Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 236 Maaf Dan Kejutan


__ADS_3

Tepukan tangan dari para jama'ah hadir diberikan untuk Azmi yang melangkah turun dari panggung.


Di sisi lain, Hafsah melihat jam di handphone lalu membuka hapenya saat itulah ia mulai pergi dan mungkin orangtua dan teman-teman Mufti datang. Walau Hafsah sakit hati dengan ucapan Mufti tapi bagaimanapun ia harus tetap menjalankan rencana yang ia buat.


" Ciee, Azmi orangtuanya datang juga." Firman.


" Ini, Mi. Minum dulu kelihatan banget kamu capek sampai keringetan kaya gitu." Ahkam sambil memberikan sebotol air minum untuk Azmi.


" Alhamdulillah, makasih Mas," Azmi ia yang memang tampak kehausan segera menerima air dari Ahkam, membuka botolnya, mencari tempat duduk dan meminum air putih itu dengan sangat lahap.





Dan benar saja, orangtua Mufti sudah datang dan tampak kebingungan. Melihat kehadiran Ayah dan Ibu Mufti, Hafsah senang dan segera menghampiri kedua orangtua Mufti.


" Alhamdulillah, akhirnya Ibu sama Bapak sudah datang." Hafsah ia juga mencium tangan Ibu dan Ayah Mufti yang tersenyum kepada Hafsah mereka juga tampak senang melihat kehadiran Hafsah yang langsung menyambut mereka.


" Alhamdulillah, Nak. Mufti dimana? Kami sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua putra kami." Ibu.


" Mufti ada kok, Bu. Ini Ibu dan Bapak minum air dulu. Pasti Ibu, Bapak juga capek, kan? Karena sudah perjalanan jauh langsung datang kesini." Hafsah.


" Tidak, Nak. Saya dan suami saya yang harusnya sangat berterimakasih atas bantuan kamu yang sudah mengatur semuanya, nanti kami akan ganti uangnya."


Hafsah langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali.


" Gak usah Bu, saya ikhlas. " Hafsah.


" Masya Allah! Kamu udah cantik, baik lagi. Kamu kelihatan cocok deh sama Mufti, kamu suka sama dia? Sampai kamu bela-belain ngelakuin ini semua? Ayo, gak papa. Jujur aja sama Ibu. " tanya Ibu Mufti.


Pertanyaanya itu membuat Hafsah seketika terdiam dan mulai canggung sampai teriakan Doni mengagetkan dirinya.


" Hafsah! " teriak Doni sambil melangkah dengan kedua teman lainnya terus mendekati Hafsah.


" Doni, kamu sudah datang. Alhamdulillah, " Hafsah.


Doni melihat Ibu dan Bapak yang sepertinya pernah ia kenal dan tidak asing bagi dirinya.


" Haf, ini siapa? " tanya Doni sambil berbisik mendekati Hafsah.


" Mereka ini orangtuanya Mufti, " jawab Hafsah.


" Hah? Lo, yang benar? " tanya Doni dengan nada yang sangat kaget sampai ia berteriak dan membuat Ibu dan Ayah Mufti kaget dan tersenyum kepada Doni.


" Maaf, Om, tante. Saya temannya Mufti." Doni ia yang merasa tidak enak langsung minta maaf dan juga segera mencium tangan Ibu dan Ayah Mufti tak lupa, Doni juga menyuruh teman-temannya untuk menyalam tangan kedua orangtua Mufti.


" Heh, salim, ini orangtuanya Mufti. " bisik Doni kepada kedua sahabatnya.


" Oh, iya, iya. Om, tante." satu-persatu kedua sahabat Doni mencium tangan kedua orangtua Mufti.


" Ayo kita masuk dulu, situasinya ramai banget dan Mufti ada ditempat laki-laki jadi saya harus hubungi Mufti dulu, " Hafsah.


" Oh, iya, Nak. Ayo, " Ibu.


Mereka semua akhirnya masuk mengikuti langkah Hafsah untuk mencari tempat yang pas dipesantren itu agar bisa bicara dengan Mufti dan mempertemukan Mufti dengan kedua orangtua dan juga sahabat-sahabatnya.


Acara masih berlangsung, kali ini ada dua santri yang masih mengaji dengan bacaan yang sangat indah dan untuk tim Syubban masih diberi waktu untuk istirahat karena Azmi baru saja maju mewakilkan mereka.


" Mi, ke Abah sama Ummimu dulu, gih." Aban.


Azmi yang baru saja menghabiskan airnya langsung mengangguk dan menoleh ke arah Aban.

__ADS_1


" Iya, Ban. Mas-mas! Aku mau ke Abah sama Ummiku dulu, " ucap Azmi.


" Oke, Mi." jawab teman-teman Azmi.


Azmi segera menemui kedua orangtua dan kedua Adiknya yang sudah duduk dikursi dengan perasaan bahagia dan bangga kepada Azmi.


Saat Azmi mulai berbincang bersama keluarganya, Fitri terus menarik tangan Aisyah membawanya untuk segera menemui Azmi.


Mereka sudah sampai bersama dengan kedua orangtua Azmi karena mereka santriwati disana jadi, Ustadz dan Ustadzah memperbolehkan mereka ada ditempat khusus orangtua tim Syubban asal tetap menjaga pandangan dan sikap mereka.


" Aisyah, ayo! Mumpung Azmi belum naik ke panggung, " Fitri.


" Fitri, kamu gak lihat apa? Itu Azmi lagi sama keluarganya, masa aku harus kesana sekarang, " jawab Aisyah.


" Ya, terus kamu maunya kapan? Kalau gitu biar aku panggilin Azmi, oke." Fitri.


" Enggak, gak usah! Kamu keburu banget sih, Fit. Udah nanti aja, " Aisyah.


" Gak papa Aisyah, lebih cepat lebih baik, ayo, " Fitri ia terus memaksa agar Aisyah mau segera meminta maaf kepada Azmi secepatnya. Tapi, melihat Azmi yang asyik berbincang dengan keluarganya tentu membuat Aisyah tidak enak dan memilih untuk menunggu dulu.


" Aisyah, ayo, " Fitri terus saja memaksa Aisyah agar mau mengikutinya.


" Aduh, Fit. Aku kebelet nih, aku.. Ke kamar mandi dulu, ya. Bentar," Aisyah, terpaksa ia berbohong dan segera melepas tangan Fitri agar tidak terus dipaksa untuk menemui Azmi sekarang juga.


" Ummi, Abah, Azmi kembali dulu, ya. Nanti habis selesai acara kita bisa bicara sepuasnya." Azmi.


" Iya, Nak." Ummi.


Setelah berpamitan kepada orangtuanya, Azmi segera kembali dan Aisyah yang tidak tau harus kemana sangat kebetulan bertemu Azmi saat Azmi juga bingung mencari dimana keberadaan teman-temannya.


Tanpa sengaja mereka bertemu di tempat jajanan, makanan dan minuman yang berjejer. Kedatangan Aisyah membuat Azmi kaget akan kedatangan Aisyah begitu juga dengan Aisyah yang langsung gugup ketika melihat Azmi sudah ada dihadapannya.


" Azmi, " ucap Aisyah pelan dengan matanya yang lebar terus memandang Azmi lalu segera menundukkan kepalanya.


" Eeeee.. Enggak, gak ngapa-ngapain kok. Itu, aku... Sebenarnya aku.. " Aisyah ia gugup tidak tau harus mengatakannya sekarang atau tidak.


Azmi masih menunggu jawaban Aisyah hingga teriakan Aban terdengar memanggilnya.


" Mi, ayo, sini! " teriak Aban.


" Aisyah, aku harus pergi. Assalamualaikum, " Azmi sudah membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi meninggalkan Aisyah.


" Eh, Azmi. Tunggu! " Aisyah akhirnya ia berusaha memberanikan diri untuk bicara kepada Azmi.


Mendengar teriakan Aisyah membuat langkah Azmi terhenti hingga Aisyah kembali berdiri dihadapannya.


" Azmi, aku mau minta maaf, aku.. Aku udah sadar kalau aku itu salah, seharusnya aku gak ngomong kaya gitu sama kamu dan aku juga sadar, kalau meninggalnya Mas Akmal itu memang sudah takdir Allah SWT dan karena Allah sayang sama Kak Akmal, " ucap Aisyah dengan nada yang lirih sesekali ia memandang Azmi lalu kembali menundukkan kepalanya.


Mendengar semua ucapan Aisyah membuat Azmi mengangguk dan tersenyum.


" Sebelum kamu minta maaf, aku juga udah maafin kamu, Syah." Azmi.


Aisyah tidak bisa berkata apalagi dan hanya bisa mengangguk.


" Kalau gitu aku pergi dulu, " Azmi.


" Eh, Azmi!"


Teriak kembali Aisyah yang membuat Azmi kembali menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan tubuhnya untuk menoleh ke arah Aisyah.


"Terima kasih, " Aisyah dengan kepala yang tertunduk.


" Sama-sama, aku pergi dulu. Assalamualaikum, " Azmi.

__ADS_1


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab Aisyah akhirnya ia lega dengan apa yang sudah ia katakan kepada Azmi dan sekarang hatinya sudah tenang dan sangat bahagia karena akhirnya ia bisa baikan dengan Azmi dan kali ini tidak ada lagi dendam dan benci dihati Aisyah kepada Azmi.


" Aisyah, ternyata kamu ada disini. Ngapain, sih ketempat ini? Kamu mau bantuan bagiin jajanan? Aku lihat kamu senyum-senyum lagi. Kamu gak papa, kan, Syah? " ucap Fitri yang tiba-tiba muncul dan membuat Aisyah kaget dengannya.


" Astagfirullah, Fitri. Kamu ya, udah ngagetin, terus langsung nanya-nanya kaya gitu. Gak baik tau, " Aisyah.


" Maaf, Syah. Habisnya aku lihat darisana kamu senang banget ada apa, sih? " tanya Fitri.


" Enggak, aku gak papa kok. Udahlah, ayo, " Aisyah sikapnya yang canggung dan pergi begitu saja seakan menghindari pertanyaan Fitri tadi membuat Fitri bingung dan penasaran.


Azmi juga tampak senang mengingat Aisyah yang akhirnya mau bicara dengannya. Sepanjang langkahnya Azmi menampakkan wajahnya yang berseri-seri.


" Udah mau tampil, Ban?" tanya Azmi.


" Belum sih, masih ada yang mau pidato, Mi." Aban.


" Terus kamu kenapa manggil aku?" Azmi.


" Ya, gak papa. Lagian kamu juga tadi kaya bingung. Aku kira nyariin tim Syubban, " Aban.


" Hehe, iya, sih, Ban. " jawab Azmi.


" Aban, Azmi. Latihan dulu, yuk." ajak Ahkam.


" Oke, Mas. Ayo, " Azmi dan Aban yang mengangguk.


****


Pesan dari Hafsah sudah centang biru, tapi Mufti masih belum datang juga. Orangtua dan sahabat-sahabat Mufti juga masih menunggu tepatnya ditempat yang jauh dari jama'ah yaitu didekat kamar santri yang ada paling pojok. Mereka semua masih menunggu dan bersamaan dengan itu Mufti bersama dengan Ustadz Mustafa yang sudah minta izin untuk pergi sebentar.


" Hafsah, sebentar lagi kami sampai." notifikasi handphone Hafsah berbunyi dan ketika Hafsah melihat itu dari Ustadz Mustafa.


" Ibu, Bapak. Doni, semuanya. Ini Mufti sama Kak Mustafa udah hampir sampai. Kalian sembunyi dulu. Mmmm, masuk kamar ini." Hafsah.


" Oke, Hafsah. Ayo, om, tante." Doni.


Dan benar saja langkah Mufti terus berjalan semakin dekat dan terus sampai pada Hafsah yang sudah berdiri disana menunggu kedatangannya bersama Kakaknya.


" Hafsah, lo ngapain minta gue sama Kakak gue kesini?" tanya Mufti dengan ekspresi bingung.


Hafsah terdiam dan berusaha untuk tersenyum walau ia masih mengingat perkataan pedih Mufti.


Hafsah mengambil sesuatu dari tasnya, mengeluarkan buku tebal milik Mufti dan menyodongkannya kepada Mufti.


Ekspresi Mufti seketika kaget dan semakin bingung dengan apa yang sebenarnya Hafsah lakukan ini.


" Mufti, aku minta maaf. Sebenarnya buku kamu jatuh dan selama ini ada di aku." Hafsah.


Perlahan tangan Mufti menggapai dan menerima buku miliknya yang ada ditangan Hafsah.


" Dek, kamu jangan salah paham. Hafsah sudah cerita semuanya sama Kakak dan dia memberikan buku itu kepada Kakak. Tidak cuma itu, Hafsah juga sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk kamu." Ustadz Mustafa.


" Kejutan? Kejutan apa? " tanya Mufti dengan wajahnya yang begitu serius dan tegang karena sebelumnya ia masih takut kalau Hafsah belum bisa memaafkan perkataannya.


Hafsah melangkah ke depan kamar dan berbicara sesuatu kepada seseorang yang membuat Mufti semakin bingung ia juga tegang dan penasaran pada siapa Hafsah bicara.


Sahabat-sahabat Mufti mulai datang melangkah menghampiri Mufti dan dibelakang mereka ada orangtua Mufti yang sama sekali Mufti tidak percaya akan hal itu. Orangtuanya datang dengan senyuman dan berdiri didekat Mufti.


" Ibu, Ayah." Mufti ia sangat terharu dan tidak bisa mengatakan apapun dan langsung mencium tangan kedua orangtuanya ia juga memeluk kedua orangtuanya bergantian sudah tak bisa lagi menahan tangis karena akhirnya rasa rindunya sudah terobati.


Ustadz Mustafa juga mencium tangan dan memeluk tubuh kedua orangtuanya secara bergantian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2