Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 153. Gak Rela Pulang


__ADS_3

Hari demi hari sudah dilalui dengan perasaan belum sempurna bagi anggota Syubban karena mereka belum mendapat undangan dari acara manapun malah mereka terus-menerus mendapat hal buruk. Tim Syubban masih dihina, dicaci, dipandang sebelah mata bahkan mereka sempat dilempari saat berlatih di tempat latihan mereka sendiri.


Seluruh pihak pesantren merasa sangat sedih karena nama pesantren mereka belum pulih menjadi baik seperti dahulu. Zakir malah terus saja menyalahkan Azmi dalam masalah ini ia bicara seenaknya menjatuhkan nama Azmi kepada semua santri untunglah semua Ustadz dan Kyai masih mendukung Azmi hingga acara perpisahan tiba.


Dengan sorban putih bersih yang dipasangkan Ahkam begitu juga dengan Aban yang memakai sorban dibantu Muhklis.


Azmi dan Aban terlihat sangat keren apalagi dengan seragam Syubban yang mereka pakai. Baju koko yang berwarna putih sedikit garis-garis hitam pada dada dan siku meteka membuat tampilan mereka sungguh sangat menawan.


" Hari ini sudah hari perpisahan, tapi nama tim kita belum pulih seperti dulu, " keluh Azmi yang sedang bercermin melihat dirinya dalam kekecewaan.


Ahkam dan Muhklis saling toleh mereka juga masih sedih mengingat nama tim Syubban yang belum pulih dihari pulangan ini.


" Padahal kita sudah bikin lagu, tapi kenapa orang-orang malah gak suka dan ngusir kita gitu aja, ya? " tanya Aban dengan keluhan.


Ahkam menghela nafasnya keras dan melangkah menghampiri Azmi dan Aban dengan tangannya yang merangkul kedua sahabat yang masih bersedih itu.


" Kalian tenang aja, Ustadz Mustafa udah bilang kalau Adiknya itu akan segera mengakui kesalahannya, " ucap Ahkam.


" Hmmm, tapi kayanya kita gak bisa percaya sama tuh anak, bisa jadi dia takut buat ngakuin semuanya. " Muhklis.


Azmi dan Aban kembali bersedih, Ahkam juga masih bingung kenapa Mufti masih belum mengakui kesalahannya. Kedua tangan Ahkam masih merangkul Azmi dan Aban yang juga menunduk dengan raut wajah sangat sedih.


" Assalamualaikum, " Ali datang berdiri didepan pintu kamar.


" Wa'alaikumsalam, ada apa, Li? " tanya Ahkam.


" Azmi sama Aban disuruh turun sama Ustadz Abdullah, " Ali.


" Oh iya mas, sekarang kita turun, ayo, Ban. " ajak Azmi.


Aban hanya membalas dengan anggukan.


Azmi dan Aban tidak lupa mengucap salam kepada Ahkam dan Muhklis. Sementara Ali masih sempat untuk menyapa Ahkam dan Muhklis.


" Kalian kok lemas banget, sih? Semangat dong, " Ali.


Azmi menghentikan langkahnya diikuti dengan Aban dan Ali yang ikut berhenti melangkah.

__ADS_1


" Gak tau mas, padahal harusnya aku senang karena bentar lagi kita mau pulang. Tapi aku masih belum bisa kalau harus pulang kerumah dengan nama tim Syubban yang masih jelek dengan fitnahan itu, " Azmi.


" Benar mas, aku juga gak rela pulang. Padahal Azmi sama mas Ahkam udah begadang buat lagu yang beda dari yang lain. Kita juga udah serius latihan, tapi kenapa semua orang gak nerima kita buat nunjukkin bakat kita? " Aban.


Ali paham dengan kondisi Azmi dan Aban yang tengah bersedih ia juga ikut merasakan hal itu bagaimana tidak? Ali juga anggota Syubbanul Muslimin berat rasanya untuk pulang begitu saja dengan nama Syubban yang masih jelek di mata masyarakat sekitar. Tidak ingin membuat Azmi dan Aban semakin sedih tapi Ali berusaha tegar dan tetap tersenyum kepada mereka.


" Kalian tenang aja, nama Syubban akan secepatnya kembali, itu janji Kyai dan Ustadz Mustafa. Apa kita pantas tidak mempercayai Kyai dan Ustadz Mustafa? Kita harus tetap semangat, karena kalau Azmi sama Aban sedih kaya gini terus, pasti Kyai dan Ustadz Mustafa juga sedih. " Ali.


Setelah mendengarkan ucapan Ali, Azmi dan Aban mengangguk mengerti mereka menaruh harapan kepada Ustadz Mustafa dan Mufti agar secepatnya ia mengaku kejadian yang sebenarnya kepada seluruh masyarakat.


Acara perpisahan para santri segera di mulai dengan Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan yang menjadi Mc, perpisahan berlangsung dengan lancar. Tidak sedikit para santri yang merasa sedih karena perpisahan ini melihat ada beberapa santri yang melanjutkan pendidikan mereka di pesantren lain dan tidak sedikit juga yang masih ingin mengabdi untuk menuntut ilmu di pesantren Nurul Qadim.


Seperti Ali, Firman dan Udin mereka masih ingin mengabdi di pesantren ini seketika mereka juga mengingat Akmal yang harusnya berdiri bersama mereka.


Lantunan ayat suci Al-Qur'an dibacakan oleh Azmi dan Aban suara mereka terdengar sangat indah hingga keluar pesantren. Masyarakat luar yang mendengar suara indah mereka berdecak kagum menggerakkan hati mereka yang sebelumnya enggan menoleh ke arah pesantren itu.


Tanpa di sengaja, Aisyah dan Fitri juga bertugas untuk membaca Al-Qur'an di hari perpisahan ini. Memiliki suara yang sama-sama merdu membuat santri yang lainnya kagum akan keindahan suara mereka begitu juga dengan para Ustadzah yang tak henti menatap mereka dengan rasa bangga.


Pidato Kyai membuat semua santri mendengarkan dengan sangat fokus mereka sesekali menunduk dan mengangguk ketika Kyai memberi penjelasan untuk pendidikan mereka selanjutnya. Apa yang mereka cari? Apa tujuan mereka? Apa impian mereka? Dan apa yang ingin mereka lakukan untuk masa depan yang lebih indah? Semua dibahas oleh Kyai.


___


___


___


Mufti duduk penuh gelisah bersama teman-teman Bandnya yang terlihat sangat gembira. Tawa hadir menyelimuti hari mereka yang akhir-akhir ini menjadi naik daun karena video yang dibuat Mufti tersebar kemana-mana.


" Mantap, untung juga ya, kita buat anak rebana kampung itu di hina sama masyarakat sini, " anggota Band 1.


" Yoii, senang banget gue, banyak dapat duit sekarang dan gue kemarin lihat kalau anak-anak rebana kampung itu gak diterima buat tampil, " anggota Band 2.


Semuanya tertawa penuh keriangan mereka merasa berhasil kerena sudah berhasil membuat tim Syubban jatuh harga dirinya.


Melihat Mufti yang melamun membuat mereka bingung dan segera menegur Mufti.


" Woi, bro! Lo kenapa, hah? Kok dari tadi ngelamun terus? " tanya salah satu anggota Band.

__ADS_1


Dengan tatapan mata yang tajam Mufti memandang satu-persatu rekan Bandnya itu.


" Kakak gue masih minta kalau gue harus secepatnya buat pengakuan atas apa yang sebenarnya terjadi, " Mufti.


Anggota Band merasa semakin bingung mereka saling pandang hingga salah satu anggota mulai bicara.


" Muf, lo sakit? Biasanya lo selalu bertolak belakang dengan Kakak lo yang religius itu, kenapa sekarang lo masih mikirin omongan dia? " tanya anggota Band 1.


" Benar, Muf. Lo mau nama anggota Band kita hancur? Terus nama anggota Syubban itu terkenal lagi? Kita udah susah payah buat nama Band kita terkenal kaya gini, masa lo mau hancurin, Muf?" sambung anggota Band 2.


" Kalian bisa mikir gak, sih? Apa yang kita lakuin ini sama aja kaya penjahat. Kita bahagia diatas penderitaan mereka. Gue juga kasihan sama anak-anak hadroh yang terus dihina dan diusir dan itu gue lihat sendiri didepan mata kepala gue, " terang Mufti ingin membuat semua temannya mengerti.


" Iya, gue tau kalau yang kita lakuin itu sama sekali gak benar. Tapi ini impian kita, Muf. Kita udah ada dipuncak dan lo mau kita turun lagi? " protes salah satu anggota.


" Apa dengan kejujuran membuat nama kita jatuh? Dan apa kalian tega, terus-terusan membohongi semua masyarakat? " Mufti.


Salah satu anggota Band menggelengkan kepalanya ia tidak percaya dengan Mufti yang dilihatnya sekarang ia mendekati Mufti dan meletakkan tangannya pada pundak Mufti yang sedang terduduk.


" Sadar, Muf! Mufti yang gue kenal gak kaya gini. Lo kenapa? Lo mau kita jauhin lo, cuma gara-gara belain tim rebana kampung yang selama ini jadi musuh kita!" anggota Band itu berbicara sangat serius dengan mata yang menatap dalam mata Mufti.


" Kita salah, bro! Seharusnya kita gak kaya gini, kita udah ngehancurin impian mereka! Kalian percaya sama gue, kalau nama Band kita gak akan jatuh, " Mufti.


" Terserah! Terserah apa mau lo? Lo sama sekali bukan Mufti yang gue kenal! " salah seorang anggota Band yang sedari tadi bicara dengan Mufti melepas tangannya dan berteriak penuh sentakan.


Teman-teman Mufti yang lain juga hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Kecewa dengan Mufti yang lebih membela tim Syubban yang sudah menjadi musuh bebuyutan mereka.


Mufti menghela nafasnya setelah memandang satu-persatu temannya ia bangun dan mendekati salah seorang anggota Band yang berdiri penuh dengan emosi.


" Lo harus percaya sama gue, ini semua permintaan Kakak gue, dan.. " Mufti.


Ia terhenti bicara dengan kedatangan Hafsah yang terlihat sangat gelisah dan terburu-buru menghampirinya.


" Mufti, anak pesantren udah mau pulang ke rumah mereka. Lo harus bicara yang sebenarnya sekarang sebelum anggota Syubban pulang dengan kesedihan!" Hafsah.


Mufti menjadi sangat bingung harus mengikuti kemauan Hafsah atau teman-teman Bandnya yang selama ini selalu mendukungnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2