Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 97. Kemalingan.


__ADS_3

Assalamualaikum para readers, Happy New Year 💖💖 .Semoga di tahun 2021 ini, pandemi ini bisa cepat berlalu ya, dan kita bisa kembali lagi melakukan aktifitas seperti biasa...Aamiin. Kalian semua tetap semangat ya, jangan lupa jaga kesehatan dan selalu patuhi protokol kesehatan 😉 dan juga luangin waktu untuk baca novel aku ☺. Maaf ya baru bisa update sekarang 😐 🙏 .


...Oke langsung aja kita mulai guys...


...Bacanya pelan-pelan aja sambil...


...sambil resapi dan bayangin hehe...


Happy Reading guys 🤗💖💖


_


_


_


_


Setelah pulang sekolah adzan duhur berkumandang membuat Azmi langsung mengambil air wudhu dan pergi ke Masjid bahkan Azmi dan Aban tidak sempat mengganti seragam mereka mengetahui waktu sholat berjama'ah akan segera di mulai.


Sementara Zakir dengan santainya ia berjalan menuju Masjid bersama kedua temannya. Sesampainya di Masjid Zakir sengaja menghampiri Azmi dan berdiri di sampingnya.


" Kayaknya ada yang seneng nih, " ucap Zakir meledek Azmi.


" Gimana gak senang, aku... " seketika Azmi menghentikan ucapannya ketika melihat Zakir yang sedang berada di sampingnya.


" Kamu Kir, aku kira Rifki. " ucap Azmi kembali memalingkan wajahnya.


Sholat jama'ah akan segera di mulai sebelum itu tidak lupa ustadz Abdullah mengatur shaf para santri. Baru saja ia ingin memulai takbir tiba-tiba ada teriakan yang memanggil namanya.


" Gawat ustadz!, gawat!" teriak Rifki yang terus berlari menyelip di antara semua santri yang sudah merapatkan shaf mereka, di belakang Rifki juga ada Ali, Firman dan Udin yang mengikutinya.


Azmi dan Aban menjadi bingung dan saling pandang.


" Ada apa ini?, kenapa kalian berteriak seperti itu? " tanya ustadz Abdullah.


" Di pesantren kita ini ada pencuri, ustadz!" ucap Rifki yang mengatur nafasnya dan berusaha berbicara dengan tegas.

__ADS_1


Mendengar itu ustadz Abdullah menjadi kaget.


" Pencuri?, ada apa ini?, saya tidak mengerti! " ustadz Abdullah yang mengerutkan keningnya dengan wajah yang kebingungan.


" Iya ustadz, Rifki benar!, barang-barang kita banyak yang hilang ustadz. " tambah Udin.


" Benar ustadz, tiba-tiba saja jam tangan dan celengan Rifki, gelang kaokah Udin, sorban Firman dan amplop uang kiriman dari orang tua saya hilang ustadz. " ucap Ali yang coba menjelaskan semuanya.


" Iya ustadz, padahal itu sorban dari ayah saya, " Firman menunjukkan kesedihannya.


" Gelang kaokah ku iku juga sangat berharga pak ustadz," tambah Udin.


" Hin, kamu juga ngomong dong! " bisik Zakir kepada Sihin karena ia juga menaruh benda miliknya di lemari Azmi.


" Ustadz!" teriak Sihin yang membuat semua menoleh ke arahnya termasuk juga Azmi yang berada di samping mereka.


Sihin mulai melangkah menghampiri ustadz Abdullah.


" Ustadz, jam tangan saya, Helmi dan Zakir juga hilang padahal itu sama-sama kita beli dan tiba-tiba saja hilang ustadz, " ucap Sihin sedikit terbata-bata dengan kepala yang sesekali menunduk.


" Astagfirullahalladzim, kenapa ini tiba-tiba bisa terjadi?, kamar kalian sebelahan, kan? " ustadz Abdullah.


" Ahkam, di kamar kamu tidak ada yang kehilangan? " tanya ustadz.


" Saya rasa tidak ada, ustadz. " jawab Ahkam.


Mendengar ucapan Ahkam membuat semua orang semakin bingung sementara Azmi yang tidak tahu apapun hanya bisa diam tanpa sepatah kata apapun sekilas ia juga mengawasi Zakir yang juga diam-diam menatapnya sembari tersenyum licik.


" Kalau begitu begini saja, Ahkam, Nur, Fauzi, Muhklis, Ali, Firman, dan Udin sehabis sholat duhur berjama'ah kalian periksa semua kamar, ya!. Untuk semua santri yang lain tunggu di Masjid sampai selesai pemeriksaan. " ustadz Abdullah.


" Mas, nanti saya dan ustadz yang lainnya juga akan bantu periksa semua kamar. " ucap ustadz Ridwan mengacungkan dirinya.


" Tentu ustadz, kalian semua harap tenang ya, masalah ini pasti akan segera tuntas dengan bantuan semua ustadz dan para senior. " ustadz Abdullah kepada santri yang kehilangan.


" Baik ustadz, " jawab semuanya.


" Ya Allah kenapa tiba-tiba ada kejadian seperti ini?, apa mungkin ada pencuri di pesantren ini? " Azmi dalam batinnya ia mulai gelisah walau ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tetapi ia merasakan hal buruk yang akan terjadi padanya, Azmi juga mengusap wajahnya dan mencoba menenangkan dirinya.

__ADS_1


" Sekarang kita sholat berjama'ah dulu, ayo kembali ke shaf kalian! " ustadz Abdullah.


Mereka menganggukkan kepala mereka dan kembali ke shaf mereka begitu juga dengan Sihin yang kembali berdiri di samping Zakir. Zakir terlihat sangat senang karena rencananya akan segera berhasil.


" Lihat aja Mi, apa yang akan kamu rasain nanti, hmmmmm, kenapa gak dari dulu aja aku buat rencana kaya gini?, pasti Azmi gak akan di percaya lagi sama semua orang! " ucap Zakir di dalam hatinya sembari memandang Azmi dengan tatapan licik sementara, Azmi hanya bisa terdiam memandang Zakir yang sedari tadi menatap tajam dirinya.


Sholat duhur berjama'ah di mulai semua santri dengan khusyuk melaksanakannya.


...**************************...


Di rumah sakit Kyai, ustadz Mustafa dan juga Akmal baru saja melaksanakan sholat duhur di mushalla yang ada di sana. Tubuh Akmal masih sangat lemah dan wajahnya juga masih sangat pucat. Kyai dan ustadz Mustafa sangat mengkhawatirkan keadaan Akmal mereka juga masih menunggu ibu Akmal yang akan segera sampai.


" Nak, apa ada yang sakit?, kamu mau makan lagi? " tanya Kyai dengan penuh perhatian.


Akmal menggelengkan kepalanya dan berusaha mengeluarkan penuh suaranya yang serak.


" Tidak Kyai, saya sudah kenyang. Tapi, tenggorokan dan dada saya masih sangat sakit, Kyai. Saya sudah tidak kuat. " ucap Akmal dengan suara yang bergetar dan sedikit terbata-bata ia juga sesekali menarik nafasnya mengingat dadanya yang sesak membuat Akmal sulit untuk berbicara.


" Akmal, kamu gak boleh bilang gitu!, ustadz yakin kalau sebentar lagi kamu pasti sembuh! " ustadz Mustafa meyakinkan Akmal.


" Iya nak, sebentar lagi kamu pasti sembuh, sudah ya, sekarang kamu istirahat lagi. " perintah Kyai.


Akmal mengganggukkan kepalanya dan perlahan ia merebahkan tubuhnya.


Kyai dan ustadz Mustafa saling pandang dan memberikan senyuman mereka kepada Akmal mereka selalu berdoa untuk kesembuhan Akmal.


...****************************...


Sholat duhur berjama'ah sudah selesai, seperti perintah ustadz Abdullah para ustadz dan para senior sudah pergi untuk memeriksa setiap kamar para santri. Sementara santri yang lainnya di minta untuk diam di Masjid dan menunggu.


" Kok aneh banget ya, Ban?. Selama satu tahun ini gak pernah ada kemalingan, kenapa tiba-tiba ada kejadian seperti ini? " ucap Azmi kepada Aban dengan wajah yang sangat khawatir.


" Aku juga bingung Mi, kita tunggu aja, siapa sebenarnya pencuri itu?" Aban.


Azmi menganggukkan kepalanya dan kembali memalingkan pandangannya dari Aban.


Para ustadz dan senior terus memeriksa kamar para santri dan sampailah Ali di kamar Azmi ia membuka pintu kamar dan mulai memeriksa satu-persatu lemari yang ada di sana. Di bukalah lemari Azmi, betapa kagetnya Ali ketika ia melihat benda-benda yang ada di lemari Azmi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2