
Suara mesin mobil terdengar membuat ibu dan ayah Aisyah yang masih saling rangkul menumpahkan semua kesedihan mereka melihat ke arah pintu.
" Assalamualaikum, " ucap sepasang suami istri membuat semua yang ada di sana berdiri sembari menjawab salam mereka.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya.
" Ummi, Abah, " ucap Azmi menghampiri kedua orangtuanya.
" Azmi, kamu kok ada di sini nak?" tanya ibu Azmi kepada Azmi yang sedang mencium tangan ibunya setelah mencium tangan ayahnya.
" Iya, Azmi... " Azmi tidak bisa menjelaskan ia memalingkan wajahnya masih merasakan kesedihan itu.
Melihat Azmi yang memalingkan wajahnya, ibu dan ayah Azmi mulai mengerti melihat Kyai dan semua tim Syubban yang ada di sana.
" Kyai, " kedua orangtua Azmi memberikan salamnya kepada Kyai dan mereka kembali melihat kepada orangtua Akmal yang masih menangis mengingat kepergian Akmal yang begitu cepat.
" Saya turut berduka atas kepergian Akmal, kalian harus tabah dan ikhlaskan Akmal, " ayah Azmi seketika ia memeluk erat sahabatnya yang tidak lain adalah ayah Akmal, ayah Akmal terus menangis tak henti masih terasa berat baginya untuk mengikhlaskan Akmal.
Ibu Azmi juga ikut memeluk ibu Akmal, mencoba membuatnya tenang dengan terus mengelus-ngelus punggungnya.
" Sabar bu, " ibu Azmi.
" Ayo, kalian duduk dulu, " Ibu Akmal melepas pelan pelukannya dan menghapus air matanya mempersilakan kedua orangtua Azmi untuk duduk bersama semuanya.
Semua tim Syubban masih menunduk larut dalam kesedihan mereka, sesekali mereka juga mengingat kebersaman mereka bersama Akmal.
Ibu Azmi mendekati anaknya dan mengelus-ngelus punggung Azmi yang masih tertunduk dalam kesedihannya.
" Kalian semua temannya Akmal?" tanya ibu Azmi melihat satu-persatu anggota Syubban yang tertunduk.
" Iya bu, Akmal adalah vocal di tim Syubban, tim hadroh kami, " jawab Ahkam mewakili semuanya.
" Kalian semua pasti merasa sangat kehilangan, kalian harus tabah, doakan Akmal supaya Akmal tenang dan diberi tempat yang terbaik di sisi Nya." ayah Azmi kepada semua tim Syubban yang membalas dengan anggukan.
" Padahal saya ingin sekali melihat Akmal sukses, melihat Akmal pulang dari pesantren dengan sudah mendapat ilmu yang cukup. Tapi... " ayah Akmal kembali bersedih.
Ayah Azmi segera kembali merangkul sahabatnya membuatnya tenang.
" Akmal adalah santri yang sangat baik, Almarhum Akmal sudah banyak meraih prestasi di pesantren. Saya dan semua Ustadz ikut bangga pada anak bapak dan ibu, ia sangat istiqomah dan semangat dalam meraih ilmu, tapi... Bapak dan ibu harus tabah ini adalah takdir Akmal, umur memang hanya Allah yang tau. " jelas Kyai kepada orangtua Akmal agar mereka bisa lebih tenang dan bisa melepas Akmal dengan ikhlas.
Ibu dan ayah Akmal mengangguk dan mulai mengerti mungkin bukan sekarang, tapi lambat laun mereka pasti bisa melepas Akmal dengan ikhlas.
__ADS_1
" Terimakasih Kyai, terimasih sudah menjaga anak kami dengan baik, " ibu Akmal.
" Ini sudah tugas saya bu, " jawab Kyai.
" Buat anak-anak Syubban, kalian jangan putus asa, kalian harus buat tim ini maju agar Akmal semakin bangga dengan kalian semua, " ayah Akmal dengan suara serak memandang satu-persatu anggota Syubban.
Azmi mengangkat kepalanya menoleh ke arah ibunya yang tersenyum padanya, ibu Azmi mengelus wajah Azmi dengan penuh kasih sayang ia begitu memperlihatkan kerinduannya kepada anaknya yang sudah lama tak jumpa.
" Insya Allah, kita pasti akan buat tim hadroh sukses, " jawab Aban membuat semua orang senang dan melukis senyumnya.
" Ini anaknya bu Rara, " tanya ibu Akmal menghapus air matanya.
" Iya bu, ini anak pertama saya, " jawab ibu Azmi.
" Ganteng lo anaknya, gak nyangka saya kalau kamu bisa punya anak seganteng ini," ayah Akmal dengan suara serak dan mata yang sedikit bengkak karena terus menangis menepuk pelan pundak ayah Azmi.
" Alhamdulillah, " jawab ayah Azmi singkat.
" Kita harus kembali ke pesantren bu, pak, kita pamit, ini sudah semakin siang. " Kyai.
Ibu Akmal melihat jam dinding yang memang tidak terasa sudah pukul 09.00 pagi.
" Aisyah, baru aja ibu mau manggil kamu, ayo salim dulu sama orangtuanya Azmi, " ibu Akmal.
Aisyah melihat ke arah orangtua Azmi yang sedang duduk di sebelah ayahnya, ia mengangguk dan melangkah perlahan mencium tangan kedua orangtua Azmi.
Seketika Aisyah kembali kepada ibunya memeluk erat ibunya dan kembali menangis dalam pelukan ibunya.
Ibu Aisyah ikut sedih ia mengelus kepala dan punggung anaknya dengan penuh kasih sayang.
Sekilas anggota Syubban menoleh ke arah Aisyah dan kembali menunduk mereka semua juga merasa sangat kasihan kepada Aisyah yang harus menerima kenyataan kepergian Kakak nya di usianya yang masih muda.
Aisyah terus menangis ia tidak tahan sampai ia mengeluarkan suara dalam tangisannya yang membuat semua orang semakin sedih termasuk Kyai dan kedua orangtua Azmi.
Ayah Aisyah bangun dan menghampiri putrinya.
" Sudah neng cantik, kamu gak boleh terus nangis seperti ini, nanti Kakak kamu yang di sana gak tenang, " ayah Aisyah mengelus-ngelus pelan lengan putrinya.
Perlahan ibu Aisyah melepas pelukannya dengan lembut ia menghapus air mata anaknya.
" Aisyah, sudah, jangan nangis! Kamu kuat nak, kamu harus bisa mengikhlaskan Kakak kamu. " ibu Aisyah ia duduk di hadapan Aisyah sembari memegang wajah putrinya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Aisyah tidak bisa berkata-kata karena tangisannya yang membuatnya sulit untuk bicara.
" Sudah ya, sekarang kamu ikut sama Kyai kembali ke pesantren, ibu yakin disana kamu bisa lebih kuat, ya nak, anak ibu kuat kok, " ibu Aisyah kembali memeluk putrinya sebentar dan melepas pelukannya pelan.
Ayah Aisyah juga tidak bisa berkata-kata ia kembali duduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ayah Azmi yang mengerti perasaan temannya segera merangkul ayah Aisyah.
...********...
Dengan penjelasan dari kedua orangtuanya, Aisyah bersedia kembali ke pesantren bersama para anggota Syubban yang juga berjalan lemas tidak bertenaga.
Kedua orangtua Azmi dan kedua orangtua Aisyah berdiri bersebelahan membuat Aisyah dan Azmi yang berpamitan juga berdiri bersebelahan.
Sekilas Azmi memandang Aisyah yang masih berlinangan air matanya.
Azmi mencium tangan ayah dan ibunya cukup lama untuk berpamitan menuju pesantren.
" Abah, umi, Azmi berangkat dulu, doain Azmi supaya Azmi bisa mewujudkan impian mas Akmal, " Azmi.
Kata-kata Azmi membuat Aisyah menoleh ke arah Azmi dengan tatapan masih marah dengan Azmi, Aisyah kembali memalingkan wajahnya.
" Iya nak, doa kami akan selalu ada untukmu, semangat nak, " ibu Azmi menyentuh wajah Azmi dengan tangan lembutnya.
" Aisyah berangkat dulu ibu, ayah, "
" Assalamualaikum, " ucap Azmi dan Aisyah bersamaan membuat mereka saling pandang sekilas dan kembali memalingkan wajah mereka.
" Wa'alaikumsalam, " jawab kedua orangtua Azmi dan kedua orangtua Aisyah.
" Pamit dulu, bu, pak, assalamualaikum, " ucap Kyai diikuti oleh para anggota Syubban yang mengucapkan salam.
" Iya Kyai, wa'alaikumsalam, " jawab semuanya
Pak sopir yang baru saja menyiapkan mobil sudah bersiap untuk mengantarkan anggota Syubban, Kyai dan Aisyah berangkat menuju pesantren.
Sebelum berangkat Aisyah sempat melambaikan tangannya kepada kedua orangtuanya begitu juga dengan Kyai yang menyempatkan dirinya untuk memberikan sapaan ramah.
" Iya Kyai, mari, hati-hati, " ibu Aisyah membalas sapaan ramah Kyai.
Mobil mulai berangkat menuju pesantren dan kedua orangtua Azmi dan Aisyah kembali masuk.
Bersambung...
__ADS_1