Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 210 Keluarga Harmonis


__ADS_3

Pandangan Azmi mengarah kepada kedua wajah-wajah Adiknya yang sedari tadi memandangi dirinya dengan tatapan yang sangat dalam dan ekspresi yang begitu datar.


" Weslah, Mas. Batalin aja puasanya, Mas Azmi pucat sama lemas kaya gitu, lho." ucap Naufal dengan suara lirih yang terus memandangi Masnya.


" Benar, Mi. Daripada kamu kenapa-napa nanti, " sambung Aban.


" Enggak, aku gak papa. Udah setengah hari masa mau batal, kan eman. Masih kuat bernafas gini lho," ucap Azmi meyakinkan semuanya bahwa dirinya baik-baik saja dan masih sanggup untuk melanjutkan puasanya.


" Mas Azmi beneran gak papa?" tanya Rara kembali dengan tatapan dalamnya kepada Azmi.


Azmi tersenyum mendengar pertanyaan Adiknya itu ia mengusap lembut kepala Adiknya dengan masih tersenyum manis.


" Iya, Mas gak papa. " jawab singkat Azmi sambil mengelus sebentar kepala Adiknya.


" Assalamualaikum," ucap Ali berdiri tepat didepan pintu kamar Azmi.


" Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab semuanya.


" Ahkam, Aban, ayo turun. Perintah Kyai, " Ali.


Ahkam dan Aban mengangguk mendengar ucapan Ali dan mereka hendak bangun.


" Mas, Ban. Aku ikut, " ucap Azmi.


" Udahlah, Mi. Kamu disini aja, bobok." Ahkam.


" Istirahat aja dulu, Mi. Kyai juga tau keadaan kamu, " sambung Aban.


" Kalian ini, terlalu perhatian sama aku. Udah tenang aja, aku gak akan pingsan lagi nanti. Insya Allah," ucap Azmi dengan wajah begitu serius menatap bergantian ke arah Ahkam, Aban dan terakhir Ali.


Aban dan Ahkam sempat terdiam mereka saling toleh hingga akhirnya Ahkam mulai menganggukkan kepalanya.


" Yo wes, kasih aja. Ayo brother, " ajak Ahkam.


" Aku ikut juga, Mas. " Naufal.


" Rara juga, " sambung Rara.


" Iya, ayo, ayo, " ajak Azmi.

__ADS_1


Mereka semua pergi bersama turun untuk menghampiri Kyai.


Kepala Azmi, Ahkam, Aban, Naufal, Rara dan Ali mereka semuanya tertunduk saat menghadap Kyai.


" Lho, Azmi. Kamu kenapa turun, nak. Masih panas gini badannya." ucap Ummi Azmi mengelus kepala Azmi dengan penuh kasih sayang dan perhatian ia juga menyentuh dahi Azmi mengecek suhu tubuh Azmi ketika Azmi datang mendekatinya.


" Gak papa, Ummi. Panasnya udah reda dikompres Naufal," Azmi.


Ummi Azmi tersenyum atas jawaban putranya.


" Azmi bisa dirumah sampai lebaran nanti. Karena semua anak-anak Syubban saya pulangkan nanti malam, semua acara kita tidak terima dahulu. Saya tidak ingin santri-santri saya yang lain nanti kelelahan apalagi sudah mau lebaran. Jadi saya liburkan dulu, " Kyai.


" Alhamdulillah, " ucap serentak semua anggota Syubban terutama Udin yang mengucapkannya dengan penuh semangat dan keras membuat semua orang tertawa atas kelakuannya itu.


" Azmi banyakin istirahat, jangan main hape terus." Ustadz Mustafa.


" Siap Ustadz, " Azmi.


" Maaf Ustadz, Azmi pasti memang suka main hape terus, ya?" tanya Ummi.


Ustadz Mustafa tersenyum atas pertanyaan Ummi Azmi yang membuat Azmi tertunduk dan semua pandangan menuju ke arahnya.


" Maaf Ustadz, biar saya saja yang jawab. Permisi Ummi, saya sebagai seniornya Azmi yang selalu satu kamar sama dia mengaku kalau Azmi ini emang sering banget main hape, gak ada satu menit aja tanpa gak lihat hape," ucap Ahkam menjawab pertanyaan Ummi Azmi dengan antusias.


" Oh, kalau gitu nanti Ummi sita aja hapenya. Ini yang buat kamu jarang muraja'ah. Mbok ya, kalau punya hape dipergunakan untuk hal-hal yang berfaedah aja tho le, " Ummi Azmi.


" Azmi sering lihat korea-korea itu juga Bu, opo iku jenenge, mboh lah. Gak ruh aku, pokok'e iku," Udin.


Ucapannya itu membuat Azmi kaget dan mengangkat kepalanya mengarahkan pandangannya kepada Udin.


" Mboten, Mmi. Jangan dipercaya, aku gak kaya gitu lho, " ucap Azmi menggebu agar Umminya percaya kepada dirinya.


Ummi Azmi hanya bisa tersenyum ketika Azmi menjawab perkataan Udin.


" Iya, iya. Ummi percaya sama Azmi, tapi harus bisa nunjukkin kalau perkataan kamu itu benar, " Ummi Azmi sembari mengelus kepala putra sulungnya itu dengan lemah lembut dan Azmi membalasnya dengan senyuman manisnya sambil mengangguk mengiyakan perkataan Umminya.


" Ya sudah, kami mau pamit pulang. Azmi, ingat harus istirahat yang cukup." Kyai.


" Nggih, Kyai." jawab Azmi dengan anggukan kepala satu kali.

__ADS_1


Kyai mulai bangun untuk berpamitan, serentak semuanya ikut berdiri dan Azmi menyalam tangan Kyai dengan kedua tangannya, Azmi juga mencium tangan Kyai cukup lama ia meminta barokah dari Kyai yang sudah membawanya sukses.


Karena berkat Kyailah, Azmi bersama dengan anggota Syubban lainnya sukses seperti sekarang ini.


Kedua Adik Azmi juga ikut mencium tangan Kyai atas perintah Ummi mereka. Semua anggota Syubban, Syafiq, Hamdi dan Ustadz Mustafa mereka satu-persatu menyalam tangan Ummi Azmi, kedua Adik Azmi dan Azmi juga ikut bersalaman dengan mereka.


Sungguh suasana hari itu penuh haru.


" Kami pamit dulu, assalamualaikum, " Kyai bersama dengan yang lainnya yang ikut mengucap salam.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabaraktuh, " jawab Azmi, Ummi dan kedua Adik Azmi.


Aban, Ahkam dan Muhklis masih sempat-sempat saja menoleh ke arah Azmi memberikan lambaian tangannya membuat Azmi tersenyum haru melihat itu. Azmi juga ikut melambaikan tangannya pelan kepada semua temannya yang pamit pulang meninggalkan dirinya untuk sementara.


Semuanya sudah pergi, Azmi duduk disofanya dengan kondisi yang masih lemah. Ummi yang melihat putranya segera menghampirinya begitu juga dengan kedua Adik Azmi yang mendekat kearah Masnya yang menyenderkan tubuhnya pada sofa lembut dan tangan kanan yang menutupi dahinya.


" Mas, gimana rasanya? Apanya yang sakit? Ummi anterin ke Dokter, kamu batal puasa dulu juga gak papa, kalau kamu gak kuat, " Ummi Azmi dengan suaranya yang lembut menanyakan semua itu kepada Azmi sembari meletakkan tangan kanannya pada pundak Azmi.


Mendengar Umminya yang tengah bicara kepada dirinya Azmi langsung duduk tegak dan memandang ke arah Umminya.


" Gak papa, Ummi. Paling dibawa tidur juga udah sembuh, Azmi masih kuat buat puasa," ucap Azmi.


" Mukanya Mas Azmi pucat banget lho, " Rara.


" Iya, Mas. Jangan mengentengkan penyakit Mas Azmi, kalau penyakitnya Mas itu bahaya gimana?" tambah Naufal dengan wajahnya yang begitu serius.


" Hushhh! Ojo ngomong ngono tho, Fal. Naudzubillah," ucap Azmi sedikit nada keras.


" Ya, habisnya. Aku kan takut kalau Mas Azmi kenapa-napa, maaf." Naufal dengan nada pelan dan menundukkan kepalanya pada akhir kalimatnya karena takut dimarahi Azmi yang menatap dirinya.


" Gak papa, sayang. Doain aja semoga Mas Azmi cepat sembuh dan gak kenapa-napa," Ummi sembari mengelus pundak Naufal membuat Azmi merasa sedih melihat Adiknya yang sangat mengkhawatirkannya dan ia merasa bersalah karena telah memerahi Naufal.


" Mas minta maaf, Naufal tenang aja, bentar lagi Mas pasti sembuh. Lawan ps nanti sama Mas, berani, gak? " Azmi untuk menghibur Adiknya walau wajahnya masih pucat.


" Oke, siapa takut? Makanya Mas cepat sembuh, " Naufal.


" Terus Rara main sama siapa? " ucap Rara dengan wajah polosnya membuat semua seketika hening memandang ke arah Rara.


" Rara main sama Ummi, nanti. Sini, " Ummi mengajak Rara untuk duduk disampingnya sambil memeluk tubuh mungil Rara.

__ADS_1


Mereka semua tertawa sangat gembira, sungguh keluarga Azmi adalah keluarga yang begitu harmonis.


Bersambung...


__ADS_2