
Matahari belum sepenuhnya menerangi bumi, langit masih terlihat gelap dan suasana ba'da subuh masih sangat dingin. Azmi bersama Ahkam duduk di kursi dekat kamar mereka untuk belajar bersama sebelum bel berbunyi untuk mengaji kitab.
Ahkam sangat serius mendengarkan Azmi membaca kitabnya ia juga membenarkan bacaan Azmi yang salah. Sementara Muhklis juga memantau Aban membaca kitabnya duduk di dekat kursi yang bersebelahan dengan Azmi juga Ahkam.
Tidak hanya Azmi dan teman sekamarnya bisa dilihat semua santri sangat khusyuk membaca kitab mereka tidak ingin kena hukuman merekapun harus belajar dalam waktu yang sangat singkat.
Suara-suara santri terdengar samar-samar jelas meramaikan suasana pesantren yang masih sangat pagi dan dingin. Mereka semua menahan rasa kantuk mereka agar bisa membaca kitab dengan lancar dihadapan Kyai.
Tetttttttttt.....
Bel berbunyi keras, dengan segera semua santri melangkah menuju Masjid beramai-ramai. Kaki-kaki anak sholeh melangkah masuk ke dalam Masjid yang sudah disiapkan untuk ujian. Kyai juga sudah duduk di tempatnya siap menguji semua santrinya.
Para senior duduk di depan atas perintah Kyai, tidak ada satupun dari mereka yang menolak dengan siap mereka duduk dibarisan paling depan sebagai pemimpin untuk para santri yang masih pemula.
Saat semuanya sudah duduk dengan rapi dengan kitab yang mereka pegang. Ustadz Abdullah mulai memberikan mikrofon kepada Kyai. Kyai sangat berterimakasih bersamaan dengan mikrofon yang ia terima dari Ustadz Abdullah. Menatap penuh para santri tidak lupa Kyai mengucapkan bismillah terlebih dahulu dan barulah ia memulai pembicaraan.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh," Kyai.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya.
" Bagaimana? Sudah siap? " Kyai.
Lama menjawab....
Saling tolah-toleh dan Azmi hanya menunduk barulah...
" Siaaapppp, " ucap sedikit santri dengan nada kecil tidak terlalu jelas terdengar oleh Kyai.
" Yang lain? " tanya Kyai meyakinkan semua santrinya.
" Insya Allah, siap Kyai, " jawab semua santri walau tidak begitu semangat dan meyakinkan.
Kyai sempat tersenyum kecil mengetahui tidak sedikit santrinya yang gugup atau tidak siap sama sekali untuk ujian ini. Mereka hanya bisa pasrah dan harus menuruti apa yang Kyai ucapkan atau perintahkan.
Terlihat sangat jelas wajah-wajah tegang yang ditunjukkan santri-santri. Hanya para senior yang cukup santai karena sudah terbiasa.
" Siap gak siap, harus siap, ya! Mampu gak mampu kalian harus bisa mampu membaca kitab dari saya, ada 20 orang santri yang secara acak saya tunjuk. Memang sedikit, tapi saya harap siapapun yang ditunjuk nanti, mampu membaca kitab mereka dan siapa saja yang tidak ditunjuk nanti, juga sudah bisa membaca kitab. Nanti, tepat malam pulangan juga seperti biasa ada acara yang paling ditunggu itu juga dari Syubbanul Muslimin, saya sangat bangga dengan mereka yang mau ikut dalam tim hadroh membuat pretasi di pesantren kita, tepuk tangan, buat anggota Syubbanul Muslimin, " Kyai.
Semua santri langsung memberi tepukan tangan mereka dengan sangat meriah dan bangga ikut kagum dengan tim Syubbanul Muslimin yang sudah menambah prestasi di pesantren ini.
Lain halnya dengan Zakir yang enggan tepuk tangan dan malah menatap sinis Azmi dan Aban.
" Alhamdulillah, sekarang langsung kita mulai saja, " Kyai.
Inilah waktu yang sangat menegangkan semua santri menunduk tidak berani mengangkat kepala mereka.
Dengan alat senter yang Kyai bawa untuk menunjuk santri pilihannya ia langsung menunjuk Ahkam sebagai pembaca kitab tafsir pertama.
Senter diarahkan ke wajah Ahkam.
__ADS_1
" Baca halaman 12, sabda paling atas!" perintah Kyai dengan tegas setelah membuka halaman pada kitab miliknya.
Ustadz Abdullah dengan cepat memberikan Ahkam mikrofon.
Di awali dengan bismillah dan menghela nafasnya, Ahkam bersiap membaca kitab tafsirnya berusaha menunjukkan yang terbaik. Tanpa terbata-bata sedikitpun, Ahkam mampu membaca kitab yang Kyai perintahkan.
Kecerdasan Ahkam dalam membaca kitab sangat dikagumi oleh semua santri. Mereka semua melongo melihat Ahkam yang tidak terputus dalam membaca kitabnya bahkan Azmi dan Aban sampai tidak berkedip sedikitpun memandang Ahkam yang sangat pandai mengartikan semua tafsiran.
" Cukup!" Kyai tegas membuat Ahkam terhenti membaca kitabnya.
Kyai mengangguk pelan dan tersenyum kepada Ahkam.
" Barakallah, " ucap Kyai senang melihat kemampuan Ahkam.
Ahkam mencium kitabnya dan mengucap kata hamdalah ia terlihat begitu senang karena tidak ada ketukan dari Kyai.
Selanjutnya Kyai menyenter ke arah Ali sontak saja membuat Ali mendadak tegang mengeluarkan keringat dingin.
" Ali, baca halaman pertama!" perintah Kyai.
Ali terlihat sangat tegang jantungnya berdebar kencang. Mikrofon digilirkan hingga sampai kepada Ali.
Tangan Ali gemetar memegang mikrofon itu ia mencoba membaca sholawat nabi agar merasa tenang. Saat sudah sedikit tenang barulah Ali membaca kitab perintah Kyai.
Ali sedikit terbata-bata tapi ia sama sekali tidak ada kesalahan dalam membaca kitabnya walau kadang ia masih mencerna apa yang ditulisnya tapi Ali cukup bagus.
Ali menghentikan kitabnya seketika ia tidak menyangka bahwa dirinya telah menyelesaikan bacaan kitabnya.
Santri yang lainnya semakin tegang dan takut mereka menundukkan sedikit kepala mereka.
Kyai terus dengan tegas menunjuk santrinya, sempat ada santri yang salah tapi ia bisa kembali mengartikan kitabnya dengan benar. Ada juga santri yang mengartikan kitabnya sangat lambat, ada yang bergetar suaranya tapi tidak sedikit santri yang mampu membaca dengan lancar.
18 santri telah ditunjuk, ketegangan sisa santri yang lain masih belum terselesaikan.
" 2 lagi, semoga bukan aku, " Zakir menadahkan tanganya berharap bukan dia yang ditunjuk.
Sinar senter menuju ke wajah Zakir membuat Zakir kaget dan tiba-tiba ketakutan ia sangat gugup baru saja ingin senang tapi malah Kyai menunjuk dirinya.
Mikrofon digilirkan sampai kepada Zakir. Zakir mulai menerima mikrofon yang diberikan kepadanya wajah tegang dan panik terlihat jelas dalam wajahnya.
Azmi dan Aban yang ada di sampingnya sempat memandangnya sekilas.
" Ayo, baca halaman 3, sabda yang terakhir!" Kyai.
Zakir begitu tegang ia membuka kitabnya pada halaman 3.
" Bismillah Kir, " bisik Helmi yang ada di sampingnya.
Mikrofon mulai ia tepatkan pada dekat mulutnya dengan membaca bismillah sebelum memulai bacaan kitabnya.
__ADS_1
Zakir sangat lambat membaca kitabnya bahkan tidak terdengar jelas oleh Kyai.
" Berhenti! " Kyai membuat Zakir menghentikan bacaannya dan memandang fokus Kyai.
" Yang jelas bacanya," perintah Kyai.
Zakir kembali membaca kitabnya dengan jelas dan bisa terdengar oleh semua santri walau ia sangat deg-degan bahkan suara Zakir terdengar bergetar akibat terlalu canggung.
Tok
" Ulang, dari wa qala, " Kyai memberi ketukan pada Zakir yang salah membaca kitabnya.
Zakir mulai mengulang bacaan kitabnya. Untung saja ia hanya mendapat 2 ketukan, kalau sampai 3 ketukan, Zakir dinyatakan gagal dan akan mendapat hukuman.
" Ya, cukup! " Kyai menghentikan bacaan Zakir yang begitu lambat.
Zakir terhenti membaca kitabnya akhirnya ketegangan sudah berakhir.
" Belajar yang rajin ya, " Kyai.
" Baik Kyai, " jawab Zakir dengan mikrofon yang masih digenggamannya.
" Barakallah, " Kyai.
Tinggal satu santri lagi, dan Kyai melihat Azmi yang menunduk duduk didekat Aban.
Kyai menyenter ke arah Azmi, Azmi mulai menegakkan tubuhnya dan mulai fokus sambil menyiapkan kitabnya.
Zakir menggilirkan mikrofonnya kepada santri disebelahnya hingga sampai kepada Azmi.
" Baca halaman terakhir Mi!" tegas Kyai.
Mikrofon telah diterima Azmi dan ia membuka kitabnya pada halaman terakhir belajar.
" Semangat Mi, bismillah," bisik Aban.
Azmi tersenyum dan menganggukkan kepalanya ia terlihat tidak terlalu tegang seperti Zakir, Azmi juga tidak panik ia berusaha tetap tenang.
Dengan taawudz dan basmalah Azmi mulai membaca kitabnya dengan tegas dan suara yang jelas hingga selesai. Semua santri kagum dengan Azmi yang mampu membaca lancar kitabnya walau ia bukan senior.
" Cukup! Alhamdulillah, " Kyai.
Wajah Azmi sangat senang berseri-seri ia mengusap wajahnya merasa sangat senang karena ia tidak mendapatkan ketukan dari Kyai.
" Barakalallah, " Kyai.
Hilang sudah rasa tegang semua santri, mereka mulai mengusap wajah mereka yang keluar karingat dingin.
Bersambung...
__ADS_1