
Masyarakat yang melihat anggota Syubban yang tengah berkumpul dengan sengaja membicarakan kejelekan mereka tepat di depan para tim Syubban. Ucapan-ucapan pedas tersebut membuat tim Syubban menjadi down dan merasa tidak bersemangat. Apalagi Ali yang gampang emosi langsung ingin bangun untuk menghampiri masyarakat yang kebanyakan ibu-ibu itu.
Dengan sigap Firman menarik tangan Ali menghentikan Ali yang hendak menghampiri masyarakat.
" Tuh, lihat! Kelihatan banget kalau mereka ini emang sudah membahayakan anak-anak Band itu. " ibu 1.
" Benar-benar gak nyangka saya, statusnya aja santri tapi kelakuannya kaya begitu. " ibu 2.
" Mereka itu baru terkenal sekitaran sini aja udah kaya gitu, apalagi terkenal se indonesia. Bisa melakukan apa lagi, coba? " ibu 3.
Mereka terus saja membicarakan tim Syubban dari belakang tapi hanya ucapan kali ini tidak ada penyerangan. Sudah sangat keterlaluan tingkah ibu-ibu yang suka membicarakan kejelekan orang lain padahal mereka tau, kalau ada Kyai yang sedari tadi menerima hinaan dan ocehan dari ibu-ibu itu.
" Kalian jangan dengarkan ucapan mereka. Sesungguhnya hidup yang paling lelah adalah terlalu mendengarkan omongan orang yang tidak enak kepada kita, " Kyai.
Seketika Ali mulai duduk atas ucapan Kyai yang berhasil membuatnya sadar dan tertunduk.
" Kyai, yang benar kalau ngajarin. Masa tingkah santrinya tidak mencerminkan sopan santun sama sekali, " sindir ibu 3 yang paling pedas sedari tadi ucapannya.
" Dari pada kita mikirin mereka, mending kita nanti ke acara Band yang udah di pukulin sama mereka. Kita ajak juga semua warga kampung, " ajak ibu 1 dengan penuh antusias sekali.
"Nah, ide bagus tuh, kita juga bisa kasih mereka uang yang banyak sebagai rasa peduli kita kepada mereka, " ibu 2.
Para ibu-ibu itu sangat bergembira kadang juga mereka menatap sinis seluruh anggota Syubban lalu pergi begitu saja tanpa pamit.
Kyai hanya bisa terus bersabar dengan beristighfar dan mengelus dada.
" Astagfirullah, iku ibu-ibu kalau ngomong njeleb banget lo. Mereka gak tau apa kalau kita sakit hati banget dengar omongan mereka. " Udin dengan sangat geramnya.
" Hushhh! Din, kan tadi Kyai udah bilang, masa kamu gak simpan di otak kamu, " bisik Firman mengingatkan.
Muhklis dan beberapa anggota merasa sangat sedih terlihat rasa putus asa yang tertulis pada wajah mereka.
Ali menghela nafas keras.
" Jujur aku udah gak punya semangat buat ngelanjutin ini, " Ali yang membuat semuanya termasuk Kyai menoleh ke arahnya.
" Podo Li, lihat aja tadi ibu-ibu itu semangat banget mau ke acara anggota Band yang merupakan dalang dalam kehancuran tim hadroh kita, " sambung Udin.
" Kalian harap sabar ya, masalah ini tidak akan selesai kalau kalian mengeluh terus seperti ini. Banyak-banyak berdoa, walau sekarang kita ada di ambang kehancuran tapi Insya Allah tidak butuh waktu lama untuk membuat semua masyarakat mau bersholawat lagi bersama kita, " jelas Kyai.
" Aamiin, baik Kyai. " ucap semua anggota Syubban.
__ADS_1
Mobil Ustadz Mustafa datang dan terparkir tepat di depan tempat latihan membuat Kyai dan seluruh anggota mengarahkan pandangan mereka pada Ustadz Mustafa.
" Assalamualaikum, " ucap Ustadz Mustafa masuk ke dalam tempat latihan dan segera duduk di samping Kyai.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.
" Maaf ya semuanya, saya sudah membuat kalian menunggu lama, " Ustadz Mustafa.
" Tidak apa-apa Ustadz, " jawab Udin mewakili teman-temannya.
" Bagaimana, Mustafa? Apa kamu sudah bicara kepada adik kamu?" tanya Kyai.
Ekspresi sedih tampak pada wajah Ustadz Mustafa setelah mendengar pertanyaan dari Kyai.
" Maaf Kyai, kemarin saya sudah bicara dengannya tapi Mufti malah pergi dan sampai tadi pagi dia belum pulang ke rumah. " Ustadz Mustafa dengan nada lirih dan kepala yang sedikit tertunduk.
" Benar-benar tuh anak, apa coba yang dia pikirin sampai kaya gitu? " ucap Ali yang sudah sangat kesal.
" Hushh, ada Kyai, " bisik Firman memperingatkan.
Akhirnya Ali tertunduk dan mencoba menahan emosinya kepada Mufti.
" Kalian sekarang libur, ya? " tanya Kyai kepada anggota Syubban yang sedari tadi sangat fokus dengan wajah tegang mendengarkan.
" Kalau gitu nanti kita sholat jum'at di masjid dekat rumah saya, saya juga ingin melihat latihan kalian. Nanti kalian latihan di rumah saya, saya sendirian di rumah sekarang. " Kyai.
" Tapi Kyai, kita masih belum punya rebana sama alat musik yang lain, " Ali.
" Oh, iya, ya. Nanti coba saya urus, Ahkam dan Ali tolong juga di bantu untuk membeli kebutuhan alat musik kalian, " Kyai.
" Baik Kyai, " jawab Ahkam dan Ali.
" Sekarang kita masuk dulu, kalian istirahat dulu. Saya dan Mustafa mau ke kantor, " Kyai.
" Sebentar Kyai, pulangan sebentar lagi, ya?" tanya Ustadz Mustafa kepada Kyai.
Kyai baru ingat dan menganggukkan kepalanya beberapa kali.
" Hmm, iya. Pulangan sudah sangat dekat," Kyai.
Wajah para anggota terlihat sangat senang saat mendengar kata pulangan Azmi juga ikut tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Udin yang menunjukkan ekspresinya yang sangat gembira.
__ADS_1
" Ingat, kalau sudah pulang nanti bantu orangtuanya, jangan main hape sama nonton tv terus, " Ustadz Mustafa.
" Dengar tuh Din, jangan nge-stalk ig santriwati, " ledek Firman kepada Ali.
" Heh, opo toh Li? Enggak Ustadz, Kyai, saya gak pernah kaya gitu. Iki Firman paling yang kaya gitu, " protes Udin yang merasa kesal atas ledekan Firman yang malah tertawa melihat wajah panik Udin.
Kyai dan Ustadz Mustafa tertawa sambil geleng-geleng kepala tidak tahan melihat tingkah Udin yang selalu bikin ketawa.
" Iya, Udin. Kamu pasti gak bakal kaya gitu, Ustadz percaya kok, sama kamu. Yang lain jangan ada yang kaya apa tadi yang di bilang Firman itu, banyakin ngaji jangan sampai bolong sholatnya, " Ustadz Mustafa.
" Baik Kyai, " jawab semuanya dengan penuh semangat.
__
__
__
Azmi, Aban dan Ahkam duduk bersama di bangku panjang yang terletak di depan sebelah kamarnya. Mereka terdiam memandangi suasana pesantren yang sangat sepi karena hari ini adalah hari jum'at. Bisa di lihat dari tempat duduk mereka ada beberapa santri yang berlalu lalang dan banyak juga santri yang duduk bersantai seperti Azmi, Aban dan Ahkam.
Azmi memandang Aban dan Ahkam secara bergantian lalu menghadapkan kembali wajahnya ke depan untuk menghela batasnya keras dan kembali menegakkan kembali tubuhnya.
" Aku merasa gak enak sama Kyai, banyak uang yang udah beliau keluarin buat kita." Azmi membuat Aban dan Ahkam menoleh ke arahnya.
" Tapi rebana dan alat musik yang lain hancur itu bukan salah kita, anak-anak Band itu yang ngelakuin hal yang sangat kejam sama kita. " Aban.
" Semoga aja Mufti dapat hidayah, kasihan banget Ustadz Mustafa punya Adik kaya gitu, padahal Ustadz Mustafa sayang banget lo sama Adiknya." Ahkam.
" Iya mas, kalau aku jadi Ustadz Mustafa pasti aku udah gak tahan, Ustadz Mustafa emang sabar banget sama mas Mufti, " Azmi.
Ahkam mengangguk beberapa kali secara perlahan.
" Ya, makanya kalian gak boleh ngeluh kita harus ingat sama kerja keras yang udah dilakuin Ustadz Mustafa sama Kyai, " Ahkam.
Aban dan Azmi mulai mengerti mereka mengangguk paham dengan pandangan yang serius.
" Eh, bang Muhklis mana, ya? " tanya Azmi.
" Biasalah, lagi nongkrong di kantin, " jawab Ahkam membuat Azmi dan Aban tertawa kecil mengerti.
" Biasa, lagi borong cemilan kantin, " tambah Azmi yang membuat Ahkam dan Aban kembali tertawa membayangkan Muhklis yang memang sangat suka makan.
__ADS_1
Bersambung....