Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 163. Tercengang


__ADS_3

Mobil Kyai mulai terlihat dan mendekat menuju pesantren Nurul Qadim yang masih banyak orang menunggu dan ingin masuk ke dalam pesantren, tidak sedikit diantara mereka yang sampai menggedor-gedor pintu gerbang dan memaksa masuk kedalam pesantren mendengar 3A yang masih melantunkan sholawat dengan suara merdu mereka.


Gedor-gedoran masyarakat terdengar oleh Mufti yang bangga menyaksikan latihan tim Syubban. Semakin keras gedoran dan suara warga terdengar ditelinga membuat Mufti yang heran menghentikan latihan para anggota Syubban tiba-tiba.


" Eh eh, berhenti! " Mufti.


" Enek opo toh, Muf? Ganggu aja kita latihan," protes Udin yang merasa sangat kesal.


" Maaf, tapi tuh dengar, diluar kok rame banget, ya? " Mufti.


" Gus Azmi!!! Keluar dong!" teriakan warga terdengar oleh seluruh anggota Syubban.


" Syubban, ayo keluar! " suara itu terus saling bergantian meminta tim Syubban keluar.


Sedangkan Kyai masih bingung tidak bisa keluar walau pak sopir sampai keluar mobil meminta semua warga pergi. Karena banyaknya jumlah warga membuat pak sopir tidak bisa berbuat apa-apa sudah kewalahan begitu juga dengan Kyai melihat warga yang begitu banyaknya.


" Pak, ayo masuk saja. Saya akan telepon Mustafa dan suruh dia bawa polisi untuk mengamankan para warga yang ramai ini, " Kyai kepada pak sopir yang sudah menyerah dengan aksi para warga yang sangat ingin anggota Syubban keluar walau mereka tau bahwa Kyai sudah sampai.


" Baik Kyai, saya akan minggirin mobil, " pak sopir segera masuk dan mengarahkan mobil ketempat yang lebih aman dan jauh dari kerumunan warga.


" Eh, kita lihat aja apa, ya? " Ali.


" Ha'ah, diluar rame banget, nyebut-nyebut nama Azmi, minta kita keluar, maksudnya apa coba? " Firman bingung.


" Jangan mas, kalau kita keluar aku yakin pasti akan jadi makin rusuh. Kita diam aja disini," Azmi.


" Tapi Mi, mereka rame banget, lo. Gedor-gedor gerbang lagi, masa kita diam disini aja? " tanya Aban.


" Kalau kita keluarpun keadaan gak akan pulih, kita disini aja mas, tunggu sampai Kyai datang. " Azmi.


" Aku setuju sama Azmi, kita gak boleh keluar atau kita yang akan celaka karena kerusuhan masyarakat, " Ahkam.


" Bentar-bentar, gue bingung deh, kenapa tiba-tiba banyak warga yang kesini, ya?" tanya Mufti.


Semua anggota Syubban juga bingung dan saling pandang satu sama lain.


***


Atas perintah Kyai, Ustadz Mustafa bersama Hamdi, Hafsah dan Syafiq datang ke pesantren mereka juga membawa polisi untuk meminta masyarakat agar mereka tidak menganggu anggota Syubban dan pergi dari pesantren.


" Jangan di usir dong, aku pengen banget lihat gus Azmi yang ganteng itu, " ucap salah satu gadis membuat geli Kyai, Ustadz Mustafa, Hamdi, Hafsah dan juga Syafiq.


" Iya Kyai, izinin kita ya, buat lihat mereka tampil, " ucap gadis lainnya.


Semua warga juga ikut-ikutan meminta agar anggota Syubban keluar memperlihatkan wajah mereka. Banyak juga warga yang meneriaki nama Azmi, Aban dan Ahkam meminta mereka keluar.

__ADS_1


" Maaf, ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak semuanya. Santri saya tidak bisa keluar, mereka harus istirahat, kalian tidak bisa bertingkah seperti ini pada santri saya, " tegas Kyai.


" Kenapa, Kyai? Kita cuma pengen mereka sholawat, " warga 1.


" Benar tuh, sama minta foto juga, sih." warga 2.


Hafsah hanya bisa tercengang dan geleng-geleng kepala melihat tingkah para gadis yang sangat ingin melihat wajah anggota Syubban terutama Azmi. Diantara mereka bahkan ada yang sampai memohon histeris kepada Kyai, sungguh hal itu membuat Kyai, Hafsah, Hamdi dan Syafiq kecewa dan sedih dengan sikap para gadis itu.


" Maaf ya, Mbak. Anggota Syubban saat ini belum bisa keluar, silakan kalian istirahat juga dirumah atau sholat ashar dulu, Mbak. Entar lagi maghrib lo, " ucap Hafsah dengan tegas sudah lelah melihat aksi mereka.


Mereka tetap menolak dan malah semakin keras memanggil nama Azmi, Ahkam, Aban dan anggota Syubban. Dengan paksa pihak kepolisian memberikan tindakan tegas agar mereka pergi dari tempat.


Setelah tindakan tegas dari polisi akhirnya para warga mau pergi walau mereka masih menyempatkan diri untuk menyoraki polisi seolah tidak terima saat mereka diusir.


Hafsah menghela nafasnya keras dan memegang dahinya sambil menunduk.


" Gak nyangka banget kalau mereka sampai senekat ini mau ketemu anggota Syubban, " Hafsah.


" Sama, Dek. Mereka sampai segitu banget, ya? Padahal mereka udah tau kalau ini ponpes bahkan Kyai udah ada disini, " Hamdi ikut kecewa sekilas pandangannya menuju kepada Kyai yang sudah terlihat sangat lelah.


" Ya, emang begini resiko orang terkenal." ucap Syafiq membuat Hafsah dan juga Hamdi bersamaan mengarah kepadanya.


" Ayo semuanya, kita segera masuk." Kyai.


" Baik Kyai, " ucap Hamdi diikuti Hafsah sementara Syafiq hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Tim Syubban masih berdiri didepan Masjid memandang mobil Kyai yang masuk parkir dihalaman pesantren dibelakangnya ada mobil Hamdi dan Ustadz Mustafa yang mengendarai motornya juga parkir bersebelahan dengan mobil Kyai.


Melihat Kyai yang melangkah dengan pak sopir yang bersiap seperti seorang prajurit mengikuti langkah pelan Kyai menuju para anggota Syubban, mereka langsung menunduk rapi beda halnya dengan Mufti yang seketika kaget melihat anggota Syubban yang tertunduk ia juga langsung ikut-ikutan menunduk menyambut kedatangan Kyai.


" Assalamualaikum, " Kyai.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya termasuk Hamdi, Hafsah, Syafiq dan Ustadz Mustafa.


" Kalian sedang apa, tadi? " tanya Kyai.


" Latihan Kyai," jawab Ahkam.


" Maaf Kyai, kita tadi dengar keributan, ada apa ya, Kyai? " tanya Udin.


Kyai tidak langsung menjawab hanya melukis senyuman kecil kepada para santrinya.


" Kalian sudah banyak penggemarnya. Banyak sekali warga yang ingin bertemu dengan kalian, bahkan mereka sampai memaksa dan ada yang sampai menangis. Sampai-sampai polisi memberi tindakan tegas." jawab Ustadz Mustafa.


" Astagfirullah, " jawab seluruh anggota Syubban dengan kompak yang sangat menyayangkan aksi warga kecuali Udin yang malah bilang...

__ADS_1


" Alhamdulillah, " Udin begitu keras dan yakinnya membuat semua orang mengarah pandangan mereka kepada Udin.


" Mas Udin, kok Alhamdulillah? " tanya Aban.


" Eh salah, ya? Kan, kita punya penggemar? Alhamdulillah, kan?" tanya Udin balik dengan ekspresi lugunya.


" Mas Udin benar juga, sih. Tapi aksi yang dilakukan mereka itu udah gak benar mereka tau ini pesantren dan ada Kyai pula harusnya mereka gak boleh melakukan hal seperti itu. Jujur Azmi kecewa kalau kita punya penggemar yang fanatik apalagi mereka malah suka dengan wajah kita bukan sholawatnya, " Azmi.


" Astagfirullah, iya, Mi. Jangan sampai deh," Muhklis.


" Kalian kenapa, sih? Harusnya senang dong, punya fans yang sampai segitunya ke kalian." protes dan tanya Mufti bingung.


" Ya kalau kamu pasti senang Muf, tapi kita tekankan kalau kita ini para santri yang hanya ingin menggemakan sholawat, " jawab Ahkam.


" Masya Allah, pemikiran kalian sebagai seorang santri sangat bagus sekali saya sangat bangga kepada kalian, " Syafiq.


" Alhamdulillah, saya juga selalu salut dengan apa yang dilakukan mereka, semoga kalian bisa selalu seperti ini dan jangan pernah sombong dengan apa yang kalian capai," Kyai.


" Baik Kyai, " jawab anggota Syubban.


" Maaf Kyai, kita harus bicara tentang undangan tim Syubban yang sudah sangat banyak sekali. Dan ini juga ada Syafiq yang merupakan produser musik religi dia sangat ingin bekerja sama dengan kalian membuat chanel tentang sholawat, " Ustadz Mustafa.


" Baiklah, ayo kita bicara didalam, " Kyai.


" Iya Kyai, " jawab Syafiq mengangguk.


" Eh, Hafsah boleh masuk juga, gak, Kyai? Soalnya ini kan wilayah santri putra, saya main masuk gitu aja, maaf Kyai. " Hafsah.


" Emang kebiasaan lo tuh, pergi aja gih dari sini. Ini kan wilayah santri cowok, cewek gak boleh ada disini, " sambar Mufti menatap tajam Hafsah.


" Apaan sih, kamu? Aku bukan ngomong sama kamu, ya!" Hafsah kesal.


" Nak Hafsah, Mufti juga ada benarnya sebaiknya kamu pulang atau tunggu dimobil saja, mengingat ini pesantren dan ini wilayah santriwan. Atau, pak sopir bisa mengantarkan kamu pulang, " Kyai.


" Eh, gak usah Kyai. Saya pulang pesen ojek online aja, terimakasih Kyai, maaf sebelumnya. " Hafsah.


" Tidak apa-apa, maaf karena saya harus bersikap seperti ini, " Kyai.


" Iya Kyai, Hafsah ngerti, pamit dulu, assalamualaikum, " Hafsah.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


" Hati-hati, Dek. " teriak Hamdi.


" Iya!" jawab Hafsah berteriak.

__ADS_1


Mereka mulai masuk kedalam Masjid untuk bicara tentang kesuksesan tim Syubban lebih dalam.


Bersambung....


__ADS_2