Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 82. Ucapan Selamat.


__ADS_3

Keesokan harinya tepatnya setelah pulang mengaji kitab Azmi melamun duduk di depan kamarnya dengan seragam sekolah yang ia kenakan. Aban dan Rifki yang bingung dengan Azmi segera menghampiri Azmi dan membuatnya kaget.


"Eh Mi, ngelamun aja, mikir apa sih?. " Aban menepuk pundak Azmi dan duduk di samping Azmi.


" Iya Mi, jangan ngelamun mulu ,awas kesambet hantu pesantren lo, " ucap Rifki menakut-nakuti Azmi.


" Hushh Ki, serem amat ngomongnya, mana ada hantu pesantren yang ada kamu tuh hantunya. " Azmi.


" Ya kali Mi, orang seganteng aku ini hantu," Rifki.


" Emangnya kamu kenapa sih Mi?, kita lihatin dari tadi kamu ngelamun aja. " Aban.


" Enggak kok, aku gak papa. " Azmi dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.


" Beneran Mi, kamu gak mikir apa-apa?." tanya Rifki penasaran.


" Iya Iki',aku gak papa. " jawab Azmi.


" Assalamualaikum. " ucap Ahkam yang baru datang mengaji dengan kitab yang ia bawa.


" Wa'alaikumsalam. " jawab Aban, Azmi dan Rifki menoleh ke arah Ahkam.


" Eh Ki, kamu tau Akmal kemarin kemana?." tanya Ahkam kepada Rifki.


" Ada kok mas dikamar kemarin. " jawab Rifki.


" Emang ada apa mas Ahkam? " tanya Azmi memandang Ahkam.


" Enggak Mi, katanya dia mau mgomongin sesuatu tapi semalem dia gak ada ke kamar sama sekali, sampai aku ketiduran nungguin dia. " Ahkam.


" Ya udah mas, nanti aku bilang sama mas Akmal, oke. " Rifki.


" Iya deh, makasih ya Ki, " Ahkam.


" Sama-sama mas, " Rifki.


Aban menarik tangan Azmi dan melihat jam tangan Azmi yang sudah menunjukkan pukul 07.00 .


" Ayo Mi, berangkat, udah jam 07.00 nih," Aban memperlihatkan jam tangan Azmi.


" Ayo, mas kita sekolah dulu ya, " Azmi.


" Iya, belajar yang rajin, " Ahkam.


" Iya mas, assalamualaikum. " Azmi mulai berdiri.


" Assalamualaikum mas, ayo." Aban yang hendak pergi bersama Azmi meninggalkan Rifki.


" Eh,main ninggalin aja, yaudah mas Ahkam, aku mau sekolah dulu, assalamualaikum mas, " Rifki terburu-buru hendak menyusul Azmi dan Aban.


" Iya Ki, wa'alaikumsalam. " jawab Ahkam.


" Ayo Ki, cepetan. " teriak Azmi.


" Iya, " jawab Rifki sembari terus melangkah cepat menyusul Azmi dan Aban yang meninggalkannya.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, Azmi dan Aban duduk bersamaan dibangku mereka sedangkan Rifki duduk di bangku lain tidak jauh dari Azmi dan Aban.


" Eh temen-temen ada Azmi sama Aban, mereka kan habis menang lomba kemarin. " ucap salah santri.


" Oh ya, selamat ya Mi,Ban,kalian hebat. " santri lainnya berjabat tangan dengan Azmi dan Aban secara bergantian.


Para santri yang lain ikut menjabat tangan Azmi dan Aban bahkan satu kelas ikut memberikan selamat dan memuji-muji Azmi dan Aban begitu juga dengan Sihin yang ingin menghampiri Azmi dan Aban. Saat bangun dan hendak pergi dari bangkunya Zakir segera menghentikan Sihin dan menggenggam tangan Sihin.


" Mau apa kamu Hin?. " tanya Zakir kepada Sihin yang terhentikan langkahnya.


" Aku mau ngucapin selamat sama mereka, " jawab Sihin memandang Zakir.


" Ya elah Hin, ngapain sih ngucapin selamat sama mereka?. " Helmi ikut menyambung.


Zakir mulai bangun dan berdiri di samping Sihin.


" Gak Hin, aku gak mau kamu ngucapin selamat sama mereka apalagi muji-muji mereka, kamu kan tau kalau aku benci sama mereka." Zakir.


" Emang kenapa sih Kir?, Sihin kan cuman mau ngucapin selamat. " ucap Ahmad yang duduk dibelakang mereka.


" Diam culun, ini urusan aku sama Sihin, gak usah ikut campur. " sentak Zakir membuat Ahmad terdiam.


Azmi dan Aban mendengar semua itu dan mereka saling pandang.


" Heh Kir, gak baik ngehina fisik orang, kasihan kan Ahmad." Azmi.


"Ini lagi, pakek nasihatin aku segala, " Zakir dengan malas untuk memandang Azmi.


" Udah lah Mi, gak usah diladenin. " Ahmad kepada Azmi yang mulai kesal dengan sikap Zakir.


Azmi, Aban, Zakir dan Sihin mulai duduk ,Zakir masih menatap Azmi dengan tatapan tajam.Tidak lama kemudian ustadz Ridwan datang dan siap memulai pelajarannya.


...**************************...


Waktu istirahat sekolah sudah tiba tidak seperti biasanya Akmal lebih memilih untuk pergi ke perpustakaan daripada berkumpul dikantin bersama teman-temannya. Di perpustakaan Akmal terlihat fokus mencari bukunya.


" Li, Akmal mana?. " tanya Firman.


" Iya, tumben dia telat datang ke kantin biasanya dia selalu datang pertama. " tambah Udin.


" Iya Din, Fir, Akmal mana ya?,aku cari dia dulu ya, kalian makan aja duluan. " Ali.


" Ya udah Li,kamu cari Akmal. " Firman.


Ali bangun dari tempat duduknya dan mulai melangkah untuk mencari Akmal. Ali terus mencari Akmal di berbagai tempat hingga akhirnya ia sampai di depan pintu perpustakaan.


" Ah,masa iya sih, Akmal ada di perpus, dia kan gak suka baca buku. " ucap Ali melanjutkan langkahnya seketika ia menghentikan langkahnya setelah melangkah 5 langkah.


" Coba deh, aku cari aja,siapa tau ada. " ucap Ali membalikkan tubuhnya dan kembali ke perpustakaan, ia mulai masuk dan mencari Akmal.


Sedangkan Akmal sudah menemukan buku yang ia cari.


" Nah, ini dia buku yang aku cari, alhamdulillah ketemu juga. " Akmal memandang buku tebal yang bertulis berbagai penyakit paru-paru dan gangguan pernafasan ,Akmal mulai duduk untuk membaca buku itu.


Akmal mencari nama penyakitnya di daftar isi yang tertulis dibuku itu.

__ADS_1


" Nah, itu dia Akmal, tumben dia baca buku." Ali yang melihat Akmal sedang membaca buku ia segera melangkah menghampiri Akmal.


" Mal,aku cariin dari tadi ternyata kamu... " Ali menghentikan pembicaraannya ketika melihat judul buku yang sedang di baca Akmal.


Ali merampas buku yang dipegang Akmal.


" Li, apaan sih?, sini balikin. " Akmal ikut berdiri meminta kembali bukunya.


" Oh, jadi dari tadi kamu nyari buku ini, buat apa sih Mal?,kamu gak bakal kenapa-kenapa, percaya sama aku. " Ali.


Akmal merebut kembali buku yang dirampas Ali.


" Jelas buku ini penting Li, disini ada penjelasan tentang penyakit aku, setidaknya aku bisa tau tentang penyakit aku Li, " Akmal.


" Tapi Mal, " Ali ingin menjelaskan sesuatu kepada Akmal namun seketika ia tidak bisa mengatakannya.


Akmal pergi begitu saja membawa bukunya.


" Akmal, tunggu Mal, " teriak Ali segera mengejar Akmal yang sudah keluar dari perpustakaan.


Ali terus mencari Akmal hingga ia melihat Akmal duduk sendiri di dalam kelas sembari menepatkan kedua tangannya diwajahnya. Ali segera menghampiri Akmal dan duduk disamping Akmal.


" Mal, kamu kenapa?. " tanya Ali khawatir.


"Enggak Li, aku gak papa kok, " ucap Akmal sembari tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca.


" Kamu nangis Mal,ada apa?, ayo cerita aja sama aku. " Ali.


" Enggak Li,aku gak nangis kok, ya kali aku nangis." Akmal memalingkan wajahnya dan mengusap wajahnya.


" Assalamualaikum ." ucap Firman dan Udin masuk ke kelas segera menghampiri Akmal dan Ali.


" Wa'alaikumsalam. " Ali dan Akmal.


Akmal segera menyembunyikan bukunya pada kolong meja.


" Akmal, Ali, dicariin dari tadi juga. " Firman.


" Iya nih, aku sama Firman udah kenyang, kalian belum makan?." Udin.


" Eeeee...." Ali yang bingung harus menjawab apa kepada Firman dan Udin sembari memandang Akmal yang hanya diam.


" Aku sama Ali udah makan kok tadi, ya kan Li. " ucap Akmal memandang Ali.


" Iiii....Iya, kita udah makan. " Ali terbata-bata.


Firman dan Udin bingung dan saling pandang.


" Masa sih, kapan?. " Firman.


Tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi membuat Firman dan Udin segera ketempat duduknya.


Semua siswa mulai masuk kedalam kelas begitu juga dengan ustadz yang siap mengajarkan mereka.


Sesekali Ali memandang Akmal yang sedari tadi terlihat gelisah.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2