Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 99. Di Hukum Atas Kesalahan Yang Tidak Ia Buat.


__ADS_3

Azmi di bawa ke ruangan para ustadz dan yang lain berusaha mengintip Azmi dari jendela. Azmi duduk diam dan masih tidak percaya dengan apa yang ia alami saat ini, Azmi terus menunduk sembari memainkan jari-jari tangannya. Para ustadz masih berbicara untuk hukuman apa yang harus diberikan untuk Azmi.


" Azmi! " panggil ustadz Abdullah memandang tajam Azmi.


Azmi mendongakkan kepalanya.


" Iya, ustadz. " jawab Azmi dengan nada pelan.


" Kamu hafal surat yasin, kan? " ustadz Abdullah.


Azmi mengangguk pelan.


" Hafal ustadz. " ucap Azmi kembali menunduk.


Ustadz Abdullah menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali.


" Azmi, hafal surat al-waqi'ah juga, kan? " tanya ustadz Ridwan menambahkan.


Azmi kembali menganggukkan kepalanya dan memandang ke arah ustadz Ridwan.


" Iya ustadz, saya hafal. " Azmi.


" Bagus Mi, jus 30 juga ditambahkan ustadz Abdullah, supaya Azmi kapok!" tambah ustadz Fathur.


" Azmi, mau di kasih hukuman apa, sih?" tanya Zakir yang ikut mengintip bersama kedua temannya.


" Mana aku tau, Kir? Kita lihat aja nanti. " jawab Helmi.


Para ustadz kembali berdiskusi, ustadz Abdullah juga melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah 2 siang.


" Azmi, " panggil lagi ustadz Abdullah.


Azmi kembali mendongakkan kepalanya.


" Iya, ustadz." ucap Azmi berusaha tegas.


" Hukuman kamu, pakai ini! " ustadz Abdullah memberikan kalung kardus yang berisi tulisan besar " SAYA DI HUKUM KARENA SAYA MENCURI, SAYA MINTA MAAF KEPADA SEMUA TEMAN-TEMAN! " tulisan itu sangatlah besar dan jelas.


Azmi masih terdiam karena dia merasa tidak bersalah, Azmi memandang kalung kardus itu beberapa saat.


" Azmi, kok bengong toh? Ayo, di pakai! " ustadz Ridwan.


Karena Azmi mengingat kalau seorang santri haruslah tawadhu pada guru mereka, seorang santri tidak boleh melawan, seorang santri harus memperlakukan gurunya dengan sangat sopan layaknya raja dan seorang santri tidak boleh melawan apalagi sampai membentak gurunya.

__ADS_1


Inilah yang Azmi ingat dari ucapan Kyai, walau ia tidak bersalah setelah mengingat itu, Azmi ikhlas dan pasrah untuk menjalankan hukuman itu.


Kedua tangan Azmi menerima kalung kardus itu dan memasangnya pada lehernya.


" Ingat Azmi, kami menghukum kamu karena kesalahan kamu sendiri, jadi jangan sampai kamu membenci gurumu agar ilmu yang kamu dapat tetap barokah. " ustadz Abdullah.


" Iya, Azmi. Kami semua masih sayang dan sangat peduli sama kamu sebagai seorang santri kami, ini kami lakukan agar para santri kami menjadi santri yang baik dan berkualitas. " tambah ustadz Fathur.


" Setelah kejadian ini, kamu tidak boleh melakukan hal itu lagi, kamu harus ingat! Kalau kamu ke pesantren untuk mencari ilmu yang barokah! Mengerti, Azmi?" sambung ustadz Ridwan.


Azmi menganggukkan kepalanya.


" Mengerti, ustadz. " jawab Azmi.


" Hukuman kamu adalah berdiri di halaman pesantren dan membaca dengan keras surat yasin dan al-waqi'ah, mengerti, Azmi!" jelas ustadz Abdullah.


Azmi masih terdiam ia berusaha kuat dan tegar untuk melakukan hukuman tersebut.


" Baik ustadz, saya akan melakukannya!" Azmi mulai memandang ustadz Abdullah.


" Ayo, Azmi! Kita semua akan mengantar mu, " ustadz Ridwan.


Azmi mengangguk pelan.


Azmi berdiri di tengah-tengah halaman, semua santri asyik menonton Azmi yang tertunduk malu di dampingi ustadz Abdullah.


Ada yang melihat dari atas tepatnya di tingkat tangga pesantren dan ada yang menonton Azmi di depan Masjid.


Para ustadz meminta semua santri untuk tidak melihat Azmi, ada yang mau pergi dan ada yang masih melihat Azmi dari kamar atas mereka.


" Azmi, jadi kamu melakukan hukumannya sendiri ya, tapi kamu harus jujur, paham! " ustadz Abdullah.


" Paham, ustadz. " Azmi.


Azmi mulai menjalankan hukumannya dengan membaca keras surat yasin ia harus menanggung malu ketika satu pesantren terus mentertawai dirinya atas kesalahan yang tidak ia perbuat.


Aban, Ahkam dan Muhklis melihat Azmi dari atas tingkat karena kamar mereka berada di atas.


" Aku ini gak mimpi, kan? Azmi Askandar yang selama ini aku kenal yang baik, ganteng dan suka hibur orang. Ternyata dia, pencuri? " Muhklis yang masih tidak percaya.


" Gak Klis, Azmi yang kita kenal gak mungkin mencuri, dia orang yang cukup terpandang, keluarganya juga sangat di hormati, aku tau sendiri itu. " Ahkam.


" Kam, kita semua udah lihat sendiri kan, tadi! Kamu masih gak percaya? " Muhklis.

__ADS_1


Ahkam terus menggelengkan kepalanya dan kembali memandang Azmi.


Sementara Aban merasa kecewa ia terus memandang Azmi dengan perasaan yang sangat sedih, Aban memilih untuk pergi dan kembali ke kamar ia sudah tidak tahan melihat sahabat baiknya di tertawakan semua santri. Sementara Ahkam dan Muhklis hanya bisa melihat Aban melangkah menuju kamarnya.


Langit semakin gelap dan tiba-tiba hujan turun begitu derasnya, para santri segera menuju kamar mereka dan Azmi masih melaksanakan hukumannya.


" Hujan, kasihan banget Azmi, " Ahkam sembari memandang Azmi.


" Mau gimana lagi, dia harus melaksanakan hukumannya sampai selesai, " Muhklis melangkah pergi menuju kamarnya.


Ahkam merasa kasihan dengan Azmi yang masih berdiri pada derasnya hujan.


Mulut Azmi masih mengucap surat yasin dengan perlahan, Azmi sudah merasa sangat kedinginan ia coba menahan rasa dinginnya itu sembari menggenggam erat kedua tangannya sesekali ia memandang Ahkam dan Rifki yang masih mengawasi dirinya begitu juga dengan Zakir yang terus tersenyum menatap tajam Azmi bersama kedua temannya.


" Zakir, kamu jahat banget Kir! Azmi harus ngelakuin hukuman ini padahal dia sama sekali gak tau apapun," Sihin ia merasa kasihan melihat Azmi.


" Hushh, bisa gak mgomongnya jangan keras-keras? " Zakir.


" Tau tuh, biarin aja Hin! Lagian kamu juga ngebantu kita ngejalanin rencana ini, " Helmi.


" Denger ya, Hin! Jangan sampai ada yang tau tentang semua ini! Kamu harus tutup mulut! " Zakir.


Sihin hanya bisa mengangguk tanpa sepatah kata apapun dan kembali memandang Azmi.


Hujan semakin deras, para ustadz juga mulai khawatir dengan keadaan Azmi.


" Mas, kasihan Azmi, udah suruh udahan aja, daripada dia sakit nanti. " ustadz Ridwan.


" Iya Abdullah, aku juga kasihan sama Azmi, dan aku masih gak percaya kalau dia ngelakuin semua ini. " tambah ustadz Fathur.


" Sama aku juga, aku suruh dia udahan aja, hujannya semakin lebat, " ustadz Abdullah.


Bacaan yasin Azmi juga masih belum selesai karena menggigil kedinginan membuat Azmi sulit untuk berbicara.


" Azmi, udah Mi! " teriak ustadz Abdullah.


Tetapi Azmi tidak mendengar karena hujan yang sangat deras Azmi terus membaca surat yasin dan memandang ke atas. Tiba-tiba Azmi merasa semuanya gelap. Perlahan-lahan Zakir dan santri yang masih mengawasi dirinya terlihat tidak nampak dan lama-lama semakin gelap.


Ustadz Abdullah yang terus berteriak tidak Azmi dengar.


Tepat di ayat terakhir surat yasin, Azmi sudah tidak tahan lagi dan tiba-tiba ia terjatuh dengan keras tubuhnya terbaring lemas di tanah dan air hujan terus membasahi dirinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2