
Semua santri sudah berbaris dengan rapi. Para santriwan berbaris dekat pembatas dan saat ini pula yang di jadikan kesempatan oleh Zakir ia memilih berbaris paling belakang dan juga paling pojok ternyata Zakir juga penasaran dengan siapa santriwati yang sedang mengaji itu. Kepala Zakir sesekali mengintip dan berusaha agar bisa melihat wajah santriwati yang sedang mengaji.
Helmi yang berbaris tepat di sampingnya mengetahui modus Zakir sambil menggelengkan kepalanya.
" Ngapain, Kir?" tanya Helmi membuat Zakir kaget dan menoleh ke arahnya.
" Gak ada, hush.. Bisa diam, gak? " sentak Zakir balik.
Ustadz Ridwan yang sedang bertugas menjaga ketertiban melihat Zakir yang sedari tadi berusaha mengeluarkan kepalanya sampai luar batas. Dengan segera Ustadz Ridwan mendekati Zakir dan menegurnya.
" Ehem, lagi ngapain, Kir? " tanya Ustadz Ridwan dengan kepala yang masih mengintip membuat Zakir mengabaikan Ustadz Ridwan.
" Zakir!" panggil Ustadz Ridwan dengan sentakan.
" Apaan, sih? Udah aku bilang.... " wajah Zakir seketika serius dan kaget melihat Ustadz Ridwan yang sudah ada di depannya dan tengah menatap tajam dirinya.
" Apa? " Ustadz Ridwan.
Zakir menggaruk pelan lehernya, dirinya terlihat gugup dan takut membuat ia menundukkan kepalanya.
" Maaf Ustadz," jawab Zakir dengan pelan dan kepalanya terus tertunduk.
" Ayo fokus! Helmi, kamu di sini biar Zakir pindah dan gak ngintipin santriwati lagi, " perintah Ustadz Ridwan.
" Baik Ustadz, " Helmi ia memandang Zakir memintanya untuk bergeser akhirnya Zakir mau melihat Ustadz Ridwan yang terus mengawasinya.
" Nah, Helmi jangan ngintip, kaya Zakir. Ustadz awasin dari sini, " tegas Ustadz Ridwan sekilas pandangan tajamnya mengarah pada Zakir yang masih merasa tidak enak dengan apa yang ia lakukan.
" Baik Ustadz, " jawab Helmi.
Ustadz Ridwan mengangguk dan kembali berjalan mengawasi santri lain.
Sihin, Helmi, Rifki, Aban, dan Azmi yang sedari tadi mendengarkan terus tertawa kecil dengan tangan kanan yang menutupi mulut mereka yang tidak berhenti tertawa melihat wajah Zakir yang serius dan gugup seperti tadi.
" Jangan ketawa kalian!" sentak Zakir tidak suka ditertawakan oleh teman-temannya.
" Hush, jangan ketawa! Dosa, " ledek Azmi tapi ia sendiri terus tertawa.
Sementara yang lain menatap Zakir sekilas sembari tersenyum dan kembali memalingkan wajah mereka menghadap ke depan.
" Semua santri harap tenang! Kyai akan mulai berbicara! " Ustadz Abdullah menggunakan mikrofon agar terdengar jelas oleh semua santri.
Tanpa susah payah, semua santri hening tidak ada yang berani bicara sedikitpun tatapan mereka fokus ke depan siap mendengarkan Kyai.
Penuh hormat dan sopan santun, Ustadz Abdullah memberikan mikrofonnya dengan kedua tangannya kepada Kyai. Kyai menerima mikrofon dari Ustadz Abdullah sembari tersenyum dan mengangguk.
" Baik, bismillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Kyai.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh!" jawab serentak semua santri.
" Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan acara perkemahan ini dengan baik walau sempat terjadi sedikit masalah tapi, perkemahan tetap berjalan dengan baik dan lancar. Saya ingin memberitahu tentang nilai dari ujian kitab, siapa saja yang lulus dan siapa saja yang tidak lulus. " Kyai.
__ADS_1
Mendengar itu, semua santri semakin antusias jantung mereka sangat deg-degan mengharap mereka bisa lulus untuk tahun depan.
" Dan hasilnya adalah, alhamdulillah semua santri saya nyatakan lulus dan bisa melanjutkan ke kelas berikutnya. " ucap Kyai dengan perasaan bangga dan senang menatap semua wajah santri-santrinya.
" Alhamdulillah, " ucap kompak semua santri sembari mengusap wajah mereka.
Mereka sangat senang karena usaha mereka membuahkan hasil semua santri dinyatakan lulus dan bisa naik ke kelas kitab berikutnya.
" Saya sangat senang karena selama satu tahun ini kalian semua, baik yang masih baru sudah bisa memahami isi kitab yang kalian pelajari, kalian juga sudah menghafal dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penguji. Walau masih ada yang kurang lancar dan terbata-bata tapi kalian sudah bagus dan berhak untuk naik kelas, alhamdulillah, " Kyai.
Para santri sangat senang karena tahun depan mereka akan lanjut belajar kitab selanjutnya.
" Nanti akan diberitahu ya, nilai-nilainya. " Kyai.
" Baik Kyai, " jawab semuanya.
" Afwan Kyai, santriwati kegiatannya juga sudah selesai semua, kita sudah bisa kembali ke pesantren. " ucap Ustadz Abdullah dengan penuh adab dan nada pelan setelah mendapat info dari Ustadzah Lily.
" Oke, baik, santriwati silakan baris dan minta untuk menunggu santriwan berjalan menuju bus dahulu, " Kyai.
" Baik Kyai, " Ustadz Abdullah ia segera menghampiri Ustadzah Lily yang sudah menunggu di sisi lain dari pembatas.
" Ustadzah Lily, " panggil Ustadz Abdullah.
" Iya Ustadz," jawab Ustadzah Lily menoleh ke arah Ustadz Ridwan yang sudah berdiri di hadapannya.
" Kyai meminta santriwati dibariskan dulu, setelah semua santriwan sudah berjalan baru santriwati boleh jalan," Ustadz Abdullah.
Ustadz Abdullah mengangguk sebelum ia pergi kembali ke wilayah santriwan.
" Mari Ustadzah, assalamualaikum, " Ustadz Abdullah yang hendak kembali.
" Iya Ustadz, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " Ustadzah Lily.
Dengan arahan para Ustadz, semua santriwan berjalan menuju bus mereka sementara para Ustadzah mulai mengarahkan para santriwati berjalan menuju bus.
Azmi, Aban, Rifki dan Zakir masih berdiri entah apa yang mereka tunggu melihat banyak santriwan yang juga ada yang jongkok ataupun berbincang menunggu di depan dan di samping bus.
Saat semua santriwati berjalan mereka menundukkan kepala mereka ketika berpapasan dengan santriwan. Azmi, Aban, dan Rifki juga ikut menunduk tidak berani melirik sedikitpun untuk melihat santrwati beda dengan Zakir yang malah membuat pesawat dari kertas yang ia bawa dan hendak mengarahkan pesawat kertasnya kepada Aisyah yang tengah berjalan di hadapannya.
Namun, pesawat yang di lempar malah mengarah kepada Ustadzah Fatim yang berbadan gemuk ingin mengawasi santriwati agar tidak menatap santriwan.
" Astagfirullah, salah sasaran, " ucap Zakir menepuk jidatnya kerena takut ja segera membalikkan tubuhnya.
Ustadzah Fatim mengambil pesawat kertas yang sudah jatuh setelah mengenai tubuhnya. Dengan tatapan tajam ia memandang Azmi, Aban, Rifki, Zakir dan santriwan yang masih berada di luar bus.
" Siapa yang melempar ini? " tanya Ustadzah Fatim kepada para santriwan.
" Dia Ustadzah, tadi saya lihat, " Rifki menunjuk Zakir yang tengah membalikkan badannya.
" Apaan, sih? Bukan saya Ustadzah, " ucap Zakir ketakutan.
__ADS_1
" Iya Ustadzah, mana mungkin saya nuduh orang sembarangan. Mi, Ban, teman-teman yang lain, kalian lihat kan, Zakir mau ngelempar pesawat itu ke santriwati," Rifki mencari pembelaan.
Semuanya mengangguk termasuk Azmi dan Aban. Melihat ada Ustadzah Fatim, Ustadz Ridwan segera menghampiri para santriwan dan Ustadzah Fatim.
" Ada apa ini, Ustadzah? " tanya Ustadz Ridwan.
" Ini Ustadz, ada anak yang mau melempar pesawat kertas ini pada santriwati tapi untung saja pesawat ini kena saya, " Ustadzah Fatim.
" Saya minta maaf Ustadzah, eee.. Saya tadi cuma mau main pesawat itu kok," Zakir berbohong untuk membela dirinya.
" Bohong Ustadz, Zakir memang mau ngelempar ke santriwati, " Rifki.
Tanpa pikir panjang Ustadz Ridwan langsung menjewer telinga Zakir sebagai hukuman dan supaya Zakir tidak melakukan hal itu lagi.
" Aduh, sakit Ustadz, " rengek Zakir kesakitan.
" Kamu masih gak berubah aja, Ustadzah tenang saja, biar nanti saya urus anak ini. Mohon maaf sebelumnya, " Ustadz Ridwan.
" Kalau gitu saya permisi, assalamualaikum," Ustadzah Fatim melangkah pergi menuju bus santriwati yang sudah menunggu.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.
" Saya minta maaf Ustadz, sakit Ustadz, lepasin," Zakir memohon agar Ustadz Ridwan melepas jewerannya.
Santri lain malah asyik mentertawai Zakir yang kesakitan begitu juga dengan Azmi yang sempat tertawa kecil melihat Zakir dan kembali menundukkan kepalanya.
" Janji kamu gak bakal seperti itu lagi!" Ustadz Ridwan.
" Iya Ustadz, saya janji, " Zakir.
Ustadz Ridwan mulai melepas jewerannya.
" Ya sudah, sekarang masuk bus, kalian juga masuk, " Ustadz Ridwan.
" Baik Ustadz, " ucap semuanya.
Zakir dilepaskan dan semua santri masuk ke dalam bus.
Rifki terus saja mentertawai Zakir yang merah telinga kanannya akibat jeweran yang cukup keras dari Ustadz Ridwan.
" Gak usah ketawa, " Zakir wajahnya sangat kesal.
Azmi menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil meminta Rifki untuk berhenti tertawa.
" Maaf Kir, makanya jangan modus, " Rifki setelah berhenti tertawa.
Dengan wajah kesal Zakir hanya diam dan tidak menjawab Rifki.
Sopir bus menyalakan mesinnya dan mulai berjalan kembali menuju pesantren.
Bersambung...
__ADS_1