
Setelah sholat dan makan bersama, para santri di persilakan untuk istirahat sampai waktu ashar tiba. Azmi bersama kelompoknya sedang asyik beristirahat di dalam tenda mereka. Dengan peci yang masih terpasang Azmi meletakkan kepalanya pada pangkuan Aban. Aban hanya pasrah ketika melihat Azmi menyenderkan kepalanya pada pahanya.
" Nanti kita ngapain aja, sih? " tanya Rifki.
" Nanti kita sholat ashar, dengerin Kyai ceramah, sama ngaji bersama atau tadarus satu kelompok, " jawab Azmi dengan cepat mendahului Aban yang hendak menjawab.
" Malas banget, kenapa ngajinya harus satu kelompok, sih? " ucap Zakir yang tengah duduk bersantai.
" Emang kamu maunya gimana, Kir? " tanya Sihin yang ada di sampingnya.
" Mi, aku izin! Aku gak ikut ngaji!" Zakir kepada Azmi yang masih menyenderkan kepalanya pada pangkuan Aban.
Seketika Azmi bangun dan fokus menatap Zakir.
" Gak bisa gitu Kir, kita harus ngaji satu kelompok. Lagian kamu gak punya alasan buat gak ngaji. " tukas Azmi.
" Ngaji apa susahnya sih, Kir. Masa kamu gak mau ngelakuin aktivitas cuma gara-gara satu kelompok sama kita, " tambah Aban.
" Ayolah Kir, ini juga dinilai, kita harus ikut semua kegiatan, " sambung Helmi.
Sementara Rifki yang sudah malas tidak mau memberikan usulannya.
" Ah, iya, ya, berisik banget kalian! " sentak Zakir terpaksa menerima ajakan teman satu kelompoknya.
Azmi dan Aban saling pandang untuk beberapa saat dan Azmi kembali hendak merebahkan kepalanya pada Aban.
" Eh, enggak! Jangan nyender lagi, Mi! Aku juga capek, inikan udah pakai tenda." Aban yang tau kalau Azmi hendak menyender dengan cepat ia menggeser tubuhnya.
" Hehe, Maaf Ban, ya udah, kita istirahat dulu semuanya, " Azmi.
Rifki sedari tadi sudah merebahkan dirinya menggunakan jaketnya sebagai alas kepalanya sementara Azmi dan Aban memilih untuk tidak memakai alas begitu juga dengan yang lain yang terasa nyaman-nyaman saja meskipun tak beralas bantal.
Melihat kesunyian Rifki, Azmi menyuruh Aban untuk menoleh ke arah Rifki yang sedang menghadap kanan sembari memegang pecinya sontak saja membuat Azmi dan Aban tertawa karena kebisuan Rifki.
__ADS_1
" Ki', ada apa denganmu? " tanya Azmi sambil tertawa kecil bangun untuk memastikan agar Rifki baik-baik saja.
Rifki sempat menoleh sekilas ke arah Azmi yang tertawa kecil kepadanya dan kembali memalingkan pandangannya.
" Apa toh, Mi? Aku capek, " jawab Rifki.
" Oh, ya udah, tidur sana yang nyenyak, " Azmi kembali merebahkan dirinya dan mulai mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah begitu juga yang dilakukan Aban, Sihin, Helmi, dan Zakir yang sudah larut dalam tidur mereka.
...*******...
Lain halnya dengan Aisyah, ketika semua santriwati sedang beristirahat, Aisyah memilih menyendiri duduk di bawah pohon rindang dengan buku harian dan pulpen yang ia bawa.
Tangan kecil yang lembut dengan pulpen yang ia pegang, Aisyah menulis sesuatu menuangkan kesedihannya pada buku hariannya.
" Cahaya matahari terik hadir menemani diriku saat ini, tapi kesedihan juga ada dalam diriku. Kak Akmal, Aisyah rindu sama Kakak. Kak Akmal apa kabar? Kak Akmal tenang kan, disana? Aku rindu banget sama Kakakku yang sangat baik, yang selalu buat aku bahagia. Tuhan, apa yang harus aku lakukan, aku masih belum bisa melupakan kejadian dimana aku melihat Kak Akmal sudah kaku terselimuti kain putih. Iya, aku tau ini semua sudah menjadi takdir Allah, dan.. Allah pasti memberi jalan yang terbaik untuk Kak Akmal. Tapi kenapa? Kenapa jalan terbaiknya adalah membuat Kak Akmal pergi selamanya? Kak Akmal tunggu Aisyah ya, adekmu ini sangat rindu, " Aisyah terus menulis dan tidak terasa air mata jatuh pada kertas yang sudah tertuang isi hati Aisyah.
" Syah! " suara Fitri terdengar langkah kakinya terus semakin mendekati Aisyah, Aisyah dengan segera menutup buku hariannya menghapus air matanya dan menoleh ke arah Fitri sambil memberikan senyum manisnya.
" Kamu ngapain disini? Bukannya istirahat, malah sendirian disini. " tanya Fitri duduk di samping Aisyah yang sempat memalingkan wajahnya untuk mengusap wajahnya dan kembali memandang Fitri.
" Yakin, gak papa? " tanya Fitri masih mengkhawatirkan sahabatnya.
" Iya, mmm... Kamu ngapain disini? " tanya balik Aisyah.
" Aku khawatir sama kamu, pas tau kamu gak ada di tenda, makanya aku nyariin kamu. Eh, ternyata lagi menyendiri disini, " Fitri.
" Hmmm, aku lagi kangen sama Kak Akmal, " Aisyah kembali memalingkan wajahnya dengan suaranya yang mulai bergetar.
Fitri yang mengerti perasaan temannya segera merangkul Aisyah mengelus-ngelus lengan Aisyah agar Aisyah bisa lebih tenang.
" Iya, aku ngerti kok, kamu harus kuat Syah!Kak Akmal pasti sedih tau, kalau ngelihat kamu nangis kaya gini, " ucap Fitri terus merangkul Aisyah yang mulai menangis tidak bisa menahan kerinduannya pada Kakaknya.
Tangis Aisyah malah semakin menjadi di suasana hening saat semua orang istirahat hanya Fitri dan Aisyah yang terbangun duduk bersama di bawah pohon rindang.
__ADS_1
" Udah, kamu jangan nangis terus dong, aku gak bisa lihat kamu nangis," Fitri segera membangunkan Aisyah dari pelukannya dan memegang kedua lengan Aisyah.
Aisyah menghapus air matanya ia melihat Fitri yang terus menyemangati dirinya.
" Iya Fit, makasih ya, kamu udah selalu ada buat aku. Aku senang banget punya sahabat kaya kamu, " Aisyah.
" Aku akan selalu ada buat kamu Syah, udah, jangan nangis ya, " Fitri.
Aisyah mengangguk dan tersenyum begitu juga dengan Fitri yang membalas senyuman Aisyah. Senyum mulai terlukis di wajah cantik Aisyah ia juga sangat nyaman berada dalam rangkulan Fitri yang sangat perhatian kepada dirinya.
...*****...
Saatnya para santri berjuang dan kompak dalam satu kelompok. Disini Azmi menjadi ketua ia harus bisa membuat semua anggotanya semangat dan kompak dalam menjawab pertanyaan Ustadz, menunjukkan aksi terbaik mereka dan harus bisa menyambung ayat yang sudah diberikan. Walau Zakir terus bermalas-malasan dengan tegas Azmi terus berusaha membuat Zakir melakukan semua aktifitas yang menjadi kegiatan selama perkemahan.
Walau banyak sekali rintangan untuk membuat Zakir semangat dengan senyuman dan kesabaran Azmi terus membuat Zakir mau bangun dan melangkah bersamanya. Beberapa kali Zakir bicara kasar, beberapa kali Zakir mencoba membuat Azmi lelah dan beberapa kali Zakir mencelakakan Azmi tidak membuat Azmi emosi dengan santai Azmi menghadapi tingkah Zakir yang masih membenci dirinya.
Tidak dengan Rifki yang malah kesal melihat kebaikan Azmi kepada Zakir yang tidak akan melakukan semua kegiatan kalau bukan Azmi yang memaksanya.
" Azmi, kamu kenapa, sih? masih aja sabar kaya gini sama tingkah Zakir. " tanya Rifki tidak senang dengan tingkah Zakir.
" Sabar adalah kunci dari kesuksesan, orang yang sabar itu di sayang tuhan, iya gak, Ban? " tanya Azmi kepada Aban.
" Iya, benar, " jawab Aban yang duduk di samping Azmi habis membaca kitabnya.
" Iya sih, tapi sabar itu ada batasnya kali Mi, kamu bukan malaikat, " Zakir.
" Siapa yang bilang sabar ada batasnya? Selagi kita bisa sabar, kenapa enggak? Rifki, Allah akan selalu menguatkan hambanya yang mau bersabar, dan Allah tidak akan mengecewakan hamba Nya yang selalu berusaha dan menadahkan tangannya untuk berdoa kepada Nya," jawab Azmi tenang dan adem tapi Rifki bukanlah Azmi dia tetap tidak suka dengan tingkah Zakir.
" Terserah kamu Mi! Aku tetap gak suka sama dia, " ucap Rifki pergi begitu saja meninggalkan Azmi dan Aban.
" Ki, mau kemana Ki? Awas nginjak semut!" teriak Azmi berusaha membuat Rifki mengerti tapi Rifki tidak mau mendengarkan.
" Biarin aja Mi, entar juga balik sendiri, mungkin Rifki sekarang kesal sama sikap kamu yang terus-terusan sabar sama Zakir. " Aban.
__ADS_1
Azmi menoleh ke arah Aban sembari mengangguk dan pandangannya kembali mengarah kepada Zakir yang tengah duduk berbicara dengan santri lain.
Bersambung....