
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjama'ah yang di imamkan oleh ustadz Abdullah pesantren terlihat sangat ramai dengan para santri yang mulai turun beramai-ramai dari Masjid pesantren yang besar itu. Azmi dan Aban melangkah bersama sampai kamar mereka, sesekali Azmi berbicara tentang Akmal semasa perjalanan mereka menuju kamar.
Zakir, Helmi dan Sihin yang sedari tadi melangkah di belakang Azmi dan Aban tanpa sengaja mendengar perkataan Azmi yang bicara tentang penyakit Akmal.
" Mas Akmal sakit lagi?" tanya Zakir kepada kedua temannya.
" Kalau yang kita dengar dari Azmi tadi ya benar Kir, mas Akmal di bawa kerumah sakit semalam. " Sihin.
" Aku jadi bingung, sebenarnya mas Akmal itu sakit apa, sih? " tanya Helmi sembari memegang dagunya.
" Mas Akmal kayanya emang sakit deh, aku emang sering banget dengar, anggota Syubband ngomongin penyakit mas Akmal." Zakir.
" Kamu nguping, Kir? " Sihin.
" Ya enggaklah, cuman kebetulan aja aku denger terus aku berhenti buat dengerin. " jawab Zakir dengan lagaknya.
" Sama aja kali, Kir. " Sihin dengan pandangan malas memandang Zakir.
" Udah-udah, eh... Kir, gimana, rencana buat Azmi, udah dapat, belum? " Helmi.
" Ya udahlah, nunggu kalian sampai lulus pesantren juga gak akan nemu." Zakir.
" Apaan tuh, rencananya? " tanya Helmi yang sangat penasaran.
" Nanti deh aku kasih tau, ayo siap-siap ngaji kitab dulu, " Zakir.
" Oke Kir, " Helmi.
Sementara Sihin hanya terdiam ia sebenarnya ingin membantu Azmi tetapi Sihin sama sekali tidak berdaya karena dia adalah sahabat Zakir dari kecil mau dibilangin bagaimanapun oleh Sihin, Zakir tetap tidak mau mendengarkan dan tetap ingin menjebak Azmi.
...***********************...
Seperti yang Kyai katakan bahwa ia akan menelepon orang tua Akmal setelah melaksanakan sholat subuh. Kyai datang terlebih dahulu untuk menemui Akmal karena ia tidak tahu nomer telepon orang tua Akmal. Tetapi setelah melaksanakan sholat subuh Akmal kembali lemas dan tidak berdaya ia terbaring lagi di kasurnya.
" Ustadz tau, nomer orang tua, Akmal?" tanya Kyai kepada ustadz Mustafa yang ada di belakangnya.
" Tunggu Kyai, saya menyimpan semua nomer orangtua maupun anak-anak dari anggota Syubband. saya lihat dulu, semoga saja ada. " ustadz Mustafa.
" Baiklah, coba kamu lihat dulu. " Kyai.
" Iya Kyai, sebentar. " ustadz Mustafa mulai mengeluarkan handphonenya dan mencari nomer telepon orangtua Akmal.
Sementara Kyai kembali mengelus kepala Akmal sembari mendoakan untuk kesembuhan Akmal.
__ADS_1
" Alhamdulillah, ada Kyai. " ustadz Mustafa.
" Alhamdulillah, biar saja yang bicara dengan orangtua Akmal. " Kyai.
" Baik Kyai, ini sudah saya hubungi. " ustadz Mustafa memberi handphonenya pada Kyai dengan kedua tangannya menunjukkan adabnya kepada Kyai.
...*Pembicaraan Kyai...
...Dengan Ibu Akmal*...
Ibu Akmal sedang menjaga suaminya yang juga terbaring lemah di rumah sakit tiba-tiba mendengar suara handphonenya yang berdering dan ada di atas meja. Ibu Akmal segera menerima panggilan masuk itu.
" Assalamualaikum, iya ustadz Mustafa, ada apa? " tanya ibu Akmal sebelum ia mengangkatnya ia membaca tulisan yang berisikan nama ustadz Mustafa.
" Wa'alaikumsalam, ini saya bu, Kyai Hafidz." Kyai.
" Kyai, ada apa, Kyai?" tanya ibu Akmal yang mulai gelisah.
" Maaf sebelumnya bu, saya ingin memberitahu kondisi Akmal saat ini....Eeeee.... Akmal sekarang dirawat dirumah sakit bu, jadi saya minta ibu datang kesini untuk mendampingi Akmal. Saya tau kalau tempat ibu jauh yaitu di Blitar, jadi saya akan kirimkan sopir yang akan segera datang ke tempat ibu, ibu silakan beritahu alamat ibu kepada saya. " ucap Kyai yang menjelaskan keadaan Akmal dan meminta ibu Akmal untuk datang kesini.
Mendengar itu, ibu Akmal merasa sangat sedih di sini suaminya yang di rawat dan disana putranya yang dirawat di rumah sakit. Ibu Akmal memandang suaminya yang terbaring lemah tidak berdaya sementara Kyai masih menunggu jawaban ibu Akmal dengan sesekali ia memandang Akmal dan ustadz Mustafa.
" Bu, bagaimana, bu? " tanya Kyai yang sedari tadi masih menunggu jawaban ibu Akmal.
" Sama-sama bu, baiklah kalau begitu saya tunggu alamatnya nanti saya akan hubungi sopir saya. " Kyai.
" Iya Kyai, " Ibu Akmal.
" Assalamualaikum." Kyai.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " Ibu Akmal mulai menurunkan hapenya dan kembali menghampiri suaminya.
" Ya Allah sadarkanlah suami hamba dari koma dan sembuhkanlah putra hamba Ya Allah, aamiin. " Ibu Akmal sembari menagis dan mengusap air mata yang terus mengalir dan membasahi pipinya.
____________________****___________________
Sementara di Pesantren, Zakir sudah merencakan sesuatu untuk Azmi yang sedang bermain bola bersama teman-temannya karena hari ini adalah pelajaran olahraga.
Keringat mulai membasahi wajah Azmi yang terus menggiring bolanya.Melihat kondisi yang sudah aman Zakir segera melaksanakan rencananya.
" Ayo, kita ke pesantren! " ucap Zakir yang terus mengawasi Azmi dengan tatapan tajam.
" Tapi Kir, ini masih jam pelajaran, gimana kita mau minta izin?" Helmi.
__ADS_1
" Udah tenang aja, yang ikut sama aku cuman Sihin dan kamu Hel, jaga kondisi di sini kalau ustadz Fathur nanyain aku bilang aja aku ke toilet, oke!" Zakir.
" Kir, kok aku yang ikut sama kamu, Helmi aja deh. " tolak Sihin yang enggan melakukan kejahatan bersama Zakir.
" Sihin, udah ikut aja, gak akan ada yang tau, ayo! " Zakir ia tidak mau menunggu lama dan langsung menarik tangan Sihin agar ikut bersamanya.
" Hel, ingat! " teriak Zakir yang sudah melangkah bersama Sihin.
" Iya!" teriak Helmi menjawab Zakir dan kembali mengawasi Azmi yang asyik bermain bersama para santri.
Suasana pesantren yang sepi membuat Zakir leluasa untuk melakukan aksinya, pada waktu para santri sibuk dengan kegiatan pagi hari mereka begitu juga dengan Ahkam dan Muhklis yang sedang bersekolah untuk menjadi ustadz.
Zakir pergi ke kamar Rifki yang berjarak 1 kamar dengan kamar Azmi.
" Kir, kita ngapain ke kamar, Rifki? " tanya Sihin yang bingung.
" Udah kamu diam aja! " ucap Zakir yang terburu-buru.
" Kamu tunggu di sini!" Zakir.
Sihin hanya menganggukkan kepalanya.
Zakir mencari lemari milik Rifki akhirnya ia menemukan lemari Rifki yang terpasang nama Rifki karena setiap anak pasti menamai benda apapun itu agar tidak tertukar dengan santri lain.
Zakir segera mengambil beberapa benda dari sana yaitu jam tangan dan beberapa gelang yang Rifki simpan tidak hanya milik Rifki Zakir juga mengambil benda-benda lain yang ia tidak ketahui milik siapa.
" Mungkin ini punya mas Ali, gak papa makin banyak barangnya, Azmi semakin banyak yang benci sama dia. " ucap Zakir sembari tersenyum licik.
" Nah, ayo Hin!, sekarang kita ambil beberapa barang di kamar kita kan kamar kita yang paling dekat sama kamar Azmi, ayo!" ajak Zakir hendak melangkah menuju kamarnya.
Setelah mengambil beberapa benda pergilah Zakir ke kamar Azmi di sana ia mencari lemari milik Azmi. Zakir meletakkan benda-benda berharga yang ia curi di lemari milik Azmi.
" Akhirnya, kita tinggal tunggu aja reaksi orang-orang ketika melihat barang-barang yang aku taruh di lemari Azmi, " ucap Zakir sembari memandang lemari Azmi.
" Ayo Hin, sebelum ada yang tau kita di sini, kita harus cepetan pergi! " Zakir.
" Iya, ayo! " ucap Sihin yang sebenarnya merasa takut dengan apa yang sudah ia perbuat.
Tanpa mereka ketahui Ahkam yang hendak kekamar melihat Zakir yang sudah keluar dari kamarnya.
" Lho!, itu kan Zakir sama Sihin ngapain dia di kamar aku?" tanya Ahkam yang heran.
Bersambung......
__ADS_1