Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 74. Berhasil Menampilkan Yang Terbaik.


__ADS_3

Azmi mulai menerima mikrofon yang diberikan peserta sebelum Azmi yang turun dari panggung. Azmi melangkah perlahan menaiki panggung dan menatap semua peserta, juri ,dan ustadz Abdullah yang tiba-tiba sudah duduk di bangku Azmi untuk mendukung Azmi sembari memberi kedua jempolnya.Azmi merasa sangat tegang melihat ustadz Abdullah karena dakwah yang akan ia sampaikan berbeda dengan apa yang ustadz Abdullah berikan.


Azmi menarik nafasnya dan Bismillah ia ucapkan sebelum memulai dakhwahnya.


" Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh." Azmi mulai mengucap salam dengan suaranya yang tegas.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " jawab semua yang ada disana.


" Maaf, boleh saya sholawat dulu dewan juri. " Azmi.


" Ya, tentu nak. " ucap salah satu juri.


Azmi mengangguk dan menegakkan dirinya, ia kembali memandang ustadz Abdullah.


" Kamu jangan pikirin apapun yang dapat membuat dakwahmu berantakan Mi, pikir saja apa yang akan kamu sampaikan. " suara Ahkam terdengar dari telinga Azmi.


Azmi menegakkan tubuhnya dan memulai sholawat nabinya dengan suaranya yang lantang membuat kagum juri dan semua peserta. Pertama ustadz Abdullah hanya tersenyum dan mengira mungkin itu hanya tambahan dari Azmi tetapi ketika Azmi selesai sholawat......


"Baik, saya memulai sholawat di awal karena saya ingin memberitahu keutamaan sholawat dalam dakwah saya yang bertema " Semangat sholawat untuk baginda nabi Muhammad." Azmi.


Seketika ustadz Abdullah mulai bingung.Azmi memulai dakhwahnya dengan sangat lancar tanpa salah kata sedikitpun keahliannya ketika membaca ayat Qur'an dengan suara indahnya membuat Azmi memiliki nilai plus dari juri. Azmi berhasil membuat seisi ruangan kagum dengan gaya dakwah Azmi yang sangat khas.


Awal ragu dan bingung tapi setelah mendengar apa yang di sampaikan Azmi, ustadz Abdullah melukiskan senyumnya dan kagum dengan tema yang dibawa oleh Azmi.


**********


Tidak kalah dengan Azmi, Aisyah juga berhasil menaklukkan hati semua orang yang mendengar dakwahnya yang bertema " Keutamaan menjadi santri. " Aisyah juga berhasil membuat mata semua orang berkaca-kaca dengan penyampaian yang lembut dan penuh penghayatan. Aisyah juga memiliki suara yang indah ketika membaca dalil membuat semua orang semakin terpesona dengan penampilan Aisyah.


" Jadi itu yang saya sampaikan,semoga bermanfaat ,wabilahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. " Aisyah.


" Baiklah selesai sudah penampilan dari saya, jangan lupa untuk semangat dalam berholawat karena nabi Muhammad Saw ,sedang menunggu kita disurga...


" Aamiin...." ucap semuanya sembari mengusap wajah mereka.


" Wabilahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabatakatuh." Azmi.


Aisyah dan Azmi juga menyelesaikan dakwah mereka secara bersamaan..


" walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " ucap semua dari santriwati maupun dari santriwan dengan tempat yang berbeda.


Semua memberikan tepukan tangan pada Azmi, sama halnya dengan Aisyah yang mulai turun perlahan dari panggung dan memberi mikrofonnya ke peserta selanjutnya.


" Hebat Aisyah, ustadzah bangga sama kamu. " ustadzah Lily mengelus kepala Aisyah yang baru datang dengan wajahnya yang berseri-berseri karena senang.

__ADS_1


" Terimakasih ustadzah, ini juga karena ustadzah. " ucap Aisyah memberi senyumnya memandang ustadzah Lily.


Sedangkan Azmi masih melangkah dengan sangat lambat menuju tempat duduknya dimana ustadz Abdullah sudah menunggunya sedari tadi.


" Azmi, " ustadz Abdullah kepada Azmi yang baru datang dengan kepala tertunduk.


" Kamu sangat hebat sekali dalam penyampaian dakwah, dalil, dan isi dari dakwah yang kamu bawa sampai kepada kita semua. " ustadz Abdullah.


Mendengar ustadz Abdullah memujinya, Azmi mengangkat kepalanya dan memandang ustadz Abdullah.


" Terimakasih ustadz," Azmi.


" Tapi kenapa tema dan dakwah yang kamu bawakan berbeda dengan tema dan dakwah yang ustadz berikan?." tanya ustadz Abdullah kepada Azmi yang kembali menundukkan kepalanya.


" Iya ustadz, saya minta maaf.Sebenarnya ,teks dakwah yang ustadz berikan hilang dan saya meminta bantuan mas Ahkam untuk membuatkan teks dakwah untuk perlombaan. " ucap Azmi terbata-bata sembari terus menunduk.


Melihat Azmi, ustadz Abdullah merasa kasihan ia menepatkan kedua tangannya di pundak Azmi dan menghadapkan Azmi tepat dihadapannya.


" Tidak apa-apa Azmi, mungkin itu akibat dari kecorobohan kamu, tapi ustadz bangga karena kamu tidak menyerah begitu saja dan kamu yakin bahwa kamu bisa melakukan ini. Masya Allah, teruskan ini, ustadz sangat bangga sama kamu Azmi." ustadz Abdullah dengan kedua tangannya yang masih ia letakkan di kedua pundak Azmi.


Azmi kembali memandang ustadz Abdullah dan tersenyum.


" Terimakasih ustadz, maaf juga untuk kecerobohan saya. " Azmi.


" Iya Azmi, " ustadz Abdullah sembari mengelus-ngelus pundak kanan Azmi.


" Iya ustadz. " Azmi yang mulai duduk di samping ustadz Abdullah.


Azmi dan ustadz Abdullah mulai memandang peserta yang tampil. Azmi merasa senang karena bisa menampilkan yang terbaik dan membuat ustadz Abdullah tidak memarahi dirinya.


Pesantren Al-Hidayah terlihat sangat ramai dengan para santriwan maupun santriwati yang ikut berpartisipasi dalam perlombaan tersebut.


Farist, Dimas ,Aban dan semua santri pondok pesantren Nurul Qadim menunjukkan kemampuan mereka dalam perlombaan yang mereka ikuti.


" Azmi,ustadz mau lihat santri yang lain, kamu di sini saja ya, " ustadz Abdullah.


" Saya ikut ustadz. " ucap Azmi.


" Sudah, kamu di sini saja, sebentar lagi perlombaannya selesai. " ustadz Abdullah.


"Tapi ustadz, ini masih lama masih ada sekitar 15 santri yang belum tampil." Azmi.


Ustadz Abdullah terlihat berpikir sembari memandangi satu-persatu peserta yang masih belum tampil dan ada peserta yang sudah tampil mondar-mandir di sekitaran pesantren.

__ADS_1


"Lagi pula, masih istirahat dulu ustadz, pengumuman lombanya masih lama, " Azmi.


" Ya sudah,ayo ." ustadz Abdullah.


" Alhamdulillah, terimakasih ustadz. " Azmi merasa senang karena sedari tadi ia merasa gelisah.


Azmi dan ustafz Abdullah mulai melihat penampilan santri dari Nurul Qadim, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Dimas,Farist dan empat santri dari ponpes Nurul Qadim.


" Ustadz Abdullah." Farits yang melihat ustadz Abdullah segera menghampiri ustadz Abdullah dan mencium tangan ustadz.


Dimas dan yang lainnya juga ikut mencium tangan ustadz Abdullah.


" Kalian kenapa berkeliaran?, udah tampil?." tanya ustadz Abdullah.


" Alhamdulillah, sudah ustadz. " Farist.


" Sudah ustadz, kita semua dapat nomer urut terdepan, jadi cepat. " ucap salah satu santri.


" Bagus, tapi saya tidak bisa melihat penampilan kalian. " ustadz Abdullah.


" Gak papa ustadz, kami bisa kok. " salah satu santri.


Dimas dengan wajahnya yang malas hanya memalingkan wajahnya sedari tadi.Seketika ia teringat dengan Azmi yang ia ambil teks dakwahnya.


" Azmi, kamu gimana ?,kamu bisa bawain dakwahnya?. " tanya Dimas kepada Azmi yang berdiri di samping ustadz Abdullah.


" Azmi, sudah menampilkan yang terbaik, bahkan berhasil membuat saya bangga." ucap ustadz Abdullah merangkul Azmi.


Mendengar perkataan itu membuat Dimas kaget.


" Kok bisa sih, kan teks dakwahnya ada di aku, harusnya Azmi gak bisa dakwah.Tapi kenapa ustadz Abdullah malah muji-muji Azmi?." Dimas didalam hati dengan tatapan tajamnya


" Ayo,kita lihat Aban, cuma dia yang tidak ada disini. " ustadz Abdullah.


" Iya ustadz, mungkin Aban masih belum tampil. " Farist.


" Kalau gitu, kita lihat Aban aja. " ucap salah satu santri.


" Ayo, ayo. " ajak ustadz Abdullah.


Mereka semua pergi menuju perlombaan Aban.Dimas masih memandang Azmi dengan tatapan tajamnya.


Saat Azmi ingin mengatakan sesuatu untuk mengajak Dimas pergi tetapi Dimas malah pergi begitu saja sebelum Azmi berbicara.

__ADS_1


" Baru aja mau ngomong, udah ditinggalin duluan, kenapa sih dia?. " Azmi dengan rasa bingung dan melangkah mengikuti ustadz Abdullah.


Bersambung......


__ADS_2