Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 162. Ikut Bangga


__ADS_3

Aisyah dengan perasaan yang sangat kesal melangkah cepat menuju kamarnya hingga ia berpapasan dengan ibunya yang membawa makanan.


" Aisyah, kamu kenapa? Ini ibu mau bawain kamu camilan buat kamu sama Fitri, " ucap ibu Aisyah.


" Ibu kasih Fitri aja, Aisyah lagi pengen istirahat, " Aisyah setelah berbicara ia langsung masuk kamar dan menutup pintu kamarnya.


Hal itu membuat ibu Aisyah bingung dengan tingkah putrinya.


" Aisyah, kamu gak papa, nak?" tanya ibu Aisyah mendekati wajahnya pada pintu kamar Aisyah.


" Gak papa kok, cuma capek aja, " jawab Aisyah dari dalam kamarnya.


" Ya sudah kalau gitu, " ucap ibu Aisyah walau dengan wajah yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Terlihat Fitri yang belum beranjak pergi masih asyik menatap layar handphonenya.


" Fitri kamu lagi lihatin apa, sih? Kok serius banget gitu?" tanya ibu Aisyah sudah duduk disebelah Fitri.


" Eh tante, ini, Fitri lagi lihatin Azmi sama tim hadrohnya mereka sekarang jadi viral. Coba tante lihat, deh, " Fitri memberi hapenya kepada ibu Aisyah.


" Azmi?" Ibu Aisyah ia mulai melihat video itu. Wajahnya sangat serius menonton Azmi bersama anggota Syubban yang sedang menunjukkan sholawat mereka.


" Wah, ini Azmi, hebat sekali ya, Ummi sama Abahnya pasti bangga banget sama dia. Masya Allah, barakallah. Semoga sukses selalu mereka, " ibu Aisyah terlihat sangat bangga kepada Azmi dan anggota Syubban.


" Aamiin, iya tante. Aku juga gak percaya kalau mereka bisa viral kaya gini. Azmi kan teman aku sama Aisyah waktu sd dulu dan ternyata kita satu pesantren lagi, emang kalau jodoh gak akan kemana, " Fitri ia mengecilkan suara dan memalingkan wajahnya pada kalimat terakhirnya.


" Hah? Apa kamu bilang? " tanya ibu Aisyah dengan ekspresi kaget.


" Hah? Emmm, enggak tante, gak jadi, " Fitri tersipu malu.


" Kamu ini masih kecil, belajar dulu yang benar, hafalan Qur'annya ditekunin, jangan mikirin jodoh dulu. Masih kecil kaya gini kok," tegur ibu Aisyah.


Fitri mengangguk mengerti dengan tawa kecilnya.


" Heheh, iya tante, " jawab Fitri.


" Ya udah ini dimakan dulu, itu Aisyah kenapa juga? Kok tiba-tiba mukanya ditekuk?" ibu Aisyah.


" Gak tau tuh, pas aku kasih tau kalau Azmi viral dia kaya gak senang gitu. Mungkin karena Aisyah masih benci sama Azmi dan dia masih menyalahkan Azmi sama tim Syubban karena kematian Kak Akmal, " jawab Fitri.

__ADS_1


" Astagfirullah, Aisyah. Kenapa dia masih berpikir seperti itu? Aisyah gak boleh seperti ini, tante harus kasih tau dia yang banar, " ucap ibu Aisyah terlihat ia sangat khawatir.


" Benar tuh tante, dalam islam gak baik marahan sesama manusia, " Fitri sembari mengunyah camilan.


***


Orang tua dan adek-adek Azmi duduk bersama menikmati kebersamaan hari libur. Tapi Naufal sangat asyik bermain game dengan hapenya dan tiba-tiba ia mendapat notifikasi dari youtube begitu kagetnya saat ia melihat wajah Kakaknya yang sedang melantunkan Sholawat.


Dari yang tadinya rebahan, Naufak langsung terduduk tegap sangat serius menatap layar hapenya.


" Naufal, jangan main hape terus, nak. " Abah.


" Abah, Ummi, " ucap Naufal dengan wajah serius.


" Iya, ada apa? " tanya Ummi.


Naufal segera melangkah mendekati Ummi dan Abahnya dan duduk di sebelah Umminya dengan hape yang masih ia genggam dengan kedua tangannya.


" Mas Azmi viral, ini coba lihat, " Naufal begitu antusias memberikan handphonenya kepada Ummi dan juga Abahnya.


Rara yang sedari tadi sedang menikmati camilannya sembari menonton televisi ikut penasaran dan segera mendekati Kakaknya ingin ikutan melihat mas Azminya viral.


" Alhamdulillah, mas Azmi sekarang sudah viral semoga dia bersama tim hadrohnya terus sukses dan tidak sombong dengan kesuksesannya, " ayah Azmi.


" Aamiin, " jawab semuanya.


" Mas Azmi kok bisa masuk youtube, Ummi?" tanya Rara kepada ibunya.


" Ummi juga gak tau, ini sholawatannya enak banget didengar. Ummi belum pernah dengar sholawat seperti ini, " ibu Azmi.


" Anak-anak muda pasti akan senang jika sholawatnya seperti ini. Abah harap Azmi bersama tim hadrohnya bisa mengajak masyarakat banyak untuk sholawat. Abah bangga banget sama Azmi, " ayah Azmi ia terlihat begitu terharu melihat nama anaknya naik daun bersama tim Syubban.


Sungguh keluarga Azmi saat itu sangat senang mereka terus-menerus menonton Azmi dari layar hape dengan memberikam berbagai komentar.


Hamdi yang sudah sangat gembira kerena chanelnya menjadi terkenal akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan salah satu produser musik religi yang tak lain adalah teman dekatnya sendiri.


Hamdi, produser musik itu yang bernama Syafiq dan juga Hafsah bersama-sama berdiskusi tentang tim Syubban selanjutnya. Mereka terlihat sangat fokus untuk project yang sangat ingin membuat tim Syubban semakin terkenal melihat saat ini mereka sudah banyak diperbincangkan oleh masyarakat banyak.


Ustadz Mustafa yang sedang duduk santai tiba-tiba mendapat telepon tidak lain itu dari Hamdi mereka mulai bicara tentang tim Syubban selanjutnya.

__ADS_1


...***...


Sementara tim Syubban asyik berlatih sholawat di Masjid pesantren. Sepinya wilayah pondok membuat suara mereka menggema sampai keluar gerbang pesantren.


Azmi, Ahkam dan Aban mengecek suara mereka bersiap membuat sholawat baru setelah membaca kembali sholawat dari buku sholawat mereka.


" Allahumma shalli 'Ala Muhammad Ya Rabbi Shalli Alaihi Wa Sallam, " Azmi dengan nada sholawat yang begitu enak didengar.


Tim hadroh mulai berlatih menabuh rebana mereka masing-masing secara bersamaan per kelompok. Tabuhan rebana yang sangat kompak dengan nada indah membuat ramai suasana pesantren yang hanya ada tim Syubban dan Mufti.


" Mas Mufti mau coba sholawat, mas? " tanya Azmi memandang Mufti yang sedang asyik dengan dunianya duduk santai fokus melihat tim hadroh yang sedang berlatih.


" Hah? Enggak deh, gue gak pernah sholawatan, " jawab Mufti dengan wajah yang begitu kaget.


" Ya makanya, sekarang sholawat biar pernah." Ahkam.


" Eee, enggak deh, kalian aja yang latihan." Mufti.


" Ban, Mi, mas Ahkam, ayo latihan. Dari tadi kita nabuh sampai tangan merah gini kalian gak mulai-mulai, " protes Udin menunjukkan tangannya yang merah.


" Aban dulu, terus mas Ahkam aku belakangan, " Azmi.


" Ayo Ban, mulai." Ahkam.


" Baca yang mana nih?" tanya Aban ia tidak sadar malah menggunakan miknya ketika bicara membuat Azmi menutup telinganya karena suara Aban yang begitu keras.


" Eh, maaf, Mi. Gak sadar aku, " Aban.


" Oke, gak papa, " jawab Azmi mengacungkan jempolnya.


" Ya Hanana aja, " usul Ali.


Aban mengangguk dan mulai membaca sholawatnya. Tim hadroh juga mulai menabuh rebana mereka dengan sangat kompak dan semangat.


Suara para vocal yang begitu indah membuat kagum para warga yang ada didekat pesantren mereka mulai mendekati gerbang pesantren ingin mendengar suara para vocal yang begitu indah didengar apalagi nama Syubban sudah terkenal.


Para warga itu bergerombol berdiri di depan gerbang pesantren membicarakan tim Syubban dan meramaikan suasana pesantren tanpa diketahui oleh anggota Syubban yang sedang asyik bersholawat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2