
Para santri merasa keringat dingin melihat wajah-wajah penguji mereka yang terlihat tegas apalagi untuk kelas 11 dan 12 yang diuji langsung oleh Kyai, Ali yang lemas berusaha untuk menjawab pertanyaan Kyai dengan benar begitu juga yang dilakukan oleh santri yang lain. Mereka semua tidak ingin mengulang lagi pelajaran kitab yang sudah mereka selesaikan selama satu tahun.
Walau penguji kelas pemula adalah Ahkam, Azmi dan Aban tidak berani main-main mereka sangat serius. Azmi sangat tegas menjawab walau kadang ia juga sedikit terbata-bata karena gugup dan sempat lupa. Ahkam melakukan tugasnya dengan baik ia bersikap profesional dengan sikapnya yang berwibawa ia menguji semua santri pemula sampai selesai.
" Alhamdulillah, ujiannya sudah selesai semua. Cukup baik, seperti Kyai bilang, nilainya akan diberitahu setelah selesai acara kemah ini yang dilakukan 3 hari. Kalian berdoa saja semoga kalian bisa lulus dan tahun depan bisa naik kelas ke sifir awal, sukses buat kalian semua! Barakallah, itu saja yang saya sampaikan, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Ahkam sudah menyelesaikan tugasnya dan hendak kembali ketempatnya.
" Wa'alaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh, " jawab semuanya.
" Alhamdulillah, berakhir sudah deg-degannya. " Rifki sambil menepatkan tangannya pada dadanya.
" Semoga kita semua lulus dan tahun depan bisa lanjut belajar kitabnya, " Azmi.
" Aamiin, " ucap semuanya kecuali Zakir.
" Semoga aja, Azmi gak lulus, aamiin." ucap Zakir dengan santainya menatap tajam Azmi sekilas dan kembali berpaling.
" Maksud kamu ngomong gitu apa, Kir? Kamu kok jahat banget, sih? Pengen Azmi gak lulus, " sentak Rifki mendekati Zakir.
" Zakir, kamu gak ingat apa kata pak Ustadz Ridwan, setiap doa yang kita ucapkan, ada malaikat yang mendengar dan malaikat mengaminkan doa kita sembari berkata: Aamiin, untukmu juga. Jadi kamu gak boleh Kir, doain orang yang gak baik, " jelas Azmi suara tegasnya tidak menggerakkan hati Zakir yang terlihat sangat membenci dirinya.
" Aku yakin Azmi pasti lulus, tadi kamu gak ada ketukan salah kok Mi, dari mas Ahkam. Jadi kamu pasti lulus, Mi. " ucap Aban menepatkan tangannya kepada pundak Azmi.
" Aamiin, makasih Ban, " Azmi dengan senyum manisnya.
" Iya, ya, ya! Terus aja belain orang munafik ini. Aku bingung ya, sama kalian. Apa yang kalian lihat dari orang kaya dia? Orang kaya dia ini bisanya cuma caper ke semua orang supaya dirinya dipuji. Ya kan, Azmi? Dahlah ngaku aja! " ucap Zakir ia juga mendorong lengan Azmi keras.
Azmi berusaha menahan emosinya sembari menghela nafasnya. Lain halnya dengan Rifki yang sudah sangat marah dan menarik kerah baju Zakir.
" Jangan sembarangan ngomong, Kir! Azmi gak kaya gitu! Dulu aku pernah termakan sama omonganmu tentang Azmi itu pencuri. Tapi, sekarang gak akan! Aku akan selalu memihak sahabatku! " Rifki terus mengenggam erat kerah baju Zakir dengan kedua tangannya dan juga mendekatkan wajahnya.
Azmi segera melepas tangan Rifki dari kerah baju Zakir dan mencoba menenangkannya.
" Mi, kamu gak dengar apa? Zakir itu udah ngomong seenaknya tentang kamu!" Rifki yang tidak terima ketika Azmi melerainya.
Azmi melihat ke arah Zakir yang juga sudah malas berada disana ia pergi begitu saja untuk beristirahat masuk ke dalam tenda.
" Mau ngapain, hah? Kamu pikir dengan emosi semuanya bisa terselesaikan? Dengan kamu marah-marah kaya gitu, apa Zakir bisa berubah buat gak ngebenci aku?" Azmi dengan suaranya yang tenang dan adem membuat Rifki mulai diam dan mengerti.
Rifki menoleh ke arah Azmi dan mengangguk pelan.
" Iya Mi, kamu benar, " Rifki.
__ADS_1
" Azmi, kamu tenang aja. Aku sama Helmi akan berusaha membuat Zakir sadar. Aku juga bingung kenapa Zakir bisa benci sama kamu, " Sihin.
" Dari masuk pondok, Zakir memang udah gak suka Mi, sama gaya kamu, mungkin dia iri kali, soalnya kamu lebih ganteng dari dia. Kamu juga banyak temannya, " Helmi.
Azmi tertawa kecil mendengar semua perkataan Sihin dan Helmi yang sangat serius.
" Insecure tuh si Zakir, padahal dia ganteng juga lo, kalian semua juga ganteng, " Azmi.
" Serius Mi, emang aku ganteng, ya?" tanya Rifki tatapan sangat serius kepada Azmi yang malah tertawa kecil.
" Ya, iyalah, kalian semua ganteng, kalau cantik itu kan buat cewek, " Azmi.
Mendengar semua itu Rifki tidak jadi bangga dan yang lain terus tertawa melihat wajah Rifki yang kecewa.
" Harap semua santri segera wudhu karena sebentar lagi masuk waktu duhur. Segera berbaris dan Ustadz Abdullah akan menunjukkan jalan ke tempat wudhu! " ucap Ustadz Ridwan dengan speakernya.
Para santri dengan cepat berhamburan dari tempat istirahat mereka masuk barisan sesuai arahan Ustadz Abdullah.
" Jangan ada yang jalan sendiri, ya, " Kyai.
" Baik Kyai, " ucap semua santri.
" Ayo, ikuti Ustadz, " Ustadz Abdullah mulai melangkah menuju tempat wudhu yang sudah tersedia di sana.
" Masya Allah, indahnya, " ucap Rifki matanya menoleh ke depan, kiri dan kanan menikmati indahnya pemandangan begitu juga dengan santri yang lain.
Zakir yang tidak suka dengan jalan lambat teman-temannya langsung saja menyerobot dan sengaja menyenggol Azmi hingga Azmi tidak bisa menjaga keseimbangan tangannya terkait pada duri sebuah pohon hingga mengeluarkan banyak darah kepalanya juga terbentur di pohon yang besar.
Aban dan Rifki langsung berhenti melangkah dan menghampiri Azmi.
" Mi, gak papa, Mi? " tanya Aban yang khawatir melihat Azmi meringis kesakitan memegangi tangannya.
" Enggak, gak papa, " jawab Azmi pelan menyembunyikan tangannya yang berdarah.
" Zakir benar-benar, ya. Udah tau kondisi jalannya banyak pohon kaya gini, dia masih aja nyenggol kamu, " Rifki.
" Udah, gak papa kok," Azmi tenang.
" Azmi, Aban, Rifki, ayo jalan! Keburu ketinggalan tuh, " ucap Ahkam yang melihat mereka.
" Iya mas, " teriak Aban.
__ADS_1
" Ya udah, ayo, keburu kita kehilangan jejak, " Azmi.
Aban dan Rifki mengangguk mereka mempercepat langkah mereka mengejar barisan.
Sesampainya pada tujuan terlihat sumber air yang sangat jernih berupa pancoran deras tidak hanya itu ada juga kamar mandi yang sudah tersedia langsung agar mempermudah orang yang berkemah atau sekedar piknik di sana.
" Jaman makin keren aja, orang kemah udah langsung ada kamar mandinya, " Aban.
" Iya, ya, Ban, dulu waktu Sd gak ada kaya beginian lo, " Rifki.
" Seger banget nih, ayo cepetan wudhu, " Azmi langsung berdiri di samping Zakir yang sudah hendak berwdhu melipat lengan bajunya.
Ketika Azmi melepas pecinya, Zakir melihat dahi Azmi yang biru dan tangan Azmi yang masih berdarah.
" Kenapa tuh?" tanya Zakir dingin.
" Gak papa, " jawab Azmi singkat.
Azmi segera membersihkan darahnya dengan cepat ia juga langsung menepatkan wajahnya pada pancoran air hingga wajahnya mengenai air yang sedang mengalir deras.
Zakir yang sedari tadi sedang memperhatikan Azmi dengan tatapan sinisnya juga ikut wudhu di air yang segar itu.
Para santri yang lain mengantri di belakang mengetahui jumlah pancoran tidak terlalu banyak dan jumlah para santri yang ratusan.
Setelah wudu Azmi memasang pecinya dan berdiri di dekat bebatuan, tidak lupa Azmi membaca doa setelah wudhu. Wajah Azmi terlihat cerah dengan air wudhu yang sedikit masih ada dan mengalir membuat wajah Azmi berseri-seri.
Azmi kembali melihat tangannya mengecek agar darahnya tidak keluar lagi.
" Alhamdulillah, untung udah gak keluar lagi. " Azmi melihat tangannya yang hanya ada bekas luka.
" Heh!" ucap Aban menepuk pundak Azmi membuat Azmi seketika menoleh ke arahnya.
" Ngagetin aja kamu Ban, " Azmi.
" Eh Mi, kamu tadi kenapa buru-buru banget, sih? Udah wudhu ninggalin kita, habis itu ngomong sendiri lagi di sini, " ujar Rifki yang berdiri di sebelah Aban.
" Iya maaf, aku cuma gak mau ngantri. Makanya aku buru-buru tadi, " jawab Azmi beralasan.
" Ayo, semuanya sudah selesai, kita kembali ke tempat untuk melaksanakan sholat duhur! " Ustadz Abdullah.
Para santri kembali berbaris dan berjalan dibelakang Ustadz Abdullah tanpa sengaja Zakir berjalan di sebelah Azmi dengan raut wajah sinisnya kepada Azmi yang berusaha ramah walau Zakir hampir mencelakakan dirinya.
__ADS_1
Dengan peci yang jomplang dengan sedikit rambut yang terlihat dan jaket yang di lipat bagian tangannya sampai memperlihatkan sedikit tangannya yang putih Azmi melantunkan sholawatnya bersama Ahkam dan Aban membuat semua santri mengikutinya dengan semangat membuat suasana menjadi semakin menyenangkan.
Bersambung...