Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.78.MENGGAGUMI DIAM DIAM


__ADS_3

Melihat kelakuan Bima yang menyebalkan


buru-buru Seila mendekati Mobil temannya.


Ketika Seila hendak membuka pintu mobil depan tiba-tiba, teman Seila menegur.


"Seila..!kamu duduk di belakang saja, habisnya di depan penuh barang bawaan nih,"


Ucap Wina teman Seila sambil membetulkan


letak barang bawaannya.


"Ya, Baiklah,"


Setelah Seila memasang sabuk pengaman,dan mendudukkan dirinya dengan santai di barisan mobil nomor dua.


"Ayo, win !" berangkat, aku sudah siap,"


"Tunggu, sebentar,"


"Ada apa ?"


"Belum lengkap,"


"Belum lengkap ? Belum lengkap apanya,"Tanya Seila pemasaran.


"Tuh..!" Wina menujuk ke arah pintu rumah di mana Bima muncul, dengan wajah yang segar dan dengan rambut yang basah.


Seila yang tanpa sengaja menggikuti arah


telunjuk Wina, sedikit di buat tertegun juga dengan penampilan Suaminya yang cool, tidak


di pungkiri memang, sebenarnya Bima pria yang cukup tampan, yang berpostur atletis dengan tinggi badan 185, kulit putih bersih,


alis tebal, bibir yang sensual sedikit tebal di tambah dengan hidung mancung Bima yang bagaikan Artis Hollywood sharad Malhotra.


Tokoh pemeran utama dalam film kassam.


Seila menelan ludahnya dengan kasar.


Karena diam diam hatinya pun memuji ketampanan suaminya. Namun karena suatu


keadaan yang salah, sering kali membuat


Seila memilih membuang rasa yang sering


meronta ronta di dalam kalbunya, di mana


sejujurnya hatinya pun mengginginkan cinta


Bima, tapi harus dia tepis dan buang jauh


jauh, Seila merasa tidak pantas mendapatkan


semua perhatian dan cinta Bima,


Seila merasa dirinya sangat kotor dan tidak


layak untuk mendapatkan semua itu.


Bima pantas mendapatkan yang lebih baik


dari dirinya, tentunya seorang gadis yang


masih suci, bukan seperti dirinya yang sudah


pernah terjamah orang lain, menggingat kisah


cinta pilunya,tak terasa ada buliran bening


mengantung di sudut kelopak matanya yang


ayu, perasaan yang membingungkan


terkadang ingin dekat, tapi terkadang ingin


jauh, terkadang merasa cemburu dan kesal

__ADS_1


Namun terkadang sengaja menjauh.


Seila pun tak mengerti apa yang di inginkan


hatinya. Kembali Seila menarik nafas dalam


dalam dan menghembuskan nya dengan


kasar, Seila menghempaskan kepalanya pada


dinding kursi mobil.


"Kenapa, menunggu Bima, Win ?"ayolah, kita


berangkat," Ucap nya sendu.


"Dia juga mau ikut, katanya mau mememani


kamu,"


"Apa..?Bima ikut..!"


Seila buru buru memperbaiki posisi duduknya.


"Iya, untuk menemani istrinya katanya,"


"kenapa kamu ijinkan Win?"aku tidak suka


Bima ikut,"


"Kenapa, tidak suka, bukankah setiap istri


itu suka kalau suaminya ikut,"


"Iya ,itu bagi mereka, tapi tidak bagiku,"


"Maksud kamu apa ?"Jangan bilang kalian


lagi marahan," Goda Wina pada Seila.


"Ngak lagi marahan, cuma lagi kesel,"


lebar.


"Ha..ha..ha .ha..!" Seila.. Seila, kesal sama


marahan apa bedanya coba ?"


Seila memilih diam tidak menjawab ucapan


dari temannya.


Bima yang sudah dekat segera membuka


pintu mobil dan langsung duduk manis di


samping istrinya. Seila masih memasang


tampang kesal, dengan memalingkan


mukanya, Bima yang melihat ulah istrinya semakin gemas saja, menurut Bima, Seila semakin cantik kalau lagi marah.


Dengan santainya Bima duduk di samping


istrinya, dengan senyum tersungging di


bibir Bima, menggenakan sabuk pengaman.


"Kami sudah siap," Ucap Bima memberikan


komando.


"Ok, kita jalan,"


Mobil melaju dengan kecepatan sedang


menembus jalanan yang penuh dengan

__ADS_1


kendaraan yang lalu lalang, dengan segala


kebutuhan masing-masing orang, ada yang


pergi ke kantor untuk bekerja, ada juga yang


cuma ingin jalan-jalan.


Suasana sangat hening di dalam mobil


tidak ada yang memulai percakapan, Bima


yang melihat istrinya masih dingin dan cuek


menghela nafas panjang dan menghembuskan


nya dengan perlahan lahan.


"Masih marah padaku?'Tanya Bima membuka


percakapan.


"Ngomong apa sih, kamu ?"


"Apa kamu, masih marah padaku," Bima


mengulang pertanyaan nya.


"Apa ini, saat yang tepat untuk membahas itu,"


Mendengar jawaban Seila, Bima kembali


menarik nafas panjang dan menghembuskan


nya dengan kasar.


"Baiklah, aku tidak akan membahas nya lagi,


tapi udah dong, buang tuh sikap dingin nya


tau ngak, bikin nyesek, hati,"


Mendengar ucapan Bima yang bilang bikin


nyesek hati, Seila cepat cepat merubah


posisi duduknya, yang semula membuang


muka dan menatap pinggiran jalan yang


mana banyak berlalu lalang kendaraan yang


lewat, kini mulai menghadap wajah Bima


dengan tatapan yang tajam.


Bima pun tak mau kalah di tatapnya pula


wajah istri galaknya dengan tatapan sayu.


Tatapan Bima yang bikin hati dan Jantung


Seila berdebar debar membuat nya


membuang muka kembali, Bima tersenyum


penuh kemenangan melihat istrinya salting


ketika melihat tatapan nya.


"Aku sangat yakin, kau juga sangat mencintai ku, akan ku buat kau menggakui perasaan mu


padaku,"Guman Bima dalam hati.


Udara pagi yang segar dengan cuaca yang


cerah, di mana tidak ada hujan,

__ADS_1


memudahkan laju kendaraan sehingga


bisa dengan cepat sampai pada tujuan.


__ADS_2