
Hafsah terlihat sangat kesal dan sekaligus marah besar setelah Mufti mengejek dirinya, Azmi hanya bisa diam memalingkaan wajahnya sembari menyentuh dahinya dan menggelengkan kepalanya.
Azmi menarik tangan Mufti dan memberikan kode untuk berbicara.
" Aduh gawat, mas Mufti kenapa ngomong kaya gitu lagi sama cewek, cewek itu hatinya lembut malah mas ejek dia kaya gitu, bisa sakit hati mbaknya dan yang paling penting mas itu dapat dosa, mau masuk neraka? " bisik Azmi kepada Mufi yang mau menundukkan kepalanya.
Hafsah menghela nafasnya dan kembali menatap tajam Mufti yang sudah kembali tegak dan melihat Hafsah yang sudah ada di hadapannya.
" Maksud kamu ngomong gitu apa, hah? Kamu bilang selera aku rendah karena sudah mengidolakan anak ini sama tim hadrohnya? iya! " sentak Hafsah menunjukkan kekesalannya.
Mufti hanya diam dan seketika mulutnya terkunci untuk bicara melihat kecantikan Hafsah yang berdiri sangat dekat dengannya. Mufti juga memandang Azmi yang hanya diam dan tidak ikut campur.
" Kok diam aja, sih? Ayo jawab! Dengar ya, mas! Aku tau siapa yang pantas diodalakan, dan saya rasa anak ini dan semua teman-temannya sangat berbakat dalam musik itu, mereka semua punya kualitas yang tinggi! Kamu kira kamu siapa? Aku yakin orang kaya kamu cuma bisa ngeremehin orang dan tidak bisa menunjukkan bakatnya! Kamu juga cuma iri sama mereka, kan?" Hafsah ia tidak bisa mengendalikan emosinya kepada Mufti yang hanya diam menerima kemarahan Hafsah.
" Cewek kalau udah marah ternyata lebih serem dari Ustadz Fathur, " ucap Azmi berbisik sembari memalingkan wajahnya.
" Kak Hafsah, udah tenang ya, kak! Omongannya mas ini gak usah di masukiin kedalam hati, sabar kak, tahan emosi." ucap Azmi berusaha menenangkan Hafsah yang masih marah.
" Cewek ini aja yang kebaperan, gue cuma ngomong kaya gitu aja udah marah, " Mufti.
" Heh! Sory ya, aku bukan kaya gitu, aku cuma bela idola aku, karena kamu telah merendahkan nama tim Syubbanul Muslimin dan mereka itu idola aku. " sentak Hafsah kembali.
" Idola? Tim kampungan kaya mereka, itu adalah idola kamu, hah? Mereka cuma terkenal orang sini aja bukan satu indonesia, " Mufti melawan dengan mendekat ke arah Hafsah yang membuat Hafsah melangkah mundur.
" Kakak aku akan buat mereka terkenal, dan kamu harus pegang kata-kata aku!" Hafsah dengan penuh keyakinan.
" Oke, siapa takut? Gue jamin mereka gak akan terkenal!" Mufti.
" Tapi aku yakin kalau mereka akan terkenal! Lihat aja, kalau dalam satu bulan ini mereka semua terkenal kamu harus minta maaf sama aku dan mereka! " Hafsah.
" Oke, fine! Tapi kalau mereka gak terkenal dan itu pasti kamu harus minta maaf sama gue plus makan sama gue, gimana? " tantang Mufti kembali.
" Aduh, kok malah jadi gini, sih? Kak Hafsah, mas Mufti, udah! Gak usah makin di perbesar! Ini sama sekali gak benar, " Azmi.
" Kamu tenang aja Azmi, dan kamu harus percaya sama aku. Dan untuk kamu, aku terima tantangan kamu! " Hafsah.
Mufti hanya tersenyum licik memandang Hafsah dan Azmi secara bergantian.
" Hafsah, ini dari tadi ada tamu, kenapa gak di ajak masuk?" tanya Hamdi yang merupakan kakak Hafsah dan ialah yang akan melatih Azmi.
" Kakak, iya ini...Kalau dia gak ngajak aku ribut aku pasti udah ajak mereka masuk dari tadi, " Hafsah menunjuk Mufti dengan sangat kesal.
Hamdi melihat Mufti yang memakai pakaian gaul sangat mencerminkan bahwa dia anak Band.
" Kamu ini Santri atau apa? Pakaian mu kenapa kaya gini?" tanya Hamdi bingung.
__ADS_1
" Kenapa mas? Gue adiknya Ustadz Mustafa dan gue terpaksa nganterin nih anak atas permintaan kakak gue sendiri. " jawab Mufti.
" Adiknya ustafz Mustafa? Tapi kok beda jauh ya, bagaikan langit dan tanah! " ledek Hafsah.
" Ngomong apa lo, hah? " Mufti.
" Sudah-sudah, kasihan Azmi, pasti dia sudah menunggu lama, ayo masuk dan Hafsah, kamu buatkan mereka minuman, " Hamdi.
" Iya kak, " jawab Hafsah pelan dan sempat menatap tajam Mufti yang juga menatapnya sebelum ia melangkah pergi.
" Apa lo lihat-lihat? Naksir? " Mufti dengan pd nya sementara Hafsah tidak mendengarkan dan kembali melangkah.
" Ayo Azmi, dan..
" Mufti, " ucap Mufi yang mengetahui Hamdi tidak tau dengan namanya.
" Iya, ayo masuk, " ajak Hamdi kepada mereka berdua.
Mufti dan Azmi mulai melangkah masuk kerumah besar nan megah itu. Hamdi mempersilakan Azmi dan Mutti untuk duduk terlebih dahulu sembari bertanya-tanya kepada Azmi.
...***************...
Hafsah datang untuk meletakkan cemilan dan juga minuman untuk mereka.
" Kak, Azmi, silakan di makan dulu, " Hafsah.
" Iya kamu juga, kalau mau sama buatan yang seleranya rendah!" Hafsah yang masih kesal.
" Hafsah, kamu kenapa? Sudah duduk di sini saja dulu, " Hamdi.
Hafsah dengan ekspresi yang masih kesal melangkah dan duduk di samping kakaknya sementara Mufti juga masih kesal dengan Hafsah.
" Oh ya Azmi, kamu sudah berapa tahun masuk Syubban?" Hamdi.
" Hampir setahun mas, saya ini baru saja mondok dan dapat seminggu di pondok saya langsung ikut Syubban, " ucap Azmi tanpa canggung sedikitpun.
" Eh Mi, kamu itu langsung jadi vocal atau masih di ajarin nabuh rebana dulu? " tanya Hafsah dengan sangat penasaran.
" Iya Kak, awalnya emang di ajarin nabuh dulu baru akhirnya saya dan Aban di pilih jadi vocal, " Azmi.
" Aban? Aban itu yang mana, kalau yang dewasa itu siapa, sih? Dia vocal juga, itu Mi, yang mimpin kalian semua, " tanya Hafsah kembali.
Mufti terlihat sangat bosan dan merasa di acuhkan ia mengunyah makanannya dengan kesal.
" Mas Ahkam, dia memang ketuanya, mas Ahkam juga pintar main rebana, Kak, " Azmi.
__ADS_1
" Oooooo, " Hafsah yang mulai mengerti.
" Udah tanya-tanya nya? " Hamdi yang sedari tadi bersabar menunggu adiknya yang sangat kepo.
" Hehe, maaf Kak, aku kan kemarin lembur di rumah sakit, jadi aku gak bisa nonton mereka, " Hafsah.
" Lembur di rumah sakit? Lo Dokter? " tanya Mufti yang terlihat kaget.
" Enggak, aku cuma jadi Suster dan itu aja masih magang, " jawab Hafsah.
" Untung deh, kalau bukan Dokter, " Mufti terlihat lega.
" Memang kenapa? kalau aku Dokter! " Hafsah kembali kesal.
" Sudah-sudah, Azmi, ayo kita mulai saja latihannya, " Hamdi.
" Baik mas, " Azmi.
" Gue ikut juga, ya, " Mufti.
" Gak usah, nanti kamu ngerusak latihannya Azmi lagi, " Hafsah.
" Hafsah, kamu gak boleh gitu, iya, kamu boleh ikut dan melihat Azmi latihan, " Hamdi.
" Oke, thanks bang, " Mufti ia dan Hafsah sempat saling bertatapan tajam.
" Ayo Mi, " ajak Hamdi kembali kepada Azmi yang mengangguk dan tersenyum.
Hafsah dan Mufti juga ikut ke tempat latihan yang berada di atas bersebelahan dengan kamar Hamdi.
...***********...
Di sana Azmi di beritahu lirik lagu yang di buat oleh Hamdi, Azmi menghafal lagu itu dan juga belajar banyak tentang vocal dari Hamdi. Tidak hanya itu saja, Azmi juga menanyakan tentang chanel youtube milik Hamdi yang lumayan menguntungkan banlginya.
Azmi dan Hamdi berlatih bersama dengan fokus dan sangat serius, disisi lain Hafsah dan Mufti duduk bersama menonton Azmi yang sedang latihan.
Hafsah terlihat sangat senang di saat Azmi menunjukkan suaranya yang lantang di hiasi dengan cengkok khas milik Azmi.
Mufti juga kagum ia tidak menyangka bahwa Azmi memiliki suara yang sangat indah.
" Lo kenapa yakin banget sih Azmi sama teman-temannya itu, kalau mereka bisa terkenal? " tanya Mufti heran.
" Gak tau juga sih, aku yakin banget sama mereka, dari pertama kali aku lihat mereka, aku itu langsung jatuh hati sama mereka, " Hafsah dengan perasaan senangnya walau ia tidak menoleh ke arah Mufti yang duduk di sebelahnya.
Mufti terus menatap wanita cantik yang ada di sebelahnya dengan tatapan dalam sembari terus tersenyum.
__ADS_1
" Cantik juga nih cewek, baru kali ini gue ketemu cewek kaya dia. Hmmm... Ada untungnya juga gue nganter si Azmi ini, " gumam Mufti terus memandangi Hafsah yang sedang tersenyum melihat Azmi yang sedang berlatih vocal dan juga lirik dengan sangat serius bersama kakaknya, Hamdi.
Bersambung.....