Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 141. Sangat Antusias.


__ADS_3

Hamdi terlihat sibuk, tangannya terus mengetik dan matanya sangat fokus pada layar komputer, membuat Hafsah yang sedari duduk di sebelahnya merasa bosan dan enggan menganggu Kakaknya. Hafsah memutuskan untuk mengambil hapenya. Entah apa yang ia lihat, matanya tiba-tiba melebar setelah menerima notifikasi dari hapenya.


" Wah, hebat banget, " ucap Hafsah begitu fokusnya membuat rasa ingin tau Hamdi muncul ketika melihat Adiknya yang sangat kaget.


" Ada apa sih, Dek? " tanya Hamdi penasaran.


Mendengar Kakaknya yang sedang bertanya, Hafsah menoleh dan memandang ke arah Hamdi.


" Kakak tau Nissa Sabyan, gak? " tanya Hafsah begitu antusias.


" Nissa Sabyan? " Hamdi terlihat bingung sembari mengingat-ngingat.


" Masa youtuber gak tau, itu lo Kak, penyanyi religi yang terkenal baru-baru ini, yang cantik itu, " Hafsah mencoba membuat Kakaknya menngenali sosok Nissa Sabyan.


Setelah mengecek hapenya, Hamdi menjadi tau dan ingat siapa yang dimaksud oleh adiknya.


" Ooo, ini. Yang cantiknya Masya Allah itu, kan? Ya taulah, " Hamdi.


Wajah Hafsah tiba-tiba datar.


" Iya, yang itu, " jawab Hafsah tetap dengan wajah datar.


" Emang kenapa? " tanya Hamdi.


" Sekarang si Nissa ini, udah jadi terkenal banget, followersnya juga banyak. Terus, manggung dimana-mana, satu hari dia sama Band gambusnya, udah dapat jutaan uang, Kak. Hebat banget, ya. " Hafsah mulai antusias sembari fokus menatap Kakaknya.


" Ya, namanya juga suaranya bagus, adem, lagunya juga banyak. Itu udah jadi rezeki dia sama Bandnya , Dek. Apalagi dia punya wajah yang cantik, " Hamdi.


" Biasa aja, masih cantikan Hafsah kali, " Hafsah memalingkan wajahnya dan terlihat ekspresinya yang sedang cemburu.


Mendengar ucapan Adiknya, Hamdi seketika terdiam sebentar dan tertawa terpingkal-pingkal, kepalanya juga geleng-geleng seolah sedang mengejek Hafsah.


" Ish, kok ketawa sih Kak? Emang masih cantikan juga Hafsah, cuma aku gak terkenal aja, " Hafsah nadanya agak keras dan tegas daripada sebelumnya.


Melihat Adiknya yang sedang ngambek dengan wajah ditekuk membuat Hamdi berhenti tertawa.


" Jangan ngambek, Dek. Kakak cuma bercanda kok, iya, iya, emang cantikan kamu kok.Kalau dilihat dari belakang." Hamdi marayu Hafsah tapi masih saja meledek Adiknya.


Hafsah tidak mau mendengarkan Kakaknya dan terus memainkan hapenya.Tiba-tiba ada video Azmi bersama Syubanul Muslimin tepat dibawah postingan Nissa Sabyan.


" Eh, ini kok ada Syubbanul Muslimin, " ucap Hafsah kembali kaget.


" Ah, masa, sih? " tanya Hamdi mendekatkan kepalanya agar bisa melihat apa yang ada di hape Hafsah, tapi Hafsah malah menjauhkan hapenya.


" Kepo, mendingan Kakak lanjutin kerjanya," Hafsah.

__ADS_1


" Tapi, ini udah selesai, Kakak juga tiba-tiba ingat sama Azmi dan tim hadrohnya itu, " Hamdi.


" Nah, iya kan. Pasti Kakak juga pengen kalau nanti tim Syubban sukses dan terkenal kaya Nissa Sabyan, iya, kan? " Hafsah.


" Kalau itu Kakak masih gak tau, " Hamdi.


" Tapi emang belum ada tuh, tim hadroh sama santri yang terkenal, kalau menurut aku, mereka bisa kok, terkenal. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini Kak, " jelas Hafsah.


"Hmmm, kamu benar juga sih, santri itu dikenalnya karena pintar berdakwah, hafal Al-Qur'an, belum pernah kakak lihat seorang santri yang terkenal di bidang musik. Dan kalau pun ada, ya terkenalnya gitu-gitu aja, di satu wilayah. " lamun Hamdi terkadang ia juga menatap ke arah Hafsah yang sedang mendengarkan.


" Itu Kakak paham, aku yakin mereka bisa mengubah dunia ini nanti Kak," Hafsah.


Hamdi tertawa kecil dan menghela nafasnya.


" Kamu kok yakin banget sih, Dek? " Hamdi.


" Ini filling aku, Kak. Gak tau kenapa aku merasa mereka ini adalah generasi muda yang bisa mengubah pandangan dunia tentang santri. " Hafsah penuh keyakinan.


Hamdi kembali tertawa sekilas dan menatap Hafsah fokus.


" Tapi ngomong-ngomong, sebentar lagi hari pulangan para santri, kan? " Hamdi.


" Yang benar, Kak? " tanya Hafsah antusias.


" Maka dari itu, kita cepat-cepat deh, ngelatih mereka, " Hafsah.


" Kakak masih belum tau, Dek. Ini aja Kakak masih sibuk, tapi kalau mereka bisa buat lagu sendiri dan bisa membawakan lagu ke semua orang, baru tuh, " Hamdi tidak meneruskan ucapannya.


" Baru apa? " tanya Hafsah.


" Hebat, " jawab Hamdi singkat membuat wajah Hafsah ditekuk dan kesal dengan tingkah Kakaknya.


Dalam pikirannya, Hafsah masih berharap kalau tim Syubban bisa maju dan terkenal seperti Nissa Sabyan yang sekarang ia lihat di youtube. Hafsah mulai merenung sembari memegangi dahinya.


__


__


__


Lain halnya dengan Hafsah, Mufti bersama teman-temannya yang baru saja selesai latihan sangat kesal melihat video Azmi dan anggota Syubban yang sedang bersholawat di sebuah acara. Mata Mufti begitu tajam terus menatap layar handphonenya.


" Muf, kenapa lo? " tanya salah satu teman Mufti yang khawatir melihat wajah Mufti.


" Gue heran aja sama orang-orang, kenapa mereka bisa senang banget sama tim hadroh kampung ini? " ucap Mufti penuh kebencian menatap tajam semua teman Bandnya secara bergantian.

__ADS_1


" Yang gue dengar, mereka makin terkenal. Ya, tapi cuma di kampung ini, sih. Terus, mereka dapat banyak undangan buat ngisi acara, " anggota Band 1.


" Penampilan mereka banyak disukai orang kampung ini, gue juga dapat info kalau tim hadroh kampung ini, selalu menang dalam setiap perlombaan. " sambung anggota Band 2.


Mendengar semua ucapan teman-temannya membuat Mufti semakin panas dan kesal, dengan spontan ia melempar botol bekas minumannya dengan keras dan hampir saja mengenai salah satu anggota Band.


" Sabar Muf, lo jangan marah gitu, " salah satu anggota Band mencoba menenangkan Mufti yang terlihat sangat kesal ia sungguh tidak suka mendengar anggota Syubban terus di puji oleh masyarakat sekitar.


" Argghhh!!!! Ini gak bisa dibiarin, masa iya, tim hadroh kampung kaya mereka bisa jauh lebih dikenal dari pada kita. Kakak gue sendiri aja, lebih ngedukung mereka daripada gue, " ucap Mufti penuh kebencian.


" Tenang Muf, kita celakain aja mereka waktu selesai acara, biar mereka semua kapok dan gak akan lagi sholawatan!" seorang anggota Band mendekati Mufti dan duduk tepat di samping Mufti yang sedang berdiri terus memegangi kepalanya.


Mendengar ucapan temannya, Mufti memiliki suatu rencana. Ia menoleh ke arah temannya itu yang juga sedang memandang dirinya, senyum licik dan tatapan sinis sangat terlihat jelas dalam wajah Mufti.


__


__


__


Tek, dung-dung, tek.


Para anggota hadroh asyik berlatih mencoba-coba membuat tabuhan musik rebana dengan alunan yang berbeda. Mereka semua berkombinasi membuat tabuhan rebana yang sangat asyik dan enak di dengar.


Saat semua anggota hadroh terus membuat alunan musik dengan semangat, para vocal hanya bisa tersenyum mereka berdecak kagum ketika alunan rebana yang berbeda dan sangat enak didengar.


" Stop, stop! " Udin berhenti menabuh.


" Apa sih, Din? Ganggu aja, " Firman.


" Iya tuh, tadi udah bagus lo, tabuhannya," Ali.


" Masa kita asyik nabuh, ketiga vocal iki gak sholawatan, " Udin.


" Oh iya, lupa, ayo kalian sholawatan, " suruh Ali.


" Nih, mikrofonnya, " Firman memberi tiga mikrofon yang sudah tersedia kepada para vocal.


" Ayo Mi, Ban, " ajak Ahkam.


Ketiga vocal itu mulai bersholawat dengan suara merdu mereka, dengan kompak tim hadroh menabuh rebana mereka sesekali Azmi bersholawat dengan cara yang berbeda hal ini membuat Ahkam yang mendengar memiliki sebuah ide untuk lagu jawa yang Azmi campur dengan sholawatan. Semua anggota hadroh yang sudah ahli tidak bingung dengan cepat mereka bisa memadu pandankan tabuhan mereka dengan sholawat yang tidak sengaja Azmi buat.


Ahkam dan Aban juga terus bersholawat sembari menunggu Ustadz Mustafa, tanpa mereka ketahui Kyai dan Ustadz Mustafa sedari tadi sudah melihat penampilan tim Syubban dari kejauhan. Kyai dan Ustadz sangat kagum dengan kemampuan tim Syubban.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2