Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 173. Pulangnya Azmi


__ADS_3

Tepat dihari ini seluruh anggota Syubban sudah bersiap untuk pulang, dengan koper yang sudah ditenteng, pakaian rapi dan wajah yang berseri-seri mereka berdiri bersama menunggu mobil yang siap mengantarkan mereka tapi tidak dengan Azmi mengingat rumahnya yang jauh Azmi harus berpisah dengan teman-temannya ia sudah disiapkan travel khusus untuknya yang dipesan oleh Kyai.


Anggota Syubban mulai saling berpamitan mereka juga berpamitan kepada Ustadz dan Kyai, Mufti juga masih ada disana ingin melihat anggota Syubban sebelum mereka pulang.


" Azmi, sama siapa, Kak? " tanya Mufti kepada Ustadz Mustafa.


" Azmi sudah dipesenin travel khusus sama Kyai, Azmi, Ustadz juga sudah hubungi orangtua kamu. Nanti kalau kamu sudah sampai terus pak sopir masih nunggu kamu sampai orangtua kamu jemput, kamu juga bisa minta telepon sama pak sopir, " jelas Ustadz Mustafa.


" Nggih, Ustadz. Terimakasih, " Azmi.


" Azmi, kami mau pulang nih!" teriak Muhklis.


Azmi melangkah menghampiri mereka dan menyalam satu-persatu tangan mas-mas seniornya. Saat menyalam tangan Ahkam, Ahkam tersenyum sambil membenarkan peci Azmi.


Azmi hanya bisa tertawa menatap Ahkam dan ia juga bersalaman dengan Aban.


" Sampai ketemu lagi, Mi. " Aban.


" Iya, paling gak ada sehari kita udah dipertemukan lewat undangan sholawat, " Azmi.


" Aamiin, aku gak sanggup'e pisah karo kalian," Udin.


" Gak usah lebay, Din. " Ali.


" Ayo anak-anak!" seru pak sopir.


" Ya udah, Mi. Kami duluan, ya. Assalamualaikum, " Ahkam.


" Iya, mas. Wa'alaikumsalam." Azmi.


" Baik-baik, Mi. Kamu sendiri nanti diserbu fans," Ali.


" Enggak bakal, mas. Tenang, " Azmi.


Mereka semua mulai masuk kedalam bus mini. Tidak lupa mereka menyempatkan untuk melambaikan tangan kepada Azmi, Azmi hanya bisa memandang teman-temannya pergi meninggalkannya dan ikut sambil melambaikan tangannya senyum kecil juga terlihat pada wajahnya.


Kyai, Ustadz dan Mufti ikut sedih melihat Azmi sampai mobil travel sudah siap menjemput Azmi datang dan berhenti tepat didekat Mufti.


Sopir itu turun dengan segera untuk menyalam tangan Ustadz, Kyai dan berjabat tangan dengan Mufti.


" Nak Azmi, ayo, sini," Kyai.


" Baik Kyai, " Azmi segera melangkah mendekat kepada Kyai.


Azmi tertunduk berdiri didekat Kyai, Kyai meletakkan tangan kanannya pada pundak kanan Azmi.


" Pak sopir, tolong antar Azmi sampai rumah, ya." Kyai.


" Oh iya, ini, kan travel jadi bisa sampai rumah ya, Kyai. Saya lupa, maaf Kyai, Azmi, nanti saya bilang sama orangtua kamu kalau travelnya akan mengantarkan kamu sampai rumah," Ustadz Mustafa.


" Iya, Ustadz. Sekali lagi saya berterimakasih banyak kepada Ustadz dan juga Kyai, " Azmi sekilas ia menatap Ustadz Mustafa dan kembali menundukkan kepalanya saat berbicara dengan Kyai.


" Iya, Nak. Pak, tolong antar Azmi selamat sampai rumahnya, jangan ada penumpang lagi, ingat. " Kyai.


" Nggih, baik Kyai." pak sopir.


" Ya sudah Nak, Azmi. Masuk kedalam mobil," Kyai.


Azmi mengangguk mengambil kopernya dan kembali menyalam tangan Kyai. Azmi terlihat sangat lama mencium tangan Kyai dengan penuh haru ia juga meminta barokah kepada Kyai.

__ADS_1


" Barokallah, Nak. Semoga tetap istiqomah di jalan Allah, " Kyai menepuk punggung Azmi yang masih membungkuk mencium tangan Kyai.


Setelah cukup, Azmi bangun dan lanjut menyalam Ustadz Mustafa kata "barokallah" juga diucapkan oleh Ustadz Mustafa kepada Azmi sambil tersenyum kecil menatap dalam Azmi.


" Eits, jangan salaman sama gue, Mi. Gue gak pantas dicium tangannya sama santri baik kaya lo," Mufti.


" Emang kenapa, mas? Mas Mufti kan lebih tua dari aku, gak papalah, mas. Gak ada masalah, " Azmi.


" Iya, sih. Tapi gue gak enak, kita jabatan tangan aja, " Mufti memberikan jabatan tangannya.


Sambil menyematkan tawa kecil Azmi mau berjabat tangan dengan Mufti. Mufti juga menyempatkan memeluk tubuh Azmi.


" Saya pamit dulu, assalamualaikum, " Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


" Assalamualaikum, Kyai, semuanya, mari. " sopir.


" Wa'alaikumsalam, " semuanya.


" Mari pak, " Ustadz Mustafa.


" Hati-hati nggih, " Kyai.


" Nggih Kyai, siap, " pak sopir dari dalam mobil.


Kini sudah waktunya Azmi mengambil hak seorang santri untuk pulang kembali berkumpul bersama keluarganya. Tidak lupa Azmi berdoa sepanjang jalan agar ia sampai selamat sampai tujuan.


" Nak, Azmi, " panggil pak sopir ingin membuka pembicaraan.


" Nggih, " Azmi mulai menatap kearah pak sopir.


" Baru pak, saya baru satu tahun dipondok, " jawab Azmi.


" Beneran? Wah, hebat ya, baru mondok sudah terkenal kaya gini, saya juga suka'e sama lagu-lagu Syubban, " pak sopir.


" Alhamdulillah, ini juga barokah dari Kyai, pak. Saya sendiri gak nyangka kalau bakal terkenal kaya sekarang ini. Niat saya cuma ingin mengajak semua orang bersholawat," Azmi.


" Masya Allah, hebat kamu, Nak. Cocok jadi calon mantu saya, heheh," pak sopir ia tertawa kecil diakhir kalimatnya.


Ucapan pak sopir membuat Azmi kaget dan hanya tertawa sambil menggeleng dan memalingkan wajahnya.


Perjalanan cukup jauh, terkadang Azmi minta berhenti di suatu Masjid untuk melaksanakan sholat ia juga bilang selagi bisa ia tidak ingin sampai tidak sholat. Azmi juga mengajak pak sopir agar mau sholat dengannya.


Ba'da maghrib masih ada diperjalanan. Azmi masih terjaga dengan tangan yang ia letakkan pada dagunya menatap keluar kaca mobil.


" Nah, hampir sampai ini pak, nanti terus ada pertigaan belok kanan, " Azmi.


" Oh, iya nak, " pak sopir.


Azmi terus memberitahu arah jalan rumahnya hingga sampailah tepat pada gerbang rumah Azmi yang terlihat besar.


" Gak ada yang jaga'e, " pak sopir.


" Bapak mampir dulu, ya. Biar saya buka gerbangnya dulu, " Azmi.


" Wes, gak usahlah, Nak. Bapak langsung pulang saja, " pak sopir.


" Janganlah pak, makan dulu, minum dulu terus istirahat sebentar. Ayo, pak, " Azmi.

__ADS_1


" Yo, kalau kamu maksa, oke deh, saya mau," pak sopir.


" Alhamdulillah, sek pak, saya buka dulu gerbangnya, " Azmi.


" Siap, " pak sopir.


Azmi membuka mobilnya untuk turun dengan koper yang ia pegang erat ia terus berjalan dan membuka gerbang rumahnya. Setelah gerbang terbuka lebar barulah Azmi mempersilakan pak sopir memasukkan mobilnya hingga terparkir pada garasi rumahnya.


Azmi dan pak sopir berjalan bersama mendekati rumah Azmi.


" Assalamualaikum, " ucap Azmi dari depan pintu rumahnya sembari terus memencet bel rumahnya.


Di rumah Azmi terlihat banyak warga yang baru saja selesai sholat tarawih dan mengaji dirumah Azmi.


" Dek, Rara. Buka pintunya, Nak." Ummi Azmi.


" Iya, " jawab Rara dengan langkah kecilnya ia berjalan dan membuka pintu rumahnya.


Matanya yang lebar terbelalak kaget ketika melihat Masnya sudah sampai dan berdiri dihadapannya. Dengan perasaan senang Rara langsung mencium tangan Masnya.


" Salim sama pak sopir juga, " Azmi.


Rara langsung nurut dan mencium tangan pak sopir, Azmi tersenyum melihat Adiknya sambil mengusap lengan Adiknya itu.


" Pintarnya, " pak sopir saat Rara salim kepadanya.


Azmi segera masuk ia membuat kaget semua orang yang ada didalam tanpa ia tahu kalau ada banyak perempuan yang sedang tadarus dengan Ummi Azmi.


Melihat kedatangan Azmi mereka langsung teriak histeris dan hendak mendekati Azmi tidak dengan Aisyah yang biasa saja tetap pada tempat duduknya. Untunglah Ummi Azmi bisa menangani cewek-cewek yang hendak mendekati Azmi. Sementara pak sopir hanya terdiam beridiri bersama Rara.


Baru saja Azmi ingin mencium tangan Umminya, Ummi Azmi langsung memeluk erat putranya sambil mencium kening Azmi. Begitu senangnya Ummi Azmi melihat putranya telah kembali dan berdiri dihapannya.


Azmi mencium tangan Umminya setelah lama pelukan.


" Ummi ini pak sopir yang sudah ngantar Azmi," Azmi.


" Oh iya, terimakasih banyak pak, Azmi sudah bayar, ya?" Ummi Azmi.


" Semuanya sudah dibayar sama Kyai, bu, " pak sopir.


" Masya Allah, kalau gitu, bapak makan dulu, Rara antar bapaknya ke meja makan dulu, Nak. Nanti Ummi nyusul, " Ummi.


" Iya Ummi, ayo pak, " ajak Rara.


" Azmiiiii!!!!" para gadis yang ada disana tak henti berteriak dan menatap Azmi yang menunduk walau Azmi sempat melihat Aisyah yang bersikap biasa saja.


" Sudah-sudah, jangan kaya gitu kalian." Ummi.


" Mmi, Azmi mau mandi dulu, " Azmi.


" Oh iya, Nak." Ummi Azmi.


Azmi lanjut melangkah naik menuju kamarnya walau tatapan gadis-gadis terus menuju kearahnya sambil terus memanggil namanya.


" Syah, Azmi ganteng banget, ya." Fitri yang juga ikut senyum-senyum kepada Azmi.


" Biasa aja, " jawab Aisyah sinis kembali menatap Qur'annya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2