Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 120. Burdah Yang Meriah.


__ADS_3

" Nah, nih dia orangnya, " Firman kepada Akmal yang baru datang bersama Ali yang ada di belakangnya.


" Sek-sek, muka kamu pucat banget Mal, kamu sakit toh? " tanya Udin dengan ekspresi sangat khawatir fokus menatap wajah Akmal.


" Enggak, kok, ini efek kecapek'an aja, " Akmal sempat memalingkan wajahnya dan kembali menatap Udin.


" Mal, kamu kalau ada apa-apa bilang sama kita, muka kamu emang pucat banget lo, serius gak papa? " tanya Ahkam yang berdiri di samping Akmal ikut mengkhawatirkan keadaan sang vocal dengan suara merdu nan lantang itu.


Akmal hanya diam tanpa sepatah kata apapun.


" Mas Akmal, istirahat aja mas, " tambah Azmi.


" Semua omongan kalian itu gak bakal didengerin sama Akmal, aku udah kasih tau dia dari tadi, tapi dia sama sekali gak mau dengerin, " Ali.


" Assalamualaikum, " Ustadz Abdullah datang dan menghampiri para anggota Syubban yang fokus pandangannya kepada Akmal.


" Wa'alaikumsalam, Ustadz, " dimulai dari Ali, satu-persatu dari mereka menyalam tangan Ustadz Abdullah.


" Kyai ada acara, jadi beliau tidak bisa datang, ayo, kalian langsung masuk saja, " Ustadz Abdullah.


" Baik Ustadz, ayo, " Ahkam mewakili semua teman-temannya mengajak mereka masuk ke dalam Masjid.


" Mas, kenteng reh ?( bel nih?) " Azmi yang sudah bersiap untuk mengebel berdiri di depan bel yang ada di sebelah temoat adzan membuat semuanya tersenyum kecil.


" Iya Mi, " jawab Ahkam.


Azmi segera memencet bel agar semua santri datang ke Masjid bersiap untuk melaksanakan burdah. Dan benar saja mendengar bel dengan lama 10 detik selama 3 kali Azmi pencet terdengar dari seluruh tempat di pesantren, para santri dengan cepat bergegas pergi menuju Masjid.


Bisa dilihat dari atas begitu ramainya suasana pesantren di malam jum'at, dengan wajah berseri-seri mereka berangkat menuju pesantren.


Tim hadroh sudah bersiap dengan rebana yang sudah mereka siapkan, para vocal juga sudah siap dengan mikrofon yang diberikan Ahkam kepada ketiga vocal lainnya.


" Cek, cek, 123, " Azmi mencoba mikrofonnya sembari memainkannya setelahnya.


" Ambu Mi, ( berhenti Mi,) " ucap Aban yang duduk di sebelah, Azmi sedari tadi hanya memperhatikan Azmi yang sedang memutar-mutar mikrofonnya dan sesekali mengecek suaranya.


Azmi hanya menoleh sembari menyematkan senyuman manisnya. Azmi berhenti memainkan mikrofonnya dan menoleh ke arah Akmal yang hanya diam dengan tatapan mata yang tak kedip.


" Mas, mas Akmal, " Azmi memberitahu keadaan Akmal dengan kode matanya kepada Ahkam karena Ahkam yang ada di sampingnya.


" Mal, kamu kenapa? Bengong aja, " tanya Ahkam menepuk pundak Akmal agar Akmal tersadar dari lamunannya.


Seketika Akmal menoleh ke arah Ahkam.


" Hah? Enggak kok mas, ini lagi lihatin mereka, ternyata santri di sini banyak banget ya," Akmal memandang satu-persatu santri yang sudah duduk anteng bersiap untuk bersoholawat dengan buku sholawat yang mereka bawa.


Ahkam juga memandang santri yang memang banyak sudah hadir di hadapan mereka, Ahkam tersenyum.

__ADS_1


" Iya Mal, mereka semua ini saudara kita juga, mereka semua adalah orang-orang yang rela jauh dari orang tua untuk mencari ilmu di pesantren ini, termasuk kamu, aku, Azmi, Aban, dan semua tim Syubban, melihat banyaknya santri, aku senang Mal, " Ahkam.


" Kenapa senang, mas? " Akmal bingung.


" Ya senang lah, ternyata banyak juga yang milih nuntut ilmu di pesantren, " jawab Ahkam dengan suaranya yang adem.


Akmal mengerti ia tersenyum kepada Ahkam dan sesekali mengangguk.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " ucap Ustadz Abdullah memulai acara dan Ustadz Ridwan bertugas menenangkan para santri agar berhenti berbicara dan fokus mendengarkan Ustadz Abdullah.


" Alhamdulillah kita ucapkan kepada Allah SWT atas kesehatan yang kita dapatkan hingga saat ini, semoga kita selalu mendapat barokah menuntut ilmu di pesantren ini, dan bisa mengembangkan potensi islam kepada masyarakat luas, " Ustadz Abdullah.


" Aamiin, " jawab semua santri.


" Seperti biasa pada malam jum'at kita melaksanakan burdah, dan ssbelum memulai burdah ini mari kita berdoa untuk diri kita, untuk leluhur-leluhur kita, untuk keluarga dan untuk semua umat muslim, doa akan dipimpin oleh Ustadz Ridwan, silakan Ustadz, " Ustadz Abdullah.


Ustadz Ridwan yang bertugas untuk memimpin doa kali ini, melangkah maju kedepan dan menerima mikrofon yang di berikan oleh Ustadz Abdullah yang mundur memberi tempat untuk Ustadz Ridwan.


Doa dimulai, seluruh santri termasuk anggota Syubban yang sudah duduk di depan bersiap dengan tugas mereka masing-masing dengan kompak menadahkan kedua tangan mereka untuk mengaminkan doa yang dipimpin oleh Ustadz Ridwan.


Dengan khusyuk mereka mengaminkan doa, begitu juga dengan Azmi yang sangat menghayati sembari menundukkan kepalanya sehingga doa selesai.


" Baiklah, anak-anak sekalian, kita mulai saja burdahnya, seperti biasa yang dipimpin oleh tim Syubbanul Muslimin, silakan di mulai aja Kam, " Ustadz Abdullah kepada Ahkam yang menjadi ketua dari tim Syubbanul Muslimin.


Tidak lupa Ahkam terlebih dahulu membaca bismillah dan sholawat ringan yang dihadiahkan untuk Nabi kita, Nabi Muhammad SAW.


" Allahumma shalli 'alaik, " ucap semuanya begitu kompak dan semangat membuat para Ustadz senang.


Tek... Dung... Tek.. Tek..


Rebana dipukul beriringan oleh tim hadroh yang sudah sangat ahli bermain rebana. Tanpa salah sedikitpun tim hadroh terus memukul rebana mereka dan ke 4 vocal mulai mengangkat mikrofon mereka meletakkannya tepat pada mulut mereka mulai melantunkan sholawat mereka dengan suara mereka yang mempunyai ciri khas masing-masing.


Seluruh santri juga mengikuti sholawat dengan buku mereka yang sudah mereka bawa, begitu juga dengan para Ustadz yang sangat bersemangat dalam melantunkan sholawat. Beberapa di antara mereka juga sempat memuji penampilan tim Syubbanul Muslimin yang sangat memukau menghiasai malam jum'at menjadi sangat meriah.


...************...


Begitu jauh rasanya di wilayah santri putri, para Ustadzah lebih memilih untuk mengadakan tadarus bersama-sama. Mereka membaginya dalam beberapa kelompok mengetahui santri putri yang jumlahnya tidak kalah banyak seperti santri putra.


Aisyah duduk melamun dan malah tidak mendengarkan atau menyimak santri yang sedang mengaji sehingga Ustadzah Lily yang melihat Aisyah terus melamun segera menegurnya.


" Aisyah, Aisyah! " panggil Ustadzah Lily kepada Aisyah yang terus melamun dan tidak mendengarkan panggilan dari Ustadzah Lily.


Ustadzah Lily menggelengkan kepalanya dan meminta Fitri yang ada di sebelah Aisyah untuk menyadarkan Aisyah dari lamunannya.


Fitri mengangguk dan segera menepuk pundak Aisyah sembari memanggil nama Aisyah.


" Syah!" ucap Fitri dengan tegas bersamaan dengan pukulan pelan pada pundak Aisyah yang membuat Aisyah kaget dan menoleh ke arah Fitri.

__ADS_1


" Astagfirullah! " ucap Aisyah ketika kaget.


" Aisyah, kamu kenapa melamun terus? Dari tadi saya perhatikan kamu tidak melihat Al-Qur'an kamu, kamu tidak menyimak teman-teman kamu, " Ustadzah Lily.


" Maaf Ustadzah, " jawab Aisyah singkat sembari memundukkan kepalanya.


" Ayo simak, habis ini kamu yang baca!" perintah tegas Ustadzah Lily.


" Iya Ustadzah, " Aisyah.


" Kamu sih melamun terus, mikrin apa, sih?" bisik Fitri.


" Enggak ada, udah sampai mana?" Aisyah menanyakan ayat berapa yang sudah di baca.


Fitri menunjukkan ayat pada Al-Qur'annya dan Aisyah kembali menyimak bacaan temannya walau wajah Aisyah terlihat sangat khawatir sembari mengepal tangan kanannya ketika ia merasakan hal yang buruk akan terjadi.


...*************...


Maulaa ya sholli wa salim daa iman abada


'Alaa habiibika khoiril kholki kullihimin.


" Duhai Nabi pujaan, Duhai Nabi pilihan,


Engkaulah sang rembulan, cahaya kegelapan... " Azmi dengan suara indahnya diikuti oleh semua santri.


" Duhai Nabi utusan, Duhai Nabi dambaan sungguh Engkau panutan, sungguh Engkau Tauladan.... " Aban ciri khas suaranya yang lembut dan menyejukkan membuat semua santri kagum.


...Maulaa ya sholli wa sallim daa iman abada 'Ala habibiika khoril kholki kullihimin...


" Duhai Nabi idaman, Duhai Nabi sanjungan... Engkaulah hati tertawan, pada Engkau ya Tuan...." Ahkam dengan suaranya yang memukau semuanya juga mengikutinya.


Sekarang giliran Akmal nafasnya sangat sesak tenggorokannya begitu sakit tapi ia coba untuk memaksakan dirinya.


" Duhai Nabi junjungan.. " suara Akmal mulai terdengar tidak jelas dan sangat serak membuat ketiga vocal yang ada di sebelahnya begitu khawatir dan menoleh ke arahnya, semua santri juga tidak mengikuti Akmal mengetahui suaranya yang tidak terdengar jelas, para Ustadz yang khawatir meminta Akmal untuk berhenti tapi Akmal terus melantunkan sholawatnya walau tim hadroh sudah berhenti menabuh rebana mereka.


Hidung Akmal mulai mengeluarkan darah begitu juga dengan telinga dan mulutnya yang tetap membaca sholawatnya.


" Mal, udah Mal, " Ahkam.


" Beri kami bimbingan..." Akmal terbata-bata.


Para Ustadz menghampiri Akmal yang sudah sangat lemas terus memintanya berhenti.


" Beri kami tuntunan... " di kalimat terakhir ini Akmal sudah sangat lemas tidak berdaya seketika Akmal terjatuh kepalanya membentur lantai cukup keras dan mikrofonnya terlepas dari genggamannya.


Ahkam, Azmi dan Aban segera menolong Akmal yang pingsan dengan banyak darah yang sudah keluar dari hidung, mulut dan telinga Akmal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2