Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 170. Ada Aja Yang Gak Suka


__ADS_3

Aisyah terlihat fokus membantu ibunya bersih-bersih rumah, terdengar suara indah Nissa Sabyan yang diputar Aisyah cukup keras yang ada di hapenya. Suara Aisyah tak kalah indahnya, sambil menyapu dan mengelap meja suara indahnya terus mengiringnya dan tiba-tiba...


" Aisyah, Aisyah! " suara teriakan Fitri terdengar keras merusak suasana sekaligus mengejutkan Aisyah ia langsung mematikan musik religi dihapenya.


Melihat Aisyah yang terhenti mengelap meja karena suara bising Fitri, Fitri segera menghampiri Aisyah.


" Syah, aku punya kabar penting banget buat kamu, " Fitri begitu hebohnya.


" Fitri, kalau datang kerumah orang ngucapin salam dulu bukan malah teriak-teriak kaya gini. " tegur Aisyah.


" Heheh, iya, maaf. Assalamualaikum, Aisyah cantik dan baik hati," Fitri.


" Wa'alaikumsalam, Fitri manis dan tidak sombong, " Aisyah saking geramnya melihat wajah Fitri ia sampai mencubit keras pipi kanan Fitri menggunakan tangan kirinya mengingat tangan kanannya yang memegang lap.


" Aduh, sakit, Syah. " Fitri.


" Habis, aku gemes sama kamu, " Aisyah ia malah melukis senyum manis kepada Fitri yang merengek kesakitan memegangi pipi kanannya yang terlihat sudah merah karena ulah Aisyah.


" Boleh aja gemes, tapi sakit tau, " Fitri.


" Iya maaf, emangnya kamu kenapa, sih? Heboh banget kaya gitu, pagi-pagi udah teriak dirumah orang, " Aisyah.


" Nah, ini Syah. Ada hal yang sangat-sangat penting buat kamu, dan juga aku. Eh, ntar, ini rumah kok sepi banget, ya? Ibu sama Ayah kamu kemana, Syah?" tanya Fitri.


" Ibu sama Ayah lagi kepasar, " jawab singkat Aisyah.


" Ooo, ya udah kamu selesai dulu deh bersih-bersihnya biar aku bantu, habis itu baru aku kasih tau berita pentingnya," Fitri.


" Gak usah, aku udah selesai kok, kamu duduk aja diruang tamu, sana, " Aisyah.


" Oke, aku tunggu, jangan lama-lama lho! " Fitri.


" Iya, Fitri, " Aisyah.


Fitri tersenyum dan segera menuju ruang tamu, sementara Aisyah membereskan semuanya baru menyusul Fitri.


" Udah, Fit. Kamu jangan bertele-tele terus kaya gitu, kasih tau aku ada apa? " Aisyah.


" Oke, oke. Kita dapat kabar baik, kalau mulai bulan Ramadhan yang udah bentar lagi kita dapat undangan ke acara pengajiannya ibu-ibu terus kita juga diundang ke acara pengajian anak muda Masjid buat sholawat, gimana? Kamu siap kan, Syah? " Fitri.


" Dapat undangan? Kamu serius, kenapa kita bisa dapat undangan, Fit? Perasaan kita belum pernah sholawatan disini, terus kenapa kita bisa diundang? " Aisyah bingung terus bertanya-tanya.


" Itu semua karena kabar dari Ayah dan Ibu aku, udahlah kamu gak usah mikirin itu yang penting kamu siap buat Ramdhan nanti, oke? " Fitri.


Terlihat tidak yakin dan masih ragu, Aisyah tidak langsung menjawab dan memalingkan pandangannya kepada Fitri. Wajahnya terlihat sangat gelisah seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Syah, kok kamu bengong, sih? " Fitri.


" Aku gak tau, Fit. Aku bisa enggak, ya?Gara-gara kejadian waktu itu, aku masih trauma, kayanya enggak deh, " Aisyah menatap Fitri begitu dalam.


" Yaah, kok enggak, itu udah jaman dulu banget, Syah. Kamu belum bisa lupain? Lagian di pesantren kita sering unjuk suara, suara kamu itu bagus, Syah. Kamu gak mau dapat pahala, apa? " Fitri.


" Bukannya gitu, masalahnya aku gak yakin kalau aku akan tampil sempurna. Yang ada ngelihat banyak orang yang natap aku, aku langsung keingat sama kejadian itu. Kalau di pesantren juga jarang, kan aku sholawat. Dan itu juga sama Ustadzah Lily, " Aisyah.


" Asal kamu tau ya, Syah. Nanti juga ada pemain keyboard, cowok, Syah. Ganteng lagi, kamu juga gak sendiri karena aku sholawat bareng kamu, kamu mau, ya? Oh, iya. Piano kamu mana, Syah? Kamu kan pinter banget main piano, bisa dipakai tuh, " Fitri.


" Udah dijual buat biaya pengobatan Ayah, " jawab Aisyah.


" Oh, emm, yaudah gak papa, kamu mau, ya? Kita sholawat bareng, kita juga bakal dapat uang, kan lumayan, Syah. " Fitri.


Aisyah semakin tertekan dan bingung memegangi bagian samping kanan dan kiri kepalanya menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


" Maaf, Fit. Aku gak bisa, " Aisyah ia pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah Fitri.


" Eh, Syah. Kamu mau kemana?" Fitri ia bertanya saat Aisyah sudah menghilang tak ada lagi disisinya.


Fitri hanya bisa menghela nafasnya ia juga bingung harus melakukan apa.


" Syah, Syah. Gimana biar kamu gak trauma lagi dan bisa maafin Azmi? Dia juga udah minta maaf," Fitri terlihat sangat bingung dengan memegangi dahinya.




Para anggota Syubban sedang berlatih di tempat mereka nginap tiba-tiba ada sejumlah anak hadroh juga yang terlihat tidak suka dengan kehadiran mereka.



Ketiga pemuda yang memegang rebana mengawasi anggota Syubban dengan sangat sinis seakan mereka tidak menerima kehadiran anggota Syubban yang datang menghancurkan mereka karena telah memgambil posisi mereka yang harusnya tampil.



Dengan menggunakan bahasa Bandung mereka berbicara tentang ketidaksukaan mereka kepada anggota Syubban.



Dengan langkah kaki beriringan mereka datang menghampiri anggota Syubbam.



" Heh! Mending kalian pergi aja dari sini," pemuda 1.




" Éta leres, anjeun parantos nyandak posisi kami," pemuda 2.



Tim Syubban sangat tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua pemuda yang menggunakan bahasa Sunda, mereka saling toleh hingga Azmi berdiri mendekati pemuda itu.



" Maaf, bisa bahasa Indonesia? Kami gak ngerti sama apa yang kalian bilang," Azmi berdiri dihadapan salah satu pemuda.



" Intinya, kami gak suka sama kedatangan kalian. Kalian udah buat kami gak dipakai lagi disini!" pemuda 1.



" Muhun eta, menurut saya penampilan kalian mah, biasa aja, jelek, " pemuda 2 dengan membsrikam jempol tangan kearah bawah seperti meledek.



Mendengar ucapan pemuda itu Ali ikut berdiri dan semua anggota juga bangun mendekati mereka.



" Eh, kalian jangan ngomong gitu, kami ini diundang, dan kami gak ada maksud buat ngambil posisi kalian semua!" tegas Ali.


__ADS_1


" Mas Ali, sabar mas, jangan emosi, " Aban.



" Saya sama teman-teman minta maaf kalau udah ngambil posisi kalian, kita cuma diundang dan cuma 2 hari disini, habis itu udah. Kalian bisa tampil lagi, " jelas Ahkam.



" Benar, kalian semua gak perlu iri sama kami, kami sama sekali gak ada maksud apa-apa, " sambung Azmi.



Ketiga pemuda itu terdiam mereka juga sempat saling toleh dan kembali menatap ke arah anggota Syubban sinis.



" Arghhh!! Tetap aja saya gak suka! Kami minta kalian cepetan pergi darisini! " pemuda 1.



" Enya, saya Abdi ogé hoyong anjeun angkat, buru atuh, " sambung pemuda 2.



" Duh, maaf ya, kami gak ngerti sama apa yang kamu bilang. " Muhklis.



" Kalau kalian gak mau angkat kaki darisini, lawan kita, " pemuda 1.



" Wah, kok malah nantangin gitu?" Firman.



" Gak usah pakai kekerasan, ini cuma masalah kecil, " Udin.



" Kenapa, kalian takut, hah? " pemuda 3.



Anggota Syubban saling toleh melihat jumlah mereka lebih banyak daripada ketiga pemuda itu, para anggota Syubban juga sama sekali tidak ingin ada keributan mereka sama sekali tidak bermaksud mengambil posisi tim hadroh lain yang sudah terkenal sebelumnya.



Bersambung...



\*\*Nb: Yang pengen tau artinya bisa translate, kalau ada yang tau artinya mohon maaf jika salah 🙏



Pantengin terus ya 🤗



...Love\*\* **you 💖**...

__ADS_1


__ADS_2