapi ngrapiin rambut segala, perasaan ketemu aku ngak begitu begitu amat," cletuk Bima yang merasa dirinya tak terlalu di perhatikan.


Seila menatap Bima dengan tersenyum.


"Makasih, ya kak."


"Mmmmhh."


"Kak Bima..!"jawabannya kok cuma begitu."


"Iya, sama sama."


"Nah gitu dong meskipun senyumnya ngak ada."sindir Seila yang kemudian melangkah kan kakinya turun dari mobil belum juga ada dua menit Seila kembali lagi naik ke atas mobil, Bima yang melihat itu mengeryitkan dahinya.


"Ada apa?" kok balik lagi.


"Ada yang tertinggal," ucap Seila dengan bibir cemberut.


Melihat wajah Seila yang berubah masam dan cemberut otak Bima sudah traveling.


"Gawat, kalau yang di carinya gak ada di dalam mobil bisa marah dan ngambek kan aku ngak ngasih tau lebih dulu kalau ingin pergi ke rumah ibu, smoga yang dia cari ketemu bisa mampus aku nanti seharian harus ngeliat wajah masamnya." Gumam Bima dalam hati.


"sayang, yang di cari apa sih, biar aku bantu,' Tawar Bima.Seila melambaikan tangan memberi tanda agar Bima lebih mendekat dan ketika jarak diantara keduanya sudah dekat.


"Cup...!"sebuah kecupan kecil mendarat di pipi kiri Bima membuat Bima mendelik seketika tak percaya dengan apa yang baru saja dia rasakan.

__ADS_1


"itu yang tertinggal," Seru Seila sambil turun dari mobil dan berlari kecil masuk ke dalam rumah.


"Ibu...!"


"Ibu..!"


Seila masuk ke dalam rumah sambil terus berteiak memanggil manggil nama Ibu membuat sang Ibu keluar dengan tergesa-gesa dan ketika mengetahui siapa yang datang sang ibu langsung mengembangkan senyumannya.


"Ningsih...!"Pak ..Bapak cepat keluar anakmu pulang, Pak cepat keluar ini lho anakmu pulang."


Terlihat sosok laki-laki paruh baya keluar dari balik pintu belakang.


"Opo toh, Bu!" pagi pagi kok sudah berteriak Teriak."


"Itu, pak! Ningsih datang.'


"Apa, Bu, Ningsih datang," dengan cepat sang bapak pun keluar dan menyambut putri angkat nya.


"Ningsih..! kamu sudah pulang Nduk..!


"Iya, pak, Bu!" jawab Seila sambil mencium tangan Bapak dan ibunya.


"Pak, Bima kenapa di luar, ayo masuk.'


"Iya, Bu! trimakasih."


"Ningsih, kau buatkan minum untuk pak Bima cepat."


"Pak, Bima ngak mau Bu, tadi katanya ngak haus,"


"Iya kan kak."


Bima tak bisa bicara apa apa selain mengagguk meskipun dalam tatapan matanya ingin protes.


"Kalian mengginap di sini apa pulang?"tanya sang ibu.


"Menginap di sini Bu, mungkin Pak Bima saja yang pulang, karena tadi katanya sibuk." ucap Seila menjelaskan membuat Bima mendelik dengan sempurna.


Melihat ekspresi Bima yang kesal hal itu membuat Seila merasa senang, entah mengapa rasaanya menyenangkan jika bisa membuat hati sang suami kesal.


"Oh, pak Bima sibuk ya, padahal ibu masak enak hari ini, makanan kesukaan Ningsih, bahkan Ibu berharap Pak Bima bisa mengginap di sini." tawar ibu Ningsih.


"Wah, kalau begitu aku akan batalkan semua perjanjian karena tidak begitu penting, aku akan mengginap di sini boleh kan Bu?"


"Boleh, ibu justru senang."


Bima melirik pada Seila Istri nya yang kini lagi memasang wajah masam karena rencananya menyuruh Bima pulang tidak bisa, sedangkan Bima mengedipkan sebelah matanya sebagai tanda dia yang menang.


Menjelang malam, Bima dan Seila tetap tidur terpisah menggingat sang Ibu angkat masih belum menggetahui jika mereka pasangan suami istri. Bima yang tidak mau jauh dari sang istri setelah sekian lama terpisah oleh keadaan tidak mau lagi sedikit pun jauh apalagi di pisahkan, bagi Bima cukup sekali hiduo merana jauh dari istri.

__ADS_1


"Tok..!


"Tok..!


"Tok..!


Suara pintu kamar Seila di ketuk.


"Siapa..?


"Buka pintunya, cepat."


Dengan mata yang sudah sangat berat karena mengantuk Seila membuka kan pintu.


"Kak Bima?" ngapain ke sini?"


"Aduh, sayang punggung ku sakit tiba-tiba aku ngak tau kenapa, tolongin jika begini terus aku tidak bisa tidur,"ucap Bima seraya masuk ke dalam dan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Seila yang melihat itu menjadi panik karena Bima seenaknya tidur di ranjang nya.


"Kak Bima, bangun jangan tidur di sini, nanti kalau ibu lihat bisa gawat."seru Seila panik.


Bima tak perduli dengan ucapan Seila dia justru menarik selimut dan tidur.


"Tutup pintu nya cepat, jangan lupa di kunci biar tidak ada yang nylonong masuk," titah Bima dan sepertinya Seila tidak ada pilihan lain selain menurut apa yang Suaminya katakan.


"Mana yang sakit, coba lihat biar ku obati tapi habis ini Kak Bima harus langsung balik ke kamar ya, aku takut Ibu datang dan tau "


"Takut amat, sih kita kan bukan pasangan mesum, kamu istri ku jadi apa salahnya jika aku ingin tidur dekat istri ku,'


"Ya, ngak salah sih kak cuma...? masalah nya Ibu belum tau kalau kak Bina Suamiku,"


"Sudahlah sayang itu pikir nanti sekarang kita bobo." seru Bima sambil menarik tangan Seila sehingga jatuh di atas ranjang.


_________


________


Terimakasih sudah mendukung karya ini


karena ini di bulan puasa .... sedang kan cerita ini masuk kategori Romantis


aku sarankan baca nya di saat malam saja.. ketiika tidak menjalankan puasa


agar puasa kita tidak ternodai...atau batal.


Bagi yang beragama muslim aku ucapkan


Selamat menjalankan ibadah puasa


Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir dan batin 🙏

__ADS_1


__ADS_2