
Melihat kelakuan Bima yang menyebalkan
buru-buru Seila mendekati Mobil temannya.
Ketika Seila hendak membuka pintu mobil depan tiba-tiba, teman Seila menegur.
"Seila..!kamu duduk di belakang saja, habisnya di depan penuh barang bawaan nih,"
Ucap Wina teman Seila sambil membetulkan
letak barang bawaannya.
"Ya, Baiklah,"
Setelah Seila memasang sabuk pengaman,dan mendudukkan dirinya dengan santai di barisan mobil nomor dua.
"Ayo, win !" berangkat, aku sudah siap,"
"Tunggu, sebentar,"
"Ada apa ?"
"Belum lengkap,"
"Belum lengkap ? Belum lengkap apanya,"Tanya Seila pemasaran.
"Tuh..!" Wina menujuk ke arah pintu rumah di mana Bima muncul, dengan wajah yang segar dan dengan rambut yang basah.
Seila yang tanpa sengaja menggikuti arah
telunjuk Wina, sedikit di buat tertegun juga dengan penampilan Suaminya yang cool, tidak
di pungkiri memang, sebenarnya Bima pria yang cukup tampan, yang berpostur atletis dengan tinggi badan 185, kulit putih bersih,
alis tebal, bibir yang sensual sedikit tebal di tambah dengan hidung mancung Bima yang bagaikan Artis Hollywood sharad Malhotra.
Tokoh pemeran utama dalam film kassam.
Seila menelan ludahnya dengan kasar.
Karena diam diam hatinya pun memuji ketampanan suaminya. Namun karena suatu
keadaan yang salah, sering kali membuat
Seila memilih membuang rasa yang sering
meronta ronta di dalam kalbunya, di mana
sejujurnya hatinya pun mengginginkan cinta
Bima, tapi harus dia tepis dan buang jauh
jauh, Seila merasa tidak pantas mendapatkan
semua perhatian dan cinta Bima,
Seila merasa dirinya sangat kotor dan tidak
layak untuk mendapatkan semua itu.
Bima pantas mendapatkan yang lebih baik
dari dirinya, tentunya seorang gadis yang
masih suci, bukan seperti dirinya yang sudah
pernah terjamah orang lain, menggingat kisah
cinta pilunya,tak terasa ada buliran bening
mengantung di sudut kelopak matanya yang
ayu, perasaan yang membingungkan
terkadang ingin dekat, tapi terkadang ingin
jauh, terkadang merasa cemburu dan kesal
__ADS_1
Namun terkadang sengaja menjauh.
Seila pun tak mengerti apa yang di inginkan
hatinya. Kembali Seila menarik nafas dalam
dalam dan menghembuskan nya dengan
kasar, Seila menghempaskan kepalanya pada
dinding kursi mobil.
"Kenapa, menunggu Bima, Win ?"ayolah, kita
berangkat," Ucap nya sendu.
"Dia juga mau ikut, katanya mau mememani
kamu,"
"Apa..?Bima ikut..!"
Seila buru buru memperbaiki posisi duduknya.
"Iya, untuk menemani istrinya katanya,"
"kenapa kamu ijinkan Win?"aku tidak suka
Bima ikut,"
"Kenapa, tidak suka, bukankah setiap istri
itu suka kalau suaminya ikut,"
"Iya ,itu bagi mereka, tapi tidak bagiku,"
"Maksud kamu apa ?"Jangan bilang kalian
lagi marahan," Goda Wina pada Seila.
"Ngak lagi marahan, cuma lagi kesel,"
lebar.
"Ha..ha..ha .ha..!" Seila.. Seila, kesal sama
marahan apa bedanya coba ?"
Seila memilih diam tidak menjawab ucapan
dari temannya.
Bima yang sudah dekat segera membuka
pintu mobil dan langsung duduk manis di
samping istrinya. Seila masih memasang
tampang kesal, dengan memalingkan
mukanya, Bima yang melihat ulah istrinya semakin gemas saja, menurut Bima, Seila semakin cantik kalau lagi marah.
Dengan santainya Bima duduk di samping
istrinya, dengan senyum tersungging di
bibir Bima, menggenakan sabuk pengaman.
"Kami sudah siap," Ucap Bima memberikan
komando.
"Ok, kita jalan,"
Mobil melaju dengan kecepatan sedang
menembus jalanan yang penuh dengan
__ADS_1
kendaraan yang lalu lalang, dengan segala
kebutuhan masing-masing orang, ada yang
pergi ke kantor untuk bekerja, ada juga yang
cuma ingin jalan-jalan.
Suasana sangat hening di dalam mobil
tidak ada yang memulai percakapan, Bima
yang melihat istrinya masih dingin dan cuek
menghela nafas panjang dan menghembuskan
nya dengan perlahan lahan.
"Masih marah padaku?'Tanya Bima membuka
percakapan.
"Ngomong apa sih, kamu ?"
"Apa kamu, masih marah padaku," Bima
mengulang pertanyaan nya.
"Apa ini, saat yang tepat untuk membahas itu,"
Mendengar jawaban Seila, Bima kembali
menarik nafas panjang dan menghembuskan
nya dengan kasar.
"Baiklah, aku tidak akan membahas nya lagi,
tapi udah dong, buang tuh sikap dingin nya
tau ngak, bikin nyesek, hati,"
Mendengar ucapan Bima yang bilang bikin
nyesek hati, Seila cepat cepat merubah
posisi duduknya, yang semula membuang
muka dan menatap pinggiran jalan yang
mana banyak berlalu lalang kendaraan yang
lewat, kini mulai menghadap wajah Bima
dengan tatapan yang tajam.
Bima pun tak mau kalah di tatapnya pula
wajah istri galaknya dengan tatapan sayu.
Tatapan Bima yang bikin hati dan Jantung
Seila berdebar debar membuat nya
membuang muka kembali, Bima tersenyum
penuh kemenangan melihat istrinya salting
ketika melihat tatapan nya.
"Aku sangat yakin, kau juga sangat mencintai ku, akan ku buat kau menggakui perasaan mu
padaku,"Guman Bima dalam hati.
Udara pagi yang segar dengan cuaca yang
cerah, di mana tidak ada hujan,
__ADS_1
memudahkan laju kendaraan sehingga
bisa dengan cepat sampai pada tujuan.