Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 178. Kecelakaan Yang Mengerikan


__ADS_3

Ba'da maghrib sudah berkumandang, Azmi bersama dengan keluarganya segera membatalkan puasa dengan minuman dingin dan manis yaitu es buah yang diberi susu kental manis. Satu-persatu Ummi memberikan es buah itu kepada Abah dan ketiga anaknya.


" Alhamdulillah, suun Ummi, " ucap Azmi menerima es buah itu dengan kedua tangannya.


" Nggih, ayo makan ini dulu terus sholat maghrib berjamaah baru makan nasi, " Ummi.


" Ummi, gak makan nasi dulu baru sholat, " Naufal.


" Makan ini aja, habisin ini aja udah kenyang, kalau terlalu kenyang sholatnya jadi gak khusyuk nanti, " jawab Ummi.


" Iya le, sunahnya kanjeng nabi opo? Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, " sambung Abah.


" Kalau Dek, Naufal beda. Makan saat belum lapar dan berhenti ketika perut kembung dan gak kuat masuk lagi, " Azmi ucapannya itu membuat semuanya tertawa kecuali Naufal.


" Gak gitu aku, Mas Azmi sendiri paling, " Naufal tak terima.


" Mas Azmi itu ngikutin kanjeng nabi'e, " jawab Azmi menyendok es buahnya.


" Sudah-sudah, kalau makan gak boleh ngomong, " ucap Rara yang lelah melihat kedua Masnya berdebat.


" Dengar itu, dek Rara aja pintar, " Ummi.


Azmi dan Naufal ikut tersenyum dan kembali menyantap es buah nikmat, dingin, dan manis itu secara bersama-sama.


...***...


Tidak dengan keluarga Azmi yang penuh keceriaan bak rumah surga, rumah Ustadz Musfafa sangat sepi hanya ada dia dan pembantunya yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


" Ayo dimakan, Den." pembantu.


" Iya, Bi. Bibi makan disini juga, ya. Temani saya, " Ustadz Mustafa.


" Tapi Den, ini kan meja makannya, Den. Bibi gak berhak makan di meja makannya majikannya Bibi, " pembantu.


" Emang apa yang salah, Bi? Bibi sudah saya anggap seperti Ibu saya sendiri, ayo makan bersama dengan saya, " Ustadz Mustafa.


" Ya sudah, Den. Bibi makan disini," pembantu Ustadz akhirnya mau berbuka dengannya.


" Mufti, Mufti, kenapa sampai sekarang dia belum pulang? Anak itu buka dimana? " Ustadz Mustafa wajahnya sangat khawatir memikirkan Adiknya yang tak kunjung pulang.


" Memangnya Den Mufti pergi kemana, Den? Maaf jika saya lancang, Bibi gak bermaksud ikut campur, " pembantu.


Ustadz Mustafa tertawa kecil menatap pembantunya.


" Gak papa, Bi. Saya minta maaf atas apa yang dibilang Mufti kepada Bibi tadi, dia sedang marah dan saya juga gak tau dia pergi kemana," Ustadz Mustafa.


" Ya, Allah. Den Mufti kabur, terus nanti dia buka dimana? Kasihan Den Mufti, Den harus segera cari dia, " pembantu.


" Iya Bi, nanti saya segera cari dia saya juga sudah minta bantuan kepada teman-teman saya. Semoga saja Mufti baik-baik saja," Ustadz Mustafa.


" Aamiin, iya, Den. Semoga Den Mufti juga sudah berbuka sekarang, " pembantu.


" Aamiin, " Ustadz Mustafa mengangguk dan tersenyum ia sangat berharap Mufti baik-baik saja dan bisa berbuka puasa entah dimana dia sekarang, Ustadz Mustafa hanya terus berdoa ia selalu ingin yang terbaik untuk Adik satu-satunya itu.




Mufti ternyata sudah berbuka di warung makan yang terlihat banyak orang juga yang memilih buka disana.



" Untung gue bawa uang, kalau enggak masa gue mau pulang? Mau ditaruh dimana muka gue, " geming Mufti setelah membayar makanannya sekarang ia hanya berpikir harus kemana dirinya sekarang di suasana buka puasa yang sangat ramai.



Mata Mufti terfokus saat melihat banyaknya orang yang makan bersama keluarga, teman atau bahkan pasangan mereka tidak seperti dirinya yang luntang-lantung berjalan sendirian.


__ADS_1


Mufti terus berjalan sampai ia duduk di motor ninja kerennya itu sambil menggendong tas hitamnya.



" Gini banget sih nasib gue, hampir 6 tahun orangtua gue gak pernah ada disisi gue buat makan satu meja kaya mereka. Iri banget gue ngelihat mereka, hidup gue kaya gak ada gunanya, " ucap Mufti matanya mulai berkaca-kaca setelah menunduk beberapa saat.



" Arghhhh!!" Mufti berteriak sambil meletakkan kedua tangannya pada wajahnya dan kembali menghadap kedepan.



" Masa gini aja gue nangis, " Mufti menghela keras nafasnya.



" Udahlah, gak ada gunanya gue sedih-sedih kaya gini," Mufti akhirnya ia memasang helmnya, menyalakan mesin motornya dan mulai melaju walau ia tak tahu harus kemana.



Mufti terus melajukan motornya hingga ia sampai pada sebuah Masjid walau ia berpikir sejenak akhirnya Mufti memilih untuk sholat dan beristirahat disana.



Setelah sholat taraweh dan tadarus Azmi dikerubungi banyak jama'ah yang ingin berfoto dengannya. Azmi dengan ramah memberi senyumnya dan mau berfoto dengan para warga baik pemuda maupun orangtua, Azmi tetap menjaga adabnya dan ia juga tetap menjaga pandangannya dari yang bukan mahramnya.



Di saat semua orang menuju Azmi dengan histeris jauh halnya dengan Aisyah yang sempat melihat kejadian itu dimana Azmi dipuji banyak orang.



" Syah, kita ikut foto juga, yuk." ajak Fitri.




" Heh, Aisyah. Sadar, dia itu sudah viral, banyak orang yang sudah kenal sama dia. Azmi itu ganteng, suaranya Masya Allah lagi, ayolah, Syah. Apalagi dia teman kita, pasti dia mau." ajak lagi Fitri ia terlihat sangat ingin ikut meminta foto dengan Azmi.



" Enggak, enggak. Teman kamu aja kali," Aisyah tetap kekeh dengan pendiriannya dengan memalingkan wajahnya.



" Sudah cukup Nggih, ayo, Bah." Azmi mengajak Abah dan Adiknya pulang.



" Yah, Azmi, lagi sekali dong, " teriak salah satu jama'ah wanita yang kurang puas dengan hasil fotonya.



Tapi Azmi sudah lelah ia tidak ingin berlama-lama dikerumuni oleh banyak orang seperti ini. Dengan terus melangkah, Azmi tak menghiraukan ucapan orang yang heboh dengannya terutama jama'ah wanita. Azmi terus berjalan dengan kepala yang sedikit menunduk dijaga oleh pemuda Masjid yang siap menjaga Azmi, Abah dan Naufal sampai ke mobil.



Azmi tidak melihat kehadiran Aisyah saat itu karena banyaknya orang sampai ia masuk ke dalam mobilnya dan pulang pergi dari sana.



" Sombong banget sih, dia." Aisyah.



" Sombong? Sombong apanya, Syah? Ooo aku tau pasti gara-gara kamu gak disapa, ya? Hahahah, ngaku aja deh, " Fitri meledek sahabatnya itu yang mulai memperlihatkan wajah cemberutnya.


__ADS_1


" Hushh! Ngawur. Ya, enggaklah, " jawab Aisyah sekilas menatap Fitri dan kembali memalingkan wajahnya.



" Tapi aku perhatiin Azmi makin hari, makin ganteng, makin bersinar, makin Ya Allah, hamba gak bisa berkata-kata. Pokoknya dia the best dari cowok-cowok lain. " Fitri dengan kedua tangan yang ia rangkup didepan dada wajahnya sangat berseri layaknya sedang membayangkan Azmi.



Aisyah yang melihat tingkah sahabatnya itu segera menegur.



" Fit, kamu gak usah berlebihan deh, banyak juga yang lebih dari Azmi, " Aisyah.



" Siapa? Walaupun ada ya, jarang, Syah. Azmi itu udah idaman semua ibu-ibu, " Fitri.



" Ibu-ibu? " Aisyah kaget dan bingung mendengar ucapan Fitri.



" Iya, maksud aku, calon mantu setiap Ibu-ibu, " jawab Fitri.



" Sok tempe kamu, udah gak baik ngekhayal kaya gitu. Ayo pulang. " Aisyah mengajak paksa Fitri yang terus melamuni Azmi dengan menarik tangannya membawanya pulang.



\*\*\*\*



Mufti turun dari Masjid dan kembali menuju motornya tanpa sengaja ia melihat Doni hendak menuju motornya sebelumnya Doni terlihat tengah berbincang kepada seorang pemuda.



" Kaya Doni, Don! " teriak Mufti hendak menghampiri Doni.



Doni menoleh ia kaget melihat Mufti yang melangkah ingin mendekatinya entah apa yang dia pikir, Doni segera menaiki motornya dan menghindari Mufti dengan melajukan motornya.



" Don, Doni! Kok kabur sih, " Mufti ia memutuskan untuk mengejar Doni dengan motornya.



Kejar-kejaranpun terjadi diantara mereka berdua. Teriakan Mufti tidak membuat Doni berhenti tapi ia malah semakin melajukan motor sportnya itu. Tidak mau kalah, Mufti semakin ngegas dan melajukan motornya ingin sampai kepada sahabatnya.



Tapi nahas sebuah mobil yang melaju kencang tidak melihat Mufti yang terus melaju. Sama-sama sedang ngebut, mobil itu menabrak keras Mufti hingga tubuh Mufti terpental dari motornya.



Seketika nyawa Mufti seperti melayang matanya buram masih melihat Doni yang akhirnya berhenti setelah mendengar tabrakan keras yang dialami Mufti.



Darah terus mengalir dari mulut dan sebagian tubuh Mufti, untung saja kepala Mufti menggunakan helm karena hantaman keras Mufti tak kuat menahan sakitnya dan memejamkan matanya.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2