Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 90. Sahabat


__ADS_3

Tidak lama kemudian sampailah mereka di pesantren, pak satpam yang masih belum pulang karena menunggu kedatangan Kyai, siap untuk membukakan pintu gerbang.


" Terimakasih pak, " ucap Kyai dari dalam mobil sembari tersenyum kepada pak satpam.


" Sama-sama Kyai, silakan. " pak satpam dengan keramahannya.


Mobil Kyai dan ustadz Mustafa terpakir bersebelahan, pesantren terlihat sudah sepi hanya ada beberapa santri yang masih beralalu lalang.


" Ya sudah, kalian semua istirahat , karena besok kalian harus memulai aktifitas seperti biasa lagi. " Kyai.


" Baik Kyai, " jawab semua santri.


" Tunggu!, " Ustadz Mustafa seketika kepada para tim Syubband yang hendak menyalam tangan Kyai.


" Ada apa ustadz?, masih ada yang mau dibicarakan, kah?." tanya Kyai.


" Iya Kyai, sebentar saja. " Ustadz Mustafa menghampiri Kyai dan anggota Syubband.


" Ada apa, ustadz?. " tanya Azmi.


" Besok saya ingin bertemu kalian, kita latihan besok selesai kalian mengaji di sore hari, bisa?. " Ustadz Mustafa.


" Ada apa ustadz, kita mau latihan lagi?. " tanya Ali.


" Iya, saya ingin melatih kalian besok, karena besok saya memiliki waktu luang, " jawab ustadz Mustafa.


" Ya sudah anak-anak, kalian mau saja, lagi pula setelah sekolah sore itu waktu kalian santai-santai, kan?. " Kyai memandang satu-persatu santrinya.


Anggota Syubband tidak cepat menjawab mereka saling toleh satu sama lain dan ragu untuk menjawab sedangkan, Azmi hanya bisa terdiam dengan matanya yang sudah merah dan pecinya yang jomplang menunggu keputusan seniornya.


" Baik ustadz, kita bisa. " jawab Ahkam tegas.


" Alhamdulillah, kalau gitu kalian istirahat sekarang. Sampai ketemu besok ya, semuanya, " Ustadz Mustafa.


" Iya ustadz, " jawab semuanya dengan kompak.


Di mulai dari Ahkam, satu-persatu dari mereka menyalam tangan Kyai dan ustadz Mustafa sembari mengucap salam setelah mencium telapak tangan Kyai dan ustadz.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Kyai bersama dengan ustadz Mustafa.


Para anggota Syubband mulai melangkah menuju kamar mereka, Akmal terlihat sangat pucat, Ali yang mengetahui hal itu segera menghentikan langkah Akmal dengan menarik tangan Akmal.


" Mal, kamu kenapa?. " tanya Ali menunjukkan wajah khawatirnya.


Semua anggota ikut menghentikan langkah mereka mengingat penyakit yang diderita Akmal.


" Enggak kok Li, aku baik, gak papa, " jawab Akmal dengan nada pelan sembari memalingkan wajahnya sekilas memandang Ali dan teman-teman lainnya dan kembali menunduk.

__ADS_1


" Mal, mukamu pucat, apa ada yang sakit Mal?. " tanya Ahkam ikut khawatir.


" Mas Akmal, kalau ada yang sakit bilang aja, nanti kita lapor sama Kyai. Supaya mas Akmal di bawa kerumah sakit. " ucap Azmi takut Akmal kenapa-napa.


" Enggak mas Ahkam, Azmi, aku gak sakit kok, " Akmal berusaha tegar dan memberanikan diri menatap Ahkam dan Ali.


" Mal, sampean tenan gak opo'o, yang jujur toh Mal, " tambah Udin memakai logat jawanya ia ikut khawatir dengan keadaan Akmal.


Akmal memandang Udin sembari tersenyum.


" Kalian ini terlalu khawatir sama aku, aku serius kok. Aku gak papa, tenang aja, sekarang kita istirahat ya, ayo, mata kalian semuanya udah pada merah itu, ayo, " Akmal mencairkan suasana dengan ucapannya yang lembut dan tegas seolah ia baik-baik saja.


Anggota Syubband tetap terdiam memandang Akmal karena mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Akmal.


" Lho, kok bengong toh?, ayo, kalian semua gak ngantuk apa?. " Akmal memandang semua temannya yang masih ragu dengannya.


" Ya udah, ayo semua, kita ke kamar masing-masing," ajak Muhklis sembari mengusap matanya yang mengeluarkan air akibat ngantuk dan kelelahan.


Ahkam menganggukkan kepalanya.


" Ayo semuanya, " ajak Ahkam mulai melangkah.


Azmi dan semuanya juga mulai melangkah menuju kamar mereka masing-masing.


Sampainya di kamar, Azmi langsung merebahkan dirinya di kasur empuknya sembari memeluk erat gulingnya dan memejamkan matanya.


Azmi segera mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Mukhlis dengan peci yang masih terpasang mencong tidak karuan di kepala Azmi.


" Aku ngantuk banget bang, " ucap Azmi setengah terpejam dan kembali memeluk erat gulingnya.


" Mas, bang, aku jadi kepikiran sama mas Akmal. Dia benar baik-baik aja gak, ya?," tanya Aban yang duduk di kasurnya dengan mata yang sudah merah.


" Iya, sama Ban, semoga aja Akmal benar-benar gak papa, " ucap Ahkam memandang Aban.


Mendengar itu Azmi kembali duduk dan melepas pecinya.


" Semoga aja mas Akmal gak nyembunyiin rasa sakitnya mas, aku khawatir mas Akmal udah tau penyakitnya terus dia gak mau kita khawatir , " ucap Azmi menunjukkan ekspresi serius sembari memandang Ahkam.


" Jangan sampai gitu Mi, aku kasihan banget sama Akmal, " Muhklis menunjukkan kekhawatirannya.


" Semoga aja gak Mi, " tambah Aban.


" Kita berdoa aja buat Akmal, semoga dia lekas sembuh dari penyakitnya. " Ahkam.


" Aamiin..." ucap semuanya, Azmi mengusap wajahnya setelah mengucap aamiin.


" Yo wes, sekarang kita tidur, " Muhklis.

__ADS_1


" Aku matiin lampunya, kalian cepat siap pada posisi. " Ahkam yang berdiri hendak mematikan lampu.


" Oke siap, " ucap Azmi segera merebahkan dirinya begitu juga dengan Muhklis dan Aban.


Cklek....


Lampu di matikan suasana mulai gelap dan tak nampak apapun, perlahan Ahkam berjalan menuju kasurnya dengan perasaan karena ia tidak bisa melihat apapun di kondisi kamar yang gelap.


Ahkam duduk di kasurnya ia masih membuka matanya.


" Kalian udah pada tidur?. " tanya Ahkam iseng.


Tidak ada jawaban, sunyi...


" Oke, tidur yang nyenyak, semoga mimpi indah. " ucap Ahkam mulai merebahkan dirinya membaca doa sebelum tidur dan memejamkan matanya.


Suasana pesantren sangat sepi, angin malam sepoi-sepoi menemani kesunyian malam.


...**********************...


Akmal belum tidur dan memilih untuk duduk di luar kamar menikmati dinginnya malam sembari memandangi pesantren. Ali yang mengetahui Akmal masih diluar ikut menghampirinya dan duduk di sampingnya.


" Belum tidur Mal? , malam semakin larut lho, " ucap Ali memandang sahabatnya yang asyik menimati suasana malam.


" Entar lagi Li, coba deh lihat pesantren kita. Waktu malam gini, semuanya pada istirahat tapi, besok semuanya kembali ramai, semuanya kembali menuntut ilmu di pesantren ini." Akmal sembari tersenyum sekilas menoleh ke arah Ali dan kembali memandang suasana sunyi pesantren.


" Iya Mal, gak kerasa hampir 6 tahun kita nyantri di sini, " Ali.


Akmal tertawa kecil dan mulai memandang Ali.


" Iya Li, dan sebentar lagi kita akan bertemu dengan perpisahan, " Akmal.


" Tapi Mal, kita masih bisa kok chatan lewat Whatsapp, kita masih bisa komunikasi, jaman kan udah canggih sekarang." Ali.


Akmal kembali tertawa kecil.


" Kamu benar Li, tapi semua itu gak ada apa-apanya dari apa yang kita lakuin sama-sama di pesantren ini, kalau aku udah ninggalin pesantren ini, yang aku pengen cuman 1, " Akmal mengalihkan pandangannya pada gedung pesantren yang ada di hapannnya.


" Apa Mal?. " tanya Ali dengan nada pelan dan wajah yang bingung.


" Aku pengen semua teman-teman aku ada di sisi aku, " ucap Akmal dalam.


Ali melukiskan senyumnya dan merangkul sahabatnya itu layaknya seorang santriwan yang menyemangati sahabatnya.


" Pasti Mal, kita semua akan ada buat kamu. " Ali menepuk pundak Akmal.


Akmal memandang Ali dan tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca ia menahan kesedihannya kepada Ali yang tengah menyemangatinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2