Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 124. Surat Terakhir Untuk Aisyah


__ADS_3

Ibu Aisyah yang sedang menangis menoleh ke arah putrinya dan coba tenang untuk menjelaskan.


" Aisyah, kamu gak boleh ngomong gitu nak, mereka semua juga kehilangan Akmal, mereka semua itu sahabat seperjuangan kakak kamu, " ucap ibu Akmal mencoba menenangkan putrinya yang merasa kesal kepada tim Syubban ia terus menatap tim Syubban dengan tatapan kebencian dengan kedua tangan yang ia kepal.


" Enggak bu, mereka itu tau, kan? Kalau Kak Akmal sakit parah, tapi kenapa coba mereka malah terus ngajak Kak Akmal buat sholawatan? Kenapa mereka gak minta Kak Akmal buat istirahat aja? Mereka semua gak punya hati! Mereka gak bisa mikir gimana rasa sakit Kak Akmal! Kak Akmal harus menderita sendirian dengan teman-temannya yang gak pernah punya rasa khawatir sama dia!" Aisyah menunjukkan kekecewaannya kepada tim Syubban yang hanya terus menunduk menerima tuduhan Aisyah karena mereka pikir Aisyah hanya sedang larut dalam kesedihannya.


" Aisyah, kamu salah! Kita semua ikut kehilangan atas kepergian mas Akmal, " Azmi mulai bicara untuk membuat Aisyah mengerti.


" Neng benar kata dia, kamu harus ngerti, ini sudah jalan Kakak kamu, " ayah Aisyah.


Aisyah masih kekeh dalam pendiriannya dan pandangannya kepada tim Syubban yang menurut dirinya terlibat dalam kematian Kakaknya, Aisyah menggelengkan kepalanya dan menyentuh dahinya ia merasa bingung dan ia pergi begitu saja.


Ali teringat atas permintaan Akmal yang menyuruhnya untuk memberikan surat kepada Adiknya, Ali mengecek saku bajunya dan benar saja surat itu ada, Ali memandang Aisyah dengan segera Ali menghampiri Aisyah menghentikan langkah Aisyah.


" Tunggu! Ini ada surat dari Akmal, sebelum burdah, Akmal sempat memberikan surat ini untuk kamu, " ucap Ali dengan nada pelan sambil terus menyodongkan sepucuk surat yang terlipat rapi untuk Aisyah.


Aisyah akhirnya mau menoleh untuk melihat surat itu ia mengangkat tangannya dan mau menerima surat dari Akmal yang ada di tangan Ali. Aisyah menghapus air matanya, menarik nafasnya dan membuangnya keras hingga ia kembali menatap Ali.


" Makasih, kak, " ucap Aisyah lalu ia pergi begitu saja dengan langkah cepat menuju rumahnya.


" Yah, ibu kejar Aisyah dulu ya, mungkin dia belum menerima kenyataan ini, " ibu Aisyah.


" Iya bu, buat dia tegar dan bisa mengikhlaskan kepergian Akmal." ayah Aisyah.


Ibu Akmal mengangguk pelan.


" Aisyah, nak, tunggu ibu! " teriak ibu Aisyah segera mengejar Aisyah.


" Adiknya Akmal kenapa nyalahin kita, sih?" Udin bingung.


" Padahal kita kan merasa kehilangan banget, dia gak tau itu apa? " tambah Firman sementara Azmi hanya diam tidak bisa mengatakan apapun untuk hal ini.


" Tolong kalian mengerti sikap anak saya, dia sangat sedih, Akmal adalah Kakak yang sangat baik dan selalu ada untuk Adiknya. Maafkan sikap Aisyah, saya akan coba buat Aisyah mengerti, " ayah Aisyah membuat tim Syubban dan Kyai menoleh ke arahnya sementara Udin dan Firman menunduk, sadar akan apa yang mereka ucapkan.

__ADS_1


" Tidak apa-apa pak, kami semua bisa mengerti, " Kyai.


" Terimakasih Kyai, " ayah Aisyah.


" Sama-sama pak, " jawab Kyai sembari tersenyum kecil.


" Ayo anak-anak kita pulang, Akmal yang tenang ya nak, ayah akan selalu mendoakanmu, " ayah Aisyah kembali menoleh ke makam Akmal menguatkan dirinya untuk ketenangan Akmal, tim Syubban juga merasa kasihan dengan kedua orangtua dan Adik Akmal yang bersedih dan penuh duka.


Setelah semua mengikhlaskan Akmal, supaya Akmal bisa tenang hanya Ali yang masih berdiri tepat di hadapan makam Akmal.


Azmi, Aban dan Ahkam juga menghentikan langkah mereka mengetahui Ali yang masih berdiri di depan makam Akmal.


" Akmal, maafin aku ya, aku belum bisa jadi sahabat yang terbaik untuk kamu, semoga kamu tenang di sana Mal, semoga kamu di beri tempat yang terbaik di sisi Nya." Ali tangisan kembali hadir dan membuat suasana kembali sedih.


" Wes Li, Akmal sudah tenang di sana, " Ahkam merangkul Ali yang sedang mengapus air matanya.


Azmi dan Aban saling pandang membisu dan mencoba ikut mendekati Ali.


" Mas Ali harus tabah mas, supaya mas Akmal bisa tenang di sana, " Azmi.


" Ayo mas, " Aban.


Mereka semua mengangguk dan melangkah mengejar langkah yang lain.


...****...


Di dalam kamarnya Aisyah mengunci kamarnya dan segera duduk di kasurnya agar bisa membaca surat dari Kakaknya. Aisyah terlebih dahulu mengusap air matanya lalu menghela nafasnya perlahan ia mulai membuka surat itu. Sementara ibu Aisyah yang baru sampai di depan kamar Aisyah menghentikan langkahnya dan mencoba mengetuk kamar Aisyah.


" Aisyah, sayang, buka pintunya nak! Kamu jangan larut dalam kesedihan kamu, " ibu Aisyah mencoba membuat Aisyah mengerti.


" Iya bu, Aisyah lagi pengen sendiri aja, Aisyah mau baca surat dari Kak Akmal, " Aisyah dengan suara lembutnya membuat ibu Aisyah tidak bisa melakukan apa-apa.


" Ya sudah, nanti kamu turun ya, " ucap ibu Aisyah.

__ADS_1


" Iya bu, " jawab Aisyah.


Ibu Aisyah turun untuk menghidangkan makanan dan minuman untuk Kyai dan anggota Syubban yang sudah duduk anteng di sofa yang ada di ruang tamu.


" Silakan Kyai, anak-anak, di makan snacknya, " Ibu Akmal dengan ramah menghidangkan makanan untuk Kyai dan anggota Syubban.


" Terimakasih bu, " Kyai.


" Sama-sama, ayo nak, di makan, " ibu Aisyah kepada Azmi yang ada duduk di hadapannya.


" Iya bu, " jawab Azmi mengangguk.


Ketika Azmi mulai mengambil snack yang lain ikut mengambil snack mengikuti Azmi membuat Kyai, ibu dan ayah Aisyah tersenyum mengetahui tim Syubban yang malu-malu.


Sedangkan Aisyah kembali melihat surat yang ada di tangannya ia mulai fokus untuk membaca surat itu.


Isi surat dari Akmal 🌹


" Assalamualaikum, Aisyah, adik Kakak yang paling cantik karena cuma kamu adik Kakak, bentar-bentar! Kakak tebak kamu pasti habis datang dari makam Kakak, kan? Terus kamu pasti lagi sendirian di kamar dan gak mau di ganggu, apa kamu juga lagi marah sama teman-teman Kakak?


Aisyah, dengerin Kakak ya, mereka semua itu selalu ada buat kakak, mereka juga selalu mengkhawatirkan keadaan Kakak. Kakak itu kenal kamu banget, sifat kamu yang gak suka basa-basi, yang gampang banget emosi dan suka ngambil keputusan sendiri. Dek, kamu harus bisa kontrol emosi kamu, kamu harus bisa berubah, apalagi kamu udah jadi santriwati. Ini semua udah takdir Tuhan, Dek. Kematian gak ada yang tau, dan semua orang pasti mati.


Jadi kamu gak boleh bilang kalau kakak meninggal karena teman-teman Kakak yang gak mau ngurusin Kakak. Kamu harus janji sama Kakak, kalau kamu akan berubah menjadi orang yang mudah memaafkan, Kakak juga udah tenang kok disini. Oh iya, kamu semangat ya, dalam mencari ilmu dan juga kamu harus jadi penerus Kakak untuk mengajak semua orang bersholawat.


Udah jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang. Hapus air mata kamu, lihat kedepan, masa depan kamu masih panjang, jadi semangat!!!!


Wassalamu'alaikum."


...Salam dari Kakak yang...


...paling kamu sayang:)....


Setelah membaca surat dari Kakaknya, Aisyah semakin sedih ia menangis sambil memeluk erat surat itu dan memanggil nama Kakaknya dalam kesedihannya. Aisyah terbayang-bayang masa-masa kecilnya bersama Kakaknya yang selama ini sangat sayang dan perhatian kepadanya dan kini, ia pikir tidak ada lagi yang akan mendengar keluh kesahnya dan ia tidak bisa bermanja lagi dengan Kakaknya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2