Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 127. Aktif


__ADS_3

Tepat setelah mengaji sore, terlihat Ahkam, Muhklis dan Nur, bergotong royong membawa barang-barang Akmal untuk di masukkan ke dalam mobil pick-up yang sudah menunggu di halaman pesantren. Azmi, Aban dan Rifki segera menghampiri Ahkam yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ahkam berdiri tepat di sebelah mobil bersama Muhklis dan Nur.


" Barang-barangnya mas Akmal mau di bawa kemana, mas? " tanya Azmi memperhatikan barang-barang Akmal yang sudah tersusun rapi di mobil pick-up suruhan Kyai.


" Kyai bilang, barang-barangnya Akmal mau di bawa ke orangtuanya Akmal, Mi, " ucap Ahkam menoleh ke arah Azmi yang berdiri di sebelahnya dengan raut wajah bingung.


Tidak lama kemudian Ali, Firman dan Udin juga melangkah mendekati mereka dengan buku yang masih mereka bawa terlihat ekspresi sedih dalam wajah Ali.


" Terimakasih ya nak, assalamualaikum, " ucap pak sopir kepada semuanya.


" Sama-sama pak, wa'alaikumsalam, " ucap Ahkam dengan semuanya ikut menjawab salam.


Pandangan mereka mengikuti jalan mobil yang keluar dari pesantren. Setelah itu mereka hanya bisa diam dan menundukan kepala sambil menghela nafas mereka.


" Takdir Akmal kenapa kaya gini, ya? " keluh Ali dengan kepala sedikit menunduk.


" Ojo ngono to Li, aku ikut sedih lagi iki, " protes Udin menoleh ke arah Ali yang juga menoleh ke arahnya.


" Aku masih gak bisa ikhlasin Akmal, Mal, kenapa kamu pergi ninggalin kita semua, Mal? Udah 6 tahun kita bareng-bareng nuntut ilmu di sini, tapi kamu malah pergi gitu aja, Mal, " tambah Firman raut wajahnya sangat sedih.


" Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi, rek, Akmal udah kaya saudara aku sendiri, dia itu orang baik, sabar, gak kaya kamu Li, yang gampang emosi, " ledek Muhklis kepada Ali walau ia masih memikirkan kepergian Akmal.


" Kalian jangan larut dalam kesedihan, kita harus bisa tabah, ikhlas, semua yang hidup pasti akan meninggal. Cuma waktunya aja yang beda, aku yakin Akmal udah tenang di alam sana, " ucap Ahkam menjelaskan kepada semua teman-temannya dengan suaranya yang selalu tenang dan menyejukkan untuk setiap orang yang mendengarnya.


" Mas Ahkam benar, emang susah banget buat ikhalasin kepergian orang yang udah kita sayang, mas Akmal juga baik banget sama aku, tapi kita harus bisa tabah, kita harus terus berdoa untuk ketenangan mas Akmal, semoga kita semua bisa ketemu mas Akmal di jannah Nya nanti, " sambung Azmi nada pelannya menggerakkan hati semua orang.


" Tapi koyo pie mas, Mi, aku gak kuat, " Udin matanya mulai berkaca-kaca ia menutup wajahnya yang mulai menangis. Aban yang ada di sampingnya mencoba menenangkan Udin sembari mengelus-ngelus lengan Udin.


" Sabar mas Udin, " ucap Aban terus menangkan Udin.


Saat ini tim Syubban memang masih belum bisa melupakan sosok Akmal yang sangat baik, ramah, sabar dan selalu bisa menyenangkan hati sahabatnya. Akmal sudah seperti keluarga mereka yang sangat mereka sayangi tapi kini Azmi, Aban, Ahkam, Muhklis, Firman, Udin, Ali, Nur, dan para tim hadroh yang lain harus bisa tabah mengikhlaskan kepergian vocalis Syubban yang 6 tahun sudah semangat melantunkan sholawat dengan suaranya yang sangat indah.


...*******...


Suasana langit yang gelap dan dingin tidak mematahkan semangat para santri yang sedang belajar mengaji kitab bersama. Kyai menyempatkan dirinya untuk terlebih dahulu mendoakan Akmal sebelum memulai pelajarannya barulah ia mulai mengajarkan ajian kitabnya kepada para santri.

__ADS_1


Para santri sangat fokus mendengarkan begitu juga dengan tim Syubban yang duduk bersebelahan tanpa sengaja mereka mencoba menahan rasa kantuk mereka di malam yang semakin larut, pertanyaan demi pertanyaan mulai berdatangan setelah Kyai selesai begitu juga dengan Azmi yang mengangkat tangannya menanyakan tafsiran kitab yang belum ia pahami.


" Mal, kamu biasanya selalu bertanya Mal, kamu memang anak yang paling aktif dan semangat dalam menuntut ilmu tapi, kenapa Mal? Kenapa kamu harus pergi sebelum kamu ngewujudin impian kami? Kenapa Ya Allah?" ucap Ali dalam hatinya sembari memperhatikan Azmi yang sedang fokus menyimak jawaban dari Kyai atas pertanyaannya, Azmi memang mirip dengan Akmal yang pintar dan selalu aktif dalam pelajaran.


Tepat pukul 12.00 malam, pelajaran mengaji kitab selesai. Beramai-ramai para santri turun dari Masjid langkah mereka sangat pelan sesekali para santri mengusap-ngusap wajah mereka yang sudah lelah karena seharian penuh mereka harus menuntut ilmu dan menghafal.


Anggota Syubban turun saat Masjid sudah sepi, Kyai yang melihat segera menghampiri mereka.


" Assalamualaikum, anak-anak, " ucap Kyai tepat di hadapan mereka.


Melihat ada Kyai, semua anggota Syubban segera menunduk dengan kedua tangan yang mereka satukan dan baju juga peci yang mereka rapikan.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semua anggota Syubban dengan kepala yang terus menunduk.


Begitu senangnya hati Kyai, ia melihat para santri yang sangat sopan kepada dirinya dan begitu juga dengan para santri lainnya yang selalu menjaga adab mereka.


" 2 hari lagi kita kemah, karena sudah hampir masuk bulan suci Ramadhan, saya minta besok setelah sekolah kalian berkumpul untuk latihan dan, Ahkam, Ali, kalian saya tugaskan untuk membuat seragam baru untuk tim Syubban. Kalian tenang saja, saya yang akan membiayai semuanya, " Kyai.


Ahkam dan Ali sempat saling pandang sehingga Ahkam memberikan usulannya.


" Tapi Ahkam, apa kalian semua punya pegangan uang ? Jangan pikirkan omongan santri yang lain, sudah tugas saya untuk menjaga kalian dan mengurus semua kebutuhan kalian, karena ini adalah perintah dari Almarhum Kyai Hasyim." Kyai.


Anggota Syubban sempat bingung mereka semua saling pandang satu-persatu begitu juga dengan Azmi yang menunggu keputusan seniornya dan kembali menunduk.


" Ya sudah, nanti kalian diskusi lagi, yang penting besok kalian semua harus kumpul di tempat latihan! Saya dan Mustafa akan mengumumkan hal penting, " Kyai.


" Baik Kyai, " ucap semua anggota Syubban.


Kyai melukis senyum sembari menganggukkan pelan kepalanya setelahnya.


" Sekarang kalian istirahat, ayo, sudah malam sekali ini, " Kyai.


Di mulai dari Ahkam yang mencium tangan Kyai, satu-persatu dari anggota Syubban ikut mencium tangan Kyai.


" Assalamualaikum, " ucap semua anggota Syubban sebelum mereka melangkah pergi.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap Kyai memandang langkah para anggota Syubban yang terus berjalan menuju kamar mereka masing-masing.


Kyai menghela nafasnya keras.


" Kasihan anak-anak, semoga kelak mereka menjadi orang sukses semua, bisa membuat bangga kedua orangtua mereka." Kyai tersenyum mengawasi langkah tim Syubban dan melangkah pergi setelahnya.


Azmi yang pertama kali sampai langsung membuka pintu kamar. Dengan tubuh yang sudah lelah dan mata yang mengeluarkan air mata, Azmi juga menutup mulutnya yang menguap. Dengan asal Azmi meletakkan pecinya di atas lemari pakaiannya lalu ia beranjak merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk.


" Alhamdulillah, akhirnya, " ucap Azmi memeluk gulingnya memejamkan matanya menikmati kenikmatan kasurnya.


" Anak-anak gimana, ya? Mereka semua punya uang, gak? Kalau harus bikin seragam buat kemah nanti, " renung Ahkam yang masih duduk di kasurnya.


Seketika Azmi bangun dan menoleh ke arah Ahkam.


" Kalau aku sih, ada mas. Setiap kita tampil kita juga selalu dapat pesangon, menurut aku semuanya punya uang mas, sekarang jadwal kita juga udah padat, kasihan Kyai, kalau terus biayain kita, apalagi santri-santri lain juga iri sama kita, " terang Azmi menuturkan pendapatnya.


" Iya mas, sekarang tim kita udah cukup maju, aku juga punya cukup tabungan, " sambung Aban yang duduk anteng di kasurnya.


Ahkam menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali.


" Wes lah rek, diskusiin besok aja, turu-turu!" Muhklis yang sudah sangat mengantuk memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya membuat Azmi, Aban dan Ahkam menoleh ke arahnya sembari tertawa kecil.


" Pikirin besok aja mas Ahkam, ini udah malam, " Azmi.


" Iya Mi, aku diskusiin besok aja, " Ahkam.


" Lampunya aku matiin ya," Aban.


" Siap Ban, bunuh aja, " Azmi.


Aban dan Ahkam hanya bisa tertawa melihat Azmi yang sudah sangat lelah mulai memejamkan matanya.


Aban mematikan lampu dan mereka mulai memejamkan mata larut dalam tidur mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2