Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.111.KE LUAR NEGERI


__ADS_3

Meskipun hati terasa berat gadis yang bernama Kalista sekertaris dari Arya, menggikuti langkah Novi masuk kedalam mobil taksi.


"Stop..!" berhenti disini pak,"


"Baik, Non," dengan cepat mobil taksi pun berhenti di pinggir jalan.


"Hei, kamu, turun disini !"


"Apa?" kau, sudah ngak sehat ya, menyuruhku turun di pinggir jalan begini,"


Novi tersenyum mengejek melihat sekertaris Arya yang bernama Kalista protes dengan keputusan nya.


"Kau, pulang bisa naik taksi lain, ini uang untuk ongkos taksi nya,"


"Loe, gila apa? aku kan juga mau mengantar pak Arya,"


"Bukan aku, yang gila! tapi kamu lah, apa kamu ngak mikir, gimana perasaan istrinya ketiika melihat suaminya dengan gadis lain,"


"Tapi, aku kan sekertaris nya, sudah pastilah, pak Arya akan bersamaku dan harus nya istrinya memahami itu," sungut Kalista kesal.


"Untuk kali ini, loe, mengalah apa susahnya sih, cepat turun, pak Arya harus segera di obati nih,"


"Ya-ya..,aku turun," dengan terpaksa Kalista turun dari mobil taksi.


"Nih, uangnya," Novi menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah yang dengan cepat di sahut oleh Kalista tanpa mengucapkan trimakasih.


Kalista sangat kesal dan jengkel dengan keputusan gadis yang ada di depannya menurut nya tidak akan jadi masalah apabila dia ikut, kalau khawatir istrinya pak Arya cemburu itu pendapat yang sangat lebay jangan jangan ini hanya akal akalan gadis itu saja, siapa tau gadis itu yang sebenarnya suka sama pak Arya.Gumam Kalista dalam hati.


"Woi...!cepat minggir, jangan mematung di situ, mau cari mampus apa?


Teriakan Novi, membuat Kalista tersadar dari lamunannya dengan gerakan cepat Kalista segera mundur dan menepi, sedangkan di dalam mobil Novi melambaikan tangan dengan senyum penuh kemenangan.


Mobil taksi yang membawa Arya melaju dengan kecepatan tinggi agar sopir taksi itu bisa segera sampai di rumah.


"pelan-pelan pak! saya, mau telpon Sebentar,"


"Baik, Non!"


Sopir taksi itupun segera menggurangi lanju kecepatan mobilnya, sementara Novi segera menghubungi Arina yang pastinya percakapan antara Novi dan Arina tidak di dengar oleh Arya karena Arya masih dalam keadaan pingsan.


"Gimana, aku langsung ke rumahmu ya,"


"Eh, jangan !"kamu langsung pergi ke bandara saja, bawa Arya berobat ke luar negeri,"


"Apa?" loe gila ya, gue harus ke rumah sakit lihat kondisi bokap gue, sembarangan saja nyuruh gue ke luar negeri, ogah gue ngak mau," sungut Novi kesal.


"Tenang! urusan bokap loe, gue yang urus, mau ya? please,"


"Ngak mau, gue bukan istrinya loe saja yang pergi,"


"Hei, loe gila apa? nyuruh gue ke luar negeri, gue kan harus ngurus segala peralihan dan semua aset keuangan Arya, percuma dong gue mencelakakan Arya kalau ujung ujungnya Gue ngak dapat, apa apa hanya di suruh duduk manis menunggu suami sembuh,"

__ADS_1


"Tapi.., Ar!"


"Sudah, loe masih butuh bayar hutang tidak?"


"Ya...butuh, sih,"


"Kalau begitu, turuti semua permintaan ku,"


"Tapi, Bokap gue...!"


"Tenang, aku akan urus, semuanya, gimana?"


"Ya-ya, aku menggalah,aku mau,"


"Nah, begitu dong, itu baru namanya teman baikku,"


"Ke luar negeri mana, aku Harus bawa suamimu?"


"Bawa, dia ke Singapure saja, di sana dokter nya cukup. bagus,"


"Baiklah, setelah urusan mu di sini selesai cepat kau susul aku ke Singapura ya?"


" Tenang, jangan khawatir, ya sudah cepat berangkat nanti segala biayanya aku yang urus, semua pasti masuk dalam rekening uangmu,"


"Baiklah, aku pergi, ingat Jaga Bokap gue, kalau sampai Bokap gue kenapa napa loe berurusan dengan ku,"


"Iya-ya, gue ngerti sana cepat pergi,"


Novi segera mematikan nomor telponnya.


"Baik, Non,"


******


Di dalam sebuah Rumah megah terlihat seorang gadis cantik sedang tersenyum sendiri sambil memandang ke luar jendela yang mana di luar dalam keadaan hujan.


"Tinggal satu langkah lagi, bersenang senanglah sejenak, Seila sayang, karena sebentar lagi deritamu akan di mulai, enak saja kau bahagia bersama kekasih ku, enak saja kau merampas cintaku, lihat saja, apa yang akan ku lakukan padamu, jika suamiku sendiri saja, aku tega mencelakakan nya, apalagi kamu, aku bisa melakukan apapun demi mendapatkan kembali cintaku, demi Bima bisa kembali kepada ku,


ha.....ha...ha...!" gadis yang ternyata Arina Tertawa dengan lebar namun pada detik berikutnya dia menangis. tersedu...seduh.


"Hizk...hizk...hizk, semua karena sikapmu yang tidak adil padaku Bima, apa kamu tidak tau betapa sakit nya hatiku, ketika kau mengatakan bahwa tidak pernah sekalipun kau mencintaiku, hanya sebagai kekasih kala sepi, ya, aku hanya kekasih kala sepimu, jika aku tidak bisa mendapatkan cintamu maka Seila pun juga tidak boleh memiliki mu, ayo, nikmati saja hari hari bahagia mu, tapi sebentar lagi, aku akan memisahkan cinta kalian apapun caranya."yang kemudian Arina berteiak histeris.


"Aaaaaaaaaaa.., aku benci kamu Bima!hizk..hizk.. hizk tapi aku sangat mencintaimu,"


Ketika Arina larut dalam hayalan kemarahan dan kesediaan nya sendiri, tiba-tiba telpon berdering, satu nama tertera jelas di sana, Nenek.


"Nenek, menelpon ku, aku harus pura-pura menangis," sangat kebetulan Arina baru saja menangis sehingga suara nya bisa menjiwai perasaan sedih.


Dengan suara parau Arina menjawab panggilan sang Nenek.


"Nenek, hizk...hizk...hizk, mas Arya Nek?"

__ADS_1


"Arina..!"bagaimana kejadiannya Nak, kenapa Arya bisa menggalami itu semua,"


"Aku, tidak tau Nek, lukanya sangat parah jadi aku mengirim mas Arya berobat ke luar negeri."


"Dengan siapa Arya di sana Bak, kenapa kau tidak menemaninya,"


"Pekerjaan mas Arya di sini cukup banyak dan aku harus menghandel semua klien nya agar tidak kabur, jadi aku menyuruh teman untuk menemani mas Arya, sedangkan aku mau menyelesaikan urusan di sini,"


"Kau, benar benar istri yang baik dan sangat pengertian, Nak, kamu yang sabar ya, Arya pasti akan cepat sembuh,"


"iya, Nek,"


"Ya, sudah Nenek tutup dulu, jangan lupa jaga kesehatan untuk kamu sendiri, ya sayang."tak lama kemudian telpon pun di matikan


******


Di luar masih hujan cukup deras meskipun tidak ada petir dan lampupun tidak padam, Bima menatap punggung Seila tanpa berkedip, sedangkan Seila masih asik merias dan mencoba beberapa baju yang akan di kenakan nya.


"Jangan, terlalu memakai baju yang sedikit terbuka sayang, aku ngak mau kecantikan istriku di nikmati orang lain juga,"


"Tenang, Kak, ini bajunya semua tertutup rapat kok, belum ada satupun kancing bajunya yang copot," Jawab Seila asal.


" Jawabnya kok gitu sih, dingin amat sana suami,"


"Habisnya, kak Bima protes melulu soal baju, bosen aku,"


Bima yang tadinya duduk di tepi ranjang melangkah menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Semua demi kebaikan mu, sayang," ucap Bima sambil mendaratkan kecupan nya di leher jenjang Seila membuat, Seila sedikit mengeliat karena rasa geli.


"Kak Bima, apaan sih, lepasin, ini sudah sore nanti aku terlambat,"


"Di luar, hujan sayang, masak masih mau berangkat?"


"Iya, masih tetap harus berangkat, kan ini Acara penting kak, tidak bisa kalau aku tidak datang,"ucap Seiila sambil membalikkan badannya sehingga mereka berdua kini berhadapan, melihat bibir ranum Seila yang mengoda iman dengan sigap Bima hendak melahap nya, tapi belum sampai bibir itu menyentuh bibir ranum Seila, tangan Seila sudah lebih dulu menutup mulut Bima dengan tangan.


"Jangan, nanti lipstik ku hilang," sambil melepaskan dekapan tangannya dari bibir Bima dan melepaskan pelukan Bima.


"Ya, pelit, kan bisa memakai lagi, entar kalau habis aku belikan lebih dari banyak lagi, boleh ya, nyicip sedikit,"


"Ngak, boleh, sudah terlambat nih, Acara nya agan segera di mulai aku tidak mau Wina kecewa di Acara pembukaan buktiknya aku belum datang,"


"Ngak lama kok, boleh ya lagi ingin nih,"renggek Bima merayu.


"Ngak, mau kak, ini waktunya sudah sore nanti kita telat, ayo, Bima jadi mau ngantar tidak, kalau tidak aku berangkat sendiri," ancam Seila


Terpaksa dengan berat hati Bima menggalah dari pada Seila ngambek, ngak mau di antar.


"yaaaa, ngak dapet deh kiss nya, harus menahan sampai malam nih,"


"Sudah, jangan ngeluh ikut ngak!

__ADS_1


"Ya-ya siap, Tuan putri,"


"Apaan, sih," karena gemas Seila melempar guling yang ada di ranjang ke arah Bima sedang kan Bima cuma cengar cengir sambil terkekeh.


__ADS_2