Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 179. Lemas


__ADS_3

Mobil yang melaju dengan kecepatan cukup penuh terus berjalan tanpa memperdulikan Mufti yang sudah terkapar tak berdaya semua orang yang tengah melintas akhirnya berhenti dan berusaha menolong Mufti yang penuh darah. Mereka menepikan Mufti, ada yang berusaha membangunkan Mufti dengan air dan ada salah seorang Bapak mencoba menelpon Ambulance. Dengan gerak cepat ambulance datang dan dengan cepat mereka membawa Mufti masuk ke dalam ambulance.


Bapak yang menelpon Ambulnce merasa kasihan dan berniat ingin ikut untuk mengetahui kondisi Mufti lebih lanjut. Sementara itu Doni masih terdiam ia masih tidak menyangka hal ini akan terjadi dengan Mufti sambil menelan ludah wajahnya mulai ketakutan campur khawatir atas kejadian mengerikan yang baru saja terjadi dan terjadi didepan mata kepalanya sendiri.


" Enggak, gue gak boleh egois. Gue harus ngikutin mobil Ambulance itu, " Doni ia berbalik arah dan berusaha melaju mengejar Ambulance itu.


......*****......


Ustadz Mustafa terlihat sedang sibuk menerima telepon tidak lain itu dari Syafiq. Ustadz terlihat sangat serius berbicara dengan Syafiq.


" Iya, mas. Saya sudah memberitahu Kyai, kalau besok tim Syubban akan ke Jakarta untuk menerima undangan itu, " Syafiq.


" Kalau begitu baik, Insya Allah saya bisa mengantarkan anak-anak besok, " Ustadz Mustafa.


" Oke, mas. Anak-anak juga sudah dapat kabar, mereka sangat antusias sekali untuk ketemu, " Syafiq.


" Benar sekali, Fiq. Saya juga sudah tau dari grup chat itu," Ustadz Mustafa dengan senyuman yang tampak dalam wajahnya.


Syafiq juga ikut tertawa kecil hingga ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.


" Ya sudah, mas. Saya tutup dulu ya, " Syafiq.


" Baik, baik. Sampai ketemu besok, " Ustadz Mustafa.


" Assalamualaikum, " Syafiq.


" Wa'alaikumsalam warahmatullah, " Ustadz Mustafa selesailah perbincangan mereka lewat telepon.


Disisi lain, mobil Ambulance sudah sampai Rumah Sakit. Dengan sigap kedua suster pria menurunkan pelan-pelan tubuh Mufti yang terbujur lemas dengan pakaian penuh darah dan bagian tubuh yang terluka. Mereka membawa Mufti dengan brankar mereka terus mendorong Mufti menuju ruangannya ditemani Bapak yang sedari tadi ikut prihatin dengan Mufti.


Hanya selat beberapa detik, Doni sampai juga dirumah sakit ia bergegas parkir, melepas helmnya dan berjalan mencari Mufti.


" Haduh, semoga Mufti gak papa, " ucap Doni sembari terus melangkah cepat wajahnya mulai mengeluarkan keringat dingin akibat kekahwatirannya dengan keadaan Mufti.


" Suster, pasien yang baru saja kecelakaan dimana, ya? " tanya Doni kepada salah satu Suster.


" Yang baru saja sampai karena kecelakaan, lukanya juga berat? " tanya suster itu untuk meyakinkan.


" Iya, iya. Dimana? " tanya Doni menggebu ia sudah tidak bisa sabar ataupun berlama-lama lagi.


" Tadi baru saja masuk ke kamar 22, "jawab cepat suster itu sembari tangan kanannya yang mengarah pada jalan kamar Mufti.

__ADS_1


" Oke, oke. Terima kasih, Sus." ucap Doni pandangannya mengarah kepada jalan yang ditunjukkan Suster.


" Sama-sama, " jawab Suster.


Dengan langkah cepat, Doni terus berjalan sampai ia tepat berada didepan kamar Mufti. Doni melihat ke atas dan benar saja, kamar 22 yang ditunjukkan Suster tadi sudah ada seorang bapak yang duduk diluar samping kamar Mufti.


Doni yakin kalau bapak itu yang tadi menolong Mufti, ia melangkah pelan menghampiri bapak itu.


" Maaf, pak. Apa bapak yang tadi menolong teman saya? Dia baru saja kecelakaan, Pak. Di jalan dekat Masjid Al-Hidayah, " jelas Doni.


" Oh, iya, iya benar. Kamu temannya?" tanya bapak.


Doni seketika terdiam ia duduk perlahan disamping Bapak itu dan berdeham memalingkan wajahnya lalu kembali menatap ke arah bapak yang sedang menunggu jawaban Doni.


" Bukan, Pak. Lebih tepatnya saya sahabatnya, " jawab Doni.


Bapak itu mengangguk memberi senyum kecil kepada Doni dan meletakkan tangan kanannya pada bahu Doni.


" Kamu berdoa saja, semoga anak itu baik-baik saja, " Bapak.


Doni mengangguk lemas lalu kedua tangannya ia letakkan pada wajahnya.


" Bagaimana, Dok? Sahabat saya baik-baik saja, kan? Lukanya gak serius, kan, Dok?" tanya Doni begitu menggebu ia sangat takut kalau temannya itu kenapa-napa.


" Benturan keras yang menimpa tubuhnya saat kecelakaan menyebabkan cedera berat pada tangan dan kakinya, untung saja ia memakai helm kalau tidak ini bisa berdampak vatal padanya. Saat ini ia butuh donor darah, darahnya terus mengalir tapi kami sudah memberika perban pada lukanya, ia sangat butuh donor darah itu segera, " ucap Dokter.


" Golongan darah anak itu apa, Dok? " tanya Bapak.


" Golongan darahnya B, " Dokter.


" Aduh, golongan saya O lagi, " Doni.


" Saya juga O, bagaimana, ini? " Bapak.


" Sebaiknya kalian hubungi keluarganya, pasti ada yang cocok, " Dokter.


" Oh iya, saya boleh masuk, Dok? Pasti Mufti bawa handphone soalnya saya gak tau nomer Kakaknya," Doni.


" Tentu saja, silakan, pasien masih belum sadar karena obat bius, " Dokter.


" Baik, Dok. Ayo, Pak. " ajak Doni kepada Bapak, dengan anggukan Bapak itu mau masuk mengikuti Doni.

__ADS_1


Saat mereka masuk terlihatlah tangan Mufti yang terpasang infus, lengan, kaki dan lututnya juga terpasang perban. Hidung Mufti terpasang oksigen dan matanya masih terpejam lemas.


Dengan langkah pelan, Doni terus melangkah melihat sahabatnya yang sedang lemah tidak berdaya penuh perban.


Tidak ingin keadaan sahabatnya semakin parah, Doni mencari handphone Mufti. Dan benar saja barang-barang Mufti sudah terletak di pojok sudut kamar Mufti.


Dengan segera ia mencari handphone Mufti, setelah ia menemukannya ia bingung dengan hanphone Mufti yang terpasang kunci pribadinya.


" Ya elah, masih aja pakai pasword kaya gini. Untung gue sempat tau dan sering kepoin handphone lo bro, " Doni ia mengetik kata kunci handphone Mufti, kata kunci itu adalah " berhak bahagia".


" Ke buka, berarti dari 6 tahun gak pernah diganti nih kata sandi, Mufti, Mufti. " Doni menatap Mufti dan Bapak yang duduk disamping Mufti.


Ustadz Mustafa yang sudah siap mencari Mufti hendak berjalan menuju mobilnya terhenti akibat deringan handphonenya.


" Mufti, Alhamdulillah, akhirnya nih, anak nelpon juga." Ustadz Mustafa tanpa berlama-lama ia segera mengangkat teleponnya.


" Assalamualaikum, iya, Muf. Makanya jangan kabur-kaburan, kaya anak kecil aja kamu. Ada dimana sekarang? " tanya Ustadz Mustafa wajahnya bersinar karena ia belum tau kejadian yang menimpa Mufti.


Doni masih terdiam kaku saat mendengar suara Ustadz Mustafa yang terkenal keras dimatanya karena ia pernah mengingat kejadian dimana grup Band mereka dimarahi habis-habisan apalagi Doni juga pernah melihat Ustadz Mustafa menampar keras Mufti didepan semua rekan Bandnya.


" Halo, Mufti. Kok kamu malah diam, masih marah sama Kakak? Ya udah, Kakak minta maaf, ya. Kakak janji gak akan keras sama kamu, Dek." Ustadz Mustafa.


Doni semakin bingung tak siap mengatakan yang sebenarnya dengan menelan ludahnya.


" Wa'alaikumsalam, Kak, ini Saya Doni, Mufti... " Doni tidak langsung terus terang.


Seketika wajah Ustadz Mustafa berubah heran dan bingung.


" Doni, kenapa kamu menelepon saya pakai handphone Mufti? Mufti yang suruh? Mana dia? " tanya Ustadz Mustafa terus-menerus.


" Sebelumnya saya minta maaf, Kak. Mufti kecelakaan hebat, dia harus segera dapat donor darah, Kakak tolong cepat datang ke Rumah Sakit, " Doni dengan suaranya yang lirih.


Begitu kagetnya Ustadz Mustafa ketika mendengar hal buruk pada Adiknya.


" Astagfirullah, Mufti. Di Rumah Sakit mana, Don? " tanya Ustadz Mustafa dengan antusias.


" Di Rumah Sakit Harapan Mulya, Kak." Doni.


" Iya, iya. Kamu tunggu disana, saya akan segera kesana," Ustadz Mustafa ia bergegas menuju rumah sakit demam perasaan khawatir yang terus menghantuinya sungguh ia takut jika Adiknya sampai kenapa-napa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2